Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Demam


__ADS_3

Aish masih duduk ditepi tempat tidur dengan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang, Aish berusaha untuk bisa menenangkan pikiran nya yang entah kemana mana.


Rey yang tidak ingin membuat Aish merasa tidak nyaman, akhirnya menggeser posisinya sedikit menepi. Kemudian mengambil satu guling untuk dijadikan pembatas, agar perempuan yang ada disebelahnya tidak berprasangka buruk terhadapnya.


"Sudah malam, ayo buruan tidur. Kamu tidak perlu takut, aku memberinya pembatas guling." Ajak Rey sambil menepuk bantal guling yang ada disebelahnya untuk dijadikan pembatas diantara keduanya.


"Iya, terima kasih. Ngomong ngomong kamu tidak shalat?" tanya Aish memberanikan diri, meski omongannya itu cukup menyentil seorang Rey.


Disaat itu juga, Rey menoleh ke arah Aish. Kemudian pandangannya kembali ke sebuah benda pipihnya. "Aku tidak pernah shalat, kenapa?" sahut Rey sambil menatap layar ponselnya.


"Oooh kirain, tidak apa apa, aku hanya mengingatkan saja. Maaf, jika perkataan ku ini sudah menyinggung mu. Selamat malam, aku tidur duluan." Ucap Aish, kemudian menarik selimutnya untuk menutupi bagian seluruh tubuhnya kecuali bagian kepalanya. Aish memilih dengan posisi membelakangi suaminya, ia tidak ingin jika tidurnya akan ada yang memperhatikan nya, pikir Aish.


"Kamu risih ya, karena aku bukan laki laki baik seperti yang kamu harapkan. Contohnya seperti seorang Yahya yang terlahir dari keluarga ahli ibadah, tidak sepertiku yang kotor." Kata Rey yang masih dengan ponselnya.


Aish yang mendengarnya pun ia kembali teringat dengan sosok laki laki yang pernah ia sukai.


"Kalau kamu tahu kotor, lalu kenapa kamu tidak mencoba untuk membersihkan nya? kamu masih muda." Sahut Aish yang juga tidak menoleh kearah Rey.


"Untuk apa? percuma jika ahli ibadah tapi masih melakukan dosa." Kata Rey dengan cara pikirnya.


"Jika tahu dosa, kenapa tidak berusaha untuk menghindarinya." Lagi lagi Aish masih berkomentar, Rey pun tidak mempermasalahkannya. Bagi Rey sikap Aish berkata sedemikian adalah wajar, karena Aish sendiri tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagaimana menjadi seorang muslim.

__ADS_1


Rey yang cukup keras soal pendiriannya, ia tidak begitu merespon ataupun tersentuh oleh ucapan ucapan dari seorang perempuan yang kini sudah menjadi istri sahnya. Tidak hanya sah dimata agama, namun juga sah dimata hukum.


Karena tidak ingin mendapatkan pertanyaan pertanyaan dari sang istri, Rey memilih untuk segera tidur. Saat dirasa tidak terdengar suara Aish ataupun gerak geriknya, Rey meletakkan benda pilihnya di atas nakas dan meraih selimut tebalnya untuk menutupi anggota tubuh nya agar tidak kedinginan.


Dengan pembatas guling diantara keduanya, akhirnya Aish dan Rey tidur dengan pulas. Namun ketika memasuki waktu di tengah malam yang sudah larut, tiba tiba Rey merasakan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya menggigil.


Tanpa pikir panjang maupun untuk mengingatnya, akhirnya Rey melemparkan sebuah guling yang dijadikan pembatas diantara dirinya dengan sang istri. Rey langsung memeluk istrinya dari belakang, dan merasakan kehangatan yang selama ini ia nanti nantikan.


Rey sendiri tidak peduli jika sang istri yang tiba tiba bangun dan memberi umpatan untuknya. Yang Rey butuhkan saat ini hanyalah untuk meredakan tubuhnya menggigil kedinginan.


Aish yang masih tertidur dengan pulas, ia sendiri tidak menyadari jika dirinya telah dipeluk oleh suaminya dari belakang. Cukup lama Rey memeluk istrinya, hingga keduanya nampak merasakan kehangatan.


Namun tiba tiba Rey merasakan sesuatu yang hebat dengan suhu badannya itu.


