Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kaget


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah harapan Aish yang sudah lama ia nantikan. Hari yang dimana ia nanti nantikan, yaitu hari berakhirnya ia mengenakan seragam abu abunya. Aish berdiri didepan cermin, mengenakan pakaian seragam abu abu.


"Setelah ini, kemana lagi aku harus melangkah. Haruskah, aku mencari pekerjaan? melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi? mustahil. Jangankan untuk kebutuhan sekedar menyenangkan diri sendiri, untuk bisa makan aja sudah sangat bersyukur." Ucapnya lirih didepan cermin, kemudian ia mengenakan khimarnya dan merapihkan penampilannya.


"Aish, ayo kita sarapan Nak ..." panggil sang Ayah sambil menarik kursi di ruang makan.


"Iya, Pa .... sebentar lagi Aish keluar kok, Pa." Jawab Aish sambil mengenakan khimarnya.


Tidak lama kemudian, Aish segera keluar dan menuju ruang makan. Dilihatnya sang ayah yang juga sudah siap untuk mengikuti acara perpisahan putrinya disekolahan.


"Papa, tumben sudah rapi. Biasanya Papa tidak serapi ini, jangan jangan ..."


"Jangan jangan apa? hem, jangan aneh aneh pikiran kamu itu. Sudah, ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin, hambar rasanya."


"Kirain Aish, tapi tidak apa apa juga kok Pa. Jika Papa mau mencari Mama baru buat Aish, karena sebentar lagi Aish ..." ucapnya yang tiba tiba mendadak berhenti dari kalimatnya.


"Maksud kamu?" tanya sang ayah penasaran dengan ucapan dari putrinya pada kalimat terakhirnya.


"Tidak ada apa apa kok, Pa. Hanya saja, Aish masih belum memiliki tujuan setelah tidak sekolah lagi." Jawab Aish, kemudian duduk dihadapan ayahnya.


Disaat itu juga, sang ayah tersenyum mengembang melihat ekspresi Aish yang terlihat menyimpan sesuatu yang disembunyikan dari ayahnya.


"Kamu jangan khawatir, Aish. Papa sudah menyiapkan semuanya jauh jauh hari sebelum kamu tumbuh sebesar seperti sekarang ini. Papa tahu apa yang maksudkan, melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, 'kan? Papa sudah memiliki tabungan yang cukup untuk kamu sekolah lagi." Ucap sang ayah dan tersenyum bahagia melihat putrinya.


"Papa serius?" tanya Aish dibarengi dengan senyum merekah dibibirnya. Sang ayah yang melihat senyum manis pada putrinya pun mengangguk untuk meyakinkannya.

__ADS_1


"Sekarang lebih baik kita sarapan dahulu, setelah sarapan akan Papa beritahu sesuatunya pada kamu." Ajak sang ayah, Aish pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian sang ayah kembali menikmati sarapan paginya bersama putri kesayangannya.


'Benarkah yang diucapkan Papa? jadi ... aku masih bisa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Alhamdulillah, semoga mimpi mimpi untuk membahagiakan Papa bisa terwujud, Aamiin ...' batin Aish sambil menyendoki nasi gorengnya.


Usai menikmati sarapan paginya, Aish membereskan meja makannya. Sedangkan sang ayah kembali masuk ke kamarnya untuk mengambilkan sesuatu untuk putrinya.


"Pa, ayo kita berangkat. Aish sudah siap nih, Pa." Panggil Aish pada ayahnya.


Saat melihat sang ayah tengah memegangi sesuatu, disaat itu juga sepasang mata Aish memandangi sesuatu yang menurutnya sangat membuatnya penasaran.


"Pa, itu apa yang Papa pegang?" tanya Aish dengan rasa penasarannya.


"Oooh, ini. Nih, ini ATM untuk biaya kuliah kamu. Didalamnya ada isi yang cukup untukmu melanjutkan pendidikanmu. Maafkan Papa, hanya ini yang bisa Papa lakukan dan Papa berikan untuk kamu." Jawab sang ayah, kemudian menyerahkannya pada Aish putrinya.


"Papa, maafkan Aish. Jika selama ini Aish belum bisa membahagiakan Papa, bahkan membalas jasa jasa Papa. Maafkan Aish yang selalu merepotkan Papa, kalaupun Papa tidak ada tidak perlu Papa berikan. Mendingan ini ATM untuk disimpan Papa, takut jika Papa membutuhkannya." Ucap Aish merasa keberatan untuk menerima pemberian dari ayahnya.


