Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Tidak sabar ingin pulang


__ADS_3

Rey masih terasa gondokan ketika istrinya menyebut nama laki laki yang pernah disukainya dulu.


"Aish, Rey, apa kabarnya?" sapa Yahya dengan ramah.


"Baik," jawab keduanya serempak. Sedangkan Aish memilih untuk diam, ia tidak ingin membuat suaminya murka.


"Kok sendirian?" tanya Rey.


"Sudah tidak ada yang bisa aku ajak untuk datang ke acara pernikahan."


"Maksudnya?" Rey semakin penasaran dibuatnya.


"Aku sudah berpisah dengan Maula, rumah tangga ku tidak bertahan lama karena Maula tidak kunjung hamil." Jawab Yahya yang akhirnya berterus terang apa adanya didepan perempuan yang disukai dan juga lelaki yang sudah menjadi suami sah nya Aish, perempuan yang pernah menjadi harapannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk ingin tahu. Yang sabar ya, aku doain semoga kamu segera mendapatkan penggantinya yang lebih baik lagi."


"Aamiin, terima kasih atas doanya. Semoga kalian berdua selalu bahagia."


"Aamiin, terima kasih juga atas doa dari mu. Kalau begitu aku pamit pulang, ya. Sampai bertemu lagu, permisi." Ucap Rey berpamitan untuk pulang.


"Silahkan, hati hati dijalan." Kata Yahya berusaha untuk kuat. Meski sakit yang ia rasakan, dirinya tidak dapat memungkiri jika kesalahan berawal darinya.


'Aish, maafkan aku yang sudah pernah ingkar dengan mu. Maafkan aku yang sudah membuat mu terluka dikala itu, sungguh aku dalam posisi yang sangat bingung dan tak punya pilihan lain. Dan sekarang aku menuai hasilnya, aku kembali sendirian dengan kehampaan hanya karena hubungan pernikahanku belum juga dikaruniai anak. Kini istriku lebih memilih untuk berpisah dari pada mempertahankan rumah tangga.' Batin Yahya yang merasa penuh penyesalan dengan masa lalunya itu.


Disaat itu juga, Yahya masih memperhatikan perginya Aish bersama sang suami hingga tak terlihat lagi bayangannya.


Rey dan Aish yang sudah berniat untuk mendatangi rumah Ibu Melin, keduanya segera menuju ke rumahnya. Hanya melewati beberapa gang, Rey dan Aish telah sampai di rumah orang tua kandungnya.


Aish benar benar seperti mimpi ketika dirinya dipertemukan oleh kedua orang tuanya sekaligus.


"Sayang, kita sudah sampai. Ayo kita turun, sepertinya Papa dan Mama ada di rumah." Kata Rey dan mengajaknya untuk segera turun.


Aish yang tiba tiba terlihat canggung dan bingung, Rey tersenyum melihatnya.


"Kenapa tiba tiba ekspresi kamu jadi berubah begini, sayang? lucu sekali. Ini loh, rumah yang pernah menjadi tempat tinggal kamu dulu. Kenapa kamu merasa enggan untuk turun, sayang? ayo kita turun." Rey semakin gemas ketika melihat ekspresi istrinya itu.


"Aku merasa canggung, itu saja."


"Merasa canggung kenapa? karena dulu kamu memanggilnya dengan sebutan Tante, begitu maksud kamu? hem. Aish tersenyum lebar pada suaminya, kemudian ia mengangguk.


Sementara itu, Rey melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian ia membantu istrinya agar tidak kesusahan, pikirnya.

__ADS_1


Karena tidak mempunyai pilihan untuk menutupi kecanggungannya, Aish mencoba mengatur pernapasannya.


Dirasa sudah cukup dan tidak ada lagi yang dipikirkan, Rey dan Aish segera turun dan masuk ke rumah Ibu Melin.


Sampainya sudah berada didepan pintu, Aish menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Rey segera mengetuk pintunya dibarengi ucapan salam.


"Assalamu'alaikum ...." Sambil mengetuk pintu, Rey berucap salam.


