Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Sebuah bukti


__ADS_3

Dengan pelan, Aish berjalan mendekati suaminya. Kemudian, ia meraih tangan suaminya dan menggandengnya.


"Sayang, ayo kita keluar." Ajak Aish sambil mengeratkan genggamannya.


"Tidak, biarkan aku selesaikan semuanya pada Zakka. Aku tidak ingin larut dalam bayangan yang selalu menghantui aku." Jawab Rey menolak ajakan dari istrinya.


"Tenangkan dulu pikiran kamu, untuk menyelesaikan masalah itu harus dengan kepala dingin." Ucap Aish berusaha untuk meyakinkan suaminya.


"Pergilah Rey, ikuti apa yang dikatakan istrimu." Sahut sangat ayah ikut menimpali.


"Yang dikatakan istrimu itu benar, pergilah dari ruangan ini. Seyn, ikutin Rey dan Aish sampai di kamar." Timpal kakek Angga, kemudian menyuruh Seyn untuk mengikutinya dari belakang. Takut jika ada sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi, pikir kakek Angga dengan khawatir.


Rey mengangguk dan tanpa berucap sepatah katapun pada anggota keluarganya, Rey keluar dari ruangan tersebut bersama istrinya. Sedangkan Seyn mengikutinya dari belakang.


Zakka yang melihat pemandangan Aish dan Rey, hatinya terbakar oleh api cemburu. Tatapannya masih dengan kebencian, napasnya terasa sesak dan juga terasa panas.


Bunda Maura terasa terasa teriris hatinya ketika melihat kedua putranya bersaing sengit. Pelan pelan Tuan Ganan mendekati putranya. Disaat itu juga Sela diajak pindah tempat dan ditemani Omma Qinan dan Neyla, takut jika Sela akan membatalkan perjanjian dengan Zakka. Maka dari itu, Omma Qinan dan Neyla segera menjauhkan Sela dari kecemburuan seorang perempuan yang bernama Aishwa.


Acara yang seharusnya berangsur baik sesuai harapan, justru kini menjadi ricuh. Masih beruntung diluaran sana acara belum dimulai, semua para tamu undangan masih disuguhkan dengan berbagai jenis makanan dan juga minuman.


"Zakka, apa maksudnya dari semua ini?" tanya Tuan Ganan dengan tegas, sedangkan Bunda Maura berdiri disebelah suaminya.


"Kenapa harus kak Rey yang selalu diutamakan, selalu didukung, dan juga selalu dipenuhi keinginannya. Berbeda dengan Zakka, selalu mengalah dari kak Rey." Jawab Zakka tanpa menyadari dirinnya sendiri.


Tuan Ganan segera berjongkok dihadapan putranya, Beliau juga merasa sesak ketika ingin menarik napasnya panjang.


"Bukankah dari kecil kamu selalu dimanja? apa yang kurang dari kamu, Zakka? apa salahnya kakak kamu? ayo tunjukkan sama Papa sekarang juga. Dimana letak keserakahan dari kakak kamu? tunjukkan sama Papa, Kakek, Omma, dan Mama." Ucap Tuan Ganan mencoba untuk membuka hati kecil milik putranya.


Zakka masih dengan perasaannya yang terasa dongkol, ia tidak menjawab apa pun dari ayahnya. Zakka terdiam dengan penuh kekesalannya yang sedang dikuasai oleh emosinya sendiri.


"Zakka, Papa ingin bertanya sama kamu. Siapkah kamu untuk mendengar pertanyaan dari Papa? jawab dengan jujur."


"Tanyakan saja apa yang ingin Papa tanyakan sama Zakka." Jawabnya dengan ekspresi datar.


Tuan Ganan mencoba untuk tersenyum ketika berhadapan dengan putranya, Kakek Angga dan Bunda Maura memilih untuk menjadi pendengar setia sementara.

__ADS_1


"Apakah salah, jika kakak kamu ingin mendapatkan perhatian dari Mama?" tanya Tuan Ganan ingin tahu.


"Lihat dulu kebenarannya." Jawab Zakka dengan memalingkan wajahnya karena perasaannya yang masih kesal terhadap saudara kembarnya sendiri.


"Maksud kamu?" tanya Tuan Ganan kembali bertanya.


