Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa dibohongi


__ADS_3

Di kediaman keluarga Wilyam, semua anggota keluarga tengah berada di ruang makan. Namun tidak untuk Zakka, ia yang sedari tadi mondar mandir kesana kemari sibuk memikirkan kemana perginya sang kakak yang tidak terlihat batang hidungnya di dalam rumah.


Tuan Ganan yang tidak mendapati putra keduanya di ruang makan, Beliau segera bergegas menemui putranya didalam kamar. Sedangkan yang lainnya termasuk kakek Angga langsung menoleh ke arah Tuan Ganan yang tengah menapaki anak tangga menuju kamar putranya.


"Maura, kamu susul suami kamu. Mama khawatir jika Zakka akan berdebat dengan Papa nya." Perintah Omma Qinan pada menantunya.


"Baik Ma, permisi." Jawab Bunda Maura, kemudian Beliau segera menyusul suaminya yang tengah menemui putranya.


Zakka yang tidak sadar sudah ada orang tuanya dibelakangnya, dirinya sibuk dengan layar lebarnya serta ponselnya.


"Zakka, sedang apa kamu? kenapa tidak ikut malam bersama Papa? ada masalah? hah." Tanya sang ayah mengagetkan, Zakka masih tetap diam dan tidak bergeming sepatah kata pun.


"Zakka, sudah waktunya makan malam. Ayo kita turun, nanti hambar loh." Ajak sang ibu sambil berjalan mendekati putranya.


"Mama dan Papa duluan aja, Zakka masih kenyang." Sahut Zakka tetap pada pandangannya lurus pada layar lebarnya.


"Kamu kenapa? tidak seperti biasanya. Katakan pada Papa, ada apa sebenarnya? kamu jangan bohongi Mama dan Papa." Tanya Tuan Ganan mengulangi pertanyaannya.


"Dimana kak Rey? jangan bilang Papa dan Kakek sekongkol dengan kak Rey." Tanya Zakka ke pokok intinya.


"Bukankah ada di kamar?"


"Tidak ada, sudah pergi dari tadi." Jawabnya dengan dongkol.


"Baik lah, Papa akan menelponnya dan memintanya untuk segera pulang."

__ADS_1


"Papa tidak perlu menelpon kak Rey, Zakka mau tidur. Silahkan Mama dan Papa makan malam, nanti Zakka akan turun jika rasa lapar sudah mengundang. Selamat malam Pa, Ma." Ucap Zakka dan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan langsung menyambar selimut yang ada didekatnya.


"Papa makan malam aja dulu, biar Mama yang akan menemani Zakka." Ucap Bunda Maura pada suaminya, Tuan Ganan mengangguk pasrah.


Tidak tepat untuk berterus terang, ditambah lagi akan ada acara di kediamannya. Tuan Ganan memilih untuk tetap tenang, agar kegelisahan nya tidak nampak pada putranya.


Bunda Maura yang merasa kasihan terhadap putra keduanya, Beliau hanya bisa berusaha untuk menenangkan hati putranya. Pelan pelan Bunda Maura duduk disebelah Zakka, kemudian membuka selimut yang menutupi bagian kepalanya.


"Zakka, ada apa dengan kamu Nak? apa yang sudah membuatmu marah? ada masalah apa kamu dengan kakak kamu? ceritakan lah sama Mama." Tanya Bunda Maura sambil mengusap rambut milik putranya.


Zakka yang mudah luluh sama sang ibu, ia langsung membenarkan posisi duduknya dan bersandar dikepala ranjang tempat tidurnya dan menyilangkan kedua tangannya serta dengan kepalanya yang menyender di pundak sang ibu.


"Ceritakan sama Mama, apa yang membuatmu seperti ini Nak? apa karena wanita yang kamu sukai itu? atau ... ada hal lainnya yang membuatku marah. Sayang sekali kalau kamu menuruti egomu, buanglah jauh jauh rasa benci mu itu pada kakak kamu. Buang lah prasangka burukmu itu, siapa tahu saja kak Rey sedang ada pertemuan dengan teman kuliahnya dari luar Negri. Jangan sampai rasa cintamu itu berubah menjadi rasa benci, bahkan kamu rela menyakiti perasaan kamu sendiri. Jangan paksakan yang bukan hak mu, tapi ikhlaskan karena bukan milikmu." Ucap sang ibu mencoba untuk mengingatkan putranya.


