Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Mengantar kueh pesanan


__ADS_3

Aish masih diam, tidak tahu harus berkata apa. Karena tidak mempunyai pilihan lain, Aish lebih memilih untuk memberikan keputusannya pada sang suami. Aish mendongakkan pandangannya dihadapan suaminya, Rey tidak berucap dan ia memilih untuk diam sebelum istrinya bersuara.


"Aku nurut saja sama kamu, karena kamu suamiku. Apa untungnya aku datang, jika kamu merasa keberatan." Jawab Aish sambil menatap suaminya.


"Yakin, 'kan? karena aku sendiri tidak ingin membuatmu tidak nyaman. Kalau kamu bersedia, aku tidak begitu khawatir. Ya ... walaupun kenyataannya ada sedikit kecemasan, aku akan menghindarinya." Kata Rey sedikit merasa lega.


"Kita mau berangkat jam berapa?" tanya Aish yang masih menghadap suaminya.


"Jam delapan malam, bagaimana? aku mau istirahat sebentar beberapa menit." Jawab Rey, Aish pun mengangguk dan tersenyum.


Pelan pelan Rey menuntun istrinya untuk berbaring diatas tempat tidur. Dengan hati jati Aish mengikuti arahan dari suaminya dan keduanya sama sama tiduran. Setelah itu, Aish memengganti posisinya senyaman mungkin. Tidak lupa juga, Rey memeluk istrinya penuh kehangatan. Entah ada angin apa, keduanya terlelap dari tidurnya yang sementara.


Sedangkan di tempat lain, ada Sela yang tengah sibuk untuk mengantarkan kueh ulang tahun sesuai pesanan.


"Kak Winda, bagaimana ini?" panggil Sela ditengah tengah kebingungannya.


"Apanya yang bagaimana, Sel?" kata Winda yang ikutan balik bertanya.


"Ini loh Kak, siapa yang mau mengantarkan kuehnya? masa ya Sela sih." Jawab Sela sambil berkacak pinggang.


"Lah, bukannya kamu yang ngantar pesanan kuehnya? eh tunggu dulu."


"Ada apa lagi, Kak?" Sela bertambah gelisah. Tatkala dirinya sama sekali belum siap untuk mengantarkan pesanan nya.


"Sudah benar atau belum, itu?"


"Apa nya lagi sih, Kak?" tanya Sela yang sudah tidak sabar.


"Namanya sudah ditulis semua, 'kan?" Winda pun kembali balik bertanya.


"Sudah kok, Kak. Reynan, Zakka, Neyla, benar kan Kak? soalnya aku juga tidak begitu memperhatikan tulisannya tadi."


"Ya, benar. Ya sudah kalau begitu, aku panggil karyawan yang lainnya untuk membawa ke mobil."


"Ya, Kak. Tapi ... siapa dong yang ikut kesana?"


"Kamu lah, siapa lagi. Sudah sudah, Kak Winda Doain kamu. Semoga kamu dibawakan oleh oleh dari sana, lumayan loh."


"Kak Winda ini, oleh oleh aja pikirannya. Sela nih yang bingung, Sela harus bilang apa? ah kenapa jadi pusing begini sih Kak." Kata Sela sambil berdecak kesal, bahkan kedua tangannya masih berkacak pinggang.


"Sela, kamu sudah siap atau belum?" tanya salah satu pekerja lelaki yang sudah siap untuk mengantarkan kueh pesanan.


"Kak Winda, bagaimana kalau Kaka aja yang mengantarkan kueh ulang tahunnya?"


"Hem, Kak Winda masih banyak pekerjaan. Kamu kan yang sudah kenal sama keluarga suaminya Aish, jadi ya memang kamu yang harus mengantar kueh nya." Kata Winda yang tetap menolak permintaan dari Aish.


"Sela, sudah siap atau belum? nanti terlambat. Takutnya jalanan macet total, bagaimana? ayo cepetan berangkat."


"Ya ya ya, Ken." Sahut Sela dengan pasrah, mau tidak mau Sela akhirnya yang akan mengantarkan pesanan nya. Karena tidak ada pilihan lain, Sela segera bergegas pergi.


Sedangkan di kediaman keluarga Ganan Wilyam, kini tengah kebingungan atas permintaan dari Zakka yang menginginkan pacar sementaranya.


