
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Rey telah sampai di Toko kueh. Tempat yang dimana istrinya tinggal bersama perempuan yang sudah dianggap adiknya sendiri, yak Sela. Seorang gadis remaja yang menjadi tulang punggung keluarga. Sejak bertemu Aish dan ikut bekerja dengannya, kehidupan keluarga Sela jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua biaya sekolah Sela dan kedua adiknya telah di biayai oleh Rey sepenuhnya.
Karena rasa penasaran dan khawatir telah menghantui pikirannya, Rey segera masuk ke dalam rumah. Ditambah lagi waktunya pun sudah malam, Rey semakin cemas memikirkannya.
"Sela, bagaimana keadaan istri Kakak?" tanya Rey yang baru saja masuk.
"Kak Aish baik baik saja kok, Kak. Sekarang Kak Aish sedang berada di kamar, sepertinya sedang menunggu Kakak datang." Jawab Sela, Rey mengangguk dan ia langsung masuk ke kamar istri.
Dengan pelan dan hati hati, Rey membuka pintunya sangat pelan agar kedatangannya tidak menimbulkan suara. Saat dibuka pintunya, rupanya sang istri sudah berada didepan pintu yang hendak keluar.
Tanpa diminta, Aish langsung memeluk erat tubuh suaminya. Rey yang tidak pernah mendapatkan sikap hangat dari istrinya pun terkejut. Bagaimana tidak terkejut? biasanya Rey yang lebih dulu memulainya, dan kini justru sang istri lah yang memulainya dengan memberi sikap hangat pada dirinya.
Setelah dirasa sudah cukup, Aish melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya Seperti biasa, Rey mencium kening istrinya dengan lembut.
"Bagaimana keadaan kamu? Sela bilang katanya kamu sakit, mana yang sakit? apa kata dokter? pasti kamu banyak bergadang." Tanya Rey dan diakhiri dengan asal menebak.
Justru Aish tersenyum mendengarnya, Rey dibuatnya bingung oleh istrinya. "Senyum, lagi. Jangan bilang kalau kamu cuman nge prank, atau ... kamu itu sudah merindukanku." Ucap Rey asal menebak, kemudian menjapit hidung dengan kedua jarinya. Lagi lagi Aish tersenyum mengembang ketika mendengar ucapan dari suaminya.
Diraihnya tangan kanan milik suaminya, Aish mengarahkannya pada perutnya itu. "Disini, ya didalam sini ada kehidupan baru. Kamu tahu? didalam sini ada calon buah hati kamu, calon anak mu." Ucap Aish, kemudian tersenyum lagi.
__ADS_1
Rey yang mendengar penuturan dari istrinya pun, seketika ia terkejut mendengarnya. Seperti mimpi jika dirinya akan menjadi seorang ayah dari calon buah hati yang ada di rahim istri tercintanya.
"Maksud kamu, kamu hamil?" tanya Rey untuk memastikannya. Aish menganggukkan kepalanya.
Tanpa pikir panjang, Rey langsung mencium perut istrinya berulang ulang. Kemudian mencium wajah istrinya tiada hentinya, termasuk kedua pipinya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memberi kabar bahagia untuk ku. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, aku sangat bahagia mendengarnya." Ucap Rey sambil menatap lekat pada istrinya, Aish tersenyum lagi melihat suaminya yang terlihat begitu bahagianya saat kabar bahagia ia sampaikan.
"Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh pekerjaan apapun. Aku akan memerintahkan pelayan untuk melayani kamu sepenuhnya, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada diri kamu." Ucap Rey, kemudian memeluk kembali istrinya dengan erat.
"Lepaskan, aku hampir saja sulit untuk bernapas." Kata Aish sambil melepaskan pelukan dari suaminya, Rey pun melepaskannya.
"Bagaimana dengan pernikahan adik kamu?" tanya Aish mengganti obrolan.
"Pernikahan adikku baik baik saja, sekarang sudah ikut dengan suaminya. Selanjutnya giliran kamu yang akan ikut suami kamu di rumah utama."
"Apa! di rumah utama? tapi kan ...."
