Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Menasehati


__ADS_3

Sedangkan di depan Asrama sudah berdiri kedua orang tua Zakka dan Rey. Dengan antusias, Ayah dan Ibu begitu sabar menunggu kedua putranya yang sama sama berprestasi. Dengan berat hati, Rey maupun Zakka sama sama terasa berat untuk meninggalkan kenang kenangannya semasa di Asrama serta sekolahan yang menjadi saksinya.


Karena tidak ingin kedua orang tuanya menunggu terlalu lama, Zakka dan Rey segera keluar dari Asrama dan keduanya menarik koper masing masing.


"Rey!" teriak seorang perempuan berlari mengejarnya.


Reynan yang merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke sumber suara. Dilihatnya perempuan yang selalu mendekatinya, meski Rey sendiri sering menghindar demi perasaannya pada seseorang tidak akan pernah goyah sampai kapanpun.


"Rey, kamu mau pulang ya?" tanyanya sambil menatap sedih.


"Iya, aku harus pulang. Hari adalah hari terakhirku berada di Asrama ini, kenapa Yev?" jawabnya dan bertanya balik. Sedangkan Zakka hanya memperhatikan pada keduanya, namun Zakka tidak begitu peduli.


"Aku kira kamu pulangnya besok, padahal aku ingin mengajakmu untuk kumpul bersama dan merayakan perpisahan bersama yang lainnya." Jawabnya dengan kecewa.


"Maaf, aku tidak bisa. Waktuku tidak bisa lama lama, aku harus segera pulang." Ucap Rey, seketika dirinya teringat dengan seseorang. Namun, segera ia menepisnya.


"Oh, kirain. Ya sudah kalau kamu tidak bisa, sampai bertemu dilain waktu. Semoga setelah ini, kita bisa bertemu lagi. Kalau boleh tau, kamu mau daftar di Kampus mana?"


"Aku tidak tahu, akh harus berembuk terlebih dahulu dengan kedua orang tuaku. Kalau begitu aku pamit untuk pulang, sampai jumpa." Ucap Rey, kemudian kembali menarik kopernya dan pergi meninggalkan Asrama diikuti Zakka yang berjalan beriringan.


"Kak Rey, sepertinya Yeri suka sama kamu dr Kak." Ucap Zakka membuka suara.


"Terus?"


"Kenapa tidak didekati saja, cantik loh orangnya. Tidak hanya itu, cocok kalau sama kak Rey." Jawab Zakka mengompori.


"Buat kamu aja, kata kamu cantik 'kan? aku rada juga cocok sama kamu dari pada aku. Karena aku merasa tidak cocok dengan Yevi, tetapi aku lebih cocok dengan perempuan lain." Ucap Rey menatap serius pada Zakka, sedangkan yang ditatap seketika diam tidak berucap sepatah katapun.

__ADS_1


Rey yang merasa puas mengucapkan kalimatnya, ia melanjutkan jalannya dan segera menghampiri kedua orang tuanya yang tengah menunggu.


Zakka yang merasa terpojok, ia pun mengerti jika sang kakak masih dengan perasaannya yang begitu rapi dalam menyimpannya.


'Aku menyukainya, dan aku tidak akan melepaskan begitu saja. Aku akan terus bertahan, sampai kapan kak Rey akan menyerah.' Batin Zakka sambil menarik kopernya.


"Rey, Zakka. Kenapa muka kalian terlihat kusut begitu? hah. Kalian tidak sedang dalam mode marah, 'kan? ayo katakan pada Mama." Tanya sang ibu pada kedua putranya, Zakka dan Rey masih diam tanpa berucap.


"Mama ih, kenapa tidak tahu masa masa berakhirnya abu abu sih? hem." Sahut Zakka yang mencoba untuk tidak dicurigai sang ibu.


"Rey hanya merasa ngantuk aja kok Ma, tidak ada sesuatu yang mengganjal." Sahut Rey ikut


menimpali, namun tidak untuk sang ayah maupun sang ibu. Kedua orang tuanya tetap dapat membaca raut wajah kedua putranya, bahwa keduanya tidak bisa lepas dari seorang gadis yang sama.


"Ya sudah kalau tidak ada yang mengganjal di hati kalian berdua, ayo kita naik mobil. Karena kita harus menjemput Neyla, waktu kita tidak banyak." Ajak sang ibu teringat putri kesayangannya.


