Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa gugup


__ADS_3

Setelah berkenalan dengan adik ipar, Rey mengajak istrinya menuju ruang keluarga.


"Wah ... kedatangan tamu spesial nih, hai ... siapa nama mu, sayang?" sapa Omma Qinan dengan ramah dan juga tak lupa senyumannya. Setelah itu Omma Qinan merentangkan kedua tangannya siap memeluk Aishwa, dengan balasan senyuman manis dari Aish, ia pun menerima pelukan dari Omma Qinan. Setelah dirasa sudah cukup, Omma melepaskan pelukannya.


Dengan lekat, Omma menatap wajah ayu milik Aishwa dengan hiasan senyuman manisnya.


"Omma sudah lama merindukan mu, sayang. Bagaimana kabar kamu Nak? kata Rey kamu sedang hamil, benarkah? Omma sangat bahagia mendengarnya. Oh ya, nama kamu siapa? kalau Omma, namanya Omma Qinan." Ucap Omma Qinan tak lepas dari senyum merekah.


"Aishwa, Omma. Kabar Aish, alhamdulillah sangat baik seperti yang Omma lihat. Omma Qinan apa kabarnya? maafkan Aish yang baru bisa datang ke rumah Omma." Jawab Aish sedikit gugup, sedangkan Rey dengan setianya tetap berada disisi istri tercintanya.


"Syukur lah, Omma tambah bahagia setelah bertemu dengan mu. Suami kamu nih, punya istri disembunyikan terus. Takut kali jika diambil Omma, bercanda." Kata Omma yang tak lepas untuk menyelipkan gurauannya.


"Omma, istri Rey kan sangat spesial. Jadi perlu di sembunyikan, iya kan sayang." Jawab Rey menimpali, Aish hanya senyum malu malu.


Disaat itu juga, terdengar jelas suara langkah kaki semakin mendekat. Detak jantung Aish berdegup sangat kencang, takut jika yang mendekat adalah Zakka.


Bukan karena takut karena tak bisa menerima cinta darinya, Aish takut jika kecemburuan nya akan menyakiti suaminya atau menyakiti Zakka sendiri.


"Loh, kalian berdua sudah datang? barusan Mama sedang mandi. Mana istri kamu, Rey? lama sekali kamu mempertemukan Mama dengan istri kamu. Benar benar tega, kamu ya." Kata Bunda Maura, lalu mendekati menantunya.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah utama, sayang. Apa kabarnya? siapa nama kamu, Nak? maafkan Mama yang tak pernah menemui kamu. Mama dengar, katanya kamu sedang hamil. Benarkah kabar bahagia itu, Nak? Mama ikut bahagia mendengarnya. Selamat atas kehamilan mu ya, sayang. Dijaga kesehatan kamu, jangan beraktivitas terlalu berat. Tidak hanya itu saja, sering sering lah kontrol ke Dokter." Sapa Bunda Maura dan tak lupa untuk menyapa menantunya, serta memberi sebuah ucapan selamat atas kehamilan menantunya.


Tidak hanya itu saja, Bunda Maura juga merentangkan kedua tangannya untuk memeluk menantunya. Terasa nyaman ketika Aish berada dalam pelukan ibu Mertuanya, bahkan sehangat pelukan dari sang suami. Karena sudah merasa lega ketika memeluk menantunya, Bunda Maura melepaskan pelukannya.


"Nama Aishwa Zahra, Ma. Alhamdulillah kabar Aish sangat baik, seperti yang Mama lihat. Mama, apa kabarnya? maafkan Aish yang baru bisa datang ke rumah keluarga Mama. Soal hamil, itu benar adanya, Ma." Jawab Aish sedikit gugup dan juga terasa canggung, Bunda Maura tersenyum mendengarnya.


Meski ibu mertuanya begitu ramah, namun Aish terasa minder ketika berhadapan dengan keluarga yang terpandang. Bahkan Aish merasa jika dirinya tak ada apa apanya dengan keluarga suaminya sendiri.


Bunda Maura yang penasaran, dilihatnya Aish dengan lekat dan juga diperhatikan raut wajah serta penampilannya.


