Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Akhirnya bertemu


__ADS_3

Yunda dan Afwan akhirnya menghampiri sahabatnya yang tengah berdiri menatap banyak nya orang orang yang ada didalam gedung tersebut.


"Aish, kamu pasti bisa. Aku tahu bahwa kamu orang yang kuat dan juga sabar, kamu pasti bisa untuk melewatinya. Kamu masih ada kita berdua dan juga Tante kamu, buktikan jika kamu mampu. Dari pada kita hanya berdiri nganggur disini, kita duduk disebelah sana aja yuk." Kata Yunda, kemudian mengajaknya untuk segera duduk berkumpul dengan teman lainnya.


"Iya Aish, kamu pasti bisa dan mampu untuk melewatinya. Jangan dijadikan semangatmu hilang, kamu harus lebih bersemangat lagi." Kata Afwan ikut menimpali.


Aish yang mendengarkan penuturan dari kedua sahabatnya pun, ia hanya mengangguk dan ikut bergabung bersama teman teman yang lainnya.


Satu persatu semua mendapatkan panggilan dan maju kedepan, semua bergilir sesuai urutan nya masing masing dan berfoto. Disaat nama Aish yang mendapat panggilan, perasaan nya pun mulai tidak karuan. Pikirannya kembali merasa sedih, yang dimana keberhasilannya tidak dapat ia berikan kepada orang tuanya. Yakni seorang ayah yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Empat tahun lamanya, Aish telah berpisah dengan sang ayah. Tidak terasa kini dirinya telah menggapai cita citanya walau baru selangkah, setidaknya ia sukses meraih impiannya dari dulu saat bersama sang ayah.


Dengan kasih sayangnya walau hanya menjadi seorang tukang ojek, sang ayah mampu memberi penyemangat untuk putrinya menggapai apa yang dicita citakan.


Disaat itu juga, Aish teringat dengan seseorang. Ingin rasanya bertemu dan mengucapkan banyak terima kasih, namun dirinya tidak mendapati orangnya.


Mau bagaimanapun, keberhasilan nya tidak samata karena perjuangan nya sendiri. Tetap saja ada campur tangan orang lain, walaupun itu semu. Nyata, namun tidak nampak.


Setelah semua selesai hingga pada urutan yang terakhir, kini giliran untuk dilakukan foto bersama dengan keluarga mau sahabat dan status lain nya.


"Aish," panggil seseorang yang jaraknya tidak jauh darinya. Disaat itu juga, pandangan Aish tertuju pada seseorang yeng tengah berdiri dengan penampilan yang sangat berbeda.


Empat tahun lamanya tidak bertemu, kini telah dipertemukan kembali dengan usia yang tidak lagi belasan tahun. Senyum itu pun terpancar oleh kedua sudut bibirnya, saat melihat seseorang yang ada dihadapan nya itu.


"Yahya," kata Aish yang juga ikut memanggilnya.

__ADS_1


Yahya yang melihat senyum bahagia dari Aish, segera ia mendekatinya.


"Aish, selamat atas keberhasilanmu. Oh iya, bagaimana kabar kamu? maaf ya, aku datangnya terlambat." Kata Yahya memberi ucapan selamat pada Aish.


"Iya, terima kasih banyak atas ucapannya. Kalau soal kabar, aku baik baik saja seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya? maaf, jika selama ini aku sengaja mengganti nomorku dan tidak pernah memberi kabar untuk mu, karena memilih untuk sibuk dengan dunia belajarku." Jawa Aish sambil tersenyum, meski senyumnya tiba tiba menghilang.


"Tidak apa apa, aku tahu dengan kesibukan mu. Yang terpenting aku sudah melihat dengan jelas, jika kamu baik baik saja." Kata Yahya yang mengerti sibuknya dengan dunia belajarnya.


"Kalau begini terus ... kapan fotonya? hem." Kata Yunda protes, Ibu Melin hanya tersenyum mendengar nya.


"Tunggu, untuk Nak Yahya dan Aish dilarang untuk foto berdua. Jika foto bersama yang lainnya tidak apa apa, karena kalian berdua belum sah menjadi suami istri." Ucap Ibu Melin beralasan, Aish maupun Yahya mengangguk dan mengiyakan.


