Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Sebuah Kebahagian yang sempurna


__ADS_3

Perlahan keduanya menikmati gelora yang semakin bergejolak, Zakka dengan lihai mulai memberanikan diri untuk membuka kancing baju milik istrinya sambil sesekali menye*sap bibir lembut milik istrinya.


Sela yang semakin dalam menyelami perlakuan dari suaminya, seakan tidak ingin menghentikan aktivitasnya. Zakka yang mulai terbawa suasana dengan keelokan tubu istrinya, seakan tidak ingin membuang kesempatan emasnya yang sudah ada didepan mata.


Pikiran liarnya mulai menjelajah kemana mana, kini ciu*man itu turun kebawah dan semakin kebawah dengan napas yang memburu dan dengan suara yang meningkatkan ga*irah oleh keduanya.


Setelah itu, Zakka kembali mendekatkan diri didekat pendengaran istrinya dan seperti ingin membisikkan sesuatu.


"Aku menginginkan yang lebih dari ini? apakah kamu mengizinkannya?" bisik Zakka dengan napas yang terdengar memburu has*ratnya. Sela setengah sadar dan juga tidak, ia teringat sesuatu dan membisikkan pada suaminya.


"Tentu saja aku sudah melakukannya sedari tadi. Meski aku tidak begitu mahir, tapi aku sudah mempelajarinya dari jaman sekolah." Jawab Zakka, Sela pun mengangguk.


"Aku kira kamu tidak hafal doanya, maaf jika aku salah menilaimu." Kata Sela dengan malu.


Tidak peduli baginya tentang perasaan suaminya, yang ia lakukan sebagaimana menjadi seorang istri tentang kewajiban untuk melayani suaminya.


Setelah mendapat izin dari sang istri, dengan rasa sakit pada kakinya pun seakan tidak ia rasakan sama sekali. Rasa sakit pada salah satu kakinya telah dikalahkan dengan ha*srat yang sudah memburu. Zakka membenarkan posisinya hingga keduanya tengah berada di tengah tengah tempat tidur.


Satu persatu, Zakka menanggalkan pakaian yang menempel pada tubuh istrinya dan tidak meninggalkan sisa sehelai benang pun. Tidak hanya itu saja, dengan aktivitasnya sambil menyelam, Sela ikut membantu suaminya menanggalkan pakaian dan keduanya benar terlihat polos dalam balutan satu selimut.


Zakka yang sudah lupa dengan rasa sakit, tidak peduli dengan apa yang akan ia rasakan selanjutnya. Zakka terus mencumbu istrinya hingga keduanya mabuk asmara. Kenikmatan yang tengah dirasakan oleh keduanya seakan berubah menjadi kenikmatan yang sempurna. Zakka masih terus beraktivitas mengg*auli istrinya hingga keduanya telah sampai di puncak kenikmatan hingga terkulai lemas.


Setelah melakukan ritual panjangnya, Zakka mejyelimuti istrinya hingga menutupi batas dada. Kemudian Zakka memeluknya, dan tidak lupa juga mencium kening milik istrinya.


Sela yang mendapatkan perlakuan yang tidak pernah ia sangkakan, dirinya seakan mendapatkan keajaiban. Lelaki yang tidak ia kenal, bahkan sudah ia berikan mahkotanyw, rupanya memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Seakan Sela semakin terhipnotis dan terasa tidak ingin apa yang ia rasakan hilang sekejab.


"Terimakasih istriku, kamu telah menyempurnakan menjadi seorang istri. Terimakasih atas kesucian kamu yang telah kamu berikan untukku. Kamu perempuan baik baik, aku akan menjagamu dengan baik. Aku menebus kesalahanku yang dulu pernah tidak bertanggung jawab atas perbuatanku. Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, maka aku akan membahagiakan kamu." Ucap Zakka semakin erat memeluk istrinya.


Sela yang mendengar ucapan dari suaminya pun, senyum bahagia terukir pada kedua sudut bibirnya. Bahagia walaupun dirinya belum mendengar pengakuan dari suaminya, setidak sebuah tindakan adalah pernyataan yang sebenarnya.


