
Setelah sampai di depan Restoran, keduanya segera melepaskan sabuk pengamannya. "Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Rey dan membuka pintu mobilnya, Aish hanya nurut.
Setelah turun dari mobil, Rey meminta salah satu penjaga Restoran tersebut untuk memarkirkan mobilnya.
Sambil berjalan beriringan, beberapa pengunjung tengah mengarahkan pandangannya ke Aish dan Rey. Banyak yang memperhatikan Rey dan Aish yang terlihat nampak serasi.
"Selamat pagi Tuan, Nona, mari silahkan masuk." Sapa salah satu pelayan dengan ramah, sedangkan Aish membalasnya dengan anggukan disertai senyuman.
Sambil berjalan, Aish tetap fokus dengan pandangannya lurus kedepan tanpa celingukan. Saat menemukan tempat yang cukup sepi, segera ia menarik kursinya untuk Aish.
"Duduk lah, kita sarapan paginya disini saja. Aku rasa masih belum banyak pengunjung, jadi tidak perlu untuk memilih ruangan privat." Kata Rey sambil mempersilahkan duduk pada istrinya.
"Tidak ada apa apa, justru aku lebih suka yang seperti ini dan tidak harus privat."
"Iya, aku tahu maksudmu." Ucap Rey tanpa ragu ragu. Tidak lama kemudian, salah satu pelayan telah menghampirinya sambil membawa pilihan menu makanan. Sedangkan Aish lebih fokus memperhatikan Rey yang tengah berbicara dengan pelayan tersebut.
'Inikah wajah suamiku? benarkah aku sudah menikah? kenapa detak jantungku berdegup kencang seperti ini? ada apa ini?' batin Aish tanpa ia sadari jika dirinya sudah berkali kali di panggil oleh suaminya tidak menjawabnya. Justru Aish begitu fokus melamun dengan memperhatikan suaminya tanpa berkedip.
Rey yang mendapati istrinya sedikit aneh, ia sendiri langsung menghidupkan layar ponselnya untuk memeriksa, barang kali aja ada sesuatu pada wajahnya.
'Perasaan wajahku normal normal aja, ini anak kenapa lagi. Aku cium, tidak mungkin. Ini kan bukan ruangan privat, aneh banget ini anak.' Batin Rey menatap Aish dengan heran.
Disaat itu juga Aish tersadar dari lamunannya, ia merasa risih ketika melihat suaminya yang tengah memperhatikan dirinya.
"Ada yang aneh, ya?" tanya Aish sambil membenarkan kerudungnya, takut jika ada yang nyelip atau yang lainnya. Rey yang melihat istrinya justru ia tertawa ketika menyadari kekonyolannya dan istrinya sendiri, yang saling memperhatikan dan mencari jawaban nya sendiri.
"Kok ketawa? ada yang lucu kah?" tanya Aish masih bingung. Tidak lama kemudian dua orang pelayan telah mengantarkan pesanannya.
__ADS_1
'Seumur umur aku mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya tertawa.' Batin Aish masih terus memperhatikan suaminya.
"Jangan banyak melamun, nanti kamu cepat tua." Ucap Rey sambil menyeruput air minum sebelum menikmati sarapan paginya. Begitu juga dengan Aish, ia ikut menyeruput air minumnya sebelum sarapan pagi.
"Aku tidak melamun, hanya sedang berpikir saja." Jawab Aish sambil menyendoki makanannya untuk disuapin ke mulutnya. Sayangnya, suaminya lebih dulu menyodorkan satu suapan padanya.
"Aku bisa makan sendiri, kamu tidak perlu repot repot menyuapiku." Kata Aish berusaha untuk menolak.
"Buka mulutnya, jangan kamu tolak suapan dariku. Setelah ini, kita tidak lagi bisa bertemu selama dua tahun." Ucap Rey yang masih ingin menyuapi istrinya. Aish yang tidak bisa menolaknya lagi, mau tidak mau ia hanya bisa nurut dengan apa yang diminta suaminya.
"Nah, gitu dong. Habiskan makanannya, setelah ini aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang sudah lama aku siapkan." Kata Rey sambil menikmati makanannya.