"Ganan, bagaimana ini? kita belum juga dapatkan perempuan yang bisa dijadikan pacar sementaranya zakka." ucap kakek angga yang mulai khawatir, janji Beliau yang siap menuruti permintaan dari Zakka harus gagal begitu saja.


"Tidak perlu dituruti, Pa. Biarkan Zakka berpikir sendiri, mau sampai kapan kita akan terus memanjakannya? hah." JawabTuan Ganan, disaat itu juga Bunda Maura ada di dekatnya.

__ADS_1


"Zakka sedang tidak baik baik saja, Pa? apa kamu sudah lupa dengan kondisi kaki putramu." Bunda Maura ikut angkat bicara.


"Omma Qinan dan Kakek Angga masih menjadi pendengar di sebuah ruangan khusus.


Disaat itu juga, Tuan Ganan menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Aku menyerah, aku lebih memilih membiarkan Zakka berpikir dengan caranya sendiri." Kata Tuan Ganan, kemudian Beliau bergegas pergi dari ruangan tersebut.


"Ada benarnya juga yang dikatakan suami kamu, kita perlu mencobanya. Sampai di mana Zakka berjuang, kita awasi saja dari belakang." Ucap Kakek Angga memberi nasehat pada menantunya.


Bunda Maura yang tidak punya cara lain, mau tidak mau Beliau akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya.


Sedangkan Zakka tengah dibantu orang kepercayaan Tuan Ganan untuk mengenakan pakaiannya.


Zakka terdiam ketika menatap cermin yang ada bayangannya sendiri. 'Tidak ada kesempatan untukku, walau hanya pura pura sekalipun.' Batin Zakka sambil menatap pada cermin.


"Tuan, sudah selesai. Apakah Tuan Muda sudah siap untuk keluar? maksud saya untuk berkumpul bersama keluarga yang lainnya."


"Boleh, antarkan aku ke ruangan yang dimana keluargaku tengah berkumpul." Jawab Zakka.


"Baik, Tuan Muda." Ucapnya, kemudian mengajak Zakka ke suatu tempat yang ditunjukkan.


"Kak Zakka, tunggu."


Zakka yang merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke sumber suara.


"Neyla, Seyn, kalian sudah datang?"


"Ya, Kak. Kita berdua baru aja dateng, kak Rey dan kak Aish, mana? perasaan dari tadi belum kelihatan."


"Minggir, biar saya saja yang mendorong kurus rodanya. Kata Seyn mengambil alih dari orang kepercayaan ayah mertuanya.


" Silahkan, Tuan." Jawabnya, namun tetap saja masih mengikutinya dari belakang.


'Sebesar apakah perasaan kak Zakka sama istrinya kak Rey? hingga begitu kesalnya ketika aku menyebut nama mereka berdua.' Batin Neyla sambil berjalan dibelakang suaminya yang sedang mendorong kursi roda.


Sampainya di ruang khusus keluarga, Zakka kumpul bersama ibundanya dan juga yang lainnya.


"Zakka, Neyla, Seyn, akhirnya kalian sudah berkumpul. Oh ya, dimana Rey dan istrinya? kok tidak kelihatan." Panggil Omma Qinan dan bertanya keberadaan cucu pertamanya.


"Belum datang keknya Omma, atau ... masih diperjalanan." Jawab Neyla mewakili.


"Ya sudah, ayo kita duduk dulu sambil menunggu kedatangan Rey dan Aish." Ajak Omma Qinan, sedangkan bunda Maura mengambil alih untuk mendorong kursi rodanya. Seyn yang mengerti maksud dari ibu mertuanya pun, ia menyingkir dan mengajak istrinya untuk duduk bersama.


"Sayang, aku kesana sebentar." Ucap Seyn berpamitan.


"Mau ngapain?" tanya Neyla seakan keberatan untuk tidak berada di dekat suaminya.


"Aku mau menunggu Kak Rey. Tenang saja, aku tidak ngapa ngapain." Jawab Seyn, Neyla pun mengiyakan.


"Ya deh tidak apa apa, tapi awas loh ya."


"Ya, sayang. Tenang saja, gak bakalan kepincut sama wanita lain. Kalau kamu kurang percaya, kamu boleh menyuruh anak buah Papa kamu untuk mengawasi ku." Kata Seyn meyakinkan istrinya.


