Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Masih di rumah sakit


__ADS_3

Tuan Ganan segera bangkit dari posisi duduknya, Beliau segera menekan tombol yang tidak jauh dari posisi Tuan Ganan.


"Zakka, Zakka, sadar Nak." Panggil Tuan Ganan memanggil putranya berulang ulang.


"Aw!" Zakka meringis kesakitan dan mengigit bibir bawahnya menahan sesuatu yang teramat sakit pada bagian kaki sebelah kanannya.


"Tahan, Nak. Jangan bergerak dulu, sebentar lagi Dokter akan datang." Kata Tuan Ganan mencoba untuk menenangkan putranya.


Disaat itu juga, Zakka mencoba menyempurnakan kesadarannya setelah jarum pingsan. Dengan seksama Zakka memeriksa disekelilingnya, hanya seorang ayah yang berada didekatnya.


"Papa, Zakka ada dimana?" tanya Zakka setelah tersadar dari pingsannya.


"Kamu berada di rumah sakit, tadi pagi kamu habis kecelakaan." Jawab Tuan Ganan masih dengan posisinya.


"Apa! Zakka kecelakaan? aw!! kenapa kakiku terasa sakit dan kaku, bahkan sulit untuk digerakkan." Kata Zakka sambil meringis kesakitan ketika menahan luka pada bagian kaki sebelah kanannya.


"Ya, Zakka. Tadi pagi kamu itu kecelakaan, jangan banyak bergerak dulu." Jawab Tuan Ganan mencoba untuk mengingatkan putranya.


"Mama dimana? kok tidak kelihatan. Aish mana? Aish baik baik saja kan, Pa? Zakka sangat khawatir dengan Aish." Tanya Zakka mencari keberadaan sang ibu dan perempuan yang sangat ia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Tetapi kenyataannya tak seperti yang diharapkan.


Tak dapat dipungkiri, bibir berkata baik baik saja, namun hati tak dapat dibohongi begitu saja. Sakit, kecewa, sedih, itu sudah pasti. Namun mau bagaimana lagi, Zakka hanya bisa berusaha untuk tidak melukai hati saudara kembarnya.


"Mama sedang bersama kakak kamu, sebentar lagi juga menemui kamu. Soal Aish, lupakan lah di ...." seketika kalimat yang hendak diucapkan oleh sang ayah, kini mendadak tak mampu untuk dilanjutkan.


Zakka terdiam. Meski kalimatnya terpotong, Zakka dapat menilainya sendiri. Jika sang ayah memintanya untuk melupakan perempuan yang sudah sah menjadi istri saudara kembarnya.


Pelan pelan Zakka menarik napas panjangnya, kemudian membuangnya dengan pelan pelan sambil memejamkan kedua matanya.


Ingin berteriak, Zakka tak mampu untuk meluapkan segala emosinya yang ia tahan yang begitu lamanya.

__ADS_1


"Zakka, fokus lah dengan masa depan kamu, jalan mu itu masih panjang. Jangan kamu sia siakan hanya karena seorang perempuan yang tak mencintai mu." Kata sang ayah yang terus berusaha untuk menyadarkan putranya dari belenggu cinta yang ia pendam bertahun tahun lamanya.


"Sangat sulit untuk melupakannya, Pa." Jawab Zakka yang tak bisa untuk beralasan apapun.


.


"Pelan pelan, kamu pasti bisa." Kata sang ayah berusaha untuk menyemangati putranya.


"Sakit, Pa ... sangat sakit." Lagi lagi Zakka mengeluh atas perasaan nya, disaat itu juga ada Rey dan Bunda Maura serta kakek Angga yang sudah barada didalam ruang pasien tanpa disadari oleh Tuan Ganan dan juga Zakka.


Tidak lama kemudian seorang Dokter datang menemui Zakka dan memeriksa keadaanya.


"Tuan, temui saya di ruang kerja. Ada yang ingin dibicarakan lagi mengenai pasien." Ucap sang Dokter.


"Baik, Dok." Jawab Tuan Ganan, Dokter pun segera keluar dari ruang pasien.


Tanpa disadari, ada Rey bersama sang Ibu dan kakek Angga yang mendengar keluhan dari Zakka, Rey berjalan mendekatinya. Sedangkan kakek Angga dan Bunda Maura masih dengan posisinya yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu masuk.


Tuan Ganan yang tak ingin mengganggu kedua putranya yang sedang membicarakan sesuatu tentang perasaan, Beliau lebih memilih untuk pindah posisi dan mendekati sang ayah dan istrinya.