"Kemana?" tanya Aish penasaran, Rey pun tersenyum. Lagi lagi detak jantung Aish dibuat berdebar debar ketika melihat senyuman dari
suaminya itu.
Tidak memakan waktu yang cukup lama, Aish dan suami telah selesai sarapan paginya. Kemudian Rey segera membayar tagihannya. Saat sudah berada di depan Restoran, sepasang matanya menatap jalanan yang dimana banyak anak anak remaja berangkat ke sekolah. Disaat itu juga, Aish teringat ketika masa masa sekolahnya dulu.
'Sekarang aku sudah tidak mempunyai senyuman polos itu lagi bersama teman temanku tanpa beban hidup yang seperti sekarang ini, dan kini aku pun harus berhadapan dengan takdir hidupku yang entah akan seperti apa kedepannya.' Batin Aish yang tidak menyadari jika Rey sudah berada dalam mobil.
"Ai, mau pulang atau tidak? hem." Panggil Rey dengan sebutan yang baru untuk istrinya.
"Namaku Aish, bukan Ai." Jawabnya dengan ketus.
"Sama aja, mau Aish, mau Ai, mau ... tidak jadi, sudah lah ayo buruan masuk." Perintah Rey yang sudah tidak sabar, Aish pun segera masuk dan duduk di sebelah suaminya.
"Kenapa tidak jadi? katakan aja."
__ADS_1
"Zahra ...." Panggilnya dengan lembut dan lirih.
Aish yang mendengarnya pun merasa ada getaran dalam dirinya.
Sambil fokus dengan setianya, Rey berkali kali menoleh kearah Aish. Sedangkan yang sedari tadi diperhatikan nya pun tidak meresponnya, justru pandangan Aish fokus lurus kedepan sambil meremat kedua tangannya sendiri.
"Akhirnya, kita sampai juga. Ayo kita turun, aku mau memberimu sesuatu yang sudah lama tertunda."
"Memangnya kita sedang ada dimana? seperti di Toko perhiasan, benar kah?" tanya Aish menebaknya, Rey pun menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa?" lagi lagi Aish bertanya kembali.
"Jangan banyak tanya, ayo kita turun. Apa perlu aku menggendongmu? hem."
Lagi lagi Aish kembali diam, dari pada harus berdebat, Aish memilih untuk mengalah. Saat keduanya sudah turun dari mobil. Sebelum melangkahkan kakinya, Rey menggandeng tangan Aish tanpa malu malu dan juga ragu. Disaat itu juga, Aish merasa gemetaran saat tangannya di gandeng oleh suaminya sendiri. Ingin melepaskannya, namun ia tidak mempunyai hak atas penolakannya.
Wajar saja jika Aish gemetaran, Pasalnya dari sekolah SMP Aish tidak pernah bersent*uhan tangan dengan yang bukan makhram nya. Dan kini, suaminya lah orang yang pertama kalinya meny*entuh nya. Detak jantungnya pun kembali berdetak tidak karuan, sesekali Aish mencoba untuk menipisnya.
Saat berada di sebuah Toko yang sangat terkenal itu, semua karyawan nya menyapa ramah dengan siapa yang sudah datang ke Toko tersebut.
"Selamat pagi, Tuan ... Nona, mari silahkan masuk." Sapa seorang pegawai Toko perhiasa tersebut.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawainya yang tengah berdiri sambil tersenyum ramah.
"Tolong tunjukan perhiasan yang sudah aku pesankan dari kemarin, biar istriku yang akan memilih kesukaannya sendiri." Jawab Rey mengingatkan pesanan yang sudah ia pesan sejauh jauh hari sebelum pulang dari luar Negri.
"Tunggu sebentar ya, Tuan. Akan saya ambilkan dulu, mohon untuk bersabar." Ucapnya dan segera mengambilkan pesanan yang sudah dipesan oleh Reynan.
__ADS_1
Sedangkan Aish melihat isi ruangan Toko perhiasan yang ia datangi pun seakan seperti mimpi, secara dirinya baru pertama kalinya mendatangi Toko perhiasan yang jauh dari bayangannya.