
Beberapa orang ikut ber takziah mengantarkan jenazah ke pemakaman umum. Begitu juga dengan kedua sahabatnya dan juga Yahya yang ikut serta menemani Aish dengan keadaan yang masih berkabung.
Setelah selesai, Aish berjongkok didekat batu nisan. Aish berjongkok ditengah tengah makam kedua orang tuanya, tatapannya pun berubah menjadi kosong saat ia mendapati kedua orang tuanya yang sudah tiada lagi di Dunia ini. Dunia Aish seakan terasa hancur, apa yang dicita citakan seakan tidak ada lagi gunanya. Apa yang diimpikannya kini seakan lenyap baik di telan bumi.
Perasaannya kini telah hancur berkeping keping saat mendapati kedua orang tuanya yang tidak ada lagi di Dunia ini.
"Ma, Pa ... Aish sudah tidak mempunyai siapa siapa lagi sekarang. Aish hanya anak sebatang kara, Aish tak lagi mempunyai tujuan. Aish harus bagaimana, Ma .. Pa? kenapa kalian begitu tega meninggalkan Aish sendirian." Ucap Aish bermonolog dengan pikirannya yang gundah karena kehilangan yang sangat berharga bagi hidupnya. Yakni, seorang ayah yang diharapkannya akan terus bersamanya. Namun takdir berkata lain. Aish masih harus melewati perjalanan hidupnya dengan seorang diri.
Tanpa ada yang mengetahui seseorang yang tidak jauh darinya, kini orang itu telah memperhatikan kesedihan Aish yang terasa begitu dalam kepedihannya. Sedangkan Yahya dan kedua sahabatnya masih berdiri dibelakang Aish.
Yunda yang tidak ingin sahabatnya terlarut dalam bayangan kesedihan, segera ia mengajaknya untuk segera pulang.
"Aish, suara adzan maghrib sudah berkumandang. Tidak baik kita masih berada di makam kuburan, ayo kita pulang. Kamu masih mempunyai waktu dihari lain untuk berziarah kedua orang tua kamu. Percayalah, kamu tidak sendirian. Kamu masih punya aku dan Afwan dan juga Yahya yang selalu siap kamu butuhkan." Ucap Yunda mencoba meyakinkan serta menenangkannya dan sekaligus mengajaknya untuk pulang.
Aish yang mengerti maksud dari sahabatnya, ia segera kembali pulang. Hanya sebuah anggukan yang bisa Aish jawab, kedua bibirnya masih terasa kelu untuk berucap. Walau hanya sepatah kata sekalipun, Aish tetap memilih untuk diam seribu bahasa.
Sampai di kediaman rumahnya sendiri, Sush duduk termenung bersandar di kursi kayunya. Begitu sederhana kehidupan Aish, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar hingga kini dirinya selalu mendapatkan prestasi yang gemilang.
"Aish, kenapa kamu masih melamun?" tanya Yunda yang sedari tadi tidak juga mendengar sahabatnya berbicara.
"Iya Aish, kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kamu harus ikhlas, dan doakan kedua orang tua kamu. Semoga Mama dan Papa kamu, tenang di alam sana. Diampumi segala dosanya, dan juga di terima di sisi Nya." Ucap Afwan menenangkan sahabatnya.
__ADS_1
"Aamiin." Jawab kedua sahabatnya serentak, Yahya dan Yunda.
"Aish, kamu tidak sendirian. Tante akan menginap di rumah kamu sampai tujuh hari, setelah itu kamu boleh tinggal di rumah Tante. Lagian juga kamu sendirian, dan Tante cuman tinggal dengan satu anak." Ucap Ibu Melin ikut menimpali, yang tidak lain adik dari ayahnya.
Aish yang tidak masih sulit untuk berucap, ia hanya mengangguk. Entah itu hanya sekedar menjawab, atau ... memang benar jika dirinya nurut pada Tante nya.
"Iya Aish, aku juga akan menginap di rumah kamu selama tujuh hari. Setelah itu, kamu boleh kok tinggal bersamaku. Bukankah Mamaku selalu menginginkan kamu untuk tinggal bersamaku." Ucap Yunda yang juga ikut menimpali.
