Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa canggung


__ADS_3

Sela masih bengong dengan permintaan dari suaminya. Apa yang ia dengar seperti mimpi saja, batinnya.


"Kak Zakka serius, aku manggil kak Zakka dengan panggilan sa-sa-sayang."


"Ya, sa-yang. Sudah lakukan saja, nanti juga bakalan terbiasa." Kata Zakka dengan entengnya, Sela sendiri merasa kesusahan saat menelan salivanya.


"Ya, ya deh." Jawab Sela dengan anggukan pasrah.


"Kalau soal pegangan, bagaimana?" tanya Sela dengan polosnya dan karena pikirannya yang buntu.


"Ya dipegang aja, Sela ...." Kata Zakka, sela kembali berpikir.


"Apanya yang dipegang, Kak." Lagi lagi Sela berulah dengan pikirannya yang sulit untuk dipecahkan.


"Tangan, tangan ini yang dipegang. Memangnya mana lagi yang mau dipegang kalau bukan tangan, boleh yang lainnya? hem." Kata Zakka tanpa ragu.


Sela kembali membulatkan kedua bola matanya saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Sudah sudah, tidak perlu sekaget itu. Lebih baik sekarang kia keluar dari kamar, ok." Ucap Zakka dan tanpa malu malu langsung menggandeng tangan istrinya.


Sela serasa mendapatkan sengatan listrik yang cukup kuat, tangannya kini tengah digandeng oleh suaminya. Lelaki yang sudah sah menjadi suaminya, meski keduanya menganggapnya hanya sebatas pura pura.


Sela masih tertegun dan entah kemana pikirannya yang sekarang, apa yang dipikirkan seakan jauh dari kenyataannya.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Zakka sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah istrinya.


"Tidak apa apa kok Kak, ayo kita keluar." Jawab Sela dan mengajaknya untuk keluar, Zakka kembali menggandeng tangan istrinya.


'Aku harus bisa, bisa untuk sembuh dari hati yang terluka dan cidera pada kaki aku ini.' Batin Zakka saat menggandeng tangan istrinya.


Sela sendiri mencoba untuk memenangkan pikirannya yang tidak karuan, berharap semuanya akan baik baik saja dan segera berakhir tentang kebohongan di hadapan keluarga sang suami.

__ADS_1


"Selamat malam semua ..." sapa Zakka pada anggota keluarganya.


"Malam juga, Nak ... sini, ayo kita duduk bareng. Nak Sela, jangan sungkan sungkan di rumah ini. Sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Wilyam." Ucap bunda Maura, Sela tersenyum malu.


"Ya, Ma. Terima kasih banyak." Jawab Sela sedikit gugup, pasalnya tidak pernah menginjakkan kakinya berada di keluarga yang terhormat.


Saat itu juga, Sela membantu suaminya untuk duduk. Kemudian dirinya ikut duduk di sebelah sang suami.


Malu malu, Sela berusaha untuk tetap tenang. Meski detak jantungnya ikutan berdegup kencang. Senyum ramah yang bisa Sela lakukan.


"Kalian berdua benar benar sangat serasi, semoga langgeng hubungan kalian. Omma sangat bahagia saat ini, tidak ada cucu yang kesepian lagi." Kata Omma sambil memilih menu makanan yang disukai oleh beliau.


"Kakek juga sama bahagianya seperti Omma, karena tidak ada lagi cucu kakek yang kesepian." Ucap kakek Angga ikut menimpali.


"Sudah sudah, kita nikmati dulu makan malamnya. Setelah itu, baru mengobrol." Kata Omma Qinan, yang lainnya menjawabnya dengan serempak. Kemudian saling bergantian mengambil menu porsi masing masing.


Sela yang merasa sudah menjadi istri dari Zakka, dengan telaten ia mengambilkan untuk sang suami dan juga untuk dirinya sendiri.


"Dimakan makanannya. Lihat lah, mereka semua bisa curiga." Bisik Zakka didekat telinga istrinya.


Sela yang dikagetkannya pun, ia langsung menyuapi dirinya sendiri. Sedangkan Zakka kembali melanjutkan makan malamnya.


