Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Dibuat kaget


__ADS_3

Rena mendadak terkejut disaat itu juga, yang dimana tiba tiba datang secara dadakan dan bicara padanya. Rena mencoba memastikan siapa laki laki tersebut yang berani berbicara padanya.


Dengan perasaan yang masih terasa dongkol, Rena langsung berjalan mendekat pada Rey yang tengah menajamkan sepasang matanya tepat pada Rena.


"Heh! lelaki yang sok mau jadi jagoan, tidak usah kau ikut campuri urusanku dengan Kakakku. Lebih baik kau diam, itu jauh lebih baik dari pada ikut campur urusanku! paham." Ucap Rena dengan berani, bahkan ia tidak peduli siapa orangnya yang tengah diajaknya bicara.


Rey tersenyum menyeringai, tatapannya masih tajam. Bahkan tidak peduli siapa orangnya yang tengah ia hadapi, meski perempuan sekalipun yang dihadapinya.


"Perempuan macam apa, kamu ini. Berbicara sopan santun saja tidak becus! udah gitu menyuruhku tidak boleh ikut campur urusan kamu dan kakak kamu. Lalu Kamu pikir, kamu itu siapa? berani beraninya berkuasa, jaga! omongan kamu itu." Sahut Rey dengan tatapan yang tajam.


"Sudah aku tekankan padamu, jangan ikut campur urusanku! paham." Ucap Rena masih tidak mau kalah.


"Rena! hentikan ucapanmu itu, Nak. Yang sedang kamu hadapi itu bukan orang sembarangan, kamu bisa menyesal nantinya." Timpal Ibu Melin mencoba untuk mengingatkan putrinya, Rena hanya menatap Ibunya dengan sinis.


"Bukan orang sembarangan, Mama bilang? jangan pura pura bermain drama deh, Ma. Bilang aja, kalau Mama lebih sayang sama Kak Aish." Ucap Rena masih tidak mau mempercayai dengan apa yang Ibunya katakan.


"Aku suaminya Kakak kamu, kenapa? masih mau memeras istriku. Awas saja kalau sampai kamu berani menyentuh istriku, aku bisa membalas mu melebihi kejam mu terhadap saudara perempuanmu." Kata Rey yang akhirnya mengakui statusnya sebagai siapanya Aish.


Seketika, Rena kembali terkejut mendengarnya. Apa yang ia dengar dari pengakuan seorang Rey, sedikitpun tidak membuat Rena takut.


"Halah! palingan juga sebelas duabelas belas seperti Afwan, teman sekolahnya. Yang sama sama miskin, dih! cari suami itu yang tajir. Cari suami kok sama aja, tinggal di Toko kamu jugaan. Malu maluin keluarga saja, kalau suami kenyataannya miskin akan aku ceraikan. Nyusahin aja, tau." Ucap Rena tanpa ada rasa malu sedikitpun, bahkan rasa malunya seakan sudah putus bak ditelan bumi.

__ADS_1


Bunda Melin terasa teriris perih hatinya, ketika seorang anak yang diharapkannya bisa menjadikan kebanggaan keluarga, justru kenyataannya berbanding terbalik. Seorang anak perempuan yang disangkanya bisa membawa nama harum buat keluarganya, justru tidak untuk Rena yang sudah berubah total tentang sifat dan tingkah lakunya yang jauh dari kata baik.


Aish pun ikut kecewa pada sikap Rena yang sejarang, sikapnya yang sudah berubah total. Rena yang dulunya baik, mudah diberi nasehat, kini hatinya seakan berubah seperti batu. Keras kepala dan mau menangnya sendiri, bahkan orang lain tidak dibolehkan untuk menang.


Begitu juga dengan Rey yang mencoba untuk meredamkan emosinya sendiri, namun terasa sulit karena batas kesabarannya yang tidak lagi mampu menahan amarah pada seorang Rena yang sudah kelewat batas wajar.


"Terserah kamu mau bilang apa tentangku, asal kamu tidak menyesal setelah ini." Kata Rey dengan tenang, dan tidak lupa dengan seringainya.


Rena yang menatap kekesalan pada Rey, ia semakin geram dibuatnya. Ingin menghabisinya, namun ia tidak mempunyai cara serta modal untuk membayar orang suruhan. Mau tidak mau, Rena hanya menatapnya dengan sinis, serta dengan rasa kekesalannya.