Disaat itu juga, pendengaran Aish serasa terganggu dengan suara yang memanggil manggil namanya. Seketika, Aish tercengang saat dirinya mendapatkan pelukan dari suaminya itu, bahkan dirinya pun tidak dapat berkutik ketika tubuhnya telah dikunci dengan pelukan dari suaminya.


"Aish, Aish ... Aish ... jangan tinggalkan aku. Aish ... aku mencintaimu." Ucap Rey berulang ulang masih mengulang kalimat nya.


Disaat itu juga, Aish serasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya ketika mengigau. Sebisa mungkin, Aish mencoba untuk lepas dari suaminya.


"Aish ... Aish ..." lagi lagi Rey terus memanggil nama istrinya dan juga semakin mengeratkan pelukannya. Aish sendiri terus mencoba untuk melepaskan diri dari suaminya.

__ADS_1


Saat mencoba melepaskan pelukan dari suaminya, Aish merasakan sesuatu pada suaminya.


"Panas, badannya sangat panas." Gumam Aish dengan panik dan juga was was sambil melepaskan pelukan dari dang suami, dan akhirnya dirinya dapat melepaskan diri dari pelukan suaminya itu. Karena rasa penasaran dan juga takut, akhirnya Aish memeriksa suhu tubuh suaminya dengan cara menempelkan punggung tangannya ke kening sang suami. Sedangkan Rey semakin menggigil saat Aish melepaskan diri dari pelukannya, seakan penghangat tubuhnya sudah tidak ada lagi. "Dia demam, bagaimana ini? aku harus bagaimana? mana masih hujan ditengah malam, lagi." Gumam Aish dengan kebingungan.


"Aku kompres aja apa ya, kasihan dia." Kata Aish lirih, kemudian ia bangkit dari posisinya dan segera mengambil air kompres untuk suaminya. Sedangkan Rey semakin kedinginan dan tubuhnya terus mengigil, Aish sendiri semakin bingung.


Dengan kondisi antara sadar dan tidak sadar, Rey mencari keberadaan istrinya sambil meraba raba di sekitarnya.


"Aish, Aish, kamu dimana?" lagi lagi Rey memanggil Aish untuk mencari keberadaan istrinya. Tidak lama kemudian, Aish kembali dengan membawa air kompresan untuk suaminya.


Dengan talaten, Aish mengompres suaminya dengan raut wajah yang penuh kepanikan. Bagaimana tidak panik, dengan kondisi suaminya yang lagi demam ditengah malam dan juga tidak bisa berbuat apa apa dengan situasi yang tidak memungkinkan untuk meminta tolong orang lain ditengah malam.


"Aku tidak butuh ini," sambil berkata dan meraih kain kecil yang ada ditangan istrinya, kemudian membuangnya ke sembarang arah. Aish pun terkejut mendapati suaminya yang membuat kain kecil yang digunakan untuk mengompres suaminya.


"Aku butuh ini," kata Rey dan menarik tangan istrinya hingga terjatuh diatas dada bidangnya. Lalu memaksanya untuk ia peluk, detak jantung Aish semakin tidak karuan.


Sedangkan Rey menikmati setiap detak jantung milik istrinya yang tengah berdegup sangat kencang. Disaat itu juga, drama pun dimulai. Aish maupun Rey saling menatap satu sama lain, kedua netranya pun ikut saling bertemu.


Rey tidak akan menyia nyiakan kesempatan emasnya, ia membalikkan badan istrinya hingga kini Aish berada dibawah suaminya. Lagi lagi tatapan Aish maupun Rey kembali bertemu.


'Bagaimana ini? jika dia semakin nekad, aku sangat takut.' Batin Aish dengan pikirannya yang semakin kemana mana, ia sendiri tidak dapat melakukan penolakan.

__ADS_1


"Tenang, kamu jangan panik. Aku tidak akan melakukan hal lebih, dan aku pun tahu batas batasannya." Kata Rey sambil menatap wajah polos istrinya. Sedangkan Aish sendiri tidak tahu harus bagaimana. Meski suaminya hanya ingin menci*umnya saja, Aish merasa takut jika suami nya akan meminta lebih di waktu yang mana Aish belum siap diri untuk memenuhi hak suaminya.


__ADS_2