"Wa'alaikumsalam ...." sahutnya dari dalam rumah. Setelah itu, pintu pun terbuka lebar oleh pemilik rumah.


"Aish, nak Rey, kalian berdua ... ayo masuk masuk." Kata Ibu Melin langsung meraih tangan putrinya.


Sampainya didalam rumah, Ibu Melin memeluk Aish dengan perasaan penuh kerinduan. Tidak hanya itu saja, Ibu Melin mencium kedua pipi putrinya berulang ulang.


"Tambah cantik saja anak Mama satu satunya, bagaimana kabar kalian berdua? dan juga kabar yang ada didalam sini? sehat sehat selalu ya, Anakku." Ucap Ibu Melin yang tidak lupa bertanya kabar dan juga mengusap perut putrinya itu yang sudah mulai terlihat meno*njol.


Sedangkan di rumah sakit, Zakka masih ditemani sang ibundanya tercinta. Dengan perhatian penuh, Zakka mulai ada perubahan. Meski terasa sakit pada kaki nya, Zakka sudah mulai menunjukkan sikap semangatnya dan kembali ceria seperti dulu.


"Sayang, jangan dibanyakin untuk gerak dulu." Kata Bunda Maura menegur putranya yang mulai aktif dengan bergerak.


"Zakka tuh sudah bosan loh, Ma. Mau sampai kapan, coba. Kita pulang aja yuk, Ma." Sahut Zakka yang sudah tidak lagi sabar untuk pulang ke rumah, pikirnya.


"Hem, kamu in. Palingan juga dua hari lagi kamu sudah dibolehkan untuk pulang, sabar dong, sayang." Ucap Bunda Maura sambil duduk santai di sofa, sedangkan Zakka duduk bersandar sambil menikmati beberapa macam buah yang sudah disiapkan oleh ibundanya.


"Dua hari itu tidak lama, percaya deh sama Mama."


"Ya sih, dibawa buat tidur sepanjang dua hari. Keknya tidak berasa lama, hem." Lagi lagi Zakka terus menggerutu karena dirinya mulai merasa bosan berada di rumah sakit, pikirnya.


Di ruangan yang lainnya, ada Sela yang tengah menemani orang tuanya yang sedang berbaring di rumah sakit. Dengan telaten dan penuh perhatian, Sela merawat sang ayah penuh dengan kasih sayangnya.


"Sela, kamu tidak bekerja?" tanya sang ayah dengan suaranya yang lirih.


"Sela sudah meminta ijin untuk tidak berangkat bekerja, Pa. Soal adik adik di rumah, ada mbak Winda yang mau membantu Sela, Pa. Jadi, Papa tidak perlu khawatir. Sekarang ini yang lebih penting adalah kesehatan Papa."


"Tapi Sel, uang dari mana kita? apa tidak semakin membengkak biaya rumah sakitnya?"


Seketika, Sela merasa sedih saat mendengar pertanyaan dari sang ayah. Sela hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Bapak tidak perlu khawatir, saya sebagai orang kepercayaan suami Nona Aish, saya yang akan mengurus semua biaya pengobatan Bapak di rumah sakit." Sahut pak Dirwan selaku orang kepercayaan dalam segi apapun, yang tidak lain sudah bagaikan remot kontrol keluarga Wilyam.


"Tapi Pak ... saya sudah sering merepotkan Nak Aish dan suaminya, saya tidak ingin merepotkan yang kesekian kalinya. Bukannya saya tidak mau menerima bantuan dari mereka, saya hanya tidak ingin menjadi beban nya." Kata ayah Sela yang merasa tidak enak hati ketika selalu mendapatkan bantuan dari putra keluarga Wilyam, pikir Beliau.

__ADS_1


"Bapak tidak perlu memikirkan sejauh itu, yang terpenting adalah kesembuhan Bapak." Jawab pak Dirwan berusaha untuk meyakinkan.


"Terima kasih banyak ya, Pak. Semoga Nak Aish dan suami serta keluarganya selalu diberi kesehatan dan rizki yang berlimpah." Ucap ayah sela yang hanya bisa memberi sebuah doa yang tulus.


