
Aish masih terus berjalan tanpa peduli cuaca yang semakin buruk, ditambah lagi gerimis yang mulai deras dan suara petir yang bersahutan.
Sedangkan kedua temannya, yakni Afwan dan Yunda kini ikut cemas memikirkan keadaan Aish yang entah kemana.
"Afwan, bagaimana ini? sudah hampir gelap. Mana hujan, lagi. Kalau terjadi sesuatu sama Aish, bagaimana? apa yang harus kita katakan sama Ibu Melin." Tanya Yunda dengan panik.
"Ini semua itu gara gara Yahya, kalau dia bisa jaga mulutnya, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini." Ucap Afwan dengan perasaan dongkol.
"Afwan, bagaimana ini? kita harus bagaimana? hujannya semakin deras. Mana sudah adzan maghrib lagi, bagaimana ini?" berulang ulang Yunda mengucapkan kalimat yang sama karena panik memikirkan keadaan sahabatnya.
"Kita sendiri terjebak hujan, bagaimana kita bisa mencari keberadaan Aish? benar benar tidak memungkinkan jika kita menerobos hujan. Kita aja tidak bawa kendaraan, Yahya benar benar kejam." Sahut Afwan yang juga dengan kekesalannya.
Sedangkan didalam ruangan pasien, Yahya telah berhasil mengucap ikrar pernikahan dengan disaksikannya beberapa saksi dari keluarga pihak mempelai perempuan dan beberapa orang keluarga Yahya. Disaat itu juga, sang ayah telah menghembuskan napas terakhirnya dengan kalimat sahadat.
Seketika, Yahya menangis histeris. Yahya harus rela kehilangan kedua orang yang sangat ia sayangi, dan juga ia cintai. Kini dirinya seakan telah menelan pil pahit sekaligus melebihi dosis.
Napasnya yang terasa sesak, detak jantungnya yang seakan tidak lagi mampu untuk memompa. Namun, apa daya dari seorang Yahya yang ingin berbakti kepada kedua orang tuanya. Meski dirinya harus kehilangan sekalipun, Yahya tidak dapat menghindarinya bak maut yang sudah siap menjemputnya.
Aish yang tidak peduli dengan derasnya air hujan dan petir yang menggelegar, ia tetap berjalan menyusuri jalanan yang sudah mulai sepi pengendara sepeda motor maupun roda empat yang lainnya.
Jalanan begitu sepi, hanya suara hujan yang lebat dan angin yang kencang, serta petir. Suasana yang mencengkam itu seakan mewakilkan perasaannya yang tengah dilanda kesedihan.
Aish tidak henti hentinya menangis, ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan air matanya ikut mengalir dengan derasnya air hujan. Seseorang yang baru saja turun dari mobil, ia langsung mengejar Aish.
"Kamu sudah gi*la, ya. Kamu sengaja ingin menyusahkan banyak orang? hah." Kalimat yang seharusnya lembut, kini harus berubah menjadi amarah baginya.
"Lepaskan! aku sedang tidak gi*la, aku normal." Jawab Aish sambil menepis kedua tangan yang memegangi kedua pundaknya.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Aish ditarik cukup kuat sampai di depan sebuah Toko.
"Pakai akal sehat mu, apa untungnya bagimu berdiri dibawah guyuran air hujan dan angin kencang? bahkan dengan petir yang saling bersahutan."
Disaat itu juga, Aish hanya menunduk tanpa berani untuk menunjukkan wajahnya.
"Kamu itu perempuan yang bisa dikatakan ahli ibadah, tapi jalan pikiranmu sangat lah rendah. Apa untungnya kamu menghukum diri kamu sendiri karena lelaki seperti Yahya, hah."
"Ini semua gara gara kamu, dan kamu lah penyebabnya."
"Kamu bilang apa tadi? aku penyebabnya? sekarang juga ikut aku."
"Lepaskan tangan mu, jangan sentuh aku, Rey." Ucapan yang tidak sepatutnya diucapkan nya, kini begitu mudahnya Aish mengucapkannya.
Dengan kuat, Rey langsung melepaskan nya. Seketika, sekujur tubuh Aish mendadak kedinginan karena guyuran air hujan yang cukup deras hingga basah kuyub.
