
Waktu yang dilewati bersama teman satu sekolahan, tidak terasa pula berganti waktu yang hampir saja pada titik penutup acara.
Tawa, canda, bersenda gurau bersama begitu ramai pada sekelompok tempat duduk masing masing. Tidak ada yang merasa paling atas kedudukannya masing masing.
Tetapi tidak untuk Yevi yang sedari dirinya terlihat gusar dan berulang kali ia memperhatikan Zakka dengan seorang perempuan yang begitu asik ketika mengobrol bersama teman sekolahnya. Ada Rey yang bersama istrinya ikut berkumpul bersama dan bersenda gurau bersama.
Yevi yang sedang terbakar oleh api cemburu, segera ia berpamitan pulang. Tentunya untuk mengetahui lebih jelas lagi tentang perempuan yang bersama Zakka.
"Hai, Zakka. Apa kabarnya? selamat ulang tahun, ya. Dan buat kamu Rey, selamat ulang tahun juga ya." Ucap Yevi memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Rey dan Zakka.
"Terima kasih atas ucapannya, terima kasih juga atas kehadiran kamu diacara kami." Jawab Rey.
"Terima kasih kamu sudah meluangkan waktu untuk datang ke acara kami, terima kasih juga atas doa dari kamu." Timpal Zakka ikut menjawabnya.
"Ya, sama sama. Ngomong ngomong kalau boleh tahu, siapa perempuan ini?" ucap Yevi dan mencoba bertanya untuk memastikan kebenarannya.
"Oooh, dia calon istriku. Namanya Sela, sebentar lagi aku Sela akan menikah dalam waktu dekat ini." Jawab Zakka meyakinkan, karena tidak ingin jika harus berurusan dengan seorang Yevi yang super licik, pikir Zakka.
"Oooh, kirain siapa. Ya sudah kalau gitu, aku pamit pulang. Jangan lupa undangannya ya, aku tunggu undangan darimu." Ucap Yevi dengan rasa iri ketika dirinya harus kembali gagal untuk mendapatkan apa yang ingin didapatkannya.
"Silahkan, hati hati dijalan." Kata Zakka.
Dengan penuh kekesalannya, Yevi akhirnya pulang lebih dahulu dari teman teman lainnya. Berharap akan ditahan untuk tidak dijinkan pulang, justru kenyataannya dipersilahkan untuk pulang. Semua teman teman yang lainnya tertuju pada Yevi yang sudah pulang lebih dulu.
"Itu anak kenapa lah, udah pulang duluan aja. Aku tahu, pasti dia gagal lagi gagal lagi." Ucap Afwan dengan ekspresinya yang lucu.
"Bisa aja kamu ini, pakai ekspresi yang kek gitu." Timpal kawan yang satunya.
"Ya ya, kasihan sekali itu Yevi. Dulu ditolak mentah mentah sama Rey, sekarang diabaikan oleh Zakka. Salahnya sendiri jadi cewek galaknya minta ampun, ganjen juga. Cowok mana yang mau, biarpun aku jelek gini juga tidak mau punya istri kek Yevi." Kata yang satunya lagi ikut menimpali.
"Punya istri kek Yevi, yang ada bunuh diri secara perlahan." Timpal sebelah Afwan tidak mau kalah untuk berkomentar.
__ADS_1
"Hem, ngomongin siapa?"
"Eh, ada Rey. Tidak ngomongin siapa siapa, kita ini cuman membicarakan Yevi." Kata salah satu temannya.
"Itu sama aja Dido ..." serempak semuanya, termasuk Rey. Kemudian mereka tertawa puas bersama dan kembali bersenda gurau dihujung waktu acara ulang tahun Rey dan kedua saudara kembarnya.
Usai berkumpul dan bersenda gurau bersama, acara pun segera ditutup oleh sebuah perpisahan. Untuk sebuah pertemuan hanya waktu yang akan mempertemukan kembali.
Satu persatu menghampiri Zakka dan Reynan, dan tidak lupa juga memberi sebuah ucapan pada keduanya.
"Aish, selamat juga ya untuk kamu yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Akhirnya kalian berdua menjadi suami istri juga, padahal kalian berdua itu suka diam diam tapi saling memperhatikan, ya 'kan? ngaku aja." Ucap teman satu kelasnya dan tidak lupa untuk mengingatnya kembali dimasa masa sekolah, Aish pun tersenyum dan kembali mengingat masa lalunya ketika masih sekolah.
"Apa apaan sih Enna, salah fokus kali kamunya." Kata Aish sambil tersenyum malu, Rey pun ikut tersenyum ketika melihat istrinya terlihat ceria.
"Aish, aku pamit pulang. Selamat ya untuk kamu dan Rey, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Aku doakan, semoga lancar lahirannya dan tidak ada suatu halangan apapun. Baik baik ya, untuk kamu dan calon bayi kamu. Semoga nular ke aku, aamiin." Ucap Yunda dan tidak lupa untuk memeluk sahabat dekatnya.
