
Kini tinggal lah Bunda Maura dan Tuan Ganan yang sedang menemani putranya. Zakka yang masih merasakan sakit pada bagian kaki kanannya, ia berusaha untuk menahan rasa sakit yang cukup dalam. Bahkan Zakka tak mampu walau hanya sekedar duduk bersandar.
Sakit yang ia rasakan tak cukup hanya di pergelangan kaki, tetapi menjalar sampai di dekat bagian tulang ekornya. Benar benar sangat sakit dan sulit untuk digerakkan.
"Zakka, jangan kamu paksakan untuk bergerak. Tetap lah berbaring saja, takut akan ada yang geser pada urat di bagian kaki kamu. Bersabar lah, Papa sudah mengajukan kamu untuk dilakukan tindakan." Ucap sang ibu untuk menenangkan putranya yang sedang menahan rasa sakit pada bagian kakinya.
"Tapi Ma, Zakka ingin duduk bersandar. Punggung Zakka terasa panas, gerah juga." Kata Zakka memohon, tetap saja kedua orang tuanya melarang putranya untuk banyak bergerak.
"Bersabar lah, bentar lagi Dokter akan segera datang. Papa kamu sudah menemui pak Dokter, tadi. Sekarang kita tinggal nunggu jadwal yang ditentukan oleh Dokter, untuk kamu bersiap siap lah untuk dilakukan operasi." Ucap sang ayah ikut menimpali, Zakka tidak punya cara lain selain menuruti perintah dari kedua orang tuanya.
Selain untuk kesembuhan dirinya, Zakka tidak mau membuat kedua orang tuanya kerepotan. Apa lagi kedua orang tuanya tidak lagi muda, Zakka sama sekali tidak ingin menjadi beban pikiran sang ayah maupun ibundanya tercinta.
"Tidak apa apa, kan. Jika kaki kamu ini dilakukan operasi? Papa dan Mama ingin kamu segera sembuh dan beraktivitas seperti biasanya." Tanya Bunda Maura pada putranya, Zakka tersenyum mendengarnya. Meski terasa sangat sakit, Zakka tetap menunjukkan ekspresi yang biasa biasa saja didepan keluarganya.
"Tidak apa apa kok, Ma. Jika operasi adalah jalan yang terbaik, kenapa tidak. Zakka akan selalu menerima keputusan dari Mama dan Papa, asal itu yang terbaik untuk Zakka." Jawab Zakka yang tak pernah lupa untuk tetap terlihat baik baik saja, bahkan tidak lepas untuk tersenyum.
Tidak lama kemudian, datang lah seorang Dokter masuk kedalam ruang rawat Zakka.
"Permisi, maaf jika kami sudah mengganggu." Ucap sang Dokter ketika membuka pintu ruangan pasien.
"Pak Dokter, mari silahkan masuk." Jawab Tuan Ganan mempersilahkan Pak Dokter untuk segera masuk ke ruang rawat putranya.
"Terima kasih, Tuan. Begini, kami datang kemari mau menyampaikan pesan dari Dokter Agung. Kata Beliau, Tuan diminta untuk membantu putranya bersiap siap. Karena sebentar lagi aja segera dilakukan operasi, waktunya tidak lama." Kata pak Dokter memberi pesan.
"Baik, Pak Dokter. Sejarang juga kan, ya." Ucap Tuan Ganan kembali memastikan, takut jika pesan yang diterima salah.
__ADS_1
"Benar, Tuan. Beberapa Dokter sudah menunggu." Jawabnya memperjelas ucapannya.
Setelah tidak ada yang diragukan lagi, Tuan Ganan dan Bunda Maura segera membantu putranya untuk segera bersiap siap.
Setelah tidak ada lagi yang kurang, asisten Dokter membawa Zakka sampai ke ruangan yang dimana Zakka akan dilakukan operasi pada bagian kaki kanan miliknya.
Tuan Ganan dan Bunda Maura hanya bisa mengantarkan putranya sampai didepan pintu, selebihnya hanya bisa menunggunya di luar.
Mau tidak mau, kedua orang tua Zakka tidak dapat merayu sang Donkter agar bisa selalu dekat dengan putranya.