"Aku ingin masuk kamar, tolong jangan ganggu aku."
"Tapi Aish, aku boleh ikut denganmu, 'kan? maksud aku ikut masuk ke kamar kamu." Tanya Yunda yang mulai takut terjadi sesuatu pada sahabat dekatnya.
"Iya, aku tidak akan melarangmu. Terserah kamu, mau ngapain aja di rumahku ini aku tidak akan memberi larangan untukmu. Aku selalu mengizinkan kamu untuk berada dirumah ini, aku tidak memberi larangan padamu." Ucap Aish, kemudian ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Yahya dan Afwan kini sedang berada di Masjid untuk melakukan shalat jama'ah. Kemudian ia lanjutkan untuk kembali ke rumah Aish bersama Afwan.
"Yahya, kamu yakin nih kalau besok kamu akan berangkat ke Negri orang?" tanya Afwan penasaran.
"Sebenarnya belum sih, karena masih banyak sesuatu yang harus aku urus. Dan sebenarnya juga, aku ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kedua orang tuaku. Tapi ... aku tidak tahu haris mulai dari mana." Jawab Yahya dengan perasaan gundah h
gulana.
__ADS_1
"Memangnya ada masalah apa? jangan bilang kalau kamu sudah mempunyai perempuan lain di pondok. Ayo, jawab lah dengan jujur." Tanya Afwan mendesak, ia semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.
"Ngaco! kamu ini, perasaanku sudah mentok sama Aish. Tidak mungkin lah jika aku menduakannya, yang benar saja kamu. Yang ada tuh, Aish di embat kamu. Enak saja, aku tidak akan menyia nyiakan Aish." Jawab Yahya dengan percaya diri.
"Kirain, mana aku tahu. Siapa tahu saja, 'kan?jika kamu mempunyai pilihan lagi. Memangnya apa yang akan kamu sampaikan pada kedua orang tua kamu? hem." Ucap Afwan, kemudian menyikut sahabatnya.
"Sialan, sakit! tau. Aku ingin menikahi Aish, dan membawanya untuk pergi bersamaku."
"What!! menikah kamu bilang? memang sudah bisa menikah menurut hukum negara? yang ada cuman nikah sirih. Jangan aneh aneh deh kamu ini, usiamu masih polos untuk menjerumus ke hal yang lebih dalam. Mendingan kamu tuh fokus aja dengan sekolahmu, setelah berhasil, kamu ajak Aish menikah. Nah! itu baru benar, Bro."
"Ketawa, lagi. Tidak ada yang lucu, aku serius. Setidaknya aku tidak ada batasan untuk menyentuh Aish, aman 100%."
"Aman dari mana, hem! idemu sangat konyol. Aku tidak setuju, mendingan kamu fokus aja dengan dunia belajarmu."
"Tapi ... siapa yang akan menjaga Aish dan memberinya nafkah? kasihan, Wan."
"Hem, lupa daratan dan ingatnya lautan. Memangnya kamu sudah ada gaji bulanan untuk menafkahi istrimu? uang jajan aja masih minta orang tua, cih."
"Yang jelas aku akan mencari pekerjaan, setiap orang mempunyai rizki masing masing."
"Nah itu, kamu tahu. Setiap orang mempunyai rizki masing masing, berarti Aish tanpa menikah denganmu akan mempunyai rizki. Jadi, lebih baik kamu fokus dengan karirmu."
__ADS_1
"Lalu ... bagaimana dengan Aish?" tanya Yahya yang masih memikirkan keadaan Aish selanjutnya. Ditambah lagi tidak ada orang tua yang dijadikan sandaran hidupnya, dan kini harus melakukan apa apanya sendirian.
"Aish aman bersamaku, percayalah." Sahut seseorang yang tiba tiba sudah berdiri tidak jauh dari Yahya maupun Afwan, keduanya mendadak kaget mendengarnya, serta merasa kesal ketika kalimat sombong telah diucapkannya.