
Selesai latihan berjalan, Zayen berpamitan untuk pulang. Dan kini hanyalah Zakka dan Sela yang masih dihalaman belakang rumah, tepatnya taman kecil yang dijadikan tempat untuk menghirup udara segar dan juga olahraga jalan pagi.
"Kak, kita mau masuk ke dalam atau ..." tanya Sela sedikit gugup dan menghentikan pertanyaan nya.
"Kita kembali ke kamar, aku ingin beristirahat." Jawab Zakka, karena tidak ada pilihan yang lainnya, Sela pun nurut dan membantu suaminya untuk berjalan.
"Kak, ini." Ucap Sela sambil menyodorkan alay bantunya.
"Buang, aku ingin berjalan dengan kemampuanku sendiri." Kata Zakka menolak, Sela pun tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum? apakah ada yang lucu?" tanya Zakka dengan kening berkerut.
"Tidak ada yang lucu, serius." Jawab Sela dengan senyumnya yang tipis.
"Hem," Zakka sendiri hanya berdehem.
"Sini Kak, aku bantu Kakak untuk jalan." Ucap Sela, Zakka hanya bisa nurut dan memegangi lengan milik istrinya dan keduanya berjalan dengan sangat hati hati.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona." Sapa Aidan yang tiba tiba sudah datang, seakan akan kedatangan Aidan adalah sesuatu yang sangat menguntungkan, pikir Zakka dengan senyum yang mengembang.
"Ngapain senyum senyum tidak jelas gitu, hem."
"Tidak ada, Tuan. Aku datang kesini hanya ingin mengambil berkas saja, tidak lebih. Bukankah Tuan sudah ada Nona Sela, bukankah begitu, Tuan? hem." Jawab Aidan dengan ekspresi yang terlihat menggoda.
"Cih! menyebalkan." Kata Zakka dengan ketus, berbeda dengan Aidan yang tidak lepas dari tawa kecilnya. Disaat itu juga Zakka memperhatikan istrinya yang sedang tersenyum mengembang saat melihat ekspresi Aidan yang tengah meledek suaminya.
"Kamu suka sama Aidan?" pertanyaan yang tidak seharusnya keluar pun, kini telah ia lemparkan kepada istrinya. Sela yang mendapati tuduhan dari suaminya pun, ia langsung membulatkan kedua bola matanya.
Sambil menunjuk kearah dirinya sendiri, Sela menatap suaminya dengan lekat.
"Aku suka sama Aidan? pertanyaan macam apa itu?"
__ADS_1
"Tinggal jawab ya, apa susahnya jika kamu menyukai Aidan. Sudah cepat ambilkan tongkat penyangganya, sekarang juga." Ucap Zakka masih dengan ekspresi kekesalannya.
Lagi lagi Sela menatap suaminya penuh keheranan, dan disaat itu juga dirinya mencubit gemas kedua pipinya sendiri. Berharap apa yang ia dengarkan dari suaminya itu hanyalah mimpi.
"Tidak usah banyak drama, cepat ambilkan alat penyangganya sekarang juga." Perintah Zakka dengan tatapan yang cukup terlihat tajam.
"Bukankah kak Zakka sudah mengatakannya sendiri, jika kak Zakka sudah tidak membutuhkan alat penyangganya? hem."
"Tidak usah banyak tanya, tadi aku hanya bercanda." Jawab Zakka dengan jutek.
"Aku pamit, selamat bersenang senang." Ucap Aidan, kemudian ia langsung pergi meninggalkan rumah utama milik Tuan Ganan. Zakka sendiri tidak meresponnya, diam dan tetap diam tanpa menyahut Aidan berpamitan.
"Kak Zakka sedang tidak panas dalam, 'kan?" tanya Sela sambil menatapnya bingung.
Ctak!!
"Aw! sakit, tau. Kak Zakka kenapa sih, tiba tiba jadi aneh gini." Kata Sela sambil mengusap keningnya yang baru saja mendapatkan sentilan dari suaminya.
"Mau ngapain di kamar, Kak?" lagi lagi dengan polosnya Sela bertanya.
Disaat itu juga, Zakka menatapnya dengan sangat intens. Bahkan detak jantung milik Sela berubah menjadi tidak karuan saat napas hangat keluar dari hembusan suaminya.
