Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Takut kehilangan


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Reynan telah sampai didepan rumah. Segera ia turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.


Saat hendak masuk lewat pintu utama, sosok istri tercintanya sudah menyambutnya dengan hangat.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rey dengan salam, Aish pun tersenyum.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Aish, kemudian mencium punggung dan telapak tangan suaminya. Sedangkan Rey mencium kening milik istrinya dengan lembut.


"Ayo kita masuk," ajak Aish dengan senyum manisnya. Keduanya berjalan beriringan hendak masuk kedalam kamarnya. Disaat itu juga Rey terasa bahagia dan juga serasa sempurna tentang hidupnya. Namun tiba tiba ia kembali teringat dengan saudara kembarnya yang tengah berbaring di rumah sakit.


Wajah sumringah yang baru ia tunjukkan didepan sang istri, seakan lenyap begitu saja. Sambil berjalan, Rey menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Reynan, kamu sudah pulang? bagaimana keadaan Zakka? baik baik saja, 'kan?" tanya Omma Qinan penuh kekhawatiran.


"Keadaan Zakka sedang ditangani Dokter, Omma. Hari ini juga Zakka mau dilakukan operasi. Kata Dokter lebih cepat lebih baik, kasihan juga jika harus menunggu besok. Karena rasa sakit yang begitu dalam, secepatnya dilakukan tindakan." Jawab Reynan menjelaskan.


"Syukur lah kalau Zakka sudah ditangani, semoga secepatnya bisa sembuh. Omma sangat khawatir, sedari tadi Omma hanya bisa mondar mandir memikirkan kesembuhan Zakka." Kata Omma dengan penuh kekhawatiran pada cucu keduanya.


"Kak Rey, bagaimana dengan keadaan kak Zakka? Ney pingin pergi ke rumah sakit." Tanya Neyla yang juga sama khawatirnya atas musibah yang menimpa saudara kembarnya.


"Kabar Zakka sedang ditangani oleh Dokter, doakan saja untuk kesembuhan kakak kamu. Kalau kamu ingin pergi ke rumah sakit, tunggu suami kamu pulang." Jawab Rey sambil melepas sepatunya.


"Kenapa mesti menunggu suami Neyla sih, Kak? lagian juga Kak Rey mau balik lagi ke rumah sakit, 'kan? Ney ikut Kak Rey aja."

__ADS_1


"Kak Rey ada pekerjaan di rumah yang harus ditangani, secepatnya harus selesai. Seyn sudah aku kirimi pesan untuk segera pulang, kamu tidak perlu risau." Kata Rey memperjelas ucapannya.


"Omma boleh ikut, 'kan?" tanya Omma Qinan penuh harap dan tentunya bisa ikut pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi cucunya.


"Tentu saja boleh kok, Omma." Jawab Reynan menimpali, sedangkan Aish hanya menjadi pendengar setia.


"Baik lah, kalau begitu Omma mau bersiap siap." Kata Omma yang bersemangat untuk berangkat lerby ke rumah sakit.


Karena cukup lelah dan menguras pikirannya Reynan mengajak istrinya untuk masuk kedalam kamar.


Sampainya berada didalam kamar, Rey mengunci pintunya dan melepaskan pakaiannya. Hanya tersisa celana kolor yang menempel pada bagian anggota badannya.


Sedangkan Aish segera masuk ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi. Dengan cepat kilat, Rey langsung meraih tangan milik istrinya sebelum masuk ke kamar mandi. Kemudian keduanya masuk ke kamar untuk mencuci tangan dan kaki serta mencuci mukanya. Setelah itu, Rey dan Aish kembali ke luar dari kamar mandi. Rey yang sudah tak sabar, segera ia mendekati sang istri dengan jarak yang semakin dekat, bahkan tak ada satu jengkal pun jarak diantara keduanya.


Sebelum memulai, Rey dan Aish bersama sama berdoa sebelum ritual panjangnya. Pelan pelan Rey menidurkan istrinya diatas tempat dengan sangat hati hati karena kondisinya yang tengah hamil.


