
Baca sampai full episode ya, jangan sampai dilewatkan. Ada kisah yang belum terungkap dengan sikapnya Rey yang selalu dingin, di bab ini akan ada jawabannya.
Semangat membaca
Waktu telah berganti pagi, saatnya Zakka mulai bersiap siap untuk pulang bersama kedua orang tuanya.
"Akhirnya Zakka pulang juga ya, Ma." Gumam Zakka sambil merentangkan kedua tangannya, kemudian ia menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Ya, Nak. Sebelum kita pulang, kaki kamu harus diperiksa dulu,sayang." Kata Bunda Maura sambil membereskan pakaian yang akan dibawa pulang.
"Ya, Ma. Terima kasih banyak atas semua perhatian dari Mama dan Papa untuk Zakka, maafkan Zakka yang sudah merepotkan." Ucap Zakka merasa telah merepotkan kedua orang tuanya sendiri.
"Kamu itu anak Mama dan Papa, jelas pasti tanggung jawab sebagai orang tua. Tugas kamu itu, nurut dan tidak membantah." Jawab Bunda Maura mengingatkan.
"Siap, Ma." Kata Zakka.
"Bagaimana, apakah sudah siap untuk pulang?" tanya Tuan Ganan sambil berjalan mendekati putranya.
"Sudah, Pa." Jawab dengan singkat, karena ketidaksabarannya untuk segera pulang ke rumah utama, pikirnya.
"Papa juga sudah mengurus semuanya, tinggal menunggu pemeriksaan kaki kamu. Setelah itu, kita akan segera pulang." Kata Tuan Ganan, kemudian Beliau menekan tombol merah yang ada didalam ruang pasien, niat Beliau memanggil salah satu perawat untuk segera datang. Beliau masih ada rasa takut untuk membantu putranya duduk dikursi roda.
Sedangkan di kediaman keluarga Tuan Ganan, ada Rey yang tengah duduk di ruang kerja sang ayah. Duduk termenung, serasa hatinya tengah gunda gulana.
Sesak napas bukan karena asma, tetapi sesuatu yang ia tahan sudah sekian lamanya untuk Rey simpan jauh dilubuk hatinya. Selembar foto, seakan menjadi sebuah kerinduan yang begitu mendalam. Bahkan dirinya tak kuasa untuk menahannya, ingin memberontak, itu tak akan mungkin baginya.
"Kamu kenapa, Nak? ekspresi kamu seperti sedang tidak bahagia. Apakah kamu ada masalah? katakan pada Kakek. Foto siapa itu, Kakek mau lihat." Tanya sang Kakek, Rey pun segera membalikkan selembar foto yang ada di tangannya itu. Kemudian ia mendongakkan pandangannya pada Kakek Angga, berusaha untuk menghapus air matanya yang hampir saja membasahi pada kedua pipinya.
"Bukan foto siapa siapa kok, Kek. Ini foto istrinya Rey, Aish loh Kek." Jawab Rey beralasan, ia tidak ingin sesuatu yang ia sembunyikan diketahui oleh sang kakek, pikirnya.
__ADS_1
Karena tidak suka adanya kebohongan, kakek Angga langsung menyambarnya. Rey yang posisi tangannya sedang tidak memegang foto tersebut, dengan gesit kakek Angga mampu merebutnya.
"Kakek, jangan dilihat." Pinta Rey sambil mencoba untuk merebutnya kembali, sayangnya kakek Angga tidak dapat untuk dikelabuhi oleh cucunya.
"Kakek, Rey mohon jangan dilihat fotonya. Itu foto Aish, Kek." Kata Rey sambil mengatupkan kedua tangannya.
Kakek Angga tidak peduli, Beliau tetap saja ingin melihat kebenarannya. Meski dengan terpaksa sekalipun, kakek Angga sangat berani jika hanya merebutnya.
Disaat itu juga, Kakek Angga terkejut mekihatnya. Rey pasrah dengan apa yang akan sang kakek Angga katakan, pikirnya.
"Kamu rindu? hem," tanya sang kakek. Karena tidak cukup untuk menguatkan perasaan cucu pertamanya, kakek Angga akhirnya meminta Rey untuk segera pindah ke sofa.
