
Zakka yang mendapati kekesalan dari sang kakak, ia langsung memilih untuk diam. Tidak lama kemudian seorang guru tengah masuk dan memberi materi pelajaran. Semua siswa siswi tidak ada satupun yang memulai untuk berisik, tidak untuk Zakka. Justru ZAkka sibuk memperhatikan Aish, tanpa ia sadari sedang di perhatikan oleh seorang guru.
Zakka segera melempar kepalan kertas kepada Aish, namun sayangnya kertas itu jatuh didepan Yunda.
Dengan cepat, Yunda segera membuka kepalan kertas yang ada didepannya.
"Aish, ini ada kertas dari Zakka. Aku buka, ya? takut dianya macam macam." Tanya Yunda sambil menyikut Aish.
"Terserah, aku tidak peduli." Jawab Aish setengah berbisik sambil menatap kedepan.
Karena penasaran, Yunda segera membukanya. Kemudian, segera menunjukkannya pada Aish. Pelan pelan, kertas terbuat dapat dibuka dan terlihat jelas tulisan didalamnya.
"Aish, boleh 'kan? jika setelah pulang sekolah nanti aku main ke rumah kamu?"
Begitulah isi dalam kertas yang dilemparkan oleh Zakka, Aish yang membacanya terasa geram.
"Aku balas, ya. Aku memberi pelajaran dengannya, agar dianya jera." Ucap Yunda meminta persetujuan dari sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan Aish. Sedang Afwan sendiri duduk dibarisan Zakka, maka ia sulit untuk mengawasinya.
"Terserah kamu saja, yang jelas aku tidak perduli." Jawab Aish yang tidak ingin meresponnya, baginya hanya membuat waktunya terbuang sia sia.
Disaat itu juga, Aish kembali teringat akan sosok Yahya yang sikapnya selalu menuruti apa yang tidak ia suka. Sekalipun untuk tidak. mendekatinya, dan ia benar benar menuruti permintaan dari ayahnya itu. Yang dimana harus mempunyai bekal ilmu untuk mendekatinya. Aish semakin dilema akan janji Yahya, ia takut semuanya hanya mimpi.
Sedangkan Yunda masih berpikir keras untuk membalas tulisan Zakka.
"Kamu tidak aku izinkan datang ke rumahku, hanya orang tertentu yang boleh menemuiku di rumah. Sekali kamu nekad menemuiku di rumah, sama saja kamu menyerahkanku untuk mendapat hukuman dari ayahku."
Begitulah Yunda menulisnya, kemudian segera ia mengepalnya kembali dan melemparkan kearah Zakka. Namun sayangnya, kertas tersebut jatuh di depan Reynan kakak Zakka sendiri.
__ADS_1
"Kak, berikan kertas itu padaku. Itu milikku, dan sangat penting." Ucap Zakka mencoba merampasnya dari tangan sang kakak.
Reynan tetap pada pendiriannya, ia membukanya dan membacanya dengan sangat teliti dan seksama. Setelah dibaca, Rey menoleh kearah sang adik dan juga melihat Aish yang tengah fokus dengan pandangannya lurus ke seorang guru yang tengah menerangkan.
Zakka yang semakin geram, segera ia merampas kertas tersebut dari tangan saudara kembarnya.
Reynan sendiri langsung memberikannya pada Zakka. Senyum lebar dan sedikit kesal, Zakka segera membuka kepalan kertasnya dan membacanya dengan seksama.
Tanpa Zakka sadari sebelumnya, jika seorang guru tengah berdiri disampingnya sambil ikut membaca sebuah tulisan pada kertas yang begitu kusutnya. Zakka sendiri masih fokus dengan balasan tulisannya itu tanpa menyadari keberadaan seorang guru didekatnya.
"Zakka! maju ke depan." Ucapnya keras, sambil merampas sebuah kertas ditangan Zakka.
Seketika itu juga, Zakka terasa tersambar petir. Dirinya benar benar tidak pernah menyangkanya, jika sang guru tengah berdiri didekatnya. Kazza menoleh kearah sang kakak dengan tatapan kekesalannya.
"Kenapa kamu tidak mengingatkanku, jika ada guru didekatku. Injak kakiku kek, atau cubit keras pinggang ku ini." Gerutunya sambil menatap saudara kembarnya itu.
