Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Perpisahan


__ADS_3

Didalam ruang UKS, Aish ditemani sang ayah dan Yunda sahabatnya. Sedangkan Afwan menunggunya diluar ditemani salah satu temannya.


"Afwan, dimana Aish?" tanya Zakka sambil celingukan.


"Mau ngapain kamu? Aish tidak membutuhkan kamu, pergi saja kamu." Bukannya menjawab, Afwan memilih untuk mengusirnya.


"Memangnya kamu siapanya Aish? hah! pacar? kakaknya Aish? saudara? atau ... suruhan orang?" tantang Zakka dengan berani sambil mencengkram kerah baju Afwan.


"Zakka! lepaskan." Seru seseorang mengagerkan, Zakka segera menoleh ke sumber suara.


"Aish, bagaimana keadaan kamu? mana yang sakit, Katakan padaku. Aku akan membawamu ke Dokter, atau aku panggilkan Dokter untuk mengobati kamu." Ucap Zakka sambil memperhatikan kondisi Aish.


"Lebay! tidak segitunya juga, kali. Jangan sok sokan jadi orang kaya deh, mau pakai acara mengantarkan ke Dokter. Terus ... tadi apa yang kamu bilang, emm mau panggil Dokter? ngaca dulu aja kamu itu. Sekolah aja tinggal di Asrama, yang dari mana kamu?" ejek Afwan yang kini mulai berani pada Zakka.


"Afwan! jaga mulut kamu." Bentak Aish yang merasa malu atas perbuatan Afwan yang mulai bersikap buruk pada Zakka.


Sedangkan Zakka yang melihat Afwan tengah mendapat bentakan dari Aish, Zakka hanya tersenyum puas.


"Lihat saja, aku atau Kau! yang miskin. Untuk sekarang ini aku peringatkan kepadamu, mumpung kamu masih muda. Gunakan waktumu untuk bekerja keras, agar kamu bisa mengatakan aku itu miskin. Sampai bertemu di lain waktu, sampai jumpa untuk terakhir kalinya." Sahut Zakka yang sudah mulai geram dan juga kesal, apa boleh buat jika dirinya harus berani untuk tidak mudah diremehkan orang lain.


"Siapa takut, ngadepin orang sepertimu itu gampang. Palingan juga kamu cuman ngandelin prestasi kamu, sekolah gratis dan ujung ujungnya menjadi Honor." Ucap Afwan setengah berbisik didekat Zaknka, ejekannya semakin semangat untuk mengejek Zakka.


"Terserah, bye!" dengan sorot matanya yang tajam, kemudian Zakka menghampiri Aish.


"Maafin teman aku ya, Zakka." Ucap Aish yang merasa sangat malu ketika sahabatnya berbuat buruk pada Zakka.


"Tidak apa apa, selamat ya untuk kamu. Akhirnya kamu memenangkannya, aku bangga padamu. Maaf Pak jika saya lancang, bolehkah saya bertanya sesuatu?" jawab Zakka dan beralih pada ayah Aish untuk bertanya.


"Silahkan," jawabnya singkat.


"Boleh tidak, jika saya mengundang Aish dan Yunda untuk merayakan kelulusan di panti Asuhan." Ucap Zakka memberanikan diri, meski hasilnya akan nihil sekalipun.


"Bagaimana ya, Nak. Bapak tidak pernah mengizinkan Aish untuk keluar dari rumah tanpa Bapak, sekali lagi Bapak minta maaf untuk tidak mengabulkan permintaan kamu." Jawab ayah Aish menolaknya, sedangkan Aish hanya pasrah.

__ADS_1


"Maaf Zakka, aku dan Yunda juga ada acara sore nanti. Jadi, aku tidak bisa menerima ajakan kamu. Sekali lagi maafkan aku, maaf banget." Sahut Aish menimpali.


"Tidak apa apa, tapi ... sekali kali jika aku ada waktu, boleh kan kalau aku main tempat kamu?" tanya Zakka lagi lagi tidak mau menyerah. Sedangkan Yunda hanya menjadi pendengar setia.


"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya. Karena sang pemilik izin adalah Papaku, bukan aku." Jawab Aish dengan sangat hati hati, takut jika menyakiti perasaan diantara Zakka dan ayahnya.


"Kalau untuk silaturahmi, Bapak izinkan. Jika keseringan, Bapak tidak mengizinkan. Apakah kamu mengerti maksud dari Bapak?" sahut ayah Aish, Zakka mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksudkan ayah Aish.