Pasrah, sekata saja menjadikan pikiran kedua orang tua Zakka tidak karuan. Takut jika harus berpisah dengan keluarganya, termasuk anak dan pasangannya.
Masih dengan kekhawatiran, kepanikan, kecemasan, rasa takut, gugup, tidak bersemangat, kini telah menjadi satu dalam pikiran Tuan Ganan dan Bunda Maura.
Sedangkan ditempat lain, Rey masih dalam perjalanan pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus segera ditangani. Disaat itu juga, Rey teringat dengan kejadian di dumah sakit. Kejadian apa lagi kalau bukan soal Sela yang tengah berada didalam rumah sakit.
Karena tidak ingin menjadi seseorang yang ingkar janji, Rey mencoba menghubungi orang kepercayaannya kembali.
Sambungan telpon telah tersambung dengan ponsel milik seseorang yang menjadi orang kepercayaannya.
Panggilannya pun terjawab tanpa harus menunggunya, Rey tersenyum lega ketika ia dapat mendengarkan suara dari sebrang telpon.
"Apa! penyakit jantung?" Rey benar benar terkejut ketika mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh orang kepercayaannya.
"Baik lah, sekarang juga kamu urus semua biaya untuk pengobatan orang tuanya Sela." Perintah Rey yang tidak bisa di rubah.
__ADS_1
Merasa sudah puas mendengarkan penjelasan dari orang kepercayaannya lewat sambungan telepon, Rey langsung memutuskan sambungan telpon nya.
"Ada apa, Tuan? sepertinya sangat penting." Tanya Pak Dirwan selaku supir pribadinya uang tengah mengendarai mobil.
"Sela sudah membohongiku, Pak." Jawab Rey sambil mengatur pernapasan nya.
"Membohongi Tuan? tentang apa itu, Tuan?" lagi lagi tanpa canggung, Pak Dirwan kembali bertanya karena rasa penasaran nya.
"Penyakit yang dimiliki oleh orang tua Sela dia sudah menyembunyikannya dariku." Jawab Rey yang masih mengatur napasnya.
"Memang penyakit apa yang di derita orang tuanya Sela, Tuan?" tanpa bosan masih terus bertanya.
"Waktu aku memergokinya, kata Sela jika ayahnya sakit lambung. Tetapi setelah meminta orang kepercayaan untuk melunasi semua biayanya, terkuak lah kebenarannya. Bahwa Ayahnya Sela telah mengidap kanker pada jantung Beliau." Jawab Rey dengan kebenaran yang ada, pak Dirwan ikut terkejut ketika mendengar kebenarannya.
"Kanker pada jantung, Tuan? yang benar saja. Itu sangat menakutkan, harus segera ditangani sebelum berakibat fatal. Sepertinya harus segera dilakukan operasi, Tuan." Ucap Pak Dirwan memberi saran pada Reynan.
"Ya Pak, akan saya usahakan secepatnya untuk segera ditangani. Tapi itu tidak mudah, kita harus melihat kondisi ayahnya Sela." Kata Rey yang menyetujui saran dari Pak Dirwan.
"Kasihan sekali si Sela, gadis kecil yang harus berjuang hidup sendirian demi keluarganya. Untung saja sudah selesai sekolah, benar benar menyedihkan." Ucap Pak Dirwan yang begitu kasihan melihat dan mendengar tentang Sela, dari kecil hingga sebesar sekarang ini.
"Saya sangat berhutang budi dengan gadis kecil yang bernama Sela, Pak. Selama ini dia yang sudah menjaga Aish selama aku tidak bisa menemaninya demi menghindari Zakka. Bahkan saya sendiri tidak tahu jika Aish telah hamil, tau tau saya nekat untuk pulang menemuinya." Kata Rey teringat akan semua kebaikan dari seorang Sela yang berhati baik.
"Terus ... sekarang kita mau pergi kemana, Tuan? pulang atau ada urusan yang lainnya."
"Kita pulang saja dulu, Pak. Ada sesuatu yang harus diselesaikan, yakni urusan Kantor. Sebenarnya harus ke Kantor sih, tapi rasa ingin bertemu istri sudah tidak sabar, Pak." Jawab Rey yang berterus terang tanpa ada malu malu dengan Pak Dirwan.
__ADS_1