
Aish yah baru saja pulang dari Masjid bersama Ibu Melin, dengan pelan Aish membuka pintunya.
Dilihatnya diatas tempat tudur tidak ditemukan adanya sosok suaminya yang berada dalam kamar. Namun tiba tiba indra pendengarannya telah menangkap suara guyuran air dari dalam kamar mandi membuat Aish merasa lega. "Aku kira sudah pergi." Gumam Aish sembari meletakkan sajadah beserta mukenanya.
Setelah itu, Aish bergegas masuk ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Sebelum keluar dari kamar, Aish memilih untuk menunggu suaminya selesai membersihkan diri. Tidak memakan waktu yang lama, Rey keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya.
Disaat itu juga, Aish menutup kedua matanya. Ia tidak berani untuk menatap suaminya yang bertel*anjang dada. Bukannya terpesona, Auah sibuk untuk mengalihkan pandangannya.
"Kedua mataku sudah terno*dai." Gumam Aish dengan posisi membuang muka ke sembarang arah. Rey yang mengetahui tingkah istrinya yang pemalu, ia tersenyum dan mendekatinya.
"Kenapa kamu membuang muka? apa aku ini kurang tampan?" tanya Rey sambil duduk disebelah istrinya. Seketika, tubuh Aish terasa gemetaran saat duduk bersebelahan dengan suaminya sendiri.
Pikirannya kembali kedua tahun yang lalu, yang mana dirinya dan sang suami yang hampir saja tenggelam dalam gelapnya malam hari.
"Siapa yang membuang muka? aku hanya tidak terbiasa dan tidak pernah melihat lelaki bertel*anjang dada sepertimu." Jawab Aish dengan terpaksa menoleh kearah suaminya dengan kondisi detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.
'Ada apa dengan detak jantungku?' batin Aish bertanya tanya, seolah olah dirinya dalam keadaan setengah sadar.
"Itu buktinya kamu tidak berani menatapku. Namanya apa coba, kalau bukan membuang muka. Mulai sekarang dan seterusnya kamu harus terbiasa melihat ku seperti ini." Ucap Rey dan mendekati istrinya lebih dekat seakan mau membisikkan sesuatu pada istrinya.
"Bahkan bisa lebih dari ini." Bisik Rey dengan senyumnya, Aish tercengang mendengarnya.
"Maksud kamu?" tanya Aish begitu polosnya. Mungkin karena rasa gemetaran dan detak jantungnya yang tidak beraturan, membuat Aish sulit untuk mencernanya.
"Apa perlu aku melakukannya sekarang?" tanya Rey sedikit berbisik didekat daun telinga istrinya.
Aish menatap pada suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, Rey tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Aku mau jalan jalan pagi, kamu mau ikut? kalau kamu mau ikut, ayok."
"Maaf, aku tidak bisa ikut. Aku mau membuat sarapan pagi, silahkan kalau mau jalan jalan." Jawab Aish dengan datar.
"Baik lah kalau tidak mau ikut, aku mau mengajak Tante kalau begitu."
"Ya ya ya, aku ikut." Jawab Aish tanpa sadar, lagi lagi Rey tersenyum mendengarnya.
'Duh, kenapa seolah olah aku ini cemburu sama Tante? oh! tidak. Ini sangat memalukan, dan tentunya akan membuatnya merasa kepedean.' Batin Aish yang baru tersadar akan ucapannya sendiri.
Karena sudah terlanjur ikut, mau tidak mau Aish hanya bisa nurut ajakan suaminya.
"Nanti kalau warga bertanya tanya, bagaimana?" tanya Aish sebelum keluar dari kamar.
"Jawab aja suami istri, beres 'kan? lagian juga ada bukti yang akurat, kenapa mesti takut? hem."
"Tenang aja, kita tidak akan bertemu. Sudah lah, ayo kita keluar. Jangan lupa berpamitan sama Tante, takutnya nanti membuat sarapan pagi." Ucap Rey dan keluar dari kamar diikuti sang istri.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya Ibu Melin memergoki.
