
Mendengar saran dari Rey, Zakka ikut mengingatnya kembali saat mendapatkan kabar jika Afna sudah sembuh dari cidera pada kakinya.
"Ya, aku pernah mendengarnya. Jika Afna telah sembuh dari sakitnya, suaminya yang memberi saran untuk tidak menggunakan kursi roda." Kata Zakka yang kembali teringat.
"Mulai besok kalau bisa kamu hindari kursus roda, aku akan membelikan kamu tongkat penyangga. Aku akan meminta Zayen untuk memberi saran yang lebih banyak lagi, agar kamu bisa jalan lagi seperti dulu." Ucap Rey berusaha untuk meyakinkan saudara kembarnya.
"Aku nurut saja sama kakak, yang penting aku bisa sembuh." Kata Zakka menyemangati dirinya sendiri.
"Semangat ya, aku akan berusaha untuk mencari solusi agar kamu cepat sembuh dan bisa jalan lagi. Ya sudah kalau gitu, kita segera berangkat." Ucap Rey dan mengajaknya untuk segera ke luar dari kamar.
Karena tidak ingin berlama lama, Zakka ingin segera mendatangi orang tua Sela.
"Wah, kedua jagoan Mama ganteng ganteng semua nih." Puji Bunda Maura dengan senyumnya yang ramah.
Disaat itu juga sudah ada Sela dan Aish yang sudah ada diruang keluarga.
"Sudah siap semuanya?" tanya Tuan Tanah sambil berjalan mendekati kedua putranya yang sudah berkumpul bersama sang istri serta menantu dan calon menantunya.
Sedangkan omma Qinan dan kakek Angga ikut berkumpul bersama sebelum anak dan cucunya berangkat ke rumah orang tuanya Sela.
"Zakka," panggil kakek Angga.
"Ya kek, ada apa?" jawabnya dan bertanya.
"Kamau harus semangat, yang sopan dan juga bijak ketika menghadapi calon mertua kamu." Ucap kakek Angga mengingatkan cucunya, Zakka pun tersenyum mendengarnya.
"Pastinya Kek, terimakasih sudah mengingatkan Zakka." Kata Zakka.
"Omma doakan, semoga semuanya lancar dan diterima sebagai menantu. Niatkan dengan tulus, agar kamu mendapatkan ketulusannya juga. Jika kita hanya bermain main, maka yang akan kita dapatkan hanya mainan. Bukan kepemilikan, tetapi sia sia." Ucap omma Qinan ikut menimpali.
DEG
Zakka dan Sela serasa tersentil hatinya ketika mendapatkan kata mutiara dari omma Qinan.
Keduanya kembali teringat dengan sebuah perjanjian yang mana harus bermain drama dihadapan keluarga maupun orang lain sekalipun.
"Ya omma, tenang saja. Bukankah Zakka memiliki jiwa kesetiaan yang kuat? jadi tidak perlu dilakukan lagi kesetiaan dari Zakka, omma." Jawab Zakka untuk meyakinkan omma Qinan.
"Omma bangga memiliki dua cucu laki laki sama sama lelaki yang bertanggung jawab, omma doakan semoga dipermudahkan segala urusannya." Ucap omma Qinan.
"Nasehatnya nanti lagi, sejarang kalian berangkat lah. Biar kakek yang akan menemani omma, ayo sana berangkat." Kata kakek Angga ikut menimpali.
"Ya, kek ..." jawab keduanya dengan serempak.
"Kita berangkat dulu ya, omma dan kakek." Ucap Zakka mewakili yang lainnya.
__ADS_1
"Ya, hari hati dalam perjalanan." Jawab omma Qinan dan kakek Angga.
Setelah berpamitan, semua segera pergi untuk mendatangi orang tua Sela untuk dimintai restu. Perasaan Zakka yang tadinya biasa biasa saja tanpa ada rasa gugup dan khawatir, kini tiba tiba serasa berkeringat dingin.
Mau bagaimana lagi, Zakka yang sudah memulai untuk bermain drama mau tidak mau tetap aja akan mendapatkan resikonya.
Hening, didalam mobil yang hanya berisi dua pasang didalamnya dan satu seorang supir yang duduk didepan.
Zakka dan Vella hanya saling diam, keduanya tidak bisa berkata apa apa. Ditambah lagi ada Rey dan Aish, semakin bingung untuk bersikap.
"Zakka, aku sudah mengirimkan pesan kepada Zayen. Dia bilang nanti malam akan ke rumah, kamu siapkan diri aja untuk bertemu dengan Zayen." Kata Rey.
