
Yahya yang mendengar permintaan dari orang tuanya pun terasa dilema, menolaknya pun ia merasa takut. Ditambah lagi dengan kondisi sang ayah yang semakin buruk, membuat Yahya bingung untuk menjawabnya. Ada Aish yang ia jaga hatinya.
Saat dirinya bingung harus menjawab apa, Yahya akhirnya menoleh kearah Maula yang berdiri disebelahnya. Diam, hanya itu yang dilakukan oleh Maula saat berada didalam ruangan yang mencekam.
"Bi ... Yahya ada Aaa ...." kalimatnya pun tak sampai untuk diucapkannya.
"Lu-pakan A-ish, me-nikah lah de-ngan Mau-la."
"Bi ...."
"Me-ni-kah lah de-ngan Mau-la, le-pas-kan A-ish."
"Tapi Bi ...."
Sang ayah hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan, lagi lagi Yahya prustasi dengan sebuah permintaan dari sang ayah.
"Maaf, waktu Pasien tidak lama. Kasihan Beliau, jika harus banyak berbicara." Kata seorang perawat yang tiba tiba datang untuk mengingatkan.
Dengan napasnya yang berat, Yahya akhirnya memilih untuk segera keluar dari ruangan tersebut begitu saja. Sedangkan Maula masih tetap pada posisinya, kemudian ia mendekati Beliau.
Yahya yang sudah keluar dari ruangan pasien, akhirnya ia menemui sang ibu untuk meminta pada Beliau masuk kedalam ruangan yang dimana sang ayah tengah berbaring di atas ranjang pasien.
Berulang kali Yahya mengusap wajah kasarnya, lalu mengacak rambutnya karena prustasi.
"Umi, Yahya sedang ada urusan. Umi temani Abi di dalam, secepatnya Yahya akan kembali menemui Abi." Kata Yahya pada sang Ibu. Sedangkan kedua orang tua Maula sendiri segera menyusul ke ruangan yang dimana sang ayah dari Yahya tengah dirawat.
Aish maupun kedua sahabatnya pun penuh dengan kecemasan, serta was was bak menghadapi sebuah ujian.
"Yahya, bagaimana keadaan Abi kamu?" tanya Afwan membuka suara.
"Keadaannya sangat memprihatinkan, bahkan sudah dalam mode kritis." Jawab Yahya dan langsung duduk begitu saja dengan tubuhnya yang terasa sempoyongan dan juga dengan pikirannya yang tidak karuan.
Aish yang tengah duduk disebelah Yahya pun bingung harus bagaimana, perasaannya pun masih teringat ketika nama Maula yang diminta untuk masuk kedalam ruangan pasien.
"Kenapa kamu keluar dari ruangan Pasien?" tanya Aish yang akhirnya membuka suara untuk bertanya.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara sama kamu hanya empat mata, bisakah?"
Yunda dan Afwan yang mendengarnya pun segera menyingkir dari Aish maupun Yahya.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan?"
"Aish, apakah kamu mau berjanji denganku?" tanya Yahya.
"Berjanji untuk apa?" Aish pun semakin penasaran dibuatnya.
"Maukah kamu berjanji untuk bertahan denganku? meski ini sangat sakit sekalipun."
"Maksudnya? janji apaan?" lagi lagi Aish masih terus bertanya.
"Abi memintaku untuk menikah sekarang juga, tapi ...."
"Tapi kenapa?" tanya Aish dan berusaha untuk tetap bersikap tenang, meski dirinya pun tahu apa yang akan disampaikan oleh Yahya.
"Abi memintaku untuk menikah dengan Maula." Ucap Yahya yang pada akhirnya berterus terang, meski pengucapannya sangat menyakitkan untuk didengar.
"Menikahlah, karena aku tidak mempunyai hak tentangmu. Kamu adalah milik kedua orang tuamu, selamanya. Menikah lah karena ibadah, jangan kamu buat permainan. Jangan pikirkan aku, karena aku sudah mengatakannya padamu. Jika kita berjodoh, maka kita akan dipertemukan di pernikahan. Jika kita tidak berjodoh, kita akan berjodoh dengan orang lain. Selamat, ya. Semoga sakinah, mawadah, warohmah." Ucap Aish setegar mungkin dan menarik napasnya pelan meski lumayan berat dan juga terasa sesak.