"Duduk lah, kakek ingin berbagi cerita denganmu. Mungkin akan menjadikan jiwamu memiliki ketegasan dan bijaksanaan ketika diri kamu akan menghadapi segala masalah yang kamu miliki." Perintah sang kakek sambil menunjuk kearah sofa.
Rey yang tidak mempunyai pilihan lain, satupun dirinya tidak akan melakukan penolakan. Kakek Angga menoleh kearah cucu pertamanya dan tersenyum menatapnya.
"Kakek tahu, apa yang sedang kamu rasakan. Kerinduan yang sudah disampingkan, ya 'kan? Kakek juga tahu jika kamu sangat merindukan Mama kamu, bukan?" tanya sang kakek sambil memegangi pundak sebelah kanan milik cucu lelakinya.
"Kenapa kamu diam? terkadang kita itu diminta untuk diam dan tidak perlu berkata kepada orang lain, jika kita mempunyai rasa ingin seperti mereka, contohnya. Kadang juga kita diminta untuk mengalah, tapi bukan untuk mempunyai sifat iri dan dengki. Kamu masih ada Kakek, Papa kamu, Omma, dan yang lainnya." Kata sang kakek yang terus berusaha menasehati cucunya.
"Ya Kek, yang dikatakan Kakek ada benarnya." Jawab Rey yang tidak tahu harus berkata apa.
'Kasihan sekali kamu, cucuku. Sejak kecil kamu tak pernah dekat dengan Mama kamu, belaian saja kamu harus mengalah dari adik kamu, Zakka. Disitulah sikapmu berubah bak menjadi dingin dan kaku, kamu selalu menutupi apa yang kamu mau. Kamu belajar mandiri dengan caramu sendiri, dan kamu lebih memilih seolah olah kamu tidak membutuhkan bantuan orang lain. Disaat kalian menyukai seseorang yang sama, disitulah Kakek tidak bisa menentangmu. Kakek tidak ingin membuat hati mu semakin hancur, dan kakek takut jika kamu akan memusuhi saudaramu sendiri karena kamu akan merasa hidupmu hanya untuk mengalah.' Batin kakek Angga penuh kasihan, seakan dirinya kini terpandang buruk karena tak mampu untuk mengalah menjadi seorang kakak.
"Jauhi sikap iri mu itu, jangan sampai ada kedengkian dihati kamu. Meski kamu harus mengalah dari adik kamu Zakka, sekarang kamu sudah mendapatkan penggantinya. Seorang perempuan yang berstatus Istri dan tidak jauh dari seorang ibu , istrimu lah sebagai pengganti yang akan selalu bersama mu. Perhatiannya, kepatuhannya menjadi seorang istri, dan juga yang lainnya akan kamu temui pada sosok istrimu." Ucap kakek Angga tak henti hentinya memberi sebuah nasehat kecil untuk cucu pertamanya.
"Ya Kek, terima kasih atas nasehatnya. Rey hanya ingin dekat saja sama Mama, ingin mendapatkan perhatian penuh seperti Zakka. Ya ... walaupun Rey juga mendapatkan perhatian Mama, tapi perhatiannya tak sebesar kepada Zakka. Anak mana yang tidak merasa iri jika sang adik terang terangan mengusir Kakaknya dengan kalimat, (Kak Rey jangan ambil Mama ku, ini Mama ku, Kak Rey sama Papa saja) siapa yang tidak merasa sakit hati Kek. Kalimat itu dari kecil hingga Rey lulus SMP." Jawab Rey teringat kembali dengan kalimat yang selalu didengar ketika dirinya sedang bersama ibundanya.
Disaat itulah, Rey berubah sikapnya. Rey berubah menjadi dingin dan kaku, bahkan untuk tertawa saja bisa dihitung jumlahnya. Rey lebih memilih untuk dekat dengan sang Kakek dan Ayahnya disaat kalimat dari Zakka keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Rey lebih memilih untuk banyak diam, sapaan dan gurauan hanya untuk menghindari komentar pedas dari siapa saja yang mendadak ingin berkomentar padanya.