Setelah itu, tiba tiba Yunda teringat dengan selebaran kertas yang ia dapatkan bersama kedua sahabatnya.


"Acara apaan sih Yun?" tanya Afwan menimpali.


"Jangan pura pura lupa deh, hari ini tuh kita akan kedatangan tamu istimewa. Yakni Pemilik Perusahaan yang ternama itu, siapa itu namanya. Wilyam, kalau tidak salah. Dan hari ini, pemiliknya mau datang. Dengar dengar sih masih sangat muda, siapa tahu aja bisa jadi obat cuci mataku ini." Jawab Yunda mengingatkan.


"Hem, kan ada aku. Kenapa mesti cuci mata dengan pemilik Perusahaan, mustahil menyukai perempuan biasa. Yang ada juga yang sejajar dengan nya, sama tajir nya. Lah kamu, tajir darimana. Cantik aja masih kurang, hem." Ucap Afwan ikut menimpali.


"Ya biarin aja sih kenapa, kan cuman mau cuci mata. Siapa tau aja nanti diterima jadi karyawan nya, soalnya aku mau daftar gaes." Kata Yunda dengan semangat.


"Iya ya ya deh, kita lihat aja orang nya kek apa. Palingan juga udah 40 tahun keatas." Sahut Afwan yang mulai kesal, sedangkan Aish, Yahya dan Ibu Melin hanya tertawa kecil melihat keributan Afwan dan Yunda.


Karena tidak ingin ada perdebatan, akhirnya Aish, ibu Melin dan yang lainnya segera mencari tempat duduk untuk menyambut kedatangan pemilik Perusahaan yang memberi peluang untuk menerima karyawan baru di Perusahaan nya.

__ADS_1


Menit berganti menit, tidak terasa waktu yang ditunggu cukup lama. Semua mulai bosan menunggu kedatangan seseorang yang ditunggu tunggu sedari tadi.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya yang ditunggu tunggu pun telah datang dan memasuki podium.


Semua tercengang melihatnya, ketika melihat siapa orang nya yang tengah berdiri dengan tegak.


"Yah ... ketipu deh, ternyata yang datang Bapak bapak. Ganteng sih, tapi udah jadi bapak bapak." Celetuk Yunda dengan wajah kecewa, ketiga sahabatnya termasuk ibu Melin mentertawakan kesialan Yunda yang benar benar malu pastinya.


"Tuh lihat, orang yang mau dibuat cuci mata sama kamu. Ganteng 'kan? masih mudah kek kita kita 'kan? sana, buruan samperin. Lumayan loh, jika kamu bisa menggodanya. Itung itung dapet Daddy sugar, kek di novel novel itu." Ledek Afwan dengan semangat.


"Apa apaan sih, bukannya kasihan kek, apa kek, semangat banget mojokin aku." Kata Yunda dengan cemberut, disaat itu juga tiba tiba senyum merekah terpancar diwajah Yunda.


"Itu bapak nya gaes, berarti yang ada di Kantor adalah anaknya. Yes! aku masih ada kesempatan, kesempatan." Kata Yunda yang langsung bersemangat ketika yang ada di Podium adalah orang tuanya.


"Awas loh hati hati, bisa bisa yang di Kantor itu si kakek nya." Kata Afwan sambil terbahak bahak saat membayangkannya.


Tidak hanya itu, seketika Yahya dan Aish maupun Ibu Melin ikut terbawa ucapan Afwan yang sangat menghibur.


"Afwan! sudah dong ngejek nya, aku yakin jika yang dikatakan Bapak itu tidak bohong." Kata Yunda yang tetap bersikukuh dengan pendirian nya.


"Iya Yun, kamu benar. Ibu sudah melihat beritanya di televisi, ada anak cowoknya dua ganteng ganteng yang akan memimpin perusahan nya." Kata Ibu Melin ikut menimpali.


"Wah, serius Bu. Tuh kan, benar kataku." Ucap Yunda dengan percaya diri.


"Iya ya ya deh, kita percaya sama kamu." Kata Afwan sambil memasang muka cemberut nya.

__ADS_1


__ADS_2