"Kak Rey sudah mengambil Aish dari Zakka, dan sekarang Kak Rey berusaha mau mengambil perhatian dari Mama, itu tidak akan." Ucap Zakka dengan terang terangan dihadapan kedua orang tuanya.


"Zakka, kalian berdua itu anak Mama Maura. Tidak ada kata serakah untuk dekat dengan orang tuanya, Nak. Kamu dan Kak Rey, dan juga Neyla, kalian bertiga itu anak Mama Maura dan Papa Ganan. Tidak ada yang dibedakan, Zakka." Ucap Kakek Angga ikut menimpali, Bunda Maura hanya terdiam.


Sebisa mungkin Bunda Maura untuk mencernanya, apa yang dimaksudkan oleh kedua putranya masing masing.


Bunda Maura akhirnya sebisa mungkin ikut berjongkok seperti suaminya. Zakka memilih untuk memalingkan wajahnya dari kedua orang tuanya.


"Zakka, yang dikatakan Kakek itu benar, tidak ada yang merebut Aish dan Mama dari kamu. Bukankah kamu sudah bilang, jika kamu akan menerima kenyataan yang sebenarnya. Tidak hanya itu saja, bahkan kamu sudah saling meminta maaf dengan kak Rey, lalu kenapa kamu masih menyimpan kebencian kepada kakak kamu sendiri? lebih baik kamu sudahi masalah ini, Zakka." Ucap Tuan Ganan berusaha untuk memberi nasehat kepada putranya.


"Setelah nasib Zakka hancur berantakan seperti ini, Pa? hah. Pa, yang dirasakan Zakka ini sangat sakit. Apa Papa dan Mama dan Kakek tidak melihat kondisi Zakka yang sekarang? dimana rasa kasih sayang kalian untuk membahagiakan Zakka? mana! mana, Pa." Jawab Zakka dengan segala emosinya yang sudah menguasai jalan pikirannya.


Bunda Maura yang merasa dilema atas kesedihan dari Zakka, Beliau lebih memilih untuk bergegas pergi dari hadapan putranya. Beliau tidak kuasa jika harus melihat putranya dengan segala ucapannya yang penuh harapan itu. Disaat itu juga, Tuan Ganan langsung menyambar tangan milik istrinya.


"Maksud Papa?" tanya Bunda Maura penasaran.


"Pa, tolong panggil Aidan sekarang juga. Katakan padanya untuk menunjukkan rekaman yang sudah Aku simpan." Pinta Tuan Ganan dengan terpaksa meminta tolong dengan orang tuanya sendiri.


Kakek Angga hanya nurut dan segera memanggilkan Aidan, orang kepercayaan Tuan Ganan.


"Tunggu sebentar, Papa akan panggilkan Aidan." Jawab Kakek Angga, tidak lama kemudian Aidan datang dengan membawa sebuah layar lebar yang didalamnya ada sebuah rekaman CCTV yang sudah lama ini dibahas oleh Kakek Angga bersama Tuan Ganan.


"Permisi, Tuan." Ucap Aidan setengah membungkuk.


"Silahkan masuk, kemarilah." Sahut Tuan Ganan, kemudian Aidan mendekati Beliau dan berdiri disebelah Zakka.


"Ini, Tuan." Ucap Aidan sambil menyerahkan sebuah laptop kepada Tuan Ganan.


"Terima kasih banyak, Aidan. Kamu boleh keluar, silahkan." Ucap Tuan Ganan, Aidan pun mengiyakan dan nurut sesuai perintah dari Tuannya.

__ADS_1


Kini formasi masih sama, ada Kakek Angga, ada Bunda Maura, ada Zakka, dan tentunya ada Tuan Ganan.


Karena tidak ingin memakan waktu yang lama, Beliau segera menunjukkan beberapa bukti kepada anak dan istrinya. Agar tidak ada lagi kekecewaan ataupun kesalahpahaman antara orang tua dan anak. Kini Tuan Ganan tengah sibuk dengan alat pintarnya itu, kemudian Beliau segera menyalahkannya dan membuka beberapa bukti yang sudah di simpan beberapa bulan yang lalu. Bahkan ada yang sudah begitu lamanya rekaman CCTV itu.


Zakka dan Bunda Maura dengan seksama memperhatikan Tuan Ganan yang tengah mengoperasikan alat pintarnya.


"Pa, sebenarnya apa yang ingin Papa tunjukkan pada Mama?" tanya Bunda Maura penasaran.


