
Ibu Melin yang melihat Rena tengah tidur pulas, amarahnya seakan mau meledak.
Dengan reflek, Rena terbangun dari tidurnya dan ia langsung bangkit dari posisinya.
"Mama!" panggil Rena dan tersenyum pada Beliau. Kemudian langsung mendekati dan merentangkan kedua tangannya hendak memeluk ibunya. Naas, Ibu Melin menyingkir. Wajah Rena seketika nampak menunjukkan kekesalannya.
"Dimana Aish?" tanya Ibu Mengintrogasi.
"Pergi, Ma. Maksud Rena kak Aish sudah pindah rumah, belum lama sih." Jawab Rena sangat enteng tanpa ada beban dosa sedikitpun.
Seketika, didalam dada milik Ibu Melin terasa bergemuruh ketika mendengar jawaban dari Rena. Ingin melayangkan sebuah tamparan, Beliau tidak ingin mengotori tangan nya sendiri.
"Katakan pada Mama, kemana perginya kak Aish? ayo! cepat katakan." Tanya Ibu Melin dengan bentakan pada kalimat terakhirnya karena merasa geram dengan kedatangan Rena yang tiba tiba membuat kekacauan, pikir Beliau yang susah merasa geram sejak dalam perjalanan ketika melihat Aish tengah diusir oleh Rena.
"Mana Rena tau, palingan juga pulang ke rumah yang lama. Kemana lagi kalau bukan ke gubuk reotnya itu, Rena tidak mau menyusul. Jika Mama mau menyusul, susul aja sendiri." Kata Rena semakin menjadi dengan ucapannya itu.
"Mama benar benar kecewa sama kamu, Mama pikir kamu itu akan menjadi seorang gadis yang seperti Mama harapkan. Tapi kenyataannya salah besar, kamu jauh lebih buruk dari sebelumnya. Apakah ini didikan dari ayah kamu itu? kamu benar benar sudah membuat Mama kecewa." Ucap Ibu Melin dengan perasaan yang dongkol ketika melihat Rena dengan penuh perubahan yang sangat disayangkan.
"Habisnya perhatian Mama sepenuhnya buat kak Aish, siapa yang tidak iri, coba? Rena juga ingin diperlakukan lebih dari kak Aish. Jangankan kiriman uang, Mama tidak pernah kasih kabar pada Rena." Sahut Rena memulai dengan segala tuduhan untuk membela diri.
"Kamu bilang apa tadi, Mama tidak pernah menghubungi kamu? apa Mama tidak salah dengar? hah. Bukan kah selama ini kamu selalu beralasan sedang sibuk dan sibuk jika setiap Mama menghubungi kamu, mau mengelak apa lagi kamu? hah." Kata Ibu Melin yang sudah tidak dapat menahan amarahnya karena sikap Rena yang semakin keterlaluan.
"Rena kan memang benar benar sibuk, Ma. Rena harus menyelesaikan kuliah Rena dan juga harus mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak." Ucap Rena berusaha untuk mengelak dan membela diri.
"Kalau kamu tidak bisa rubah sikap kamu itu, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah kamu. Rumah Mama bukan tempatnya orang serakah dan seenaknya sendiri." Kata Ibu Melin dengan penekanan dan sedikit menggunakan ancaman.
__ADS_1
Disaat itu juga, Rena meraih kedua tangan milik Ibu Melin. "Maafin Rena ya, Ma. Habisnya Rena terkejut saat pulang ke rumah dengan kondisi kamar Rena yang tidak ada perubahan, dengan emosi Rena harus mengusir kak Aish. Rena janji deh Ma, mulai hari ini Rena akan berubah." Ucap Rena dengan tatapan penuh permohonan, Ibu Melin menganggukkan kepalanya.
"Mama pegang omongan kamu itu, sekarang juga Mama akan menyusul Aish untuk kembali ke rumah." Kata Ibu Melin, Rena pun tersenyum.