"Permisi Tuan, Nona. Maaf, jika kedatangan saya ini telah mengganggu. Apakah pagi ini jadi berangkat ke rumah sakit? saya sudah siap untuk berangkat." Ucap Pak Dirwan salam hormat pada majikannya.


Disaat itu juga, Rena terkejut bukan main saat mendengar seseorang yang tengah memanggil Rey dan Aish dengan panggilan yang cukup terhormat.


Aish yang lupa untuk memberi kabar gembira pada Ibu Melin, akhirnya Aish teringat dan mendekati Beliau. Sedangkan Rena masih bengong dan hanya menjadi pendengar setia, karena rasa penasarannya dengan Aish dan juga suaminya.


"Tante," panggil Aish. Kemudian ia meraih kedua tangan milik Ibu Melin dan meletakkannya pada bagian perutnya.


"Maafkan Aish jika Aish baru bisa memberi kabar gembira ini pada Tante, sekarang Aish sedang hamil, Tante." Ucap Aish dengan menitikan air mata bahagianya.


Bagaimana Aish tidak menangis, dia tidak mempunyai siapa siapa lagi selain Ibu Melin. Kabar gembira yang ingin ia sampaikan pada kedua orang tuanya, kini tidak ada lagi orang yang ia rindukan. Ibu Melin yang melihat Aish tengah menitikan air matanya, Beliau ikut menangis dan memeluknya. Seakan dirinya lemah begitu saja, berbeda saat dirinya menyampaikan kabar bahagianya pada suami. Semata mata Aish tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada suami, apapun itu. Aish hanya ingin terlihat kuat dan juga tegar, pastinya tetap menunjukkan senyum bahagia pada sang suami.

__ADS_1


Namun, kekuatan dan ketegaran nya tiba tiba rapuh begitu saja saat dirinya harus berhadapan dengan Ibu Melin yang berstatus Tantenya itu. Aish tidak lagi bisa membendung air matanya, ia menumpahkan kerinduannya pada Ibu Melin.


Setelah berada dalam pelukan Ibu Melin, Beliau melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aish yang berubah menjadi sembab. Dengan ibu jarinya Beliau, Ibu Melin mengusap air mata keponakannya.


Rey yang terharu dan juga terasa teriris hatinya, ia mendekati istri dan Tantenya. Diraihnya pundak sang istri, Aish pun memutar badannya dan menatap wajah suaminya dengan mukanya yang sudah berubah menjadi sembab. Rey langsung memeluk istrinya berada dalam dekapannya.


"Aku tahu yang kamu rasakan, kamu pasti merindukan kedua orang tuamu. Doakan, hanya itu yang bisa kita lakukan. Kamu tidak sendirian, ada aku yang akan selalu menemani mu sepanjang hidupku." Ucap Rey mencoba menenangkan istrinya.


Rena yang melihat pemandangan yang cukup membuat hatinya panas pun, semakin dongkol rasa rasanya. Rena yang baru saja berucap semaunya, tiba tiba dirinya harus dikejutkan dengan sejuta pertanyaan mengenai siapa suami Aish yang sebenarnya, dan juga rasa cemburunya pada Aish yang dimana terlihat sangat bahagia mendapatkan perhatian sempurna dari suaminya.


Derak jantung Rena semakin gemuruh karena kecemburuannya terhadap Aish, bahkan ingin rasanya menyingkirkan Aish hingga lenyap dari muka bumi, pikir Rena dengan emosinya yang semakin meluap. Bahkan, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Seakan akan mau melayangkannya pada Aish, namun ia mencoba untuk menahannya karena tidak ingin dikatain yang tidak tidak.


Selesai memeluk istrinya, Rey melepaskannya. Ia tidak ingin membuat istrinya susah untuk bernapas.


"Aish." Panggil Ibu Melin, Aish pun menoleh pada beliau dan kembali berhadapan.


"Ya Tante, ada apa?" jawab Aish dan bertanya.


"Selamat ya, sayang. Tante ikut bahagia mendengarnya, dijaga kesehatan kamu." Ucap Ibu Melin memberi ucapan selamat pada keponakannya.


"Terima kasih banyak, Tante. Akan Aish usahakan untuk selalu menjaga kesehatan, termasuk pola makan dan jadwal istirahat." Jawab Aish, dan tidak lupa senyumnya yang manis.

__ADS_1


__ADS_2