Sela membalikkan pandangannya pada sangat suami, dan kini keduanya saling menatap satu sama lain. Senyum mengembang telah berpadu antara suami dan istri menciptakan senyuman tulus dan bahagia.


"Tunjukan lah jika kamu mampu membahagiakan aku. Dan ingat, aku tidak perlu kemewahan untuk membuatku bahagia. Tetapi sebuah tanggung jawab sebagai suami untuk keluarganya. Aku tidak akan pernah menuntutmu lebih, cukup tidak untuk tidak menyakiti." Kata Sela sambil menatap suaminya, Zakka mengangguk dan lagi lagi menc*ium bibir milik istrinya yang kini bagaikan candu yang memikat.


"Kita mandi yuk, agar otot otot kita menjadi enakan." Ajak Zakka, kemudian keduanya segera bergegas turun dari tempat tidurnya sambil berbalut selimut tebal, sedangkan Zakka hanya mengenakan celana kolornya saja.


Sela yang tidak ingin suaminya kesulitan untuk bangkit dari posisinya, ia membantu suaminya untuk berdiri.


"Pelan pelan Kak, aku bantu kakak untuk berdiri." Kata Sela sambil membantu suaminya untuk berdiri.


"Bagaimana Kak? sangat sakit, ya?" tanya Sela penuh kekhawatiran.


"Tidak begitu sakit, biasa aja." Jawab Zakka sambil hati hati untuk berdiri.


"Kamu sendiri?" tanya Zakka balik bertanya.


"Aku masih belum merasakan, tidak tahu jika nanti." Jawab Sela malu malu.


Zakka mendekati kembali istrinya agar lebih dekat dan akhirnya membisikkan sesuatu di dekat daun telinga milik Sela.


"Aku akan mengulanginya lagi nanti malam, sekaligus aku yang akan menyembuhkan rasa nyeri pada bagian tertentu milikmu itu." Bisik Zakka dengan senyum menggoda, lagi lagi Sela seperti mimpi jika dirinya harus melayani suaminya.


'Sela, kamu ini harus ingat, kamu sudah menyerahkan segalanya kepada suami kamu. Ingat Sela, ingat. Jangan sampai kamu melakukan hal yang sama, hal yang sangat memalukan didepan suami kamu.' Batin Sela mengingatkan diri sendiri.


Karena tidak ingin berlama lama, Zakka dan Sela segera masuk ke kamar mandi. Saat berada dalam kamar mandi, Zakka berendam dengan air hangat. Disaat itu juga, Zakka langsung meraih tangan milik istrinya dengan sigap.


"Kita mandi bareng, kemarilah. Kamu tidak perlu malu, kita sudah melakukannya dan kita saling menikmatinya." Kata Zakka saat menahan istrinya.


Sela yang tidak bisa berbuat apa apa, dirinya hanya bisa nurut dan akhirnya ikut berendam. Keduanya pun saling bergantian untuk menggosok punggungnya. Kemudian, Zakka dan Sela segera membersihkan diri untuk mensucikan.


Selesai, Sela segera mengenakan handuk kimononya. Selanjutnya membantu suaminya untuk bergegas bangkit dari posisi berendam.


"Lepaskan tangan mu, aku ingin mencoba untuk berjalan tanpa alat bantu apapun. Entah kenapa aku tidak merasa begitu ngilu saat aku hendak berdiri." Ucap Zakka ingin berusaha untuk berjalan.


"Kalau Kak Zakka jatuh, bagaimana?" tanya Sela dengan khawatir.


"Tenang aja, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." Kata Zakka yang tetap dengan rasa percaya dirinya.


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi tapian, ambilkan aja handuknya." Perintah Zakka, Sela sendiri tidak dapat menolaknya.


Dengan hati hati, akhirnya Zakka berhasil juga meski cukup membuatnya takut jatuh begitu saja.

