Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa bersalah


__ADS_3

Karena ingin segera melakukan tindakan mengenai putranya yang akan segera dilakukan operasi pada kaki milik Zakka, Tuan Ganan segera mengurusnya.


"Ganan, dimana Maura?" tanya Kakek Angga sambil celingukan mencari keberadaan menantunya.


"Maura bersama Rey, Pa. Tiba tiba dia tak mampu untuk berjalan karena memikirkan kondisi Zakka." Jawab Tuan Ganan.


"Terus, bagaimana dengan Zakka? apa kata Dokter?" tanya Kakek Angga penasaran dan juga sangat khawatir.


"Kata Dokter, Zakka harus dilakukan operasi. Hanya itu yang bisa dilakukan, Pa. Sekarang juga, kita harus menyetujui saran dari Dokter.


" Lakukan saja demi kesembuhan Zakka, berapun biayanya. Apapun kendalanya, utamakan kesembuhan Zakka. Aku tak ingin cucuku harus mengalami nasib seperti Papa, cukup Papa yang mengalaminya. Tidak untuk Zakka, Papa tak sanggup jika Zakka harus menerima kenyataan ini. Nasib buruk pada kakek Zio dan nasib buruk Papa harus diterima oleh Zakka, Papa tidak rela. Zakka harus bahagia, Papa benar benar sangat bersalah jika Zakka harus mengalami nasib seperti Papa.


Kenangan yang begitu pahit telah mengingatkan Kakek Angga yang dahulunya pernah mengalami sebuah kecelakaan hebat. Bahkan tak dapat beraktivitas seperti sediakala. Bahkan sang Dokter telah memvonis tak akan bisa disembuhkan. Disitulah keputus asaan seorang kakek Angga telah menghancurkan masa depannya. Trauma yang sangat mendalam selama kurang lebih dua tahun, dan kini harus terjadi kembali pada cucu keduanya.


Tak ada henti hentinya kakek Angga berdoa demi kesembuhan Zakka. Apapun yang mengenai kesembuhan cucunya, kakek Angga rela melakukan apapun. Meski harus membayarnya dengan sangat mahal sekalipun, semua tak ada artinya dengan kesembuhan Zakka.


"Sudah lah Pa, jangan memikirkan masa lalu. Mungkin sekarang ini Zakka sedang diuji, percayalah jika Zakka baik baik saja. Doakan saja untuk Zakka, semoga segera terlepas dari musibah yang menimpanya. Tidak hanya Papa yang bersedih, Aku juga." Kata Tuan Ganan yang juga tengah bersedih atas derita yang dialami oleh putra keduanya, yang dimana harus mengalami nasib yang sangat berbanding terbalik dengan sang kakak.


"Papa merasa bersalah besar, kenapa Papa begitu gegabah menyetujui pernikahan Rey dan Aish." Ucap kakek Angga yang merasa bersalah besar atas keputusan yang Beliau setujui.

__ADS_1


"Pa, jangan egois. Rey sudah bahagia dengan istrinya, keduanya sudah saling mencintai satu sama lain. Tidak ada masalah untuk mereka berdua, pada dasarnya Rey juga menyukai Aish. Bukan untuk membela, tapi orang tua Aish yang sudah berpesan sama Rey. Mungkin memang Rey jodoh Aish, tetap saja akan bersama dan saling mencintai. Untuk Zakka, mungkin perjuangannya akan berakhir bahagia, kita tidak pernah tahu mana yang terbaik dan mana yang tidak." Jawab Tuan Ganan yang tak ingin terpancing emosi karena tak mampu menahan emosi diri sendiri.


"Benar juga apa yang kamu bilang, Papa sedang terbawa suasana Zakka yang tengah menghadapi ujian ini. Maafkan Papa yang hampir saja emosi karena keadaan ini, Papa telah dibutakan dengan kebenaran." Kata kamek Angga tersadar atas kesalahan Beliau yang hampir saja menambah masalah pada cucu pertamanya.


"Papa tunggu aja disini, aku mau mengurus jadwal Zakka untuk dilakukan operasi. Lebih cepat lebih baik." Ucap Tuan Ganan berpamitan.


"Semoga segera teratasi dan secepatnya untuk sembuh." Kata kamek Angga, Tuan Ganan mengangguk dan pergi meninggalkan sang ayah duduk sendirian di ruang tunggu.


