Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Tidak ingin mengecewakan


__ADS_3

Dirasa sudah cukup untuk beristirahat, perut Sela terasa lapar dan minta untuk diisi perut kosongnya.


Saat kedua matanya terbuka, Sela memperjelas penglihatannya. Kemudian ia menoleh kearah samping, tepatnya sang suami tengah tidur dengan pulas.


'Terlihat tenang sekali ketika kak Zakka tidur. Seumur hidupku baru pertama kalinya aku melihat seorang lelaki tenan tidur dengan sangat pulas. Aku masih terasa bermimpi, ya! ini mimpi.' Batin Sela sambil memperhatikan suaminya yang sedang tidur pulas.


Entah ada angin apa, Zakka mengganti posisinya menghadap sang istri dan meraba di sekelilingnya seakan mencari sesuatu. Disaat itu juga, Zakka telah meraih tangan Sela dan menggenggam dengan erat.


"Aish, kamu Aish 'kan?"


Seketika, Sela terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya. Sela kembali untuk mencerna kalimat yang dilontarkan oleh sang suami, tetap saja pikirannya sulit untuk mencernanya.


"Aish, Aish." Lagi lagi Zakka kembali menyebutkan nama Aish berulang ulang, Sela teringat dengan Aish yang sudah dianggapnya sebagai sang kakak.


"Aku Sela, Sela, dan aku bukan Aish." Ucap Sela dan mencoba untuk melepaskan tangannya yang tengah digenggam oleh sang suami.


Zakka pun tersadar dengan apa yang sudah ia ucapkan barusan. Zakka langsung bangkit dari posisinya dan bersandar. Begitu juga dengan Sela ikut bangkit dari posisinya dan ikut duduk bersandar dengan jarak yang cukup dekat.


"Siapa Aish? apakah kak Aish?" tanya Sela mencoba untuk memberanikan diri karena rasa penasarannya.


Zakka menoleh kearah istrinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Pelan pelan Zakka menarik napasnya panjang dan menbuangnya pelan. Kemudian ia meluruskan pandangannya kearah tembok kamarnya.


"Ya, Aish istri kak Rey." Jawab Zakka yang akhirnya berterus terang tanpa menutupi kebenaran yang ada.

__ADS_1


Seketika, Sela sangat terkejut mendengarnya. Benar benar diluar dugaan jika Aish yang disebut ada Aish yang sudah dianggap kakaknya sendiri.


Napsnya berubah menjadi sesak dan leher yang terasa tercekik. Sakit, itu sudah pasti saat mendengar jawaban dari suaminya sendiri. Meski hanya sebatas pura pura, Sela merasa telah dibohongi. Rupanya perempuan yang dimaksud sebelumnya ada Aish istri Reynan, pemilik Toko kueh. Yang mana selalu memberinya pertolongan dan sudah dianggap kakaknya sendiri.


Sela terdiam membisu, satu kalimat pun tidak keluar dari mulutnya. Zakka yang merasa bersalah, ia meraih tangan istrinya.


"Jangan sentuh aku." Kalimat yang padat dan sangat jelas untuk didengarkan. Ingin beranjak pergi dan keluar dari kamar pun, itu tidak akan mungkin. Sela sudah berjanji untuk membalaskan budi atas kesembuhan orang tuanya.


Pilihan yang benar benar sangat sulit, bahkan sulit untuk ia keluar dari permasalahannya sendiri.


"Sela, aku minta maaf jika aku tidak berkata jujur dari awal. Percayalah, aku tidak ada maksud untuk membohongi kamu. Karena aku tidak mempunyai pilihan lain selain kamu yang bisa aku percaya. Aku mohon, berdamailah. Aku janji, setelah kakiku sembuh, kamu bisa memutuskan apa permintaan kamu. Tapi tolong untuk saat ini, tolonglah temani aku dalam keadaan aku yang sedang rapuh ini. Aku ingin membuat kedua orang tuaku tidak sibuk memikirkan keadaanku." Ucap Zakka bertetus terang, bahkan ia tidak peduli bila dikatakan seorang lelaki yang pengecut dengan kalimat kalimatnya yang panjang.