"Ya Kak, nanti malam aku tidak kemana mana." Jawab Zakka, sedang Aish dan Sela hanya menjadi pendengar setia. Keduanya tidak mempunyai bahan untuk bertanya maupun untuk ikut berkomentar.
Seiringnya waktu dalam perjalanan dibarengi dengan sebuah obrolan kecil, tidak lama kemudian telah sampai dihalaman rumah Sela.
"Kita sudah sampai, Tuan dan Nona." Ucap pak Dirwan selaku supir pribadi Reynan, selaku yang paling dekat dengannya.
"Kita sudah sampai nih?" tanya Sela yang mana pemilik rumahnya belum sadarkan diri jika suka sampai didepan rumahnya.
"Ya Sel, kita sudah sampai. Ayo kita turun, nanti Papa kamu nyariin loh." Jawab Aish dan mengajaknya untuk segera turun, tidak lupa dengan gurauannya.
"Ah ya, ini rumah orang tuanya Sela. Kenapa kak Aish tidak bilang dari tadi? Sela kan jadi malu." Kata Sela yang rupanya baru tersadar dari lamunannya.
"Sela ... sudah ah, jangan banyak ngelamun. Sabar dulu, bentar lagi kamu dan Zakka bakalan cepet nikahnya." Kata Rey tidak lupa meledek Sela dan saudara kembarnya.
Setelah itu, Rey membantu istrinya untuk turun dari mobil, sedangkan Sela dan pak Dirwan membantu Zakka pindah ke kursi roda. Saat semuanya sudah turun dari mobil, kini Rey yang mendorong kursi rodanya.
Dengan hati hati dan dengan pelan pelan, Rey mendorongnya sampai didepan pintu rumah Sela. Belum juga mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tiba tiba ada dua anak kecil yang tengah berlarian dan langsung mendekati Sela yang posisi paling depan.
"Kakak ... kak Sela udah pulang?" panggil salah satu adiknya sambil bergelayut manja pada Sela. Kemudian Sela segera berjongkok dan menatap sang adik sambil memegangi kedua tangannya.
"Ya, sayang. Kakak sudah pulang, maafkan kakak ya, jika semalam kakak tidak pulang. Soalnya pekerjaan kakak itu sangat banyak, kan untuk sekolah kamu." Jawab Sela berusaha untuk tersenyum.
Disaat itu juga hati Zakka tiba tiba tersentuh kepada Sela yang begitu sayang sama adik adiknya.
"Loh, kok tamunya tidak disuruh masuk, Nak?" tanya pak Ramdan pada putrinya.
"Ah ya, Sela lupa. Silahkan masuk, mari ..." kata Sela yang teringat jika dirinya belum mempersilahkan masuk kepada tamu dari keluarga Wilyam.
"Tuan, Nyonya, mari silahkan masuk. Nak Rey dan nak Aish dan nak Zakka, silahkan masuk." Ucap pak Ramdan yang juga ikut mempersilahkan masuk kepada keluarga Wilyam.
Pak Ramdan begitu terkejut ketika putrinya pulang tidak sendirian, melainkan pulang bersama keluarga yang sudah menyelamatkan nyawa pak Ramdan sendiri.
Setelah itu, Tuan Ganan dan yang lainnya mengikutinya dari belakang. Sedangkan Zakka dibantu Rey untuk masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Silahkan duduk, mari." Kata pak Ramdan mempersilahkan duduk dan mengambilkan kursinya lagi dari belakang.
Rumah yang cukup sederhana yang tidak jauh beda dengan rumah yang pernah Aish tempati dapat memberi kenyamanan pada keluarga pak Ramdan dan ketiga anaknya.
Disaat itu juga, pikiran Zakka tertuju pada sosok Sela yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Hati Zakka langsung tersentuh dengan kegigihan dari seorang Sela yang benar benar menjadi pekerja keras. Zakka merasa malu ketika harus bersaing dan bersikap serakah demi mendapatkan perhatian dari orang tuanya, dan tidak peduli dengan saudaranya sendiri. Zakka benar benar terasa teriris hatinya ketika harus menyaksikannya langsung didepan matanya.
'Rupanya menjadi seorang kakak itu tidak mudah, harus mengalah dan juga berbagi kasih dengan adik adiknya.' Batin Zakka yang tersadar akan sikap buruknya dimasa lalu yang selalu bergantung pada sang kakak.