Zakka yang mendengarnya pun, ia tersenyum lebar pada sang kakak. "Ngapain kamu mesti meminta maaf, kamu tidak bersalah." Ucap Zakka tak lepas dari senyumnya.


Rey yang melihatnya tak mudah untuk dibohongi begitu saja, ia tahu jika sang adik tengah menutupi kesedihannya didepan keluarga.


"Jangan tersenyum jika itu membuat mu sakit, aku tahu kamu menyembunyikan lukamu itu padaku dan yang lainnya." Ucap Rey yang tidak tega melihat kondisi saudara kembarnya itu.


"Aku tersenyum karena aku dapat melihatmu bahagia, tak lebih dari itu." Jawab Zakka masih dengan senyumnya.


"Katakan saja padaku, apa yang kamu inginkan. Selagi aku masih bisa untuk melakukannya, katakan sekarang juga." Ucap Rey memberikan pilihan untuk sang adik.

__ADS_1


"Aku tak menginginkan apapun dari mu, aku hanya ingin sembuh saja dari rasa sakit pada kakiku ini." Jawab Zakka.


"Yakin cuma itu? tidak ada yang lainnya?" tanya Rey untuk memastikan nya.


"Ya, tidak ada yang aku inginkan kecuali kesembuhan pada kaki ku ini." Jawab Zakka, kemudian kedua orang tuanya dan juga sang kakek menghampiri Zakka dan Reynan.


"Zakka, maafkan Mama yang baru datang menemui kamu. Bagaimana keadaan kamu, sayang? katakan sama Mama, mana yang sakit, Nak?"


"Hanya kaki saja kok, Ma. Zakka baik baik saja, tak prlu Mama khawatirkan." Jawab Zakka berusaha untuk tetap tenang.


"Kamu bersabar ya, sayang. Kita akan usahakan yang terbaik untuk kesembuhan kamu, bersabar lah." Ucap sang ibu meyakinkan putranya, Zakka mengangguk dan tersenyum untuk Ibunya.


"Zakka, kamu pasti kuat dan dapat melewati ini semua. Jangan kamu jadikan patokan atas kegagalan kamu, kamu masih bisa terbang bebas menggapai kebahagiaan kamu." Ucap Kakek ikut menimpali.


"Ya Kek, Zakka tau maksud Kakek. Terima kasih sudah menjadi penyemangat untuk Zakka." Jawab Zakka tak lupa menganggukkan kepalanya.


"Zakka, aku masih ada urusan diluaran sana. Aku pamit pergi, ku doakan untuk kesembuhan kamu. Semangat lah untuk menggapai cita citamu, kesuksesan ada pada diri kamu." Ucap Rey berpamitan, masih ada urusan yang penting selain pekerjaan nya. Yakni mengurus terjadinya kecelakaan yang menimpa saudara kembarnya sendiri.


"Papa serahkan semuanya sama kamu, tangani semua kejadian yang menimpa adikmu. Satu lagi, jangan ceroboh." Kata Tuan Ganan mengingatkan putranya.


"Kakek doakan semoga kamu berhasil, hati hati diperjalanan." Ucap kakek Angga ikut menimpali.


"Kalau begitu Zakka pergi, Ma, Pa, Kakek, Zakka, permisi." Kata Rey berpamitan satu persatu memanggil anggota keluarganya.


Setelah Rey meninggalkan ruangan tersebut kini tinggal lah Kakek Angga, Tuan Ganan, Bunda Maura dan Zakka yang ada didalam ruangan pasien tersebut.


Karena masih ada yang harus ditangani untuk dilakukan operasi pada kaki Zakka, Tuan Ganan kembali untuk menemui Dokter. Sedangkan Kakek Angga yang kondisi kesehatannya yang mudah menurun karena usia, Beliau akhirnya memilih untuk pulang.


"Kakek pulang dulu, ya Nak. Kakek juga harus menjaga kesehatan kakek, bahwa kakek tidak boleh telat untuk minum obatnya. Kakek doakan untuk kesembuhan kamu, semoga sakit yang kamu rasakan ini akan segera hilang dan digantikan dengan kesehatan." Ucap kakek Angga berpamitan.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya Kek, sudah menyempatkan untuk datang ke rumah sakit. Semoga Kakek juga diberi kesehatan dan tetap bisa bersenda gurau bersama keluarga besar kita." Kata Zakka yang tak lupa mendoakan untuk kesehatan sang kakek.


Karena takut mengganggu cucu kesayangannya, Kakek Angga segera pulang.


__ADS_2