
Selesai membersihkan diri, Zakka segera keluar dari kamarnya. Terasa malas untuknya keluar, lagi lagi pikirannya kembali kepada kerinduan yang harus bisa untuk dilepaskannya.
Sambil menuruni anak tangga, Zakka sedikit pusing pada bagian kepalanya. "Kenapa kepalaku terasa sakit begini, perasaan tadi baik baik baik saja." Gumam Zakka sambil memegangi kepalanya.
"Zakka, kamu kenapa?" panggil ibunya mengagetkan putranya yang hampir saja terpeleset karena tak mampu menjaga keseimbangannya.
"Mama, ngagetin Zakka aja deh. Ini loh Ma, kepala Zakka sakit banget. Apa karena masuk angin kali, ya." Sahut Zakka masih memegangi kepalanya yang terasa berat sambil berjalan.
"Duduk, duduk aja dulu." Perintah Bunda Maura dan menuntun putranya ke tempat duduk yang tidak jauh dari anak tangga.
Zakka masih memijati pelipisnya, berharap sakit kepalanya sedikit mereda. Namun sayangnya, bukannya mereda justru semakin sakit untuk dirasakan pada bagian kepalanya.
"Kenapa dengan Zakka, Ma?" tanya Tuan Ganan menimpali dan berjalan mendekat.
Sampainya didepan putranya, Tuan Zayen segera mengecek suhu tubuhnya. "Demam, sepertinya kamu ini masuk angin. Istirahat lah di kamar tamu, Papa akan panggilkan Dokter." Kata Tuan Ganan, Bunda Maura hanya bisa nurut. Lebih cepat lebih baik untuk diatasi, pikirnya.
"Perasaan Zakka baik baik saja loh, Pa. Apa karena kecapekan, mungkin."
"Cape kenapa? perasaan dari tadi kamu itu tidak kerja, hem." Kata Tuan Ganan yang lupa jika Beliau telah menyuruh putranya untuk berkeliling keliling demi menangkap sosok Rena.
__ADS_1
Disaat itu juga Zakka membelalakan kedua bola matanya, tepat pada sang ayah yang juga pandangannya tertuju pada putranya.
"Ah ya, Papa lupa. Kamu kecapekan, maafkan Papa yang sudah mulai pikun ini. Makanya buruan kamu segera menikah, biar Papa tidak tambah pukun." Kata Tuan Ganan yang baru tersadar dari ingatannya.
"Hem, menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Pa. Semua butuh kepastian dan juga tanpa paksaan, nanti yang ada hanya pertengkaran dan pertengkaran saja." Jawab Zakka yang tak ingin bernasib seperti ayahnya sendiri, bahkan ia tak ingin menjadi seseorang yang egois.
"Pintar juga anak Papa yang satu ini, kakak kamu bentar lagi mau punya anak. Maka dari itu, Papa ingin kamu bisa melupakan Aish dengan cara menikah."
"Papa, biarin Zakka memilih pilihannya sendiri. Kita tidak perlu memaksa Zakka untuk mengabulkan permintaan Papa." Ucap Bunda Maura ikut menimpali.
"Ya nih Papa, kalau seperti kakek Angga mah tidak apa apa. Zakka mah ok ok aja jika harus dijodohkan, lah ini Zakka aja masih bisa berjalan normal. Apa apa sendiri juga masih bisa, kalau kakek Angga kan tidak ada yang menggantikan pakaiannya. Jadi, ya wajar aja jika harus menikah. Masa ya, orang tuanya yang harus menjadi peran seorang perawat? itu tidak mungkin." Kata Zakka mencari pembenaran atas dirinya sendiri.
"Kalian ini sedang membicarakan siapa? hem, pasti sedang membicarakan masa lalu Kakek, 'kan? ayo Zakka mengaku lah." Ucap kakek Angga yang tiba tiba ikut menimpali.
"Maaf Kek, bukan maksud nya Zakka untuk membicarakan masa lalu kakek sama Omma. Habisnya Papa mau nyariin calon istri buat Zakka, sudah seperti kehabisan stok aja. Jugaan Zakka masih sehat Kek, dan juga masih bisa mencari jodoh sendiri. Terkecuali kondisi Zakka yang tidak jauh beda dengan Kakek, mungkin Zakka baru bisa menerima tawaran dari Papa." Kata Zakka mencari alasan, berharap dengan alasannya itu dapat mengelak dari sebuah perjodohan, pikir Zakka dengan penuh harap.