Sedangkan Rey sedang duduk menemani Ibunda tercintanya.


"Ma, kita pindah kesana yuk." Ajak Rey pada ibunya.


"Zakka anak Mama yang kuat, pasti bisa melewati semua ini. Mama jangan terlalu memaksakan diri untuk memikirkan Zakka, semua akan baik baik saja." Kata Rey mencoba menenangkan pikiran ibunya, sedangkan Bunda Maura tak dapat memungkirinya jika rasa khawatir telah mengalahkan segala rasa.


Sambil berjalan dengan penuh kehati hatian, Rey menuntun Ibundanya sampai dimana kakek Angga sedang duduk diruang tunggu.


"Maura, duduk lah." Panggil kakek Angga dan mempersilahkan Bunda Maura untuk segera duduk.


"Kek, Papa sudah menangani semuanya, 'kan?" tanya Rey yang juga khawatir dengan keadaan saudara kembarnya.

__ADS_1


"Papa kamu sedang menangani pengobatan Zakka, kalian berdua tidak perlu khawatir. Percayalah jika semuanya baik baik saja, tak perlu kamu hiaraukan apa yang orang lain obrolkan." Jawab Kakek Angga, kemudian Beliau bangkit dari posisi duduknya. Kakek Angga yang sedari gelisah, Beliau masih dihantui dengan rasa bersalah nya.


Bunda Maura yang tak tahu harus berbuat apa, Beliau lebih memilih untuk diam.


'Andai aku tahu akan mendapatkan masalah sebesar ini, aku akan merubahnya. Sayangnya suamiku dan ayah mertuaku telah menyembunyikan kebohongan pada putra keduaku dan ibu mertuaku.' Batin Bunda Maura yang pikirannya tidak jauh berbeda dengan kakek Angga.


Begitu juga dengan Rey, dirinya ikut bersedih ketika mendapati saudara kembarnya tengah berbaring lemas tak berdaya di ruangan pasien.


Rey yang tak mampu menahan sesaknya didalam dadanya, ia memilih untuk mencari tempat yang dapat mengontrol kondisinya sendiri yang terbawa suasana. Rey yang merasa iba pada saudara kembarnya, seakan ia ingin menyerah bila saudara kembarnya tak kunjung sembuh dan tak ada kebahagiaan pada sang adik.


"Andai aku tahu perasaan kamu sedalam apa mencintai Aish, mungkin aku akan memilih untuk pergi dan menyerah. Tapi aku egois, aku yang lupa siapa kamu. Maafkan aku Zakka, maafkan aku atas keegoisan ku untuk mendapatkan Aish. Aku sendiri sangat mencintainya, dan aku takut kehilangan. Maka aku ambil kesempatan emas itu untuk mendapatkan Aish dan juga cintanya, tapi kini ada kamu yang terluka pada bagian fisik mu dan juga hatimu." Gumam Rey sambil bersandar pada dinding yang begitu kokoh milik rumah sakit.


Rey tak pernah merasakan kesedihan yang begitu dalam, kini ia merasakannya juga.


Sedangkan di dalam ruangan pasien, ada Tuan Ganan yang sedang menunggu putranya tengah berbaring lemas tak berdaya yang juga belum sadarkan diri.


"Putraku, maafkan Papa yang kurang perhatian sama kamu. Sampai sampai Papa lupa untuk memberi penjagaan ketat untuk kamu. Tidak seharusnya kamu mengendarai mobil mu sendiri, maafkan Papa mu ini." Gumam Tuan Ganan penuh sesal sambil memegangi tangan milik putranya.


"Aish, Aish ... kamu ada dimana? Aish ... aku sangat mencintai mu. Aku telah gagal mendapatkan kamu, Aish ... aku mencintaimu." Ucap Zakka berulang ulang ia berucap dengan kalimat yang sama.

__ADS_1


Tuan Ganan yang mendengarnya pun, Beliau terasa teriris hatinya. Sakit, itu sudah pasti. Bagaimana tidak teriris hatinya, Zakka yang sudah jatuh, kini dirinya harus tertimpa tangga, lagi. Sungguh sangat menyayat hatinya dan tentunya tak dapat diuraikan kata katanya.


__ADS_2