Sedangkan di kediaman Tuan Ganan, Rey gelisah memikirkan keadaan istrinya. Setelah dirasa cukup aman, Rey langsung menyambar jaketnya dan segera keluar dari kamarnya dengan langkahnya yang sangat hati hati agar tidak menimbulkan suara.
"Rey, kamu mau kemana? kenapa jalannya mengendap endap begitu? hem." Tanya sang Kakek mengagetkan, Rey tersenyum pasta gigi dan mendekati Beliau.
"Mau menemui istrinya Rey, Kek." Jawab Rey dengan lirih, agar tidak kedengaran.
"Apa ada masalah?" tanya sang Kakek yang masih menyimpan rasa penasaran pada cucunya.
"Ya, Kek. Rey pamit sebentar ya, Kek. Sampaikan pada Mama, ada sesuatu yang harus Rey selesaikan." Jawab Rey sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Hati hati, jangan gegabah." Ucap sang kakek memberi pesan, Rey mengangguk dan bergegas pergi untuk menemui istrinya. Takut, jika terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ah ya, sekarang aku sudah tahu bagaimana caranya untuk kabur dari rumah ini." Gumam Zakka yang sudah mulai besan berada dalam kamar, serasa menjadi tahanan dan bagaikan burung dalam sangkar, pikirnya.
Dengan idenya yang cemerlang untuk bisa keluar dari rumah, Zakka langsung menyambar jaketnya. "Aku tidak akan menyia nyiakan waktuku untuk mendapatkan cinta dari Aish." Gumam Zakka dengan bersemangat.
Senyum mengembang saat tangan kanannya hendak membuka pintu kamarnya.
"Kakek!"
PLAK! Zakka menepuk keningnya sendiri, seakan rencananya bagaikan mimpi yang menghilang begitu saja saat melihat sang kakek yang tengah berdiri dengan gagahnya.
__ADS_1
"Penampilan kamu rapih amat, kamu mau kemana? jam nanggung begini enaknya itu untuk tidur, bukan untuk pergi tiada guna." Tanya sang kakek menyelidik.
"Mau ... Zakka mau main ke rumah teman, Kek." Jawab Zakka tersenyum lebar.
"Besoknya aja, hari ini lebih baik kamu temani kakek main catur. Lupakan main ke rumah temanmu itu, menemani Kakek itu jauh lebih penting dari apapun." Ucap sang kakek yang berusaha untuk mencegah niat dari cucunya.
"Tapi Kek ..." rengek Zakka penuh permohonan, bahkan kedua tangannya pun ikut menangkupkan agar permohonannya dapat dikabulkan.
"Tidak ada tapi tapian, sekarang juga ayo ikut kakek ke taman belakang. Besok akan ada acara di rumah kita, jadi ... tidak ada penolakan apapun darimu." Kata sang kakek yang terus membujuk cucu keduanya untuk tidak pergi keluar rumah.
"Bukankah ada Kak Rey? kenapa Kakek tidak mengajak Kak Rey saja, Zakka istirahat aja ya Kek ..." rengek Zakka mencari alasan agar bisa keluar dari ruah, pikirnya.
"Biarkan kakak kamu itu istirahat, kasihan dia." Kata sang Kakek yang tetap bersikukuh pada pendiriannya, sedangkan Zakka tidak mempunyai cara lain selain menuruti permintaan dari dang kakek.
"Ya ya ya deh, Zakka bersedia menemani Kakek main catur." Ucap Zakka dengan segala kepasrahannya. Kakek angga akhirnya tersenyum puas, sedangkan Zakka sebaliknya. Zakka hanya tersenyum getir saat rencananya untuk menemui perempuan yang ia sukai harus gagal begitu saja.
Mau bagaimana lagi, Zakka tidak mempunyai pilihan lain selain nurut. Mau tidak mau, Zakka hanya bisa bermodalkan pasrah.
Sedangkan di tempat lain, Rey baru saja sampai di Toko kueh milik istrinya. Dengan terburu buru ia langsung masuk kedalam, semua karyawan dibuatnya kaget dengan kedatangannya seorang Rey.
"Loh, Kakak