"Mau kamu apa? hem." Tanya Zakka yang seakan menghipnotis pikiran jernih milik istrinya.
'Perasaan apa ini? kenapa detak jantungku berdegup kencang begini, oh! tidak akan.' Batin Sela mencoba untuk mengontrol pikirannya agar tidak berubah menjadi tidak sadarkan diri jika sesuatu yang hampir saja terjadi dan akan benar terjadi, pikir Sela dengan pikirannya yang mulai berkelana.
"Cepat antarkan aku ke kamar, sekarang juga." Perintah Zakka dan membuyarkan lamunan istrinya.
"Ah ya, mari Kak." Jawab Sela dan bernapas lega. Pasalnya dirinya tidak seperti yang ia bayangkan, tapi tetap saja detak jantungnya masih ada sisa atas pandangannya terhadap suaminya yang menyisakan beberapa detik.
"Pelan pelan, Kak. Kalau jatuh nanti sakit, dan pastinya akan terasa nyeri juga." Kata Sela sambil menuntun suaminya hingga tidak terasa telah sampai didepan pintu kamar.
__ADS_1
Lagi lagi detak jantung milik Sela kembali berdegup sangat kencang, pasalnya kini yang ia hadapi adalah kamar. Bagi Sela tantangan yang terberat itu bukanlah duduk bersanding dengan suaminya, tetapi sebuah kamar yang tiba tiba terkunci dan membuatnya tidak bisa berkutik sedikitpun.
"Kenapa kamu masih diam berdiri? kamu sedang tidak menguji kesabaranku, 'kan?"
Sela terkejut saat suaminya mengagetkan dirinya saat pikirannya entah berada dimana.
"Maaf Kak, Sela tadi melamun sebentar." Jawab Sela sambil nyengir kuda.
"Hem, gampang tua loh kalau kamu banyak melamun."
"Tidak juga, aku tetaplah awet muda meski banyak melamun sekalipun." Jawab Sela dengan percaya dirinya.
Tanpa pikir panjang, Zakka langsung membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali, tentunya tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya. Desiran yang Sela rasakan didalam tubuhnya seakan membawanya kedalam mimpi yang sempurna indahnya. Setelah itu keduanya segera masuk dan menuju tempat tidur.
'Sadar Sela, kamu harus sadar. Ini kamar, ini kamar yang mana banyak godaan.' Batin Sela mencoba untuk menenangkan pikirannya sendiri agar tidak lepas kendali.
Mau bagaimana pun, Sela mempunyai perasaan yang tidak ingin mendapatkan perlakuan suaminya hanya karena na*fsu semata.
Sampainya dibibir tempat tidur, Zakka maupun Sela bukannya duduk, tetapi terhanyut dalam suasana yang cukup sunyi. Apa yang dirasakan Sela kini semakin bergemuruh didalam dadanya.
Begitu juga dengan Zakka, dirinya sendiri tidak dapat memungkiri jika dirinya telah menginginkan sesuatu dari istrinya.
Zakka menatap lekat wajah istrinya dalam dalam, Sela sendiri semakin salah tingkah ketika suaminya menatapnya lekat.
Zakka yang sudah hilang kendali, satu tangannya tengah menahan tengkuk leher istrinya, sedangkan tangan yang satunya menahan pundaknya. Pelan pelan Zakka mendekatkan diri dari istrinya dan menc*ium bibir ranum milik istrinya dengan lembut.
Sela tercengang saat mendapatkan ciuman yang begitu lembut dan juga tengah membuatnya seakan terhipnotis atas perlakuan dari istrinya.
Bagaimana tidak tergoda, Zakka yang sudah menginginkan sebuah pernikahan yang tidak juga kunjung ia dapatkan. Dan kini, semuanya sudah berada di depan mata dan juga nyata. Sosok Sela yang juga tidak kalah cantiknya dari orang yang pernah ia sukai, kini telah membuatnya terjebak didalamnya.
Ciu*man yang terasa hangat telah membuat Sela ikutan menyelami dan juga menikmati sentuhan demi sentuhan dari suaminya hingga keduanya sama sama hilang kendali.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ciu*man lembut dari suaminya, kini giliran Sela yang membalasnya. Tidak tinggal diam, Zakka memberi kode dan arahan kepada istrinya untuk menjatuhkan diri dengan pelan pelan diatas tempat tidur.