"Takut? kamu tidak perlu takut, ada Mama dan Omma yang bisa menemani mu."
__ADS_1
"Bukan itu maksudku, bukankah ada Zakka? aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi."
"Zakka sudah mengetahuinya jika kita sudah menikah. Doakan saja, semoga masalahnya segera terselesaikan dengan kepala dingin dan tidak terjadi sesuatu yang buruk padaku dan juga pada Zakka. Doakan, semoga semuanya baik baik saja tanpa adanya dendam kesumat yang terus berlanjut tanpa henti." Ucap Rey penuh harap sambil menatap serius pada istrinya, Aish menatapnya dengan tatapan khawatir mengenai hal buruk terjadi pada suaminya.
"Sayang, buang lah pikiran burukmu itu. Percayalah padaku, bahwa semuanya akan baik baik saja. Lebih baik kamu fokus dengan kehamilan kamu ini, jangan dibuat setres. Kasihan calon buah hati kita, buatlah bahagia untuk kesehatan kamu dan calon anak kita. Jangan takut, aku akan usahakan yang terbaik untuk kamu." Ucap Rey meyakinkan istrinya, Aish pun mengangguk pelan pada suaminya.
"Ah ya, aku sampai lupa. Apakah kamu sudah makan malam? ingat, jangan pernah bohong padaku. Karena apa? sekarang sudah ada kehidupan di rahim kamu yang membutuhkan nutrisi banyak untuk pertumbuhan calon buah hati kita." Tanya Rey pada sang istri, dan tidak lupa juga untuk mengingatkannya.
"Aku sudah makan malam tadi, ditemani Sela. Kamu belum makan malam? kalau belum, biar aku siapkan makan malamnya dulu." Jawab Aish, Rey pun meraih tangan istrinya dan memeluknya dari belakang. Kemudian mengatakan sesuatu didekat telinga istrinya.
"Kamu tidak perlu melakukannya, sayang. Karena aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu duduk dan temani aku, itu sudah lebih dari cukup." Ucap Rey dengan lirih saat memeluk istrinya dari belakang.
Aish memutar badannya dan menghadap suaminya, lalu menatapnya lagi dengan lekat. Tanpa malu malu lagi, Aish langsung memeluk suaminya.
"Terima kasih banyak, kamu telah memberi perhatian penuh padaku. Bahkan kamu tidak pernah berhenti untuk mengatakan cinta padaku, meski aku tidak pernah membalasnya. Kamu tetap memperlakukanku dengan baik dan tidak pernah bosan untuk memberi perhatian padaku. Sekarang aku menyadarinya, semakin akuh mengacuhkan mu, maka hatiku semakin tersiksa. Aku sadar, bahwa aku mencintaimu. Maafkan aku yang baru bisa berterus terang padamu, maafkan atas sikap dinginku padamu." Ucap Aish mengutarakan perasaannya pada sang suami, Rey seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya. 6 tahun sudah usia pernikahan, Rey baru mendengar pengakuan dari istrinya. Bahagia yang tidak terhingga telah Rey dapatkan.
"Kamu serius? benarkah apa yang kamu katakan barusan? aku tidak sedang bermimpi, 'kan sayang? ayo katakan sekali lagi agar aku tidak sedang dalam mimpi." Tanya Rey memberondong banyak pertanyaan, bahkan ia ingin mendengarnya lagi atas pengakuan istrinya.
"Ya, aku mencintaimu, sayang." Jawab Aish yang tidak lagi canggung memanggil suaminya dengan sebutan sayang, lagi lagi Rey tersenyum bahagia mendengar pengakuan dari istrinya. Tanpa pikir panjang, Rey langsung menggendong istrinya sampai dalam kamar.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di taman yang lokasinya tidak jauh dari rumah, Zakka duduk termenung sambil melihat orang orang yang mengitari taman tersebut. Sebagian orang ada yang lari, ada juga yang jalan cepat, ada juga jalan santai, ada juga yang duduk bersama pasangannya. Namun tidak untuk Zakka yang hanya menatap lurus pada pandangannya.