"Aamiin, terima kasih banyak ya, Yun. Aku doakan kamu, semoga kamu segera menyusul untuk hamil, aamiin." Kata Aish yang tidak lupa untuk memberi doa kepada sahabat karibnya, kemudian keduanya saling melepaskan pelukannya.
Setelah satu persatu berpamitan dan tidak ada lagi yang tertinggal, suasana kembali sepi. Waktu yang sudah larut malam, membuat Sela semakin gelisah. Pasalnya ia belum sempat meminta ijin kepada orang tuanya jika dirinya pulang terlambat.
"Sela, kamu kenapa?" tanya Aish yang mendapati Sela tengah gelisah.
"Em ... tidak apa apa kok Kak, Sela cuman kebelet aja." Kata Sela yang akhirnya harus berbohong.
"Oooh, pingin buang air kecil? ayo Kakak temani kamu."
"Tidak usah Kak, biar Sela sendirian aja." Jawab Sela sedikit gugup.
'Bagaimana ini? belum belum aku sudah berbohong, bagaimana dengan drama selanjutnya? aaah! kenapa menjadi rumit seperti ini sih.' Batin Sela dengan gelisah.
"Ya sudah kalau tidak mau ditemani Kakak, tapi kamu sudah tahu tempatnya, 'kan?" ucapnya dan bertanya.
__ADS_1
"Sudah Kak, kalau begitu Sela tinggal dulu ya Kak." Kata Sela yang terpaksa pergi ke kamar kecil karena alasan yang dibuatnya sendiri.
"Ya, tidak apa apa." Jawab Aish, kemudian Sela segera pergi ke kamar kecil.
Di satu sisi, Aidan membawa Zakka ke kamarnya. Sedangkan Rey dan Aish juga kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dikarenakan waktu yang sudah larut malam dan tidak baik untuk kesehatan perempuan hamil apabila dipaksa untuk begadang.
Setelah kembali ke kamarnya masing masing, kini tinggal Bunda Maura dan Tuan Ganan yang masih belum juga tidur. Keduanya tengah menunggu Sela yang masih berada dikamar kecil sambil duduk santai di ruang keluarga.
Setelah menenangkan pikirannya, Sela segera keluar dari kamar kecil. Berharap semuanya akan baik baik saja, meski dirinya sendiri tidak tahu yang akan terjadi dihari selanjutnya.
Setelah dirasa sudah cukup, Sela memilih untuk segera keluar dari kamar kecil. Ia sendiri sudah tidak sabar untuk segera pulang, pikir Sela yang tengah dihantui dengan kemurkaan orang tuanya.
"Akhirnya aku sedikit lega setelah acara ulang tahunnya selesai, meski kenyataannya aku masih kepikiran Papa." Gumam Sela sambil menarik ulur napasnya untuk tidak menambah gugup dan gerogi ketika berhadapan anggota keluarga Wilyam, pikirnya.
Dengan kelegaan, Sela keluar dari kamar kecil. Saat sudah keluar, suasana berubah menjadi hening. Tidak ada suara apa pun yang mengganggu gendang telinganya.
Pelan pelan agar tidak menimbulkan suara, Sela berjalan dengan penuh hati hati. Pasalnya ia tidak ingin menjadi pengganggu orang yang sedang beristirahat, pikirnya.
"Sela, kemarilah Nak." Panggil Bunda Maura ketika mendapati Sela yang sudah keluar dari kamar kecil.
"Nyonya, ada apa?" tanya Sela dengan gugup.
"Kemarilah, dan duduk lah. Jangan panggil Nyonya, panggil aja Ibu. Ada yang ingin Ibu sampaikan sama kamu, duduk lah." Kata Bunda Maura sambil menepuk sofa yang ada disebelahnya.
Sela tersenyum malu, kemudian ia duduk yang jaraknya tidak begitu dekat karena malu. Bunda Maura yang mengerti atas rasa malu serta gugup pada diri Sela, Beliau pun tersenyum ramah pada Sela.
"Malam ini kamu tidur rumah Ibu, pelayan sudah siapkan tempat tidurnya. Tidak apa apa, 'kan? pulangnya besok pagi saja. Sekalian bersama Zakka, dan juga ada Ibu dan ayahnya Zakka."
"Tapi, Bu. Saya belum meminta ijin sama Papa, takutnya Sela kena marah sama Papa." Jawab Sela yang tidak peduli dengan segi omongannya sendiri antara pantas dan tidak pantasnya, yang paling utama bagi Sela adalah tidak membuat orang tuanya murka terhadap anaknya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Sela. Anak buah Bapak sudah meminta ijin kepada orang tua kamu, jadi kamu tidak perlu takut." Kata Tuan Ganan menimpali.
__ADS_1
"Baik Tuan, terima kasih. Maafkan Sela yang sudah banyak merepotkan Bapak dan Ibu." Jawab Sela terasa sangat canggung dengan panggilan yang menurutnya sangat aneh, pikirnya.