Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Mencari ide


__ADS_3

Tuan Ganan yang sedari tadi mencari keberadaan putranya, akhirnya Beliau menemukannya. Sambil berjalan, Beliau menyiapkan diri untuk menyusun kalimat yang pas untuk diucapkan didepan putranya.


Saat berada didekat putranya, Tuan Ganan duduk disebelah putranya. Kemudian Beliau memegangi pundak sebelah kiri milik Zakka.


"Mau sampai kapan, kamu akan terus terusan seperti ini? sayangi lah kesehatan kamu itu. Jangan karena seorang perempuan yang tidak bisa kamu dapatkan, lalu kamu menyiksa diri. Papa mengaku salah, dan kamu berhak marah dengan Papa. Tapi apa ya, kamu akan membenci Papa, Kakek, Omma, Mama, dan Kak Rey? hem." Ucap sang ayah mencoba mengajak putranya untuk mengobrol.


Zakka masih diam, bahkan sedikitpun ia tidak menoleh kearah sang ayah. Sedangkan emosinya yang masih menguasai pikirannya, membuat seorang Zakka malas untuk berucap.


"Tidak baik seseorang yang sedang emosi berada di luar, tenangkan pikiran kamu di rumah. Ada Mama, Omma, Kakek dan Papa yang siap mendengar keluh kesahmu. Sudah malam juga, ayo kita pulang." Ucap sang ayah membujuk, Zakka masih tidak bergeming.


"Zakka, apa untungnya kamu menuruti emosi kamu. Yang ada kamu akan merasa sakit hati, sakit hati, dan sakit hati yang tak berujung. Kamu itu tampan, sukses, pintar, perempuan baik mana yang akan menolakmu."


"Omong kosong, buktinya saja Aish menolak ku. Berarti aku tidak menarik dimata perempuan, dan pastinya aku tidak memiliki yang barusan Papa sebutkan." Sahut Zakka yang pada akhirnya ia mampu membuka suaranya.


"Karena Aish bukan yang terbaik untuk kamu, dan akan ada perempuan lain yang terbaik untuk kamu. Jodoh, kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi pendamping hidup kita. Sama sepertimu, begitu lamanya kamu menyimpan rasa, kalau bukan jodoh, kamu mau bilang apa? marah, itu akan sia-sia." Kata sang ayah yang terus tanpa bosan untuk memberi nasehat nasehat kecil pada putranya.


"Papa kalah ngomong mah enak, karena Papa tidak menjalaninya. Pantas saja Kakek Zio dengan brutal memaksa Omma Qinan untuk kabur, karena rasa sakit itu tidak mudah untuk disembuhkan disaat itu juga." Ucap Zakka kembali mengorek masa lalu Kakek nya.

__ADS_1


"Terus ... apakah kamu juga mau ikut ikutan aksi dari Kakek Zio? yang dimana tanpa berpikir panjang untuk membawa istri kakaknya kabur? setelah itu membuatnya celaka? begitu maksud kamu." Kata Tuan Ganan yang lumayan cukup sulit untuk menasehati putranya.


"Pikirkan baik baik sebelum kamu menyesal dikemudian hari, Rey dan Aish sudah menjadi suami istri yang sah menurut agama dan hukum. Papa berharap, kamu mampu menerima kenyataan yang ada. Buanglah pikiran burukmu itu, ada waktunya kamu akan bahagia." Ucap sang ayah kembali mengingatkan.


"Akan Zakka pikirkan lagi, Pa. Karena semuanya butuh waktu dan proses, tidak mudah membalikkan telapak tangan. Jangan paksakan Zakka untuk menuruti kemauan Papa dan yang lainnya." Sahut Zakka dengan segala permintaannya sang ayah yang tidak ingin lepas kendali pada putranya, setidaknya untuk mengiyakan, pikir Tuan Ganan.


"Ya, Papa tidak akan memaksa mu. Kalau begitu, ayo kita pulang. Ada hal penting yang harus kamu ketahui di rumah, agar pikiran kamu tahu yang sesungguhnya." Ucap Tuan Ganan sedikit merasa lega, meski masih ada rasa khawatir tentang putranya sendiri.


