
Aish masih menutup kedua telinganya, ia benar benar sangat malu untuk mendengarkannya.
"Aishwa, maju kedepan." Panggil sang guru pada Aish, dengan perasaan gugup dan juga takut, Aish segera bangkit dari posisi duduknya dan maju kedepan meski dengan rasa malu sekalipun.
"Reynan, berikan kertas yang ada ditangan kamu itu kepada Aish." Perintah dari sang ibu guru, Reynan pun mengangguk dan memberikannya pada Aish yang sudah berdiri disebelahnya.
Dengan sedikit kecewa dan kesal tentunya, Aish menerima kertas tersebut dari Reynan.
"Aish, benarkah itu tulisan kamu? katakan saja jika bukan, dan jawab saja jika memang iya." Tanya sang guru.
Disaat itu juga, Aish bingung dibuatnya. Dia sendiri masih terdiam dan sama sekali tidak merespon pertanyaan dari ibu gurunya.
"Aish, kenapa kamu masih diam? ayo katakan yang sejujurnya." Tanya ibu guru dengan tatapan serius, semua yang ada didalam kelas ikut hening.
"Iya, Bu. Aish tidak bohong, dan ini memang benar tulisan Aish." Jawab Aish yang masih menunduk.
"Ibu peringatkan sekali lagi, jika kalian berdua masih mengulangi kesalahan yang sama, maka ibu akan menghukum kalian di tengah lapangan. Di ingat baik, apakah kalian mengerti?" ucapnya memberi peringatan.
"Oya, Bu. Saya mengerti, dan saya tidak akan mengulanginya lagi." Jawab keduanya dengan serempak.
"Sekarang juga, kembali ke tempat duduk kalian masing masing." Perintahnya, Reynan dan Aish sama sama menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali ketempat duduknya masing masing.
Dengan muka masamnya, Reynan menoleh kearah samping. Tepatnya pada saudara kembarnya itu dengan tatapan penuh ancaman, Zakka sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi sang kakak yang terlihat sedang kesal karena ulahnya itu.
Begitu juga dengan Aish, ia menoleh kearah sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Yunda yang sudah membalas tulisan dari Zakka, Aish pun menatapnya penuh kekesalannya. Yunda yang mendapat tatapan dari sahabatnya itu, segera ia tersenyum. Berharap tidak akan mendapat hukuman dari Aish, yaitu sahabatnya.
Setelah cukup lama mengikuti jam pelajaran, tidak terasa sudah waktunya untuk pulang. Senyum kelegaan kini tengah si rasakan semua murid yang berada didalam kelas.
Satu persatu, semua murid telah pulang ke rumah masing masing. Sedangkan Reynan dan Zakka kembali ke Asrama, namun niatnya Zakka diurungkan untuk pulang ke Asrama.
__ADS_1
'Aku jadi penasaran dengan Aish, aku ikutin saja apa, ya. Siapa tahu saja, aku bisa main ke rumahnya.' Batin Zakka yang tiba tiba teringat dengan sosok Aish, gadis cantik yang selalu membuatnya terbayang bayang dalam ingatannya.
"Kak Rey, aku ada permintaan kepada kakak." Panggil Zakka menghentikan langkah kaki saudara kembarnya.
Reynan pun segera menoleh kearah Zakka, dan menatapnya penuh selidik.
"Ada apa? mau bikin masalah lagi?" tanya sang kakak penuh keheranan.
"Tidak, aku mau mengikuti Aish. Aku penasaran dengan Auah, sekaligus kebaradaannya." Jawab Zakka beralasan.
"Sudah aku bilang, jangan membuat masalah. Apakah kamu sudah lupa? aku sudah menggantikan kamu, agar kamu tidak terus terusan mendapat masalah di sekolahan." Ucap Rey mengingatkan saudara kembarnya, berharap tidak lagi mengulangi kesalahan kesalahan yang bisa membuat nilai di sekolahan semakin memburuk.
"Hari ini saja, aku janji tidak akan mengulanginya." Jawabnya penuh memohon.
"Terserah kamu, jika kamu melakukan kesalahan lagi jangan harap aku akan membantumu. Asal kamu tahu, sama sekali aku tidak akan menolongmu." Ucap Rey memberi peringatan.