Setelah cukup lama berada di ruang makan, satu persatu meniggalkan ruang makan tersebut.


"Kalian selesaikan dulu makanannya, setelah itu kalian bisa ikut kumpul di ruang makan. Jika ingin kembali ke kamar, juga tidak apa apa. Kalian berdua pasti capek dan juga lelah, bersantai didalam kamar juga tidak apa apa." Ucap bunda Maura.


"Ya, Ma." Jawab keduanya.


Kini tinggal lah Sela dan Zakka yang masih berada di ruang makan, yang lainnya sudah pindah tempat ke ruang keluarga.


"Jangan banyak melamun di rumah ini, yang ada mereka semua akan mencurigai kita." Ucap Zakka sambil mengunyah makanan sembari memberi pesan untuk istriya agar dapat diingat.

__ADS_1


"Maaf, tadi aku benar benar diluar lamunanku. Soalnya aku seperti mimpi jika aku sudah menikah, itu saja. Soalnya usiaku ini masih terbilang sangat muda untuk usia pernikahan." Jawab Sela yang juga sambil menikmati makan malamnya.


"Kalau kamu merasa keberatan, aku bisa menggagalkan." Kata Zakka, Sela langsung menoleh kearah suaminya dan menatapnya.


"Tidak, aku sudah berjanji dengan diriku. Aku akan menemani kak Zakka sampai sembuh." Ucap Sela, Zakka pun tersenyum pada Sela.


'Duh, kenapa aku jadi deg deggan gini ya. Ternyata kak Zakka cakep banget ya, apa lagi kalau jalannya udah sempurna. Pasti terlihat sangat sempurna, baik juga. Sela oh Sela, kamu sadar diri. Lelaki dihadapan kamu ini hanya sandiwara, jangan aneh aneh kamu.' Batin Sela yang masih menatap Zakka dengan lekat.


'Ada apa denganku? kenapa perempuan ini membuatku merasa nyaman, aaah! kamu ini sedang melupakan, bukan sedang mencari sosok istri.' Batin Zakka mengerutuki dirinya sendiri.


"Kak Zakka, aku udah selesai." Ucap Sela membuyarkan lamunan suaminya.


"Ah ya, aku lupa. Kita mau ikutan kumpul bareng Mama dan yang lainnya atau kembali ke kamar."


"Aku malu untuk kumpul bareng bersama keluarga kamu, aku belum terbiasa. Aku mau istirahat aja di dalam kamar, jika kamu mau kumpul bareng mereka juga tidak apa apa." Jawab Sela, Zakka pun mengangguk mengerti posisi istrinya sebagai keluarga baru di kediaman keluarga dirinya.


"Ya sudah tidak apa apa, ayo kita kembali ke kamar."


"Kita?" tanya Sela kembali lupa jika dirinya adalah suami istri dan tinggal satu kamar.


"Lah ya kita, memang siapa lagi? apa kata keluarga jika kita berbeda ksmar? hem." Jawab Zakka sedikit greget dengan pertanyaan dari istrinya.


"Ah ya ya, aku baru ingat jika kita suami istri. Sela ... sela, bod*oh banget sih kamu ini." Kata Sela menyalahkan dirinya sendiri.


"Hem, kamu memang begitu. Amnesia yang berkepanjangan." Ucap Zakka dan langsung bangkit dari posisi duduknya. Begitu juga dengan Sela yang juga ikut berdiri dan membantu suaminya.


"Ayo kita masuk ke kamar." Ajak Zakka, Sela mengangguk dan berjalan beriringan.


Sampai didalam kamar, lagi lagi detak jantung Sela kembali berdegup sangat kencang. Ditambah lagi Zakka mengunci pintunya, pikiran Sela berubah menjadi tidak karuan.


"Kalau kamu ingin istirahat, istirahat saja. Aku mau duduk santai di ruang kerjaku. Oh ya, besok temani aku untuk latihan jalan. Tidak lama, latihannya masih berada di lingkungan rumah ini. Jadi, istirahat lah." Ucap Zakka, Sela hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


Karena tidak mempunyai pilihan yang lain dan tidak bisa tidur, Sela memilih untuk duduk santai sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.


__ADS_2