
Usai mendengarkan pidato dari pemilik Perusahaan ternama, semua mahasiswa dan mahasiswi serta anggota keluarganya pun segera keluar dan meninggalkan gedung tersebut termasuk Aish dan ketiga temannya dan juga Ibu Melin.
"Aish, kamu mau pulang bareng Tante atau dengan ketiga temanmu?" tanya Ibu Melin, Aish yang merasa bingung akhirnya menoleh kearah ketiga temannya.
"Maaf Bu, kita mau mengajak Aish untuk merayakan perpisahan yang kedua kalinya. Boleh kan, Bu? cuman sebentar saja kok Bu." Jawab Yunda memberanikan diri, meski sedikit takut jika permohonannya akan ditolak secara mentah mentah sekalipun.
Aish yang juga merasa takut, dirinya hanya bisa diam didepan Tantenya. Apalagi Aish teringat akan sesuatu pesan dari Tantenya, rasa takut pun selalu menghantuinya.
"Ibu izinkan kalian mengajak Aish, tapi ingat pesan Ibu, jangan pulang sampai sore. Apakah kalian bertiga mengerti? jika tidak, biarkan Aish pulang bersama Ibu." Kata Ibu Melin memberi pesan pada ketiga teman keponakannya itu.
"Dan kamu Aish, Yahya, kalian berdua harus bisa jaga jarak. Ingat, kalian berdua tidak mempunyai status yang sah. Aish, apapun alasannya, kamu harus ingat pesan dari Tante sejauh jauh hari." Ucap Ibu Melin memberi peringatan pada keponakannya.
"Iya Tante, Aish ngerti apa yang Tante maksudkan." Jawab Aish sebaik mungkin.
"Iya Bu, saya pasti akan jaga jarak dengan Aish. Saya tahu batas batasannya, saya hanya ingin mengajak Aish untuk makan bersama dan tidak lebih." Ucap Yahya berterus terang, Ibu Melin pun mengangguk dan mengizinkan keponakannya untuk ikut bersama ketiga temannya saat merayakan perpisahan dalam kelulusan sekolahnya.
Setelah mendapatkan Izin, Aish segera menitipkan bawaannya kepada Ibu Melin. Tidak hanya itu, Afwan dan Yunda pun telah menitipkan barang bawaannya ke orang tuanya masing masing.
Setelah tidak ada yang kurang, Aish dan ketiga temannya segera meninggalkan Kampus yang dimana penuh pembelajaran yang sangat berharga dalam mengejar impian nya.
Hari demi hari, bahkan telah berganti tahun. Aish telah melewatinya dengan kesendiriannya tanpa pendamping orang tua yang menjadi penyemangat hidupnya untuk mengejar impiannya. Hanya seorang Tante yang menggantikan peran kedua orang tuanya.
Suka duka telah Aish lewati dari kecil hingga kini menjadi gadis yang sudah tumbuh dewasa dengan usianya yang menginjak 22 tahun. Ingin rasanya untuk melanjutkan sekolahnya, Aish sudah tidak ada niat nya lagi. Yang ada dalam pikirannya yaitu hanya untuk membalas budi Tante nya dan membahagiakan Beliau. Itulah tekad Aish yang terakhir sebelum dirinya mengabdi pada sang suami yang akan menjadi pemandu hidupnya.
Sambil berjalan beriringan, akhirnya Aish dan ketiga temannya telah berada di area parkiran. Tiba tiba sepasang matanya tertuju pada mobil yang sering mengantarkan dirinya kemana ia pergi dengan kondisi yang sangat penting.
__ADS_1
"Parfum ini, aku seperti mengenalinya." Gumam Aish yang tiba tiba menghentikan langkah kakinya, detak jantungnya pun berdetak tidak seperti biasanya. Aish mulai tidak terkontrol akan kesadarannya, bahkan dirinya terasa terhipnotis dengan aroma parfum yang tengah ia hirup aromanya.
PUK!
"Aw! sakit, tau." Pekik Aish yang tiba tiba tersadar dari lamunannya.
"Kamu ngomongin apaan sih barusan, perasaan tadi aku mendengar kamu sedang menggerutu deh." Tanya Yunda yang mulai merasa aneh dengan sikap Aish yang tiba tiba banyak melamun.
