
Zakka masih dengan posisi yang berdiri tanpa alat bantu apapun yang ia gunakan. Sela yang melihatnya pun merasa kasihan, lebih lebih dengan ekspresi yang begitu jelas menahan rasa sakit pada kaki kanannya.
Pelan pelan Sela berjalan dan kini tepat berada di hadapan suaminya dengan jarak sekitar satu meter.
"Sa-sayang, kamu pasti bisa." Ucap Sela setengah gugup saat ia harus memanggil suaminya dengan panggilan sayang.
"Ya, aku pasti bisa." Jawab Zakka sambil menahan rasa sakitnya.
Sedangkan Sela yang bingung harus berbuat apa, akhirnya ia menoleh kearah Zayen untuk mendapatkan ide. Namun sayangnya Zayen hanya menganggukkan kepalanya.
'Duh, bagaimana ini? kenapa kak Zayen hanya menganggukkan kepalanya. Datang kemari kek, kenapa mesti aku yang mengajari kak Zakka berjalan? mana aku bisa. Kalau kak Zakka jatuh, bagaimana? kak Zayen ini memang benar benar sedang mengerjaiku deh.' Batin Sela dengan penuh was was jika suaminya jatuh.
'Aku yakin, Sela pasti mampu untuk membuat kak Zakka bisa berjalan lagi.' Batin Zayen dengan optimis dan tentunya tidak ada yang diragukan lagi, pakirnya.
"Kak Zayen, bagaimana ini?" tanya Sela yang akhirnya memanggil Zayen. Disaat itu juga, Zayen segera bergegas mendekati Zakka.
"Kak Zakka, didepan Kakak ada Sela. Lihat lah, bahwa istri kakak sangat membutuhkan kak Zakka. Bukan kak Zakka yang membutuhkan Sela, tapi sebaliknya. Ayolah bersemangat, ayo coba untuk melangkahkan kaki walaupun hanya selangkah." Ucap Zayen sengaja memancing saudara sepupunya dengan lirih, dan tentunya tidak dapat didengar oleh Sela.
Zakka yang mendengar ucapan dari sepupunya pun, ia berusaha untuk mencobanya. Meski terasa sangat sakit sekalipun, Zakka tetap untuk mencobanya.
"Baik lah, aku akan mencobanya." Jawab Zakka, kemudian ia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya dengan sangat hati hati.
Sesekali Zakka mengangkat kaki kanannya untuk melangkahkan kakinya kedepan, Sela sendiri mulai was was jikalau suaminya akan terjatuh dan akan membuatnya menyerah.
"Aaaaaaa!" teriak Zakka, dengan sigap Sela langsung menangkap suaminya yang hampir saja jatuh begitu saja.
Dengan sekuat tenaga Sela, ia tetap berusaha untuk menjadi penyangga berat badan suaminya. Sedangkan Zayen hanya mengawasinya, takut akan mengganggu suasana keduanya.
"Terima kasih sudah menolongku, maafkan sku yang juga menjadi merepotkan mu." Ucap Zakka, Sela pun tersenyum.
"Ini sudah menjadi kewajiban ku seorang istri." Jawab Sela sambil membantu suaminya kembali berdiri seperti semula. Sedangkan Zakka masih tetap menahan rasa sakit pada kaki kanannya. Zayen yang tidak ingin banyak drama, segera ia mendekatinya lagi.
__ADS_1
"Kak Zakka, bisakah kita mulai lagi?" tanya Zayen.
"Baik, aku akan terus mencobanya sampai aku bisa. Maafkan aku jika harus menguji kesabaran kalian berdua." Jawab Zakka.
"Menguji kesabaran, ada ada saja kak Zakka. Sudahlah, jangan bahas sesuatu yang tidak penting. Lebih baik kak Zakka fokus untuk latihan berjalan, soal minta maaf itu tidak penting. Yang aku inginkan adalah kak Zakka tidak hilang semangat untuk terus mencoba hingga mencapai keberhasilan." Ucap Zayen, kemudian meminta Sels untuk kembali ke posisi awal, yakni berjarak satu meter.
"Baik lah, kalau begitu kita mulai lagi. Ingat loh, kak Zayen harus fokus. Bayangkan jika di hadapan kakak adalah kebahagiaan." Kata Zayen tanpa peduli akan ucapannya meski sedikit menyindir sepupunya, Zakka sendiri hanya mengangguk dan pandangannya kini fokus tertuju pada istrinya.
Sela yang mendapatkan tatapan dari suaminya pun, ia merasa malu dan tentunya juga gugup.
'Kenapa detak jantungku kembali tidak karuan, tidak, jangan sampai.' Batin Sela kembali mengatur pernapasan nya.