"Tidak, kamu tidak salah. Yang salah itu, jika kamu bersaing dengan cara yang tidak sehat. Yakni tidak sehat akal dan pikiranmu." Kata Bunda Maura, Zakka masih diam tanpa berucap.


"Zakka hanya menyukainya, Ma. Dihati Zakka hanya ada perempuan yang bernama Aish, tidak ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisi Aish di hati Zakka." Ucap Zakka dengan pengakuannya tentang cinta yang ia pilih.


Bunda Maura yang mendengar kejujuran dari putranya, Beliau meraih tangan milik Zakka dan menggenggamnya erat.


"Semakin kamu menggenggamnya dengan erat, maka kamu akan merasa sakit yang paling dalam jika kamu tidak bisa memilikinya. Tapi ... jika kamu hanya menggandengnya, maka kamu tidak begitu sakit jika kamu ingin melepaskannya. Jangan paksakan sesuatu yang belum jelas menjadi milikmu. Yang lebih penting itu, perbaiki dirimu dan raih kesuksesanmu. Mama yakin, kamu akan menemukan jawabannya soal jodoh yang terbaik untuk kamu." Kata Bunda Maura yang tidak pernah bosan untuk menasehati putranya.


Zakka masih diam dan menyenderkan kepalanya pada pundak sang ibu.


"Sudah lah, kamu tidak perlu pusing memikirkannya. Belajar lah untuk berlapang dada, apapun itu." Ucap sang ibu mengingatkan, lalu merangkulnya bak putranya yang masih kecil. Dengan terpaksa, Zakka menganggukkan kepalanya. Tidak mempunyai pilihan lain selain menerima nasehat ibunya, meski itu sangat menyakitkan sekalipun.

__ADS_1


"Masih ada waktu untuk makan malam, ayo kita turun kebawah. Mama akan menemanimu makan malam, ayo turun." Ajak Sang ibu, Zakka mengangguk dan bangkit dari posisinya pergi keluar dari kamar menuju ruang makan ditemani sang ibu.


Sedangkan di perjalanan, Aish masih berada dipelukan suaminya. Ingin menyingkirkan tangan milik suaminya karena malu, namun ia merasa nyaman berada dalam dekapan suaminya itu.


'Entah kenapa aku merasa begitu nyaman berada di dekatnya, apa lagi berada di dekapannya.' Batin Aish, dan dengan reflek ia melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk suaminya lebih mengeratkan lagi hingga tanpa sadar tertidur pulas dalam perjalanan.


Rey tersenyum bahagia saat perlakuannya selalu mendapatkan respon dari istrinya. Bahkan ia sudah tidak sabar untuk mengakuinya pada publik, dan tidak ada lagi gelisah dan was was.


'Aku harus mengakuinya didepan Zakka, tapi ... aku sangat khawatir saat mendapat reaksi yang tidak pernah aku duga pada dirinya. Yang aku takutkan, dia akan berbuat nekad dan mencelakai istriku. Apa aku sanggup untuk menutupi statusku ini terus menerus? tidak akan mungkin bisa.' Batin Rey dengan penuh kegelisahan nya.


"Tuan, kita sudah sampai." Ucap Pak Dirwan membuyarkan lamunan Tuan mudanya, Rey pun kaget dibuatnya.


"Sudah sampai ya, Pak."


"Ya, Tuan." Jawab Pak Dirwan dan segera keluar dan membukakan pintu mobilnya, dikarenakan melihat istri dari Tuan Muda nya tengah tertidur pulas dalam dekapan suaminya.


Rey yang tidak ingin membangunkan istrinya, dengan pelan ia menggendong dan membawanya masuk ke dalam Hotel.


"Pak Dirwan langsung pulang saja, dan jangan lupa tas bawaan istri saya antarkan ke rumah yang akan kami tempati. Satu lagi, kirimkan baju ganti yang lengkap ke Hotel ini." Perintah Rey sambil menggendong istrinya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Jawab Pak Dirwan dan bergegas pergi dari hadapan Tuan Muda nya.


Sambil menggendong istrinya, Rey tidak begitu peduli ketika banyak sepasang mata tengah memperhatikannya. Ia terus berjalan menuju kamar yang sudah ia pesan lebih dulu.


Saat membuka pintu kamar, tiba tiba Aish terbangun dan membuka matanya dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2