"Sepertinya Mama pernah melihat mu, tapi ... kapan ya. Apakah kamu pernah berdiri didekat pintu gerbang sekolahan bersama seorang ayah ketika mau menghadiri perpisahan di sekolahan? Mama pernah melihat mu kalau itu." Kata Bunda Maura yang tiba tiba teringat dengan sosok menantunya, wajahnya yang tidak begitu asing dimata Bunda Maura.


Tiba tiba Aish merasa sesak ketika dirinya ingin menarik napas panjangnya. Namun sebisa mungkin Aish berusaha untuk tetap terlihat tenang, ia tak ingin mengganggu serta menyusahkan keluarga suaminya sendiri.


"Kenapa kamu melamun, Nak? apakah kamu sudah mengingatnya? atau ... pertanyaan Mama ini telah membuat mu sedih. Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, maafkan Mama." Kata Bunda Maura merasa bersalah karena ucapannya sendiri.


"Tidak kok Ma, Aish hanya teringat saja." Jawab Aish beralasan, sedangkan Rey yang mengetahui akan kerinduan istrinya, segera ia mengalihkannya.


"Ma, kita mau menemui Papa dan Kakek, kalau gitu Rey tinggal dulu ya Ma, Omma." Ucap Rey menimpali sekaligus berpamitan untuk menemui sang ayah dan juga sang kakek.

__ADS_1


"Silahkan, kebetulan Papa dan Kakek sedang berada dibelakang rumah. Tepatnya mereka sedang di taman belakang." Kata Bunda Maura, Rey mengangguk dan mengajak istrinya segera pergi dari ruang keluarga.


Tanpa disengaja, Rey dan sang istri telah berpapasan dengan Zakka. Seketika, Aish setengah menundukkan kepalanya. Ia tak ingin pandangannya akan menjadi sebuah luapan emosi dari seorang Zakka.


Rey yang melihat istrinya setengah menunduk, ia langsung membisikkan sesuatu didekat telinga istrinya.


"Jangan begitu, biasa biasa saja jika berhadapan dengan Zakka." Bisik Rey pelan pelan, Aish hanya bisa mengangguk dan nurut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Kak Rey, Aish, kalian berdua sudah datang?" sapa Zakka sebaik mungkin. Tetap saja, pandangannya tertuju pada Aish, perempuan yang pernah ia harapkan cintanya. Tetapi pada kenyataannya tak sesuai harapan yang pernah Zakka impikan, semua seakan seperti mimpi semata.


Mimpi yang dihadirkan oleh sebuah kenyataan yang terasa pahit ketika untuk diingatnya kembali.


"Ya, kita baru saja datang. Kamu mau kemana? kelihatannya sangat rapih." Jawab Rey dan balik bertanya.


"Ooh kirain sudah dari tadi, aku mau keluar sebentar, biasa mau pergi ke Kantor. Kalau begitu aku pergi duluan ya, sampai ketemu nanti." Kata Zakka beralasan, ia berharap jika dirinya bisa menghindarinya. Tanpa berucap lagi, Zakka segera pergi begitu saja dari hadapan saudara kembarnya dan juga Aish.


Mau bagaimanapun, Zakka tak dapat membohongi perasaannya sendiri jika dirinya masih menyimpan rasa pada perempuan yang kini sudah menjadi istri sang kakak. Meski rasa itu begitu sulit untuk ia lupakan, setidaknya ia berusaha untuk belajar melupakan serta tak lagi memikirkannya.


"Kamu tak perlu memikirkan hal buruk apapun, kita berdua sudah baikan. Jadi, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Kasihan dengan janin yang ada dalam rahim mu, yang pastinya sangat membutuhkan pikiran senyaman mungkin. Tenang saja, kita pasti pulang ke rumah lagi jika kamu keberatan untuk menginap di rumah ini. Aku tidak akan memaksa mu, aku lebih mementingkan kesehatan calon buah hati kita dan juga kesehatan kamu juga. Harta yang paling berharga adalah kamu dan calon sang buah hati." Ucap Rey yang tak ingin adanya pemaksaan pada sang istri. Apapun demi kebaikan istrinya, Rey rela berkorban untuk sang istri tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2