Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kecemasan


__ADS_3

Rey yang sudah mendapatkan informasi dari salah satu anak buahnya, ia pun terkejut saat kabar tentang Ibu Melin.


"Pak Dirwan, berhenti." Perintah Rey dan sekaligus membangunkan istrinya. Aish yang sedang terlelap tidurnya pun, ia ikut kaget saat suaminya terlihat panik dan juga cemas.


"Baik Tuan, ada apa?" sahut Pak Dirwan dan bertanya.


Aish mendongakkan pandangannya pada siang suami yang terlihat gelisah.


"Saya berhenti disini saja, Pak Dirwan antarkan istri saya pulang. Pesan saya, perintahkan pada salah satu pelayan untuk siaga menemani istri saya. Ada sesuatu yang penting untuk ditangani, saya harus cepat cepat sampai ke lokasi. Pak Dirwan tidak perlu khawatir, dibelakang sudah ada anak buah Papa yang mengikuti kita." Perintah Rey, Aish pun masih bingung mendengarkan ucapan yang dikatakan dari suaminya.


"Sayang, kamu pulang bersama Pak Dirwan. Aku ada urusan sebentar, tidak lama kok. Jangan banyak pikiran, nanti aku ceritakan setelah pulang. Jaga diri kamu baik baik, nanti akan ada pelayan yang akan siaga menemani kamu." Ucap Rey pada istrinya, kemudian mencium keningnya dengan lembut.


"Bukan soal Zakka, 'kan?" tanya Aish yang takut akan ada perseteruan antara suaminya dengan sang adik.


"Bukan, ini urusan lain. Tidak ada sangkut pautnya dengan Zakka maupun keluargaku, nanti akan kuceritakan semuanya padamu setelah aku pulang. Tidak apa apa, 'kan? tidak lama kok." Jawab Rey beralasan, ia tidak mengatakannya langsung. Takut akan kondisi istrinya memburuk, ditambah lagi dengan keadaan hamil yang sangat muda. Rey lebih menyimpan kebenarannya ketimbang harus berkata jujur, pikirnya.


"Hati hati ya, kalau ada apa apa jangan lupa hubungi aku." Ucap Aish yang kini berubah ikutan cemas.


"Aku pergi, pulang lah." Kata Rey, kemudian ia segera turun dari mobil.


Setelah berpindah mobil, anak buahnya menambah kecepatan laju kendaraannya. Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Rey telah sampai di rumah sakit.


"Dimana Tante Melin?" tanya Rey dengan cemas.


"Ibu Melin sedang ditangani oleh Dokter, Tuan." Jawabnya.


"Terus, bagaimana keadaannya? putrinya kemana?" tanya Rey masih dengan kecemasannya.


"Kata Dokter keadaan Ibu Melin kritis, Tuan. Bagian kepalanya terbentur kuat di tembok, dan jantungnya pun bermasalah." Jawabnya lagi.


"Dimana putrinya?" tanya Rey yang masih penasaran.


"Kabur, Tuan."

__ADS_1


"Apa!! kabur, kamu bilang? yang benar saja."


"Justru itu Tuan, pelakunya adalah anaknya sendiri. Sekarang sedang dalam pengejaran oleh beberapa anggota polisi dan juga anak buah dari Tuan Ganan. Satu lagi, ada laki laki yang sedang ditahan oleh polisi. Namanya Pak Oni, katanya. Sekarang keberadaannya sudah berada di tahanan untuk dimintai keterangan."


"Laki laki? apakah kamu mengenalnya?"


"Saya tidak mengenalnya, Tuan. Dan katanya sih dari kampung sebrang. Katanya juga mantan istri Ibu Melin, hanya itu yang saya ketahui, Tuan."


"Baik lah, aku akan menemuinya sekarang. Kamu aku tugaskan untuk menunggu Beliau dirumah sakit, lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya." Pesan Rey untuk menjaga serta melakukan sesuatu yang terbaik demi keselamatan Ibu Melin.


"Baik, Tuan. Saya siap menerima perintah dari Tuan."


"Bagus, kalau begitu aku pergi." Kata Rey, kemudian ia segera bergegas pergi untuk menemui Pak Oni yang sedang dijadikan tersangka.


Saat hendak melangkahkan kakinya, tiba tiba sebuah ponselnya terdengar ada yang memanggil. Dengan cekatan, Rey langsung merogoh sakunya dan membuka layar ponselnya. Kemudian ia menggeser panggilan masuk, terlihat jelas nama kontak ayahnya.


