Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Pertemuan terakhir


__ADS_3

Aish masih terdiam, perasaan yang seperti apa sama sekali tidak ia rasakan. Cemburu, itu pasti. Namun Aish tidak dapat memaksa kehendak, ia hanya bisa melabuhkan entah kemana perasaannya akan bersinggah.


"Aish, kenapa kamu bengong? apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Yahya penasaran.


"Tidak, tidak ada yang ingin aku katakan. Oh iya, sudah hampir larut malam. Tidak baik bertamu hingga lupa waktu, maaf. Aku hanya mengingatkan, itu saja. Jugaan besok pagi kamu harus bersiap siap untuk berangkat ke luar Negri, jangan banyak bergadang." Ucap Aish yang sudah tidak ingin berhadapan dengan lelaki yang ada dihadapannya.


"Aku ada ini, pakailah." Ucap Yahya sambil menyerahkan sebuah kotak merah yang entah apa isinya.


"Apa ini?" tanya Aish penuh dengan rasa penasaran.


"Bukalah, aku akan pulang sesuai janjiku." Jawab Yahya, sedangkan Aish sedikit enggan untuk membukanya.


"Maaf, aku tidak bisa membukanya. Sepertinya didalam kotak itu terdapat sesuatu yang sangat berharga, dan juga lebih pantas untuk diberikan kepada sang istri." Ucap Aish beralasan.


"Karena kamu lah yang aku pilih untuk menjadi istriku, terimalah." Kata Yahya dengan tatapan serius.


"Maaf, aku benar benar tidak bisa. Aku takut, jika kita tidak berjodoh. Aku tidak sejajar dengan keluarga kamu yang memiliki nama baik, berbeda denganku. Kita seperti langit dan bumi, sangat jauh. Jika kita berjodoh, mungkin itu nasibku yang sedang beruntung. Jika kita tidak berjodoh, mungkin ada seseorang yang jauh lebih baik dari diri masing masing." Ucap Aish berterus terang, ia sangat takut jika dirinya atau Yahya yang akan terluka.


"Kamu serius tidak mau menerimanya? yakin?" tanya Yahya mengulang kalimatnya, Aish pun mengangguk.


"Simpan lah, kalau memang kita berjodoh, kita akan bersama. Jika kita tidak berjodoh, berarti kita tidak akan bisa bersama." Kata Aish, sedangkan Yahya hanya mengangguk pasrah.


Karena waktu yang sudah hampir larut malam, Yahya segera mengajak kedua temannya ungu pulang.


"Aish, kalau begitu aku pamit pulang. Jaga diri kamu dengan baik, sampai jumpa." Ucap Yahya berpamitan, kemudian Afwan dan Yunda langsung mendekati Yahya dan Aish yang sudah berdiri.


"Sudah, ni?" tanya Yunda.


"Sudah, ayo kita pulang." Sahut Yahya, kemudian mengajak kedua temannya untuk segera pulang.


"Aish, kita pamit pulang. Sampai bertemu di bangku perkuliahan, semangat." Ucap Yunda menyemangati.

__ADS_1


"Iya Aish, kamu harus semangat. 4 tahun cukup lama juga, ya. Tenang ... jika Yahya nyakiti kamu, aku siap membantainya." Ucap Afwan ikut menimpali, sedangkan Aish hanya tersenyum ketika mendengarnya.


Setelah berpamitan, ketiga temannya segera pulang ke rumahnya masing masing. Kini, tinggal lah Aish yang masih berada di ruang tamu. Pikirannya kini kembali pada selembaran kertas yang ia terima dari Rey.


Karena masih meragukan akan keputusannya, Aish mencoba untuk membacanya lagi.


"Aish," panggil Ibu Melin tengah menghentikan langkah Aish yang sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Iya Tante, ada apa?" tanya Aish sambil menahan rasa kantuknya.


"Apakah kamu sudah menerima selembaran kertas dari nak Rey?" tanya ibu Melin.


"Iya, Aish sudah menerimanya. Tante kok bisa tahu? perasaan Aish belum berubah deh sama Tante." Sahut Aish, kemudian balik bertanya.


"Tadi Pak Dirwan menghubungi Tante untuk menanyakan selembaran kertas dari nak Rey." Jawab Ibu Melin.


