Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Pertemuan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Sahutnya dari dalam rumah, kemudian pintu pun segera dibukanya.


"Yunda, ada apa?"


"Ibu Melin, Aish nya ada?" tanya Yunda dengan senyum yang ramah.


"Aish sedang shalat dzuhur, ayo masuk dulu." Jawabnya dan mempersilahkan untuk masuk.


"Terima kasih, Bu." Sedikit was was, Yunda berusaha untuk tetap tenang.


"Oh iya, silahkan duduk. Ibu tinggal sebentar, ya. Sebentar lagi Aish selesai shalatnya, kok."


"Iya Bu, saya akan menunggu Aish."


Tidak lama kemudian, Aish menemui sahabatnya yang tengah duduk sendirian di ruang tamu. Tidak biasanya Yunda datang sendirian, Aish sendiri pun merasa heran.


"Yunda, aku kira siapa. Maaf ya Yun, jika membuatmu lama menunggu." Ucap Aish sambil berjalan mendekati sahabatnya.


"Tidak apa apa kok, Aish. Lagian juga aku baru aja datang, kok. Oh iya, bagaimana kabarmu?"


"Kabarku, seperti yang kamu lihat. Aku baik baik saja, kamu sendiri?" jawab Aish dan balik bertanya.


"Sama sepertimu, kabarku juga baik baik saja. Oh iya, aku datang kesini ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kamu."


"Sesuatu? memangnya ada apaan, Yun?" Aish semakin penasaran.


"Em ... Yahya, besok pagi Yahya mau berangkat ke Luar Negri. Jadi, kedatangan aku kesini mau mengajakmu makan bersama seperti yang sudah kita janjikan. Kamu, aku, Afwan, dan Yahya." Ucap Yunda menjelaskan, sedangkan Aish sendiri bingung untuk menerima ajakan dari sahabatnya.


"Bagaimana ya, Yun. Bukannya aku tidak mau, tapi ... aku takut jika Tanteku tidak mengizinkan aku." Jawab Aish tanpa menyadari jika dibelakangnya ada Tante nya yang sudah berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


"Tante tidak melarangmu, Aish. Jika kamu ingin makan bersama dengan sahabat sahabat kamu, silahkan berangkat. Tapi ingat, pulangnya tepat waktu." Ucap Ibu Melin mengagetkan keponakannya.


"Tante, yakin nih Tante? jika Aish diizinkan untuk keluar rumah?" tanya Aish yang masih belum percaya.


"Iya, Tante tidak bohong. Tante tidak melarangmu untuk kumpul bersama sahabat sahabatmu, asalkan kamu ingat waktu." Jawab Ibu Melin disertai senyuman, Aish pun semakin yakin mendapatkan izin dari Tantenya.


Ibu Melin yang melihat senyum merekah pada kedua sudut bibir milik keponakannya pun, Beliau ikut senang melihatnya. Terlihat jelas wajah cantiknya yang baru saja Beliau lihat lagi, setelah kepergian sang ayah.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu ganti pakaian. Biar Tante yang akan menemani Yunda, sudah sana ganti dulu baju kamu." Perintah Ibu Melin, Aish pun mengangguk dengan senyum mengembang.


Setelah bersiap siap dan tidak ada lagi yang tertinggal, Aish segera kembali ke ruang tamu. Kemudian ia kembali duduk didekat Tantenya.


"Yunda, Ibu titipkan Aish sama kamu, ya. Jika ada apa apa, jangan lupa hubungi Ibu." Ucap Ibu Melin memberi pesan kepada sahabat keponakannya.


"Iya Bu, inshaa Allah kita semua akan baik baik saja. Kita hanya makan bersama di warung makan langganan kota kok, Bu. Mungkin kalau ada waktu, kita akan pergi ke Mall. Itupun biaya sudah ada yang nanggung kok, Bu." Jawab Yunda yang pada akhirnya berkata jujur.


"Ada yang menanggung? maksud kamu, Yahya orangnya?" tanya Ibu Melin sambil menebaknya.


"Ya sudah kalau kalian berdua mau berangkat, hati hati dijalan maupun di mana saja." Ucap Ibu Melin lagi lagi selalu mengingatkan tentang keselamatan.