Zakka tersenyum lebar, bahkan ia serasa sangat bahagia. Dan, ia merasa nasib baik sedang berpihak dengannya.
Tanpa pikir panjang, Zakka segera mengejar Aish dan kedua temannya itu. Sedangkan Aish dan Afwan maupun Yunda tengah menunggu mobil angkot di perempatan jalan.
"Aish ... Yahya sudah mengubungi kamu, belum?" tanya Yunda penasaran.
"Belum, kenapa?" jawab Aish sambil fokus pandangannya kearah jalanan yang banyak kendaraan sedang lalu lalang kesana kemari.
"Mungkin saja Yahya sedang sibuk, dia kan murid baru." Ucap Afwan mencoba untuk meyakinkan Aish.
"Mungkin saja, aku tidak tahu." Sahut Aish yang masih fokus dengan pandangannya ke jalanan.
Sedangkan Zakka sendiri masih bersembunyi, berharap tidak dapat diketahui keberadaannya oleh Aish dan kedua temannya itu.
__ADS_1
"Kamu nekad juga, rupanya. Hem ... ayo kembali ke Asrama. Apa kamu mau dikatakan membolos? dan setelah kamu ketahuan oleh pengawasan, Papa akan menarikmu dan
mengirim kamu ke kampung nenek. Apakah kamu sudah siap dengan pilihan Papa? pikirkan lagi." Ucap sang kakak yang tiba tiba sudah berada dibelakangnya.
Zakka segera menoleh kebelakang, dan dilihatnya sang kakak sambil menunjukkan senyum pepsodentnya.
"Kak Rey, sekali ini ... saja. Setelah ini aku janji, aku tidak akan lagi mengikuti Aish pulang." Ujar Zakka penuh beralasan.
Zakka yang tiba tiba melihat Aish naik mobil bersama kedua temannya, Zakka segera mengejarnya.
"Pak supir!!! tunggu!!" teriak Zakka sekencang mungkin sambil berlari mengejar mobil angkutan umum. Reynan pun ikut mengejarnya, mau bagaimana pun Zakka adalah adiknya. Ia ikut andil mengawasi sang adik kemanapun pergi.
Mobil yang dinaiki Aish bersama kedua temannya itu tiba tiba mendadak berhenti, Zakka maupun Reynan segera masuk kedalam dan asal duduk.
Aish pun kaget dibuatnya, ia benar benar tidak menyangka jika yang ada disebelahnya adalah Reynan. Seketika itu juga, Zakka geram sendiri melihat sang kakak yang tengah duduk berdekatan dengan Aish. Rencana dia yang akan duduk disebelahnya, justru sang kakak lah yang duduk bersebelahan dengan Aish. Zakka merasa sial, dan menarik nafasnya pelan. Lalu, membuangnya dengan kasar.
Yunda dan Afwan sendiri merasa kesal melihat tingkah Zakka maupun Reynan yang tiba tiba saja satu mobil dengan dirinya.
Aish masih diam, ia tidak berani menoleh maupun bertegur sapa.
"Zak, ngapain kamu naik mobil. Memangnya rumah kamu dimana?" tanya Afwan penuh selidik, ia pun curiga dengan Zakka dan Reynan yang tiba tiba mengikutinya dalam satu mobil.
"Aku ngekos, rumah yang aku singgahi tidak jauh dari jalan raya." Jawabnya asal mengira ngira. Afwan hanya tersenyum kecut mendengar alasan dari Zakka, sedangkan Rey hanya diam tanpa bersuara. Selain dingin, Reynan tidak menyukai banyak bicara. Hanya dengan orang orang tertentu ia akan banyak bicara, tetapi mengenai orang lain lebih memilih untuk diam.
"Kenapa kamu tidak memilih untuk tinggal di Asrama sekolahan saja? bukankah lebih terjaga dan juga lebih dekat?" tanya Afwan terus berusaha untuk menyelidik.
"Iya juga, ya. Kenapa aku tidak secerdas kamu, pantas saja aku sering lupa." Jawabnya asal, sedangkan Yunda dan Afwan hanya menggelengkan kepalanya penuh heran.
Setelah cukup lama melakukan percakapan, tidak terasa telah sampai di perempatan jalan memisahkan Afwan dan juga Aish maupun Yunda.
__ADS_1