"Saya mengerti Pak, mungkin satu tahun sekali." Jawab Zakka dan tersenyum ramah.


"Setahun sekali? kurang lama deh kayaknya, kenapa tidak sekalian tiga tahun sekali." Ledek Yunda sambil melirik ke arah Zakka.


"Kamu kira aku ini bang Toyib, hah? enak aja. Satu tahun keknya berat, disuruh tiga tahun. Jangan ngada ngada kamu, Yun." Ucap Zakka.


"Zakka, Papa dan Mama sudah menunggu. Ayo, kita siap siap."


"Iya Kak, tunggu sebentar." Jawab Zakka yang lupa akan rahasianya, sedangkan Rey mendekatinya.


"Iya, perkenalkan. Dia adalah kakakku, kita berdua saudara kembar. Maafkan kami berdua yang slama ini sudah merahasiakan identitas kami." Sahut Zakka menjelaskan.


"Aish, bagaimana keadaan kamu?" tanya Rey basa basi.


"Sudah mendingan kok Rey, terima kasih banyak sudah menolongku." Jawab Aish berusaha untuk tenang.


"Sama sama, maafkan kata kataku yang sudah mengganggu pikiran kamu." Ucap Rey merasa bersalah.


"Tidak, kamu tidak bersalah." Jawab Aish yang kehabisan kata kata untuk berucap.


Afwan yang melihatnya dari kejauhan merasa kesal saat Aish terlihat akrab dengan Rey maupun Zakka.


"Terima kasih ya Nak, kamu sudah menolong putri Bapak. Oh iya, karena acaranya sudah selesai. Bapak mau pamit pulang, kasihan Aish harus istirahat." Ucap ayah Aish.


"Iya Pak, tidak apa apa." Jawab Rey, sedangkan Zakka berubah ekspresi. Yang tadinya semangat, sekarang harus kecewa lantaran sang kakak yang tiba tiba datang ikut menimbrungnya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang, Papa dan Mama sudah menunggu." Ajak Rey, kemudian ia berjalan menuju Asramanya.


"Berapa tahun lagi aku bisa memiliki Aish, mungkinkah aku pemenangnya? entah lah. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha untuk memperjuangkannya, soal jodoh itu adalah takdir." Ucapnya bergeming dengan lesu.


"Kak Rey, tunggu." Panggil Zakka, sedangkan Rey memutarkan badannya dan menghadap pada sang adik. Keduanya saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain.


"Ada apa? mau ngikuti Aish lagi? sana, pergi."


"Bukan! bukan itu, hal lainnya."


"Apaan? jangan bertele tele."


"Kak Rey menyukai Aish 'kan?" tanya Zakka memberanikan diri.


"Pertanyaan yang tidak penting, ayo pulang." Jawab Rey, kemudian kembali memutar badannya dan terus berjalan menuju Asrama.


Zakka yang merasa tidak mendapatkan jawaban dari sang kakak, Zakka mencoba untuk menyimpulkannya sendiri.


"Sekarang aku sudah tahu jawabannya, kak Rey menyukai Aish. Hanya saja, kak Rey sangat pintar menyembunyikannya pada orang lain. Namun tidak untukku, aku tetap bisa merasakan hal yang sama." Zakka terus bergeming sambil berjalan.


Sedangkan Yunda dan Aish maupun Afwan telah berada dalam perjalanan pulang. Ketiganya pulang dengan orang tuanya masing masing, hanya saja Aish dan orang tuanya hanya mengendarai sepeda motor.


"Pa, hari ini Papa tidak kerja 'kan?" tanya Aish.


"Bertanya nya nanti aja, Papa takut tidak fokus nyetir motornya." Sahut sang ayah yang tengah fokus dengan stang motornya.


"Iya Pa, maaf." Ucap Aish merasa bersalah.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, Aish dan ayahnya telah sampai didepan rumahnya yang cukup sederhana.


Dengan hati hati, Aish turun dari motor. Kemudian ia segera masuk kedalam rumah, setelah itu Aish dan sang ayah duduk di ruang tamu sambil mengatur pernapasannya.


Sedangkan sang ayah yang merasa penasaran dengan nilai anaknya yang mendapat prestasi urutan yang pertama, segera Beliau memeriksanya.

__ADS_1


__ADS_2