"Nak Sela, bisakah kamu ikut Bapak keluar sebentar? ada yang ingin Bapak sampaikan dengan mu."


Sela yang mendapatkan ajakan dari Pak Dirwan, ia menolah ke arah sang ayah seakan untuk mendapatkan jawaban dan persetujuan dari orang tuanya sendiri. Sang ayah pun mengangguk untuk mengiyakan atas jawaban yang sudah ditunggu oleh putrinya.


"Baik Pak, mari." Jawab Aish dibarengi dengan anggukan.


Karena sudah mendapatkan persetujuan dari sang ayah, Sela akhirnya mengikuti Pak Dirwan dari belakang untuk keluar dari ruang pasien yang dimana sang ayah sedang dirawat.


Dengan pikirannya yang tidak karuan, tubuh Sela mulai gemetaran. Takut jika ada sesuatu ancaman untuk dirinya dan sang ayah, pikirnya disela sela mencoba mencerna apa maksud dari Pak Dirwan.


Setelah sudah keluar dari ruang pasien, Sela mencoba mengatur pernapasan nya. Berharap tidak ada apa apa yang mengkhawatirkan.


"Maaf Pak, sebenarnya ada apa ya?" tanya Sela memberanikan diri karena rasa penasarannya.


"Bapak hanya ingin memberi pesan ini sama kamu, dan kamu sampaikan pada ayah kamu dengan sangat hati hati." Jawab Pak Dirwan.


"Memangnya pesan yang seperti apa, Pak?" tanya Sela kembali karena masih menyimpan rasa penasarannya.


"Ayah kamu harus dilakukan operasi secepatnya, dan Bapak minta sama kamu untuk menyampaikan pesan ini dengan sangat hati hati. Bujuk lah sebaik mungkin, agar ayah kamu segera ditangani."


Seketika, Sela terkejut bukan main. Pasalnya, dirinya tidak pernah membocorkan penyakit yang diderita oleh ayahnya itu.


"Bapak tahu dari mana, jika Papa saya harus dilakukan operasi."


"Dari Dokter, kamu ngira ketika melunasi pembayaran tidak akan muncul jenis penyakit ayah kamu? hem."


Sela merasa malu ketika kebohongannya terbongkar. Mau tidak mau, Sela akhirnya mengakuinya.


"Maaf ya Pak, jika saya sudah berani berbohong. Karena saya tidak ingin menyusahkan orang lain, saya ingin berjuang sendiri untuk kesembuhan orang tua saya." Kata Sela sembari menundukkan kepalanya karena malu.


"Kamu tidak perlu malu, kamu harus kuat dan juga yakin jika orang tuamu kamu bisa sembuh." Ujar Pak Dirwan menyemangati.


"Terima kasih banyak atas kepeduliannya ya, Pak. Maafkan saya yang tidak bisa membalasnya, saya hanya bisa memberi doa untuk orang orang yang sudah peduli dan menolong saya dalam keadaan kesusahan." Kata Sela yang merasa penuh diperhatikan.


"Kita hidup tidak sendirian, ada orang yang perlu kita bantu dengan takaran kemampuan kita untuk membantunya. Jadi, kamu tidak perlu berkecil hati. Ada saatnya kamu akan seperti yang lainnya, bisa membantu orang orang yang sangat membutuhkan. Usia kamu masih sangat muda, waktumu masuk panjang untuk menggapai impian kamu. Bersemangat lah, semua berawal dari nol untuk memulai." Ucap Pak Dirwan yang tidak lupa memberi nasehat nasehat kecil untuk Sela.


"Ya Pak, terima kasih banyak atas semua nasehat dari Bapak. Saya akan lakukan sesuai yang Bapak sarankan untuk saya. Karena saya yakin, ada masanya untuk berubah." Jawab Sela berusaha untuk bersemangat.

__ADS_1


Sela tidak peduli dengan rapuhnya tentang perjalanan hidupnya, namun tidak membuatnya untuk menyerah. Semua ada tantangannya masing masing untuk menggapainya. Butuh kesabaran dan berpikiran positif dengan adanya sebuah prubahan.


__ADS_2