Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Hampir saja


__ADS_3

Masih berada di Hotel, keduanya belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Usai melakukan ritual panjangnya, Aish segera membersihkan diri dan tidak lupa menunaikan kewajibannya untuk shalat isya.


Usai membersihkan diri, Aish mengenakan pakaiannya yang sudah disediakan oleh suaminya. Sambil bersandar, Rey tengah fokus pandangannya saat memperhatikan istri tercintanya mengenakan baju tidur. Sedangkan Rey yang merasa badannya terasa lengket, ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Sudah larut malam, tidur lah. Aku mau mandi, kamu tidak perlu menungguku jika kamu ingin istirahat." Kata Rey dengan jarak yang sangat dekat, Aish mengangguk dan nurut dengan apa yang diperintahkan dari suaminya.


Rey yang cukup lelah, cepat cepat untuk membersihkan diri dan segera beristirahat. Rey tidak ingin paginya bangun kesiangan, ditambah lagi akan ada acara di rumahnya, membuat Rey tidak ingin pulang terlambat.


Aish yang merasa seluruh badannya terasa remuk dan tidak karuan, ia langsung berbaring di tempat tidur dan menutup setengah badannya dengan selimut tebal. Berharap ketika pagi hari ia tidak merasakan rasa sakit di badannya. Sebelum memejamkan kedua matanya, Aish tidak lupa untuk membaca doa sebelum terlelap dari tidurnya.


Rey yang sudah selesai membersihkan diri, ia segera keluar dari kamar mandi dan mengenakan baju tidurnya. Kemudian ia berjalan menuju tempat tidur, lalu berbaring disebelah istrinya. Karena tidak ingin mengganggu istrinya yang sudah tertidur pulas, Rey memilih untuk memejamkan kedua matanya hingga terlelap dari tidurnya.


Sedangkan di tempat lain, yakni di kediaman Tuan Ganan ada Zakka yang tengah gelisah memikirkan sang kakak yang juga belum pulang hingga larut malam. Dengan perasaan dongkol, Zakka memilih menyalakan televisi di ruang keluarga ditemani secangkir kopi panas dan beberapa cemilan.


Rasa kesal serta rasa dongkol dan juga emosi, kini tengah menguasai pikirannya yang sulit untuk ia kendalikan. Tanpa pikir panjang, Zakka langsung menyambar kunci motor yang ada dihadapannya itu. Kemudian ia langsung mengenakan jaketnya dan bergegas pergi dari rumah.


"Zakka! mau kemana kamu malam malam begini? hah." Sambil berjalan menuju ruang keluarga, Tuan Ganan mempergoki putranya itu.


"Tidak kemana mana kok, Pa. Zakka cuman mau nyari angin malam aja, tidak lebih." Sahut Zakka yang sudah tidak sabar ingin segera pergi dari rumah.

__ADS_1


"Naik apa?" tanya sang ayah mencurigai, takut akan ada hal yang tidak beres pada putranya.


"Naik motor, kenapa? kan Zakka sudah bilang sama Papa, jika Zakka mau cari angin malam." Jawab Zakka asal, meski dirinya sendiri tidak tahu apa tujuannya untuk keluar ditengah malam.


"Jangan jauh jauh dan jangan lama lama, kalau sampai lewat jam 1 malam, jangan harap akan ada kata ampun untuk kamu." Ucap sang ayah sedikit memberi ancaman pada putranya.


Zakka yang sudah tidak sabar untuk pergi, ia hanya mengangguk dan bergegas keluar dari rumah yang cukup besar dan sangat luas itu. Namun kemebahannya tidak membuat si penghuni merasa nyaman dan bahagia, justru seakan tidak ada kesempurnaan dalam kebahagiaannya, pikir Zakka sambil berjalan keluar rumah.


Dengan kecepatan tinggi, Zakka mampu membelah jalanan di Kota. Meski sudah hampir larut malam, jalanan masih cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.


Semakin menambah kecepatan, semakin penat Zakka memikirkan sebuah cinta yang tidak dapat ia miliki.


"Woi! kalau berkendara itu, pakai kaca matanya dong." Bentak seorang perempuan yang juga sama sama pengendara motor.