__ADS_1


Sela yang memperhatikan suaminya, sungguh diluar dugaannya. Seperti mimpi dan seperti tidak percaya saat suaminya mampu menggerakkan kakinya dengan baik.


"Sela, kemarilah."


"Ya Kak,"


"Aku ingin berpegangan, kemarilah." Pinta Zakka, Sela menurutinya.


"Pelan pelan Kak," kata Sela sambil memegangi lengan suaminya sampai diambang pintu kamar mandi.


"Lepaskan, aku mencoba untuk berjalan."


"Kak Zakka yakin nih? kalau jatuh, bagaimana?"


"Tidak akan, lagian juga ada kamu. Aku merasa tidak kerepotan karena ada kamu disampingku." Kata Zakka, Sela tersenyum tipis mendengarnya.


Sekarang Zakka tengah berdiri di depan pintu kamar mandi tanpa alat bantu apapun. Demi janjinya untuk menebus kesalahannya terhadap sang istri, Zakka tidak peduli dengan rasa sakit yang ada pada kaki kanannya. Dengan tekadnya yang bersunggu sungguh, Zakka memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya.


"Pelan pelan Kak," kata Sela mengingatkan suaminya saat melangkahkan kakinya.


Zakka tidak peduli dengan rasa sakit yang akan ia terima, baginya rasa sakit yang sedang ia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang dilalui oleh istrinya dimasa lalunya.


Sambil menahan napas dalam dalam, Zakka menyeimbangkan berat badannya untuk tetap seimbang saat belajar berjalan.


Satu langkah telah ia lewati, dan kini ke langkah selanjutnya. Kemudian Zakka membuang napasnya kasar, dan kembali mengatur pernapasan.


Sela tersenyum mengembang saat suaminys berhasil melangkahkan kakinya walau hanya satu langkah.


"Aku berhasil, ya! aku bisa jalan." Ucap Zakka dengan girang.


"Kak Zakka bisa jalan?" Sela ikutan bahagia saat melihat suaminya mampu melangkahkan kakinya.


"Ya, aku bisa jalan. Walaupun tidak sepenuhnya, setidaknya aku bisa melangkahkan kakiku ini tanpa alat bantu." Kata Zakka dengan ekspresi yang tidak bisa dituliskan atas keberhasilan nya untuk berjalan.


Zakka yang sudah mulai bisa berjalan dengan pelan, kini durasinya cukup lama dan bolak balik berjalan di ruang kamarnya.


"Kak, duduk lah. Meski kak Zakka bisa jalan, kak Zakka juga harus beristirahat. Setelah mengenakan pakaian, kak Zakka bisa melanjutkan nya lagi." Pinta Sela yang juga sedikit ada rasa takut jika suaminya akan kembali merasakan sakit pada kakinya.


"Tunggu sebentar." Jawab Sela dan berjalan mengambilkan pakaian suaminya yang letaknya tidak jauh dari suaminya.


"Ini, apakah kak Zakka butuh bantuan?" tanya Sela sambil menyodorkan bajunya.


"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu ganti bajumu aja sendiri, setelah ini kita duduk santai di ruang bawah." Jawab Zakka, Sela mengiyakan dan bergegas mengenakan pakaiannya.


Setelah selesai, Zakka mengajak istrinya sesuai yang sudah ia katakan sebelumnya.


"Kamu tidak perlu memegangi ku, karena aku ingin menyempurnakan jalan ku ini." Kata Zakka, Sela mengiyakan dan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.


Disaat itu juga, Zakka menoleh kebelakang dan meraih tangan istrinya. Sela sendiri terkejut dan menatap tangannya dengan serius ketika suaminya memeganginya.


"Kenapa? apakah kamu tidak ingin aku gandeng?"


"Bukan, bukan itu maksud aku."


"Terus, maksud kamu apa?"


"Aku tidak ada maksud apapun, hanya saja ..." Jawab Zakka dan menggantungkan ucapannya.


"Hanya saja apa?"


"Lupakan," kata Sela dengan gugup.