"Kakek sependapat dengan mu, Zakka. Yang dikatakan kamu itu ada benarnya, kamu itu masih sehat dan masih bisa untuk mencari pendamping hidup sendiri. Jadi, bersemangat lah untuk membuka hatimu pada perempuan yang siap masuk dalam kehidupan mu." Sahut Kakek Angga, kemudian Beliau berjalan mendekati cucu keduanya.
"Terima kasih Kek, sudah mau mendukung Zakka." Ucap Zakka tersenyum lega.
__ADS_1
"Kakek bangga dengan mu, semoga kamu segera mendapatkan perempuan sesuai harapan yang nyata." Kata sang Kakek menyemangati.
Omma yang juga ikut mendukung cucu keduanya, Beliu berjalan mendekati.
"Ini yang namanya lelaki hebat, tidak menyimpan dendam. Justru menjadikan suatu masalah adalah ujian, Omma bangga dengan mu. Masa lalu yang kelam tidak patut untuk di contoh, tetapi jadikan sebagai ancaman agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Omma doakan, semoga kamu segera menyusul kedua saudara kembar mu untuk mendapatkan kebahagiaan." Ucap Omma Qinan yang juga ikut menyemangati cucu keduanya.
Bunda Maura yang melihat suasana terasa hari, Beliau juga ikut mendekati putra keduanya.
"Mama ikut bangga juga dengan mu, anakku sayang. Akhirnya kamu mampu mengendalikan emosi mu, kamu mampu menjaga hatimu yang tengah terluka. Percayalah sama Mama, bahwa kamu akan mendapatkan penggantinya yang juga tidak kalah baiknya seperti yang pernah kamu perjuangkan." Ucap Bunda Maura ikut memberi penyemangat pada putra keduanya, kemudian Beliau memeluk erat pada Zakka dan menepuk punggungnya untuk memberi semangat dan tidak mudah putus asa.
Setelah dirasa sudah cukup, Zakka melepaskan pelukan dari ibunya. Kemudian Zakka menatap lekat wajah Bunda Maura yang tidak lagi muda pada jamannya.
"Terima kasih ya Ma, selama ini Mama selalu menyemangati Zakka dan juga selalu memberi nasehat nasehat kecil untuk Zakka. Mama selalu mengingatkan Zakka ketika Zakka tengah tidak bersemangat, Mama selalu ada waktu untuk Zakka sesibuk apapun pekerjaan Mama. Terima kasih banyak atas perhatian Mama yang selalu menyematkan waktu berharganya Mama." Jawab Zakka dengan tidak sengaja ia menitikan air matanya yang bahagia.
Zakka tidak pernah menyangka jika nasib malangnya karena sebuah kegagalan cintanya telah mencuri perhatian keluarganya, termasuk Omma Qinan dan Ibundanya tercinta. Bahkan Kakek Angga yang selalu dekat dengan sang Kakak, rupanya tidak kalah perhatiannya dengan kedua orang tuanya sendiri. Zakka benar benar sangat beruntung memiliki keluarga yang selalu menyemangatinya, meski dalam keadaan yang sedang tidak baik baik saja akan perasaannya atas cinta.
"Tidak cuman Kakek, Papa, Omma, dan Mama saja yang perhatian sama Kakak kedua, tetapi juga Neyla. Ney juga perhatian loh sama Kak Zakka, gini gini juga selalu menyemangati Kakak." Sahut Neyla yang tiba tiba sudah datang bersama sang suami.
"Dih, datang terlambat masih ngaku ngaku juga." Ledek Zakka yang tak mau kalah dari saudara perempuannya.
__ADS_1
"Ye, Neyla kan memang datangnya terlambat. Jadi ya wajar aja jika kurang ngena dihati. Kak Zakka, jangan pernah putus asa ya. Buktinya Kakak bisa lapang dada sampai sekarang ini, Ney doain semoga Kak Zakka segera menyusul Kak Rey dan juga Neyla."
"Ya ya ya, bawel." Sahut Zakka dibuat ketus, padahal hanya sebuah ekspresi buatan saja.