"Perasaan aku tidak ngomong apa apa loh, Yun. Kamu salah dengar, kali." Jawab Aish yang juga mencoba mengingatnya, namun tetap saja ingatannya sulit untuk ia cerna kembali.
"Hem, sudah lah lupakan saja. Mungkin saja kamu cuman ngigau karena sudah lama tidak pernah bertemu dengan Yahya." Ucap Yunda hanya menebaknya saja, Aish sendiri mencoba untuk mengingatnya lagi.
"Sudah lah, ayo kita masuk." Ajak Yahya sambil membukakan pintu untuk Aish. Sedangkan Aish dan kedua temannya pun segera masuk kedalam mobil. Tanpa disadari, dibelakangnya sudah ada mobil yang siap untuk mengawal mobil yang dikendarai oleh Yahya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan, tidak terasa kini telah sampai disebuah Restoran yang cukup megah dan juga terkenal.
Sedangkan Aish sendiri hanya bisa diam tanpa bergeming sepatah kata pun, entah kenapa ia merasa ingatannya kembali pada dua tahun yang lalu.
"Aish, kamu kenapa sih? perasaan dari tadi kamu itu hanya diam aja deh. Seharusnya kamu itu senang, karena Yahya sudah pulang dan sebentar lagi akan menepati janjinya sama kamu." Tanya Yunda penasaran dengan sikap Aish yang tiba tiba berubah menjadi lebih dingin dan tidak banyak berbicara.
"Aku baik baik saja, serius. Aku hanya teringat sama Papa aku saja kok Yun, aku teringat saat Papa ku berpamitan membeli lauk pauk untuk makan siang, itu aja." Kata Aish beralasan, meski bukan itu alasannya.
"Kamu sedang tidak berbohong, 'kan?"
"Iya Aish, perasaan dari tadi kamu hanya diam aja." Kata Afwan ikut menimpali.
__ADS_1
"Kenapa sih kalian ini, aku itu baik baik saja dan tidak ada apa apa denganku." Sahut Aish untuk meyakinkannya.
"Serius? kamu tidak bohong? jangan paksaan jika kamu sedang tidak enak badan, kita bisa pulang kok. Lagian kita masih ada hari lain, bagaimana?" tanya Yahya untuk memastikan.
"Aku serius, aku tidak kenapa kenapa. Aku hanya teringat sama almarhum Papa aku saja, serius." Jawab Aish berusaha untuk meyakinkan ketiga temannya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita turun." Ajak Yahya segera keluar dari mobil, kemudian diikuti yang lainnya.
Saat turun dari mobil, lagi lagi Aish kembali menghirup aroma parfum yang sama. Disaat itu juga, Aish segera menoleh ke sana kemari.
'Sebenarnya yang aku lakukan ini salah atau benar? kenapa semakin kesini aku merasa takut dan juga merasa bersalah besar, tapi ... kenapa serumit ini tentang hidupku.' Batin Aish dengan bayang bayang yang terus menghantui pikirannya.
Yahya yang melihat Aish seperti mencari seseorang, akhirnya ia langsung menghampirinya.
"Aish, kamu melihat siapa dan sedang mencari siapa? kenapa kamu terlihat gelisah? apakah ada masalah?" tanya Yahya merasa aneh dengan perubahan Aish yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Maaf, aku terbawa pikiranku yang penuh hayalan."
"Hayalan? maksud kamu?" tanya Yahya dibuatnya penasaran. Sedangkan Aish langsung bersandar pada mobil milik Yahya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mungkin aku terlalu merindukan kedua orang tuaku, itu saja." Lagi lagi Aish hanya bisa beralasan.
"Jangan bohong loh ya. Kalau begitu, ayo kita masuk kedalam. Aku ingin menebus kesalahanku yang dulu, dan aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Setelah pulang dari Restoran ini, aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku." Kata Yahya untuk meyakinkan, Aish sendiri hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis.
Karena tidak ingin berlama lama diparkiran, Yahya mengajak Aish dan kedua temannya untuk segera masuk kedalam Restoran.
__ADS_1
"Nona Aish, ya ... tapi ..." sapa salah satu pelayan yang tiba menghentikan ucapannya ketika mendapat kode dari seseorang yang tidak jauh jaraknya. Lagi lagi Yahya, Yunda, dan Afwan kembali dibuatnya heran saat ada seorang pelayan memanggil Aish dengan sebutan Nona.