Sela masih tidak meresponnya, perasaannya tiba tiba terasa sakit saat mendengar penuturan dari suaminya.


Meski hanya sebuah pernikahan balas budi, Sela memiliki perasaan sakit jika ia mendapatkan kebohongan.


'Kenapa aku harus masuk di dalam masalah yang sangat sulit ini? aku yang lemah dan tidak memiliki cara untuk memecahkan masalah ku ini.' Batin Sela dengan perasaan dilemanya.


Zakka yang tidak mendapatkan respon, ia meraih alat nantinya untuk berjalan. Sela pun memperhatikannya, ada rasa kasihan dan juga tidak tega untuk meninggalkan suaminya.


'Egois sekali jika aku memintanya untuk menceraikan aku. Padahal, keluarga Wilyam sudah banyak membantu keluarga ku. Dan kenapa aku bisa sampai lupa dengan hal itu, benar benar memalukan.' Batin Sela sambil memperhatikan sang suami yang dengan susah payah untuk berdiri.


Sela yang melihatnya pun, ia langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Lepaskan, aku bisa melakukannya sendiri. Kamu tidak perlu repot repot untuk membantuku, karena aku tidak mau merepotkan kamu." Kata Zakka sambil menepis tangan milik istrinya.


"Ya sudah kalau tidak mau, kalau jatuh jangan. salahkan aku. Salahkan diri kakak sendiri yang bandel, ok." Jawab Sela yang kini sudah berubah nada bicaranya, Zakka pun langsung mendongakkan pandangannya pada sang istri.


"Oooh pintar jawab ya, sekarang." Kata Zakka dengan ekspresi yang sulit untuk di tebak.


"Aku lapar," ucap Sela yang akhirnya tanpa malu malu untuk berkata jika dirinya merasa perutnya minta untuk diisi.


"Ada syaratnya," kata Zakka sambil menatap istrinya. Sela pun membulatkan kedua bola matanya.


"Syarat apaan?" tanya Sela penasaran.


"Kamu harus bisa menunjukkan ..." tiba tiba ucapannya menggantung. Zakka teringat jika Sela tidak mau disentuh, yang berarti ingin berpisah.


"Menunjukkan apa, Kak?" tanya Sela lagi.


"Tidak, aku lupa jika kamu ingin berpisah. Bukankah kamu tidak ingin aku sentuh, 'kan? aku mengatakannya langsung didepan keluarga." Jawab Zakka dengan terang terangan, Sela pun berubah merasa tidak enak hati.


"Itu tadi, sekarang tidak. Aku janji, aku akan bersama Kak Zakka sampai sembuh. Setelah sembuh, aku akan pergi sesuai keinginan dari Kakak." Kata Sela, Zakka pun mengangguk.


"Tenang saja, selama kamu masih sah menjadi istriku, aku akan menguliahkan kamu. Aku memberi waktu untuk mengejar cita cita kamu, tapi hanya lewat online dan aku akan membuatkan ruangan khusus untuk kamu kuliah lewat online. Semua biaya aku yang akan menanggungnya, jadi kamu masih bisa untuk menemaniku." Jawab Zakka, Sela sendiri tercengang mendengarkannya. Sela merasa mendapatkan durian runtuh.


"Tidak usah Kak, aku sudah tidak berminat untuk melanjutkan kuliah. Aku mau fokus untuk menemani Kak Zakka, dan membantu Kakak untuk sembuh." Kata Sela yang tidak ingin selalu merepotkan.

__ADS_1


"Tidak apa apa, aku hanya ingin memberi hadiah berubah kuliah. Diterima, ya. Oh ya, jangan panggil aku Kakak. Karena aku tidak ingin kedua orang tuaku akan mencurigai kita. Panggil saja pada umumnya, sayang aja juga boleh." Ucap Zakka, Sela kembali membulatkan kedua bola matanya.


"Kagetnya tidak segitunya juga, kali. Ayo, kita keluar." Kata Zakka dan mengajaknya untuk keluar dari kamarnya.


__ADS_2