"Kamu dengar? adzan maghrib sudah berkumandang, apakah kamu akan terus terusan berada disini? tidak, 'kan? ayo ikut aku. Kita cari penginapan untuk sementara. Karena tidak mungkin kita menerjang hujan yang sangat deras ini, bahkan angin yang sangat kencang." Ajak Rey yang lagi lagi ia meraih tangan Aish dan ingin menariknya. Naas, Aish lebih dulu menyembunyikan tangannya kebelakang. Sedangkan Rey hanya membuang napasnya kasar dan berjalan sambil mencari sebuah tempat yang bisa dijadikannya minimal bisa untuk berteduh selama hujan turun sampainya reda.
"Penginapan, aku tidak salah membacanya 'kan?" Ucapnya lirih sambil memperhatikan tulisan yang lumayan cukup besar.
"Untuk sementara kita akan menginap dulu hingga hujannya reda, karena tidak mungkin jika kita harus balik lagi. Mobilku cukup jauh parkirannya, dan tidak mungkin juga aku meminta orang rumah untuk menjemput kita. Cuaca cukup ekstrim dan sangat membahayakan untuk pengendara yang memaksakan diri untuk berkendara." Kata Rey yang tidak lagi mempunyai pilihan.
"Aku tidak punya baju ganti, aku tidak mau. Aku mau pulang saja, aku tidak mau berada di penginapan."
"Jangan bandel, ayo ikut aku. Apa perlu aku akan memaksamu dan menggendongmu sampai ke dalam kamar." Ancam Rey dengan tatapan yang cukup menakutkan.
Mau tidak mau karena sudah tidak ada lagi alasan untuk tetap pulang, akhirnya Aish hanya bisa nurut dengan ajakan Rey.
__ADS_1
Saat sudah berada didalam, Aish maupun Rey disambutnya dengan hangat.
"Selamat malam, Mbak. Maaf, saya mau mencari penginapan. Kira kira masih ada kamar kosong atau tidak, ya?" Tanya Rey sambil mengeluarkan identitasnya, begitu juga dengan Aish.
"Maaf sebelumnya, kami hanya ada sisa satu kamar saja Pak." Jawabnya.
"Satu kamar?" dengan spontan Aish langsung berucap. Tiba tiba ia mendadak lemas jika harus satu kamar dengan Rey.
"Iya Mbak, hanya satu kamar. Itupun harus suami istri, jika tidak, kami tidak akan mengizinkannya."
"Tenang saja, kita berdua suami istri." Jawab Rey dengan tenang dan juga santai, sedangkan Aish membelalakan kedua bola matanya karena tercengang saat mendengar ucapan dari seorang Reynan.
"Kalau memang suami istri, tunjukan identitas kalian berdua kepada kami."
Dengan tatapan yang cukup tajam pada Aish, akhirnya Aish menyerahkan identitasnya berupa KTP.
"Ini Mbak, silahkan dilihat status kita berdua." Ucap Rey sambil menyodorkan KTP nya dan KTP milik Aish.
"Nama Aishwa Zahra, status menikah. Terus ... Reynan Wilyam, status menikah." Ucapnya, lagi lagi kembali mengecek foto KTP dan pemiliknya.
Seketika, wajahnya berubah sangat pucat ketika membaca sebuah nama belakang setelah Reynan. Sungguh diluar dugaannya, pikirnya. Jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang sangat terkenal itu, dalam pikirannya.
"Tu -- tu - tu ... Tuan. Ini kunci kamarnya, silahkan beristirahat Tuan. Jika ada sesuatu, katakan saja, Tuan." Ucapnya yang mendadak gemetaran.
Sedangkan Aish bingung sendiri ketika menyaksikan nya langsung. Dengan cepat tanpa bertele tele, Rey dan Aish segera diantarkan nya ke kamar yang Reynan pesan.
Sampainya didalam kamar, Rey segera mengunci kamarnya. Disaat itu juga, detak jantung Aish berdegup sangat kencang ketika dirinya hanya berdua didalam kamar tanpa ada yang lainnya. Ditambah lagi dengan pintu yang sudah terkunci, membuat pikiran Aish semakin tidak karuan.
__ADS_1
Hai ... penasaran lagi 'kan?
Loh loh loh kok Aish statusnya sudah menikah? cie ... yang penasaran. Aduh aduh aduh, jadi berdegup kencang jantungnya.