"Ya, Pa. Sekarang Rey sedang menuju ke kantor polisi, jika Papa berkenan silahkan untuk datang ke Kantor polisi." Ucap Rey lewat benda pipihnya.


Setelah mendapatkan panggilan dari sang ayah, Rey kembali memasukan ponselnya kembali ke dalam sakunya. Lalu ia segera berangkat menuju kantor polisi ditemani oleh anak buah orang tuanya.


"Baik Tuan, mari." Jawabnya.


Selama dalam perjalanan, Rey tidak lupa untuk mengawasi istri tercintanya lewat CCTV. Karena tiba tiba teringat dengan sosok laki laki yang baru saja diceritakan oleh anak buahnya, Rey langsung membuka CCTV di rumah Ibu Melin. Sayang disayang, dengan kecepatan lajunya kendaraan yang di setir oleh anak buahnya, tidak memakan waktu lama sudah berada didepan Kantor polisi.


"Baru aja mau melihat rekaman CCTV, sudah sampai aja di depan kantor." Gumam Rey, kemudian memasukkannya kembali kedalam saku nya.


"Kita sudah sampai, Tuan."


"Terima kasih, kamu tetap berada di dalam. mobil." Perintah Rey.


"Baik, Tuan." Jawabnya disertai dengan anggukan kepala.


Rey yang sudah tidak sabar, segera ia turun dari mobil. Saat berdiri tegak didepan Kantor, sepasang matanya tertuju pada sang ayah yang sudah menunggunya. Dengan langkah kakinya yang cukup lebar, Rey menghampiri Beliau.

__ADS_1


"Papa sudah datang? cepat sekali."


"Papa sudah mendapatkan kabar dari anak buah Papa sebelum kamu memberi kabar."


"Ah ya, sampai lupa. Tadi kan Rey meminta bantuan anak buah Papa untuk segera menanganinya." Kata Rey tersenyum lebar.


"Sudah, ayo kita masuk. Waktu kita tidak lama, lebih cepat itu lebih baik." Ucap Tuan Ganan, Rey mengangguk pelan.


"Baik, Papa." Jawab Rey, kemudian mengikuti langkah kaki ayahnya dari belakang.


Saat sampai di ruangan yang dimana Pak Oni sedang menerima banyak pertanyaan dari Pak Polisi. Disaat itu juga, Tuan Ganan dan putranya mendekatinya.


Masih biasa biasa saja, Tuan Ganan menunggu Pak Polisi selesai memberi pertanyaan pada Pak Oni.


"Tuan, silahkan duduk." Ucap Pak Polisi dengan ramah sambil mempersilahkan duduk pada Tuan Ganan dan putranya.


"Terima kasih banyak," jawab Tuan Ganan dan putranya bersamaan.


Disaat itu juga, Tuan Ganan dan Pak Oni saling menatap satu sama lain. Seketika, keduanya terkejut bukan main.


"Soni!!"


"Bos Ganan!!"


Kedua saling menyebut satu sama lain, dan langsung saling berjabatan tangan. Rey bingung sekaligus terkejut.


"Kok kamu?" tanya Tuan Ganan penasaran.


"Ceritanya panjang, dan aku rasa semua ini salah paham, Bos." Jawabnya menunduk sedih.


"Tunggu, kamu siapanya Ibu Melin?" tanya Tuan Ganan yang sudah mengetahui pokok permasalahannya. Sedangkan Rey memilih untuk menjadi pendengar setia, ia tidak mungkin untuk memberi pertanyaan pada orang yang rupanya dikenal dekat oleh ayahnya sendiri.


"Aku mantan istrinya, sudah lama aku berpisah dengannya. Dan karena ada sesuatu yang penting, aku datang ke Kota untuk menemui Melin. Tapi tidak tahunya berakhir sampai disini. Bukannya bertemu, justru aku masuk kedalam sel tahanan." Jawabnya sambil tertunduk sedih.

__ADS_1


"Jangan takut, mungkin saja hanya karena kebetulan kamu ada di situasi yang sedang ricuh di rumah mantan istri kamu. Aku percaya sama kamu, bahwa kamu tidak ada sangkut pautnya dengan insiden mantan istri kamu." Ucap Tuan Ganan meyakinkan Pak Soni yang menjadi teman baiknya dulu.


__ADS_2