Yahya yang mendengar pernyataan dari Aish pun ia seperti tidak percaya atas ucapan dari perempuan yang ia sukai.
"Aish, bukan begitu tujuanku. Aku hanya melakukan pernikahan sementara, hanya siri. Jika aku memiliki luang yang cukup baik, aku akan menceraikannya." Kata Yahya menjelaskan secara detail, sayangnya Aish tetap pada pendiriannya.
"Sudah aku katakan dari awal, aku ikhlas untukmu menikah dengan perempuan yang sudah menjadi pilihan orang tua kamu. Menikah lah karena ibadah, jangan sampai kamu kecewakan orang tuamu yang tengah bertarung dengan rasa sakitnya. Jangan menjadi seorang anak durhaka, jadilah seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tua Ingat, kamu seorang lelaki. Kamu milik orang tuamu, ikutilah permintaan dari Beliau. Kamu tidak perlu memikirkan aku, karena aku baik baik saja sesuai dengan prinsip ku." Ucap Aish panjang lebar, Yahya yang mendengarnya hatinya seakan teriris iris.
Bukan dukungan yang Yahya dapatkan, namun seakan mendapatkan luka dari senjatanya sendiri. Begitu juga dengan Aish yang dirasakannya pun bukan dukungan, namun mendapatkan luka dari senjatanya sendiri.
Sakit, itu pasti. Namun bagaimana lagi, karena situasi yang memaksanya untuk menyakiti dan tersakiti.
Karena tidak ingin berlama lama berada di rumah sakit, akhirnya Aish memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut
"Aku pulang, Assalamu'alaikum." Ucap Aish berpamitan, Yahya hanya diam membisu dan tidak mampu untuk berucap sepatah katapun pada Aish.
__ADS_1
Yunda dan Afwan pun kaget ketika melihat Aish berjalan sendirian dan pergi begitu saja tanpa mengajaknya untuk pulang.
"Yahya, Aish kenapa?" tanya Afwan penasaran.
"Kalian berdua berantem?" tanya Yunda ikut menimpali.
Yahya hanya diam ketika mendapatkan pertanyaan dari kedua sahabatnya. Berkata jujur, itu tidak mungkin bagi Yahya. Ditambah lagi dengan kondisi yang cukup resah jika harus berkata jujur.
"Kenapa kamu diam, Yah?" lagi lagi Afwan kembali bertanya.
"Aku mau menikah sekarang juga, tapi bukan sama Aish."
"Apa!!" teriak Afwan maupun Yunda bersamaan dengan reflek.
"Kamu mau menikah? jangan mengada ngada kamu, Yah."
"Aku serius, Abi sedang kritis dan memintaku untuk menikahi Maula. Lantas aku harus bagaimana? hah, pilihanku sangat lah sulit, Wan, Yun."
BUG!
Satu tinjuan dari Afwan telah melayang tepat pada sudut bibir milik Yahya hingga pecah dan mengeluarkan darah segar. Sedangkan Yahya sendiri tidak membalasnya, karena ia sadar kesalahan apa yang sudah dilakukannya.
"Afwan! sudah, jangan kamu pukul Yahya." Kata Yunda berusaha untuk menahannya.
"Aku kecewa sama kamu, Yah. Aku muak melihatmu, mulai sekarang kau! bukan temanku." Ucap Afwan dengan kecewa karena sudah menyakiti perasaan sahabatnya sendiri, yakni Aishwa.
Begitu juga dengan Yunda yang tidak jauh bedanya dengan Afwan, yakni sama sama kecewanya.
"Maaf Mas, Anda dipanggil untuk segera menemui Beliau." Ucap salah satu perawat yang memanggil Yahya untuk kembali masuk ke ruang rawat orang tuanya.
Sedangkan Yunda dan Afwan segera mengejar Aish yang sudah duluan
keluar dari rumah sakit tersebut.
Keduanya celingukan mencari keberadaan Aish, namun tetap saja tidak menemukan bayangannya.
__ADS_1
Sedangkan Aish tengah berjalan kaki menyusuri jalanan tanpa teman bersamanya. Tiba tiba angin mulai datang cukup kencang, suara petir mulai terdengar jelas.