"Terima kasih ya, Pa. Aish sangat beruntung ... banget, memiliki seorang Papa yang begitu besar kasih sayangnya pada Aish. Andai saja ada Mama, pasti kita bahagia bersama. Aish rindu, Pa ... Aish kangen Mama. Padahal hari ini Aish telah menyelesaikan pendidikan Aish di sekolahan, tapi ..." ucapnya tidak lagi dapat berkata apa apa.


"Kamu jangan bersedih, Mama kamu pasti bangga memiliki gadis sepertimu. Sudah cantik, pintar, lagi. Ya sudah, ayo kita berangkat." Jawab sang ayah dan mengajaknya untuk segera berangkat.


"Oh iya, Aish lupa. Ponsel Aish tertinggal, Aish mau foto foto bersama teman teman untuk sebagai kenang kenangan. Boleh kan, Pa? Aish hanya ingin menjadikan kenangan yang tidak pernah terlupakan." Ucap Aish meminta izin penuh harap.


"Tentu saja, Papa sudah tidak lagi melarangmu. Kamu sudah besar, kamu pasti bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah. Papa hanya bisa mengingatkan, jaga diri kamu baik baik. Jangan mudah untuk percaya dengan orang yang menurutmu meragukan dengan ucapannya." Jawab sang ayah kembali menasehatinya.


"Terima kasih Pa, sudah mengingatkan Aish." Jawab Aish, kemudian segera mengambil ponselnya.

__ADS_1


Sesampainya didalam kamar, saat sebuah ponsel miliknya diambil dari dalam laci. Aish mencoba mengeceknya lagi, takutnya kedua sahabatnya telah mengirimkan pesan untuknya.


Deg!! Aish mendadak seperti jantungan, detak jantungnya seakan tidak lagi terkontrol.


"Yahya! Yahya sudah pulang? oh! tidak, kenapa aku jadi takut. Ya Tuhan ... kenapa aku jadi gelisah begini?" ucapnya lirih dan masih menatap layar ponselnya.


"Aish ... ayo kita berangkat, Nak." Panggil sang ayah yang sudah bersiap siap untuk segera berangkat.


"I --- iiya, Pa. Bentar lagi, Pa." Sahut Aish dalam kamar, kemudian segera keluar.


"Maaf Pa, tadi Aish sedang membenarkan khimar Aish." Ucap Aish beralasan, ia takut untuk mengatakannya soal Yahya. Disamping sang ayah tidak menyetujui, ayah Aish takut akan menjadi pembicaraan orang banyak mengenai kedekatan putrinya dengan anak dari keluarga yang terkemuka di daerahnya. Apa lagi dengan status keluarga Yahya yang sangat disegani, ayah Aish memilih untuk menghindar. Agar tidak terjadi sesuatu hal buruk menimpa putrinya.


"Aish, ayo naik." Ajak sang ayah yang sudah duduk di atas motor.


"Iya Pa," jawab Aish.


Dalam perjalanan menuju tempat dimana Aish sekolah, sang ayah begitu fokus mengendarai kuda besinya.


Sedangkan di dalam Asrama laki laki, kini tengah sibuk mempersiapkan diri untuk bersiap siap meninggalkan Asrama tersebut. Rasa bebas dan juga berat tersimpan menjadi satu, itulah yang dirasakan oleh Zakka dan Reynan serta murid murid yang lainnya.


PUK!!!


"Kak Rey!" panggil Zakka sambil menepuk punggung sang kakak yang tengah berdiri sambil melihat pemandangan dari atas gedung Asrama.


"Seharusnya kak Rey itu senang dan tidak penat lagi." Ucap Zakka, Rey hanya menoleh kearah sang adik dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Jangan jangan ... kak Rey ada siswi yang kak Rey sukai ya? kelihatan tuh, mode kerinduannya."


"Hem! itu kan Kamu, aku tidak sedang memikirkan perempuan. Aku hanya sedang menata masa depanku setelah ini, memangnya kamu! perempuan terus yang ada didalam ota*kmu itu, cih! memalukan." Jawab Rey dan segera turun dari atas gedung Asrama.


__ADS_2