"Ooh iya Tante, Aish sudah menerimanya dan juga ..." ucap Aish menghentikan kalimatnya.


"Iya Tante, Aish menerima syarat darinya." Jawab Aish sedikit berat pengucapannya.


"Syukurlah, alhamdulillah. Semoga kamu bisa melanjutkan cita cita kamu sesuai harapan almarhum bapak kamu, dan kamu bisa sukses kedepannya." Ucap Ibu Melin tersenyum bahagia, namun tidak untuk Aish.


"Tante, Aish mau istirahat. Aish tinggal dulu ya, Tante. Selamat malam, permisi Tante." Kata Aish berpamitan.


"Iya, tidur lah. Jugaan sudah larut malam, tidak baik untuk bergadang malam malam. Besok pagi kamu harus siap untuk memenuhi syaratnya, masuk lah ke kamar." Ucap Ibu Melin, sedangkan Aish mengangguk dan membuka pintu kamarnya lalu segera masuk.


Saat berada di dalam kamarnya, Aish menatap sebuah cermin yang berukuran lumayan besar. Kemudian ia menatap lekat bayangannya sendiri, Aish benar benar terasa mimpi ketika harus bertemu dengan hari esok.


"Maafkan aku, jika aku harus memenuhi syarat dari nya. Demi masa depanku, setelah syarat itu tidak berlaku, maka aku akan melebarkan sayap untuk meraih kesuksesan. Aku harus bisa membuat Tante Melin bangga, serta bisa membahagiakan Beliau. Bismillah." Gumam Aish dengan yakin atas pilihannya itu untuk memenuhi syarat yang harus ia terima.


Meski cukup berat, Aish tidak mempunyai pilihan lain selain memenuhi permintaan dari lelaki yang ia kenal sangat dingin dan juga kaku.

__ADS_1


Karena rasa kantuk yang sudah tidak lagi tertahan, Aish segera mengganti pakaiannya dan beristirahat dengan tenang.


Sedangkan di kediaman keluarga Wilyam, kini ketiga anaknya Tuan Ganan tengah disibukkan untuk persiapan berangkat ke luar Negri.


"Kak Rey," panggil Zakka sambil memainkan ponselnya.


"Hem, kenapa?" sahut Rey hanya melirik.


"Tadi kakek cari Kak Rey, katanya besok pagi harus bersiap siap. Memangnya kak Rey ada janji apa sama kakek? hem, tidak seperti biasanya." Ucap Zakka dan bertanya karena rasa penasarannya.


"Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa, mendingan kamu buruan tidur." Sahut Rey, kemudian memilih untuk masuk kedalam kamarnya.


"Kak Rey kenapa sih itu orang, perasaan dari tadi jutek mulu. Mana sudah meninggalkan aku di Mall sendirian, lagi. Awas aja, akan aku balas kerjain di Amerika." Ucap Zakka menggerutu.


"Kak Zakka ditinggal di Mall sendirian? kasihan sekali nasib kakak." Ledek adik perempuannya.


"Kamu ini, sama aja resehnya kek kakak pertamamu itu." Sahut Zakka dengan ketus, Neyla tidak peduli atas ungkapan kekesalan dari kakak keduanya.


Sedangkan Rey yang sudah masuk dalam kamar, segera ia mengganti pakaiannya. Setelah itu, ia keluar dengan baju santainya untuk menemui sang kakek.


"Kamu mau kemana, Rey?" tanya sang ayah memergoki putranya.


"Mau menemui kakek, Pa." Jawab Rey singkat.


"Kakek kamu sudah berada di ruang santainya, dari tadi menunggu kamu. Cepat lah temui kakek kamu, nanti keburu masuk kedalam kamar." Ucap sang ayah mengingatkannya.


"Iya Pa," jawab Rey singkat. Kemudian ia segera menemui sang kakek sesuai yang dikatakan oleh adik laki lakinya, yaitu Zakka.


Dengan pelan pelan, Rey mengetuk pintu ruang santai sang kakek. Disaat itu juga, pintu pun terbuka dengan sendirinya.


"Selamat malam, Kek." Sapa Rey dengan ekspresi yang tidak jauh beda dengan masa muda kakeknya.

__ADS_1


"Duduk lah, ada yang ingin kakek katakan padamu." Perintah sang kakek untuk duduk di hadapan Beliau.


__ADS_2