"Ya ya ya deh, aku percaya sama kamu." Ucap Neyla.

__ADS_1


"Seyn, ayo ikut Papa." Ajak Tuan Ganan pada menantunya.


"Loh, kok sama Papa. Memangnya Papa dan Seyn mau kemana? katanya mau menunggu kak Rey?"


"Kena tipu kamu sama suami kamu, Neyla."


"Apa! kena tipu? dih, tuh kan ... bohongnya kelihatan."


"Sudah, kamu kumpul bareng sama Mama dan Kak Zakka saja, ada Omma jugaan." Kata Seyn, sedangkan Neyla hanya bisa berdecak kesal ketika suaminya sudah mengejainya, tak lupa juga mengerucutkan bibirnya.


Tanpa berkata apa apa lagi, Seyn dan ayah mertuanya segera bergegas pergi dari ruangan tersebut.


"Ma, Omma, Papa dan Seyn mau ngapain sih? kok kelihatannya tegang begitu."


"Ada sesuatu yang penting, sudah lah ayo kita bersiap siap untuk menemui para tamu undangan yang sebentar lagi datang." Jawab Kakek Angga menimpali.


"Sesuatu yang penting? tentang apa Kek?"


"Nanti kalau Kakek kasih tau kamu, seharian tidak akan kelar kelar menerima pertanyaan dari kamu. Lebih baik sekarang kita keluar, sebentar lagi tamunya pada datang." Jawab Kakek Angga.


"Hem, ya deh Kek." Jawab Neyla.


"Zakka, ayo kita keluar." Ajak Bunda Maura pada putranya.


"Zakka masih ingin berada di ruangan ini, Ma. Kalau Mama dan yang lainnya ingin keluar, silahkan. Nanti biar Zakka menyusul ditemani Aidan." Ucap Zakka yang masih ingin berada di ruangan tersebut.


"Kalian bertiga, keluarlah." Kata Kakek Angga pada istri, menantu, dan cucunya.


Omma Qinan yang maksud dengan kode suaminya, Beliau menarik tangan menantunya dan juga Neyla.


"Ayo kita keluar, biar Zakka ditemani Kakek." Ajak Omma Qinan.


Mau tidak mau, Bunda Maura dan Neyla hanya bisa nurut. Setelah keluar dari ruangan tersebut, kini tinggal Kakek Angga dan Zakka.


"Aidan, keluar sebentar. Tunggu saja sampai saya memanggil kamu." Perintah kakek Angga pada orang kepercayaan keluarga Wilyam.


"Baik, Tuan." Jawab Aidan, kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut sesuai perintah dari Kakek Angga.


"Zakka, maafkan Kakek ya. Jika Kakek dan yang lainnya tidak bisa memenuhi permintaan kamu tadi pagi." Kata Kakek Angga meminta maaf.


"Tidak apa apa kok Kek, Zakka tidak marah." Jawab Zakka dengan datar, tetap saja Kakek Angga dapat menangkap ekspresi dari cucunya.


"Kakek percaya sama kamu, jika kamu mampu untuk melewatinya." Ucap Kakek Angga meyakinkan cucunya.


"Ya Kek, terima kasih sudah berusaha untuk membantu Zakka. Kalau Kakek mau kumpul bersama yang lainnya, silahkan."


"Kamu serius tidak apa apa?" tanya sang Kakek untuk memastikan.


"Ya Kek, serius. Apa kata teman teman Zakka kalau Zakka tidak percaya diri, lagian masih ada keluarga yang selalu menyemangati Zakka, Kek." Jawab Zakka yang juga meyakinkan Kakek Angga.


"Baik lah, Kakek tunggu di luar. Jangan lama lama, nanti Aidan yang akan menemani kamu disini." Ucap sang Kakek, Zakka pun menganggukkan kepalanya.


Sedangkan diluaran area tempat untuk menerima tamu undangan, telah datang sebuah mobil masuk kedalam area halaman rumah Tuan Ganan.


Sela, siapa lagi kalau bukan Sela yang mengantarkan kueh ulang tahun yang dipesan oleh keluarga Tuan Ganan untuk ketiga anak kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2