'Benar kata Zayen, aku harus bisa berjalan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sudah ada didepan mata.' Batin Zakka dengan penuh yakin dan tentunya menyemangati dirinya sendiri.
Dengan tekadnya, Zakka kembali mencoba untuk melangkahkan kakinya.
BRUG!
Zakka pun terjatuh, disaat itu juga Zayen melarang Sela untuk membantu suaminya.
"Jangan dulu, tetaplah dengan posisi kamu." Perintah Zayen dengan tegas, kemudian ia mendekati sepupunya. Sedangkan Sela hanya bisa nurut dan tidak bisa berbuat apa apa untuk suaminya.
Meski hati tidak tega melihat suaminya yang terjatuh saat hendak melangkahkan kakinya, tapi mau bagaimana lagi jika Zayen sudah mengatakannya dengan tegas. Sela hanya bisa pasrah dengan apa yang diperintahkan dari sepupu suaminya sendiri.
"Apakah masih terasa sangat sakit?" tanya Zayen, Sela hanya bisa memperhatikan suaminya yang sedang berbicara dengan sepupunya.
"Tidak begitu sakit, hanya saja terasa kaku." Jawab Zakka, Zayen pun tersenyum mendengarkannya.
"Dulu istri kamu juga sama, tapi dia tetap semangat. Untuk Kak Zakka tetaplah bersemangat. Percayalah denganku, kak Zakka pasti bisa sembuh." Ucap Zayen menyemangati, Zakka hanya tersenyum tipis.
"Mungkin ini balasan untuk aku yang sudah mengabaikan kebaikan orang lain." Kata Zakka, Zayen menepuk pundak milik sepupunya.
__ADS_1
"Tidak juga, mungkin dengan cara ini akan ada sesuatu yang lebih berharga untuk kak Zakka. Ah sudah lah, ayo kita latihan lagi. Sekarang aku akan meminta istrimu untuk membantumu berjalan, tepatnya hanya untuk berjaga jaga jika kak Zakka akan jatuh." Ucap Zayen, kemudian membantu sepupunya untuk berdiri lagi.
"Sela, kemarilah." Panggil Zayen, Sela pun berjalan mendekati.
"Ada apa, Kak?" tanya Sela penasaran.
"Kamu bantu suami kamu untuk berjalan, ok." Jawab Zayen, Sela mengangguk dan berdiri di sebelah kiri suaminya yang tanpa alat bantu.
"Jalan beberapa langkah, kemudian balik lagi kesini." Perintah Zayen.
"Ya Kak, aku akan siap siaga." Kata Sela.
"Bagus, itu namanya istri yang baik. Ayo dimulai, aku tunggu disini." Ucap Zayen, disaat itu juga Sela membantu suaminya untuk latihan berjalan.
"Hati hati, jangan takut." Ucap Sela, Zakka mengangguk dan mencoba berjalan sambil berpegangan tangan istrinya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sela sambil membantu suaminya berjalan.
"Masih terasa sakit dan juga kaku." Jawab Zakka sambil menahan berat badannya yang terasa berat karena rasa sakit yang cukup lumayan rasa sakitnya.
Setelah beberapa langkah, Sela mengajaknya untuk balik lagi. Zakka sendiri hanya bisa nurut, dan tentunya ingin segera duduk dan beristirahat. Meski hanya dengan waktu yang tidak begitu lama, tetap saja membuat Zakka terasa lama, pikir Zakka.
"Bagus! sempurna." Ucap Zayen dengan sekali tepukan.
"Bagus, sempurna dari mana? jalan aja aku masih dibantu untuk jalan." Kata Zakka sambil duduk dan dibantu oleh istrinya.
"Setidaknya kak Zakka bisa melakukannya, bukankah ada perubahan?"
"Hem, sama aja." Kata Zakka dengan jutek.
"Jangan menyepelekan, semua butuh proses. Yang terpenting mulai tiap pagi dan sore harus latihan berjalan, agar kaki tidak kaku. Buang alat bantu, cukup dengan Sela untuk selalu berada didekat kak Zakka."
__ADS_1
"Dan aku rasa hari ini sepertinya hanya sampai disini dulu, kak Zakka bisa latihan dengan Sela. Kalau ada apa apa, hubungi aku. Aku pasti akan datang tepat waktu, itupun jika tidak kesibukan. Tapi jangan khawatir, aku sudah memberi cadangan jika aku tidak bisa datang." Kata Zayen.
"Ya, tidak apa apa. Aku tahu dengan kesibukan kamu saat ini, lagian juga hanya latihan jalan. Istriku juga pasti bisa kalau hanya membantuku untuk berjalan dan membantuku brrdiri jika aku terjatuh." Jawab Zakka.