Malam yang hampir larut, Tuan Ganan dan putranya segera pulang. Selama perjalanan, orang tua dan anak sama sama diamnya. Tidak lama kemudian, akhirnya mobilnya telah sampai didepan rumah. Zakka maupun sang ayah segera masuk kedalam rumah, sedangkan Zakka langsung masuk ke kamarnya.


Rasa penat yang menguasai pikiran Tuan Ganan, akhirnya beliau bersandar disofa. Sambil menarik napasnya panjang, Beliau membuangnya dengan kasar.


"Syukur lah jika Zakka mau diajak pulang, sedari tadi aku memikirkannya. Kalau boleh tahu, apakah Zakka baik baik saja? aku ingin menemuinya." Tanya sang istri kembali, kemudian meminta izin untuk bertemu dengan putranya.


"Zakka baik baik saja, biarkan dia istirahat." Jawab Tuan Ganan yang tidak ingin menganggu jam istirahat putranya.


"Baik lah, aku tidak akan mengganggunya. Aku akan menemuinya besok pagi, aku akan membiarkan istirahat dan aku tidak ingin menambah emosi untuknya." Ucap Bunda Maura dan duduk disebelah suaminya berniat untuk membantu melepaskan sepatunya.

__ADS_1


"Ganan, bagaimana dengan Zakka?" tanya Kakek Angga ikut menimpali.


"Zakka baik baik saja, Pa. Dia butuh waktu untuk istirahat. Biarkan Zakka menenangkan diri didalam kamar, jangan mengganggunya. Papa bisa menemuinya besok pagi, kasihan dia." Jawab Tuan Ganan sambil melepas jas nya.


"Syukur lah kalau Zakka baik baik saja, Mama sangat takut terjadi sesuatu pada cucu Mama." Timpal Omma Qinan sambil berjalan mendekat, kemudian ikut duduk disebelah suaminya.


"Bagaimana dengan Rey? aku dengar dari Pak Dirwan, jika istrinya Rey tinggal di Toko kueh nya. Aku khawatir juga dengan keadaannya, ditambah lagi Rey bilang jika istrinya sedang sakit. Kalian berdua ini, selalu menyembunyikan sesuatu tanpa sepengetahuan kita." Tanya Omma Qinan yang tiba tiba teringat soal cucu menantunya.


Kakek Angga dan Tuan Ganan saling menatap satu sama lain, akhirnya Kakek Angga angkat bicara.


"Karena kalian berdua itu sulit untuk menyimpan rahasia, mudah keceplosan. Jadi, aku dan Ganan sengaja menyembunyikan keberadaan istrinya Rey dari kalian. Bahkan status pernikahannya sekalipun, kita berdua tidak ingin terbongkar pada waktu yang tidak tepat." Jawab Kakek Angga menjelaskan.


"Terus ... waktu yang sekarang ini sangat tepat, begitu maksud kamu? hem. Coba dari dulu kalian berdua itu terbuka untuk berterus terang sebelum Zakka jatuh cinta lebih jauh, mungkin tidak akan seperti ini jadinya." Kata Omma Qinan dengan cara pikirnya, Kakek Angga dan Tuan Ganan hanya bisa memijat pelipisnya.


Pelan pelan, Kakek Angga dan putranya menarik napasnya panjang. Berharap semua beban dalam pikirannya sedikit berkurang, pikirnya.


"Sudah sudah sudah, lebih baik kita selesaikan satu satu terlebih dahulu. Kita dahulukan Zakka, bagaimana? setelah itu kita urus Rey dan istrinya." Ucap Kakek Angga memberi sebuah saran untuk menyelesaikan masalah.

__ADS_1


"Yang dikatakan Papa ada benarnya, Ganan setuju dengan pendapat Papa. Lebih baik kita selesaikan dulu urusan kita dengan Zakka, soal Rey hanya pindah rumah saja sudah cukup. Kita bisa menemui mereka berdua kapan saja. Soal Zakka yang utama itu, kita tunjukkan bukti rekamannya terlebih dahulu. Nanti kita akan mendapatkan jawaban dari Zakka, dan kita akan mengetahui reaksinya seperti apa." Kata Tuan Ganan yang juga ikut angkat bicara, semua mengangguk dan mengiyakan.


__ADS_2