Pelan pelan Zakka mendekati istrinya lebih dekat lagi dan hanya beberapa inci jarak diantara keduanya. Napas hangat dari Zakka tengah dirasakan oleh istrinya.


"Kamu istriku, sampai kapanpun tetap istriku. Kamu tidak perlu takut atas perjanjian dulu, lupakan." Ucap Zakka didekat indra pendengaran istrinya, Sela masih belum percaya dengan apa yang diucapkan suaminya barusan.


"Tapi ..."


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Zakka lebih dulu membungkam istrinya dengan ciu*man lembut dan hangat dari suaminya.


Setelah itu, Zakka menatap lekat pada istrinya dan lagi lagi men*cium keningnya. Zakka meraih menuntun tangan istrinya dan diletakannya pada dada bidangnya, lalu tersenyum pada istrinya.


"Aku akan membuktikan bahwa aku mampu untuk mempertahankan kamu untuk menjadi istriku, maka bantulah aku untuk menata masa depan bersama. Apakah kamu bersedia? aku takut untuk menyatakan cinta padamu, jika tanpa tindakan dan bukti yang nyata." Ucap Zakka yang akhirnya berterus terang pada istrinya, dirinya tidak peduli dengan waktu yang cukup singkat. Setidaknya ia sudah mencoba untuk meyakinkan istrinya.

__ADS_1


Sela yang mendengar penuturan dari suaminya terasa mimpi, namun memang benar nyata apa adanya yang ia dengar.


Detak jantung yang cukup kencang, membuat Sela menjadi gugup.


"Kenapa kamu diam? apakah pengakuan dariku ini tidak cukup? apakah aku perlu membuktikannya lagi?"


Tanpa pikir panjang dan malu sekalipun, Sela langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Terimakasih atas pengakuan darimu, aku percaya bahwa kak Zakka adalah orang yang tulus. Aku terima pengakuan dari kak Zakka, sepenuhnya." Ucap Sela sambil memeluk istrinya, Zakka membalas pelukan dari istrinya dan mengusap punggungnya pelan.


"Kita mulai kehidupan kita dari awal, kita buka lembaran baru. Aku tahu, hadirnya cinta tidak mudah, tapi apa salahnya untuk saling melengkapi hingga rasa itu benar benar ada dan menyatu." Ucap Zakka, kemudian melepaskan pelukannya dan keduanya kembali saling menatap satu sama lainnya.


"Ya Kak, aku mengerti." Jawab Sela dengan senyum manisnya.


"Jangan panggil aku Kakak, aku suami kamu dan berhak untuk mendapatkan panggilan yang spesial darimu." Kata Zakka, lagi lagi Sela menatapnya malu.


"Memangnya aku harus panggil Kak Zakka dengan sebutan apa?" tanya Sela.


"Sayang," jawab Zakka singkat.


Tanpa disadari oleh Sela dan Zakka yang sedari tadi sibuk menata hatinya, ada yang tengah memperhatikan dari bawah tangga. Siapa lagi kalau bukan ulah Aidan yang tengah menghubungi Tuan Ganan dan Rey saudara kembarnya Zakka.


"Cie cie .... akhirnya." Suara cukup keras dari bawah anak tangga tengah mengagetkan Zakka dan Sela yang tengah berpelukan.


Disaat itu juga, Sela dan Zakka tengah dikejutkan oleh suara yang sudah membuyarkan keseriusannya.


"Aidan!"


"Selamat berbahagia yang sesungguhnya y, Tuan." Ledek Aidan dengan senyum meledek.


"Kamu ini, selalu bikin onar." Tuduh Zakka pada Aidan. Disaat itu juga, Zakka langsung menuju jalan pintas untuk menemui anggota keluarganya dan tentunya ingin rasanya menjitak Aidan.


Saat sudah keluar lewat jalan pintas, Zakka mulai berjalan sedikit demi sedikit untuk menghampiri anggota keluarganya termasuk Omma dan Kakek.