Tidak hanya pelan pelan, Rey begitu lembut memperlakukan sang istri dalam sunyinya ruangan kamar yang ada penyadap suara. Hanya terdengar suara dari Aish dan Rey yang mengudara didalam kamarnya.


Cukup lama keduanya masuk dalam surga dunianya, Rey terus menc*umbu istri tercintanya hingga pada babak puncak pelepasannya.


Setelah selesai melakukan ritual panjangnya, Rey dan sang istri masih dalam balutan selimut tebalnya. Karena tak ingin kepergok ketika belum membersihkan diri, Rey maupun Aish segera beranjak masuk ke kamar mandi untuk mandi besar. Tepatnya untuk mensucikan diri dari hadas besar.


Cukup lama keduanya mandi, akhirnya selesai juga membersihkan diri. Selanjutnya Aish dan suami mengenakan pakaiannya masing masing. Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Aish berdiri didepan cermin untuk menyisir rambutnya.

__ADS_1


Rey yang ingin selalu berada didekat istrinya, tak ada henti hentinya Rey memeluknya.


"Sayang, lepaskan dulu tangannya. Aku mau mengeringkan rambutku, basah nih." Kata Aish yang merasa kurang nyaman dengan keadaan rambutnya yang masih basah.


"Aku takut kehilangan kamu, entah kenapa aku ingin selalu berada didekatmu." Kata Rey sambil berbisik di dekat daun telinga milik istrinya.


"Aku tidak akan kemana mana dan tak perlu kamu takutkan, sayang." Ucap Aish yang tidak mengerti apa yang dimaksudkan dari ucapan suaminya.


Rey yang masih belum puas, ia memutar balikkan badan milik sang istri untuk menghadap dirinya. Rey memegangi kedua pundaknya dengan tatapan yang membuat Aish semakin bingung.


"Sayang, ada apa? kenapa tatapan kamu langsung berubah jadi aneh begitu sih, sayang? jelaskan padaku." Tanya Aish dengan rasa penasarannya.


"Aku sendiri tidak tahu, entah kenapa pikirannya kemana mana. Aku hanya memikirkan kamu, bahwa aku sangat takut jika kehilangan kamu." Kata Rey yang tiba berubah aneh dengan pikirannya.


"Kamu ngomong apa sih sayang? takut kehilangan aku, memangnya siapa yang mau menculik aku? kamu ini ada ada saja." Tanya Aish yang tidak mengerti dengan kekhawatiran pada suaminya sendiri.


Rey yang bingung untuk menjelaskan apa ya g dimaksudkan, akhirnya memilih duduk ditepi tempat tidur. Aish pun ikut duduk disebelahnya. Karena terlihat ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh suaminya, Aish meraih kedua tangan milik sang suami dan menatapnya dengan lekat.


"Katakan padaku, ada apa sebenarnya? ada masalah apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Aish dengan suara yang lembut. Berharap suaminya akan luluh dengan caranya mengajak sang suami untuk berbicara dengan jujur.


"Tidak apa apa, mungkin karena kamu hamil, pikiranku kemana mana." Jawab Rey yang kemudian menggenggam erat kedua tangan milik istrinya. Kemudian Rey merangkul dan memeluk istri tercintanya, sedangkan Aish memilih bersandar di dada bidangnya.


"Kamu itu sangat lah lucu, tiba tiba kamu seperti orang ketakutan. Memangnya siapa yang mau mengambil aku darimu, sayang? aku saja tidak pernah keluar rumah. Bahkan penampilanku saja tidak pernah berubah, seperti ini seterusnya."

__ADS_1


"Entah lah, aku sendiri bingung untuk mengatasi rasa ketakutanku ini. Maafkan aku yang begitu dalam mencintai mu, aku memang benar benar tidak sanggup jika harus kehilangan kamu. Jika kehilangan kamu bukan ulah manusia, melainkan memang panggilan dari Sang Maha Pencipta, aku lapang menerimanya. Tapi ... jika aku harus kehilanganmu karena perbuatan yang disengaja, maka aku ...." Ucap Reynan dan seketika Aish menempelkan jari telunjuknya pada bibir milik suaminya sendiri.


__ADS_2