Bahkan tidak ada kesempatan apapun untuk kakaknya mendapatkan yang lebih. Apapun yang ia terima harus lebih besar dari sang kakak. Termasuk untuk bertanggung jawab sebagai kakak tertua, Zakka tetap menganggapnya orang tua yang ketiga. Satu, ibu. Dua, ayah. Yang ketiga, sang kakak.
PUK!
"Jangan banyak melamun, tidak baik dilihat oleh calon mertua." Kata Rey berbisik didekat daun telinga Zakka setelah menepuk bagian punggungnya.
"Ah ya kak, aku terbawa suasana." Jawab Zakka dengan lirih.
"Maaf, sebenarnya ini ada apa ya?" tanya pak Ramdan dengan rasa penasaran. Tuan Ganan menarik napasnya pelan dan membuangnya dengan pelan, dengan sangat hati hati Beliau menata kalimatnya yang akan disampaikan kepada orang tuanya Sela, yakni pak Ramdan.
"Begini maksud kedatangan kami sekeluarga, Pak Ramdan. Sebelumnya kami meminta maaf jika kedatangan kami ini telah mengganggu pak Ramdan, saya selalu orang tuanya Zakka dan Rey, saya ada amanat dari putra saya untuk menyampaikannya langsung kepada Bapak. Bila mana bapak berkenan, maka saya akan mengutarakan sesuai permintaan putra saya." Jawab Tuan Ganan sesopan mungkin untuk berhadapan dengan pak Ramdan, selaku orang tua Sela.
Pak Ramdan yang mendengarnya pun, Beliau mulai curiga dengan maksud kedatangan dari keluarga Wilyam.
"Kalau boleh tahu, maksud dari kedatangan Tuan, apa ya?" tanya pak Ramdan.
"Putra saya ingin melamar putri bapak yang bernama Sela." Jawab Tuan Ganan yang akhirnya berterus terang pada pokok intinya.
Sela masih terdiam, ia tidak berkata apapun ketika orang tuanya sedang serius berbicara dengan Tuan Ganan.
Disaat itu juga, pak Ramdan seperti tidak percaya ketika mendengar putra dari Tuan Ganan tengah melamar putrinya. Sangat aneh dan tidak masuk akal, pikir dari pak Ramdan.
'Apakah lelaki yang bernama Zakka yang akan melamar putriku? apa karena tidak bisa berjalan dan tidak ada yang mau dengannya? sehingga putriku yang harus dipilihnya.' Batin pak Ramdan yang merasa janggal ketika putrinya dilamar oleh lelaki yang tidak berjalan, pikir pak Ramdan dengan pikiran yang penuh tanda tanya atas apa yang tengah didengarkannya.
"Pak Ramdan, bagaimana? apakah pak Ramdan menerima putra saya yang bernama Zakka?" tanya Tuan Ganan yang ingin mendengarkan jawaban yang lebih jelas dari orang tua Sela yang berhak atas diterimanya sebuah lamaran dari putranya.
Pak Ramdan yang tidak tahu menahu soal perasaan, Beliau menoleh kepada putrinya. Sela semakin gugup, pasalnya sikap dari orang tuanya itu seperti tidak biasanya. Benar benar membuat hati seorang Sela berubah menjadi ragu.
Namun ia kembali teringat dengan ucapan yang dilontarkan oleh Aidan, yakni membalas budi kebaikan keluarga Wilyam yang sudah menyelamatkan nyawa orang tuanya.
Sela tersenyum pada orang tuanya, kemudian mengatur pernapasannya. Setelah itu Sela memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari orang tuanya. Namun sebelumnya, Sela mengarahkan pandangan dengannya pada Zakka dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Sela, jawaban ada sama kamu. Jika kamu mau menerima lamaran dari nak Zakka, Papa tidak melarangmu. Kamu yang menjalani, dan kamu yang tahu. Papa hanya bisa mendukungmu dan mendoakan kamu yang baik baik, tidak lebih." Ucap sang ayah untuk meyakinkan putrinya.
Sela yang mendengarnya pun, ia mulai meyakinkan diri untuk memilih jawaban yang tepat. Sela mengganti arah pandangannya kearah Tuan Ganan dan berpindah kearah Zakka.
"Sela mau menerimanya, Pa." Jawab Sela dengan tegas, Zakka pun tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan kedua orang tuanya yang juga merasa lega atas jawaban yang diterima oleh Sela. Tidak hanya itu saja, ada Rey dan Aish yang juga ikut tersenyum lega ketika Zakka diterima lamarannya.