Zakka yang tidak terima mendapatkan makian dari seorang perempuan, ia langsung menepikan motornya dan segera menghampiri perempuan yang sudah membuatnya kesal dan tentunya membuatnya dongkol.


"Enak saja main maki orang, hah. Ini jalanan tidak ada larangan untuk menambah kecepatan, situnya aja yang tidak lihat lihat. Makanya, punya mata itu ditaruh di sini." Ucap Zakka sambil menunjuk matanya sendiri.


"Terserah Elu, dah." Kata si perempuan itu yang langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tentunya tidak ingin berurusan dengan lelaki yang tidak dikenalinya.

__ADS_1


Zakka yang merasa sial karena hampir menabrak pengendara motor, ia harus kehilangan waktunya untuk menuju ke tempat yang sering dijadikan tempat nongkrongnya. Mau tidak mau, Zakka kembali menaiki motornya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Alih alih ia mencari tempat untuk beristirahat karena pikirannya yang sudah terasa lelah untuk berpikir.


Saat jalanan mulai terlihat sepi, Zakka berhenti di sebuah taman yang cukup luas. Diperhatikannya taman tersebut hanya ada segelintir orang yang berada di Area taman, itupun semuanya berolahraga.


Sambil bersandar di kursi taman, Zakka merogoh ponsel dibalik saku jaketnya. Alih alih Zakka membuka media sosialnya, berharap akan ada postingan yang dapat membangun semangatnya. Akun siapa lagi yang dilihat, kalau bukan milik Aishwa Zahra. Perempuan yang sudah lama disukainya, namun cinta nya tidak pernah terbalaskan dan juga tidak ia dapatkan.


"Perasaan sejak kak Rey pulang, Aish tidak pernah online. Apa mereka berdua benar benar ada hubungan? kemana perginya kak Rey yang sebenarnya. Bahkan malam ini aja kak Rey tidak pulang ke rumah, ada apa dengan kak Rey? aku harus mencari tahu yang sebenarnya terjadi. Aku tidak boleh bo*doh seperti ini, aku harus menemukan jawabannya." Gumam Zakka mulai berpikir untuk mencari sebuah kebesaran.


Karena takut paginya kesiangan, Zakka memilih untuk segera pulang. Sesuai rencananya yang sudah dengan tekadnya yang bulat dan tidak bisa diganggu gugat, bahwa Zakka mau menyelidiki sang kakak nya sendiri. Mau bagaimana lagi, Zakka sudah tidak mempunyai pilihan lain untuk mengetahui kebenarannya mengenai sang kakak nya sendiri.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Zakka telah sampai di rumah orang tuanya. Dengan rasa penat dikepalanya, Zakka langsung menuju kamarnya dengan langkah kakinya yang kedengaran terburu buru.


Sampainya didalam kamar, Zakka langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan posisi tengkurap hingga tertidur pulas.


******


Pagi hari, Rey dan istri terlihat begitu segar setelah membersihkan diri dengan dihiasi oleh senyum manisnya masing masing. Rey yang tengah berdiri dibelakang Aish, ia langsung memeluknya erat didepan cermin. Dengan mesranya, Rey menc*ium pipi kiri milik istrinya dengan lembut.


Aish yang mendapatkan perlakuan dari suaminya yang begitu mesra, ia sendiri bingung dibuatnya. Rasa cinta dan canggung masih sulit untuk ia bedakan, bagi Aish hal yang lumrah dan sangat wajar jika seorang suami memeluk istrinya dan menciumnya, dan meminta haknya, pikir Aish dengan kepolosannya. Bahkan dengan sosok suaminya.

__ADS_1


"Hari ini, aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumah yang akan ditempati kita berdua. Tetapi, aku harus meninggalkan kamu sebentar. Soalnya di rumah ada acara besar, dan aku belum siap untuk memperkenalkan mu pada publik. Yang jelas, aku tidak ingin melukai perasaan saudara kembarku diwaktu yang tidak tepat." Ucap Rey sambil menggenggam erat kedua tangan milik istrinya.


__ADS_2