"Iya Bu, kalau begitu saya pamit untuk mengajak Aish pergi keluar." Ucap Yunda berpamitan, kemudian disusul oleh Aish.


"Tante, Aish juga pamit." Ucap Aish ikut berpamitan, kemudian keduanya mencium punggung tangan milik Ibu Melin secara bergantian.


Setelah meninggalkan rumah, Aish dan Yunda segera menuju ke tempat yang sudah dijanjikan sejauh jauh hari.


Tidak memakan waktu lama, Aish dan Yunda telah sampai di tempat yang sudah dijanjikan. Dengan sedikit malu dan canggung, Aish terpaksa menuruti ajakan sahabatnya.


Sedangkan di sudut ruangan, ada dua orang yang sudah menunggunya sedari tadi.


Dengan rasa malu, Aish tidak mampu untuk mendongakkan pandangannya. Aish sedikit menunduk, lantaran ada seorang laki laki yang ia sukai. Tidak munafik, Aish juga perempuan normal. Yang dimana dirinya juga bisa jeruk cinta dan menyukai seseorang.

__ADS_1


"Maaf ya, jika kita berdua membuat kalian menunggu lama. Tadi di jalanan lumayan macet, biasa hari libur." Ucap Yunda yang baru saja duduk dihadapan dua teman laki laki nya, tepatnya di depan Afwan. Sedangkan Yahya berhadapan dengan Aish, keduanya pun menyimpan sesuatu yang sama, yakni rasa malu yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu. Sekali bertemu, keduanya serasa asing dan serasa canggung untuk saling menatap.


Tidak lama kemudian, makanan yang sudah dipesan akhirnya telah dihidangkan oleh salah pelayan warung makan.


Setelah makanan yang sudah siap untuk dinikmati, ke empat nya pun mulai menikmatinya.


"Aish!!! rupanya kamu ada di warung ini, wah ... kalau jodoh itu tidak akan lari kemana." Panggil seorang laki laki yang sama usianya.


"Zakka!" panggil ketiga dengan reflek. Sedangkan Yahya hanya diam, karena dirinya tidak mengenali Zakka sama sekali.


Seketika, didalam pikiran Yahya fokus dengan sosok laki laki yang tiba tiba mengagetkannya. Dengan seksama, Yahya memperhatikannya.


"Iya, aku Zakkka. Teman sekolah kalian bertiga lah, memangnya siapa lagi." Sahut Zakka yang tiba tiba langsung menarik kursi dan duduk disebelah Aish.


"Oh iya, bagaimana kabar kalian bertiga? eh! tunggu dulu, siapa laki laki ini? apakah pacar kamu, Aish?" ucap Zakka lagi, dan dirinya juga baru menyadari ada sosok laki laki yang tidak dikenali nya.


"Aku bukan pacarnya Aish, tetapi calon suaminya Aish." Sahut Yahya dengan berani, disaat itu juga Aish kaget mendengarnya. Tidak hanya itu saja, Yunda dan Afwan pun ikut kaget dibuatnya.


"Serius! laki laki ini adalah calon suami kamu?" tanya Zakka sedikit kecewa dan juga kesal mendengarnya. Bukan kesal pada Aish, namun merasa kesal dengan laki laki yang bernama Yahya.


Aish yang mendapati pertanyaan dari Zakka hanya diam, ia sendiri bingung untuk menjawabnya. Karena tidak mempunyai pilihan lain, Aish akhirnya membuka suara.


"Iya, lelaki ini adalah calon suami aku."


Gruk! gruk!


Seseorang yang tidak jauh dari tempat duduk Aish, terdengar suara seorang laki laki yang tengah terbatuk batuk karena tersedak. Aish dan diantara temannya pun langsung menoleh ke sumber suara orang yang terbatuk batuk.


Dengan sigap, Aish langsung meraih gelas miliknya yang berisi air putih dan memberikannya langsung pada laki laki yang sedari dari tidak berhenti batuknya.


"Ini, minumlah." Ucap Aish menyodorkan air minumnya, dengan cepat kilat langsung diraihnya air minum putihnya.

__ADS_1


"Terima kasih, ya." Ucapnya, lalu keduanya saling menatap satu sama lain. Aish pun terkejut melihatnya, sungguh seperti mimpi baginya. Dirinya harus bertemu lagi, dan lagi.


__ADS_2