"Kita berdua mau jalan jalan pagi, Tante. Oh ya, pagi ini Tante tidak perlu membuat sarapan pagi. Soalnya kita berdua mau beli sarapan pagi nya di luar. Tidak apa apa kan, Tante? pagi ini aja."
"Ya, tidak apa apa. Tapi, bagaimana dengan status kalian? kalau warga membicarakan yang tidak tidak, bagaimana? Tante takut ada yang salah paham." Kata Ibu Melin mengingatkan.
"Tante tidak perlu takut, Rey yang akan mengatasinya." Jawab Rey dengan santai.
"Ya sudah kalau begitu, Tante mau beres beres." Ucap Ibu Melin, Aish dan Rey pun berpamitan dan pergi untuk jalan jalan tidak jauh dari rumah.
__ADS_1
Sambil berjalan, Rey langsung menggandeng tangan istrinya. Seketika, Aish kembali gemetaran saat tangannya mendapatkan sent*uhan dari sang suami.
"Kenapa kamu jadi grogi seperti ini? hem." Tanya Rey masih menggandeng tangan istrinya.
"Maaf, aku tidak terbiasa berpegangan dengan lawan jenis, dari kecil Papaku selalu menjaga aku dari orang orang yang bukan muhrim ku. Makanya, tangan aku gemetaran seperti mendapat sengatan listrik ketika kamu menggengam tanganku." Jawab Aish dengan pandangannya menatap lurus kedepan.
Sambil berjalan, Rey tidak melepaskan tangannya ketika menggandeng tangan istrinya. Semua orang yang melihatnya mendadak kaget ketika Aish terlihat bergandengan tangan sambil berjalan.
Tidak ada yang tidak bertanya tanya dan membicarakannya, semua yang melihatnya langsung membuat topik tentang Aish. Semuanya menyayangkan sikap Aish yang dikata telah berubah.
Disaat itu juga, tanpa disengaja Aish telah berpapasan dengan sepasang suami istri yang juga belum di karuniai sang buah hati. Siapa lagi kalau bukan Yahya, sosok laki laki yang pernah singgah dihati Aish. Karena sebuah perjodohan dan sebuah permintaan, keduanya harus melepaskan satu sama lain dan menjalani kehidupannya masing masing.
"Aish," panggilnya dengan reflek. Sepasang matanya pun tertuju pada kedua tangan yang terlihat bergandengan, membuat Yahya timbul rasa cemburunya.
Aish dan Rey akhirnya berhenti tepat dihadapan Yahya bersama sang istri yang bernama Maula.
"Kalian berdua sudah menikah?" tanya Yahya dengan berani. Dirinya tidak peduli semarah apa istrinya itu, yang terpenting dapat menyapa sosok perempuan yang disukainya.
"Ya, kami sudah menikah. Pernikahan yang tidak dipublikasikan, tetap saja pernikahan kami sah dimata hukum dan agama." Jawab Rey yang langsung menyambar, sedangkan Aish memilih untuk tetap diam dan tidak untuk mengularkan suaranya.
"Syukur lah jika kalian berdua sudah menikah, selamat atas pernikahan kalian berdua." Kata Yahya memberikan ucapan selamat untuk sepasang suami-istri yang ada dihadapannya itu. Meski terasa sakit mendengarkannya, Yahya tidak bisa untuk mengganggunya. Ditambah lagi dirinya yang juga sudah beristri, ia tidak berani untuk melukai perasaan pasangannya sendiri. Cukup lah rasa sakit dirasakan sendiri, pikirnya.
"Thanks, atas ucapannya. Kalau begitu kita permisi." Sahut Rey, kemudian mengajak istrinya untuk melanjutkan jalan jalan paginya.
Karena sudah cukup jauh melangkah, sambil jalan Aish dan Rey mencari warung makanan. Sepasang mata milik Rey pun tertuju pada orang orang yang tengah berkerumun.
"Bagaimana kalau kita ke sana? sepertinya masakannya enak, lihat orang orangnya pun banyak yang menunggu nomor urut dan giliran nya.
__ADS_1
Namun tidak untuk Aish, justru sepasang matanya tertuju pada Ibu paruh baya yang juga tengah berjualan masakan yang sudah siap saji.