"Zakka, cepat maju kedepan." Perintah dari seorang guru yang masih berdiri didekatnya, mau tidak mau Zakka nurut dengan apa yang diperintahkan dari gurunya.
"Angkat kaki kamu yang sebelah kiri, kemudian kamu baca percakapan yang barusan kamu buat. Tunjukan bacaannya didepan teman teman kamu didalam kelas ini. Ingat, dilarang menurunkan kaki kamu itu. Jika kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan kamu, ibu akan menghukum kamu di tengah lapangan." Ucap seorang guru mencoba memberi peringatan kepada Zakka, berharap untuk tidak mengulanginya kembali.
Dengan rasa malu dan takut, Zakka terpaksa membuka lembaran kertas tersebut yang sudah berada di tangannya. Sedangkan Aish sendiri hanya memilih diam dan tidak berani menatapnya kedepan.
"Aish, lihat tuh. Akhirnya Zakka menerima hukumannya atas perbuatannya itu." Ucap Yunda pada sahabatnya.
"Bukan urusan aku, aku tidak peduli dengannya. Mau mendapat hukuman atau tidak, itu urusan dia." Jawabnya yang masih terus menunduk.
Sedang Zakka sedikit ragu untuk membacanya, rasa malunya tengah menghantui pikiran buruknya.
__ADS_1
"Zakka, kenapa kamu masih diam? cepat, kamu baca tulisan yang ada dikertas yang kamu pegang." Perintah dari seorang ibu Guru yang sudah tidak sabar melihat Zakka yang sedikit lambat.
"Tunggu." Ucap Reynan mencoba untuk menghentikan hukuman saudara kembarannya itu yang berdiri di depan, sang guru pun heran dibuatnya.
"Kamu, maju kedepan." Perintah dari ibu guru sambil menunjuk ke arah Reynan. Dengan cepat, Reynan segera maju kedepan untuk menghadap ibu guru.
Dengan tenang, Rey mengatur pernapasannya agar tidak menjadi gugup.
"Maaf, Bu. Sebenarnya ini kertas milik saya, dan yang menulisnya pun saya sendiri. Zakka hanya sebagai jembatan saya untuk melemparkan kertas tersebut. Biarkan saya yang bertanggung jawab atas perbuatan saya, Bu." Ucap Reynan beralasan, ia tidak ingin saudara kembarnya selalu mendapat penilaian buruk sepanjang menjadi seorang murid.
"Baiklah, jika kamu mengakuinya. Besok lagi jika aku mendapati kamu berbohong, ibu guru tidak akan segan segan untuk menghukum kamu ditengah lapangan." Jawab sang guru memberikan peringatan, Reynan pun mengangguk.
Seketika itu juga, Aish langsung mendongakkan kepalanya tatkala mendengar penuturan dari Reynan. Aish pun tercengang mendengarkannya, ia benar benar tidak menyangka dengan sosok Reynan yang dingin berani bertanggung jawab pada laki laki menjengkelkan seperti Zakka, pikirnya.
Sedangkan Ibu guru kini tengah menatap Zakka dengan tatapan serius.
"Zakka, duduk lah. Ingat, jangan berisik." Perintah dari seorang ibu guru pada Zakka.
"Baik Bu, saya tidak akan lagi membuat kegaduhan lagi. Dan, saya berjanji untuk tidak membuat kegaduhan lagi." Jawab Zakka, kemudian segera ia kembali ketempat duduknya yang semula.
Kini, tinggal lah Reynan yang telah menggantikan posisi saudara kembarnya itu. Ibu guru pun segera mendekatinya sambil memberikan lembaran kertas yang sudah terlihat sangat kusut. Mau tidak mau, Reynan berusaha untuk tenang. Berharap dirinya tidak semakin gugup, dan pikirannya tidak melancong kemana mana.
"Cepat bacakan tulisan yang sudah kamu buat, sekarang juga." Perintah dari seorang guru.
"Baik, Bu." Jawab Reynan sambil berdiri dengan satu kakinya dan mencoba membuka kertas tersebut dengan seksama.
"Aish, boleh 'kan? jika setelah pulang sekolah nanti aku main ke rumah kamu?"
__ADS_1
"Huuuuu ..." sorak sorak semua murid yang berada didalam kelas.
Aish pun menutup kedua telinganya, ia benar benar dibuatnya malu. Bahkan Aish sendiri tidak berani menoleh kesembarang arah.