"Nanti kalian berdua bakal mengetahuinya sendiri, sekarang cukup perhatikan dengan seksama." Jawab Tuan Ganan dengan fokus pada sebuah laptop yang tengah menyala.


Sedangkan Kakek Angga memilih untuk berduri dibelakang cucunya. Takut apabila terjadi sesuatu pada diri Zakka setelah menyaksikannya langsung, pikir Beliau.


Detik berganti detik, berganti pula waktunya menjadi durasi yang bertambah. Bunda Maura maapun Zakka tengah melihatnya dengan tatapan yang sangat serius.


Seketika, Bunda Maura sangat terkejut ketika melihat sebuah rekaman video yang begitu menyayat hatinya dan juga terasa sangat sakit hingga ke ulu hatinya Beliau. Napasnya pun ikut terasa sesak, bahkan terasa sangat panas ketika ingin menarik napasnya dalam. Tidak hanya itu saja yang dirasakan oleh Bunda Maura, tubuhnya berubah gemetaran hebat, seakan akan aliran darahnya berhenti begitu saja dan dengan detak jantungnya yang tidak beraturan.


Tetesan demi tetesan air mata, Bunda Maura menangis tersedu sedu ketika putranya menyimpan sejuta kerinduan. Duduk termenung di tempat yang mana menurutnya sangat nyaman untuk meluapkan sejuta kerinduannya kepada sosok Ibu, bahkan dengan otak jeniusnya, Rey telah menyimpan rekaman video masa kecilnya secara diam diam yang bersuarakan Zakka yang mengeluarkan kalimat yang sama. Yakni yang mana saudara kembarnya melarangnya untuk dekat dengan Ibundanya.


Napas yang terasa sesak, ya! tentu saja sangat sesak untuk bernapas ketika Bunda Maura teringat jika Beliau telah mengabaikan sikap dingin dari putra pertamanya itu dari usianya menginjak dua belas tahun.


Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh Bunda Maura, dan juga dengan tubuhnya yang gemetaran telah mampu mengoyak sikap dan perbuatannya yang sudah menyakiti perasaan putra pertamanya.


Begitu juga dengan Zakka, tubuhnya ikut lunglai dengan adanya sebuah bukti rekaman dimasa lalu saudara kembarnya sendiri. Napasnya pun tidak kalah sesaknya dari sang Ibu ketika ia tersadar akan perbuatannya dimasa lalunya bersama saudara kembarnya.


Tidak cukup sampai disitu saja, Zakka menitikan air matanya karena sebuah keegoisan yang ia miliki.


"Sudah, jangan menangis terus menerus. Masih ada waktu untuk kalian berdua memperbaiki sikap kalian selama ini. Papa tidak meminta kalian untuk meminta maaf, tapi tunjukkan lah sikap kalian yang hangat untuk Rey. Lihat lah, betapa kesepiannya anak itu. Rindu yang terpendam, sakit namun tidak berdarah." Ucap Tuan Ganan yang juga ikut menitikan air matanya saat Beliau ikut menyaksikannya kembli rekaman video tersebut.


Bunda Maura masih terdiam, dan juga tidak mampu untuk bersuara walau hanya sepatah kata saja. Berulang kali mencoba untuk menenangkan pikirannya, tetap saja rasa bersalahnya lebih besar dari segalanya.


"Berdirilah," perintah dari sang suami sambil membantu Bunda Maura untuk berdiri. Setelah itu Tuan Ganan memeluk istrinya untuk memberi ketenangan, Bunda Maura dengan sesenggukan kembali menangis dalam pelukan suaminya..


Sedangkan Zakka kini tengah ditenangkan pikirannya oleh kakek Angga. Kemudian Beliau mengajak cucunya ke lain tempat, agar suasana hatinya tidak memanas.


"Temuilah Rey, dia anak kita yang juga membutuhkan belaian kasih sayang dari seorang Ibu seperti kamu. Ingat, jangan kamu mencari alasan yang tidak masuk akal dengan cara berpikirnya kamu untuk menilai putra pertamamu." Ucap Tuan Ganan yang mencoba untuk menasehati istrinya, Bunda Maura segera melepaskan pelukannya. Kemudian ditatap nya wajah sang suami dengan lekat.

__ADS_1


"Aku malu, Pa." Jawab Bunda Maura dengan lirih.


__ADS_2