"Kakek tahu perasaan kamu, Kakek pun ingat ketika kamu sedang sakit, Omma yang selalu menemani kamu. Kakek yakin jika kamu akan menjadi sosok ayah yang bijaksana dan bisa dijadikan panutan untuk anak anak kamu kelak." Kata sang kakek menyemangati cucunya.
"Terima kasih Kek, selama ini Kakek yang selalu peduli sama Rey." Ucap Rey, kemudian ia mencoba mengatur pernapasannya. Berharap apa yang sedang ia pikirkan segera lepas dari bayangan bayangan yang selalu mengganggu pikirannya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu tetap menjadi Rey yang Kakek kenal. Jangan pernah kamu simpan kebencian pada saudara lelaki mu. Sekarang juga jika kamu mau pulang, pulang lah. Hari ini Zakka mau pulang, maafkan Kakek yang lagi lagi kamu harus mengalah." Kata sang Kakek, Rey mengangguk.
"Ya, Kek. Kalau begitu Rey pamit pulang, terima kasih dengan nasehat dari Kakek. Maafkan Rey yang selalu merepotkan Kakek." Jawab Rey, kemudian Rey dan sang kakek segera keluar dari ruang kerja Tuan Ganan.
"Loh loh, kalian berdua didalam?" tanya Omma yang mendapati suami dan cucunya yang baru saja keluar dari ruangan kerja putranya.
"Biasa lah, kita berdua ada obrolan kecil, tidak ada yang lain." Jawab kakek Angga berasalan pada istrinya.
"Obrolan kecil? hem, tidak mungkin. Tuh kan, Kedua mata Rey kelihatannya habis nangis, tuh kelihatan banget. Jujur sama Omma, kamu kenapa Rey?" tanya Omma Qinan mendesak.
"Oooh tadi Rey kelilipan, Omma." Jawab Rey untuk meyakinkan, sedangkan Omma yang sudah tau sifat cucunya, Beliau tidak akan mudah untuk percaya.
"Jangan bohongi Omma, jujur saja. Kenapa kedua mata kamu terlihat menangis? apa ada masalah dengan istri kamu? katakan pada Omma. Karena jika kalian berdua berada diruangan yang sama hanya kamu dan Kakek kamu, itu tandanya hati dan pikiran kamu itu sedang bermasalah." Pinta Omma Qinan untuk terus meminta kejujuran pada cucunya.
"Rey kangen Mama, Omma. Tidak lebih, hanya itu saja." Jawab Rey yang akhirnya berkata jujur, karena memang itulah kenyataannya.
Disaat itu juga, Omma Qinan serasa tercekik pada lehernya. Beliau langsung memegangi kedua lengannya, kemudian memeluk Rey sangat kuat. Kemudian Omma Qinan melepaskan pelukannya dan menatap wajah cucu pertamanya.
"Ada Omma yang akan selalu menggengam erat tanganmu, ada Kakek yang akan selalu menguatkanmu, ada Papa kamu yang akan menjadi penasehat mu, dan ada juga istrimu yang akan menemanimu serta menjadi penyemangat hidupmu, dan tentunya ada Mama kamu juga yang harus kamu hormati. Tetap lah hormat, dan juga sayangi." Ucap Omma Qinan yang juga tidak lupa memberi nasehat kecil untuk cucu lelakinya.
"Ya, Omma. Rey akan ingat nasehat nasehat dari Omma dan Kakek, terima kasih banyak atas kepedulian Kakek dan Omma. Rey tetap menyayangi keluarga, tak akan ada perbandingan apapun untuk keluarga." Jawab Rey untuk meyakinkan Omma dan Kakeknya.
"Terus, kamu beneran mau pulang nih?" tanya Omma Qinan untuk memastikan.
__ADS_1
"Ya, Omma. Pagi ini juga, Rey dan Aish mau pulang. Rey tidak ingin membuat hati Zakka akan terus teringat jika teringat dengan Aish, sebisa mungkin Rey akan menjauhkan mereka sampai Zakka menemukan istri yang disukainya. Setelah itu, Rey akan kembali lagi ke rumah ini." Jawab Rey menjelaskan.
"Ya, semoga saja Zakka segera menemukan penggantinya. Dan kamu, tidak ada lagi jarak untuk dekat Mama kamu." Ucap Omma Qinan.