Ssssttt


Mobil pun mendadak berhenti, kedua orang tuanya serta Rey ikut kaget dibuatnya. "Zakka!" panggil sang ayah dengan curiga, Zakka segera diam tanpa berucap.


"Ada apa lagi, Zakka?" tanya sang ayah dengan gregetan.


"Zakka lupa, Pa. Jika Zakka berencana untuk mengajak teman untuk merayakan kelulusan, serius tidak bohong." Jawab Zakka penuh harap.


"Ya sudah, kalau kamu dan Rey mau turun. Papa memberi kebebasan pada kalian untuk yang kali terakhirnya, karena dalam waktu dekat ini kalian akan berangkat ke luar Negri. Mau tidak mau, kalian tidak bisa menolaknya." Ucap sang ayah memberi kesempatan pada kedua putranya.


Sedangkan Rey tidak begitu meresponnya, karena percuma juga untuk merayakan kelulusan bersama teman temannya hanya ditemani rasa hambar.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kalian ingin segera turun, nanti Papa meminta beberapa anak buah Papa untuk menemani kalian saat kalian membutuhkan sesuatu."


"Tidak perlu Pa, cukup kirimkan motor biasa untukku dan motor yang cukup bagus untuk Zakka." Jawab Rey menolak.


"Untuk apa? kan ada mobil, sayang." Tanya sang ibu penasaran.


"Kak, mana bisa begitu. Aku tidak mau, kita samaan." Sahut Zakka menimpali, Zakka sudah dapat menebaknya. Jika sang kakak tidak ingin menunjukkan orang berpunya, melainkan miskin semiskinnya.


'Ajang yang cukup bagus, menunjukkan ketidakpunyaan. Biar cewek cewek semakin tidak ingin mendekatinya ketika berjumpa dengannya, ide bagus.' Batin Zakka yang sependapat dengan sang kakak.


"Baiklah, aku setuju dengan ide Kak Rey." Ucap Zakka meyakinkan, sedangkan Rey hanya berdehem. Zakka tida memperdulikannya, Zakka sudah mengerti dengan sikap dinginnya sang kakak.


Sambil melaju dengan pelan, kedua anak buah Tuan Ganan telah tiba tepat di depan mobilnya. Seketika, mobilnya pun berhenti.


"Turunlah, permintaan kalian sudah datang. Ingat, jangan menyombongkan diri ketika kamu dihina hingga titik paling menyakitkan. Tetap hadapi dengan tenang, ada waktunya kamu akan menunjukkan jati diri kalian. Tapi bukan sekarang waktunya, tetapi setelah kalian berdua benar benar mampu." Ucap sang ayah memberi nasehat serta peringatan pada Zakka dan Rey, keduanya mengangguk mengerti. Lalu, Zakka dan Rey segera turun.


Begitu juga dengan sang ayah, Tuan Ganan ikut turun. Sedangkan sang istri memilih untuk tetap didalam mobil.


"Zakka, Rey, kamu harus ingat pesan Papa." Sahut sang ibu mengingatkan kembali pada kedua putranya.


"Iya, Ma. Tenang saja, kita berdua pasti bisa." Jawab Zakka sambil turun. Saat sudah turun dari mobil bersama sang ayah, Tuan Ganan menatap satu persatu putranya.


"Papa tidak perlu khawatir, Rey akan tetap bersikap tenang seperti Papa setiap menghadapi masalah. Meski yang Papa hadapi adalah istri Papa sendiri, yaitu Mama." Jawab Rey yang mencoba belajar dari ayahnya.


"Ah iya, Papa pernah dianggap remeh dan rendah oleh orang lain. Tapi Papa tidak pernah menunjukkan dada sombongnya, Papa tetap bersikap tenang." Sahut Zakka ikut menimpali dengan suara yang lirih, takut sang ibu akan mendengarnya.


"Ya sudah, hati hati dijalanan. Jangan kebut kebutan, bahaya. Ingat, jangan pernah menyombongkan dada kalian." Ucap sang ayah kembali mengingatkan, Rey dan Zakka mengangguk.

__ADS_1


"Siap! Bos." Lagi lagi Zakka yang lebih dahulu menjawab.


__ADS_2