Semua terkejut dibuatnya, sungguh benar benar tidak disangka jika Zakka sudah bisa berjalan walaupun belum sepenuhnya sempurna.


"Sayang, kamu bisa jalan?" tanya sang ibu serasa mimpi.


"Ya, Ma. Zakka sudah bisa jalan, walaupun belum sempurna." Jawab Zakka, sedangkan Rey langsung mendekati saudara kembarnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa berjalan. Aku turut bahagia melihatmu yang sudah bisa jalan, semoga secepatnya kamu bisa berjalan dengan sempurna." Ucap Rey, kemudian ia langsung memeluk saudara kembarnya.


"Ya kak, terimakasih atas semua dukungan dari kakak dan keluarga. Hingga aku bisa berjalan lagi, dan tidak lagi berada dikursi roda." Kata Zakka, Rey pun tersenyum.


"Ini semua karena kegigihan kamu yang terus bersemangat untuk bisa menggapai impian kamu. Selamat ya, semoga kamu dan Sela selalu bahagia. Lupakan masa lalu, gapailah masa depan yang sudah ada didepan mata."


"Ya Kak, begitu juga dengan Kak Rey, semoga kebahagiaan kakak semakin lengkap." Ucap Zakka yang juga sama sama memberi doa kebaikan untuk saudara kembarnya.


Setelah itu, satu persatu telah memeluk Zakka dan tidak lupa dengan doa untuknya.


Seberapa besar masalah yang sudah dilewatinya, keluarga tetaplah keluarga. Tidak ada yang harus untuk mempertahankan keegoisan, yang ada akan terus bercerai berai dan kebencian yang akan terus tersimpan dan bisa saja berubah menjadi ajang balas dendam tanpa adanya saling meminta maaf satu sama lainnya.


Kebahagiaan dalam keluarga yaitu, saling menyayangi dan saling mempertahankan untuk tetap menjaga nama baik keluarga.


TAMAT


TERIMAKASIH YANG SELAMA INI SUDAH SETIA MENEMANI AUTHOR REMAHAN INI, DARI AWAL BAB HINGGA AKHIR DARI SEBUAH CERITA YANG OTOR SUGUHKAN UNTUK READERS SETIA. SEKALI LAGI OTOR UCAPKAN BANYAK BANYAK TERIMA KASIH DARI PARA READERS SETIA, MAAFKAN OTOR YANG BANYAK SALAH KATA, SALAH NULIS, SALAH MEMBALAS KOMENTAR, DAN LAIN SEBAGAINYA ATAS KEKHILAFANNYA.


TERIMAKASIH JUGA YANG SUDAH MEMBERI DUKUNGAN PADA AUTHOR, DARI MEMBERI HADIAH, MEMBERI POIN, DAN MEMBERI KOIN, SERTA MEMBERIKAN SEMANGAT UNTUK OTOR AGAR TERUS UPDATE HINGGA BABAK AKHIR. MAAFKAN AUTHOR YANG TIDAK BISA MEMBALAS KOMENTAR PARA READERS SATU PERSATU, TAPI PERCAYALAH OTOR SELALU MEMBACANYA DAN SANGAT BAHAGIA MENDAPATKAN DUKUNGAN DARI READERS SETIA SEMUANYA.


SEMOGA KITA SEMUA SELALU DIBERI KESEHATAN, KESELAMATAN, KEBAHAGIAAN, SERTA DIBERI KEMUDAHAN UNTUK MENGAIS RIZKI DAN JUGA HARAPAN YANG DI UJUNG DOA KITA. AAMIIN...


SALAM HANGAT, SALAM BAHAGIA DARI OTOR REMAHAN YAKNI, OTOR GADUNGAN ANJANA.


KOK NAMANYA GANTI YA THOR..


SOALNYA BIAR GAK DIKIRA BABANG GANTENG 😀😀


SAMPAI BERTEMU KEMBALI DI NOVEL BARU OTOR YA...


YANG MAU SETIA, OTOR TUNGGU KEHADIRAN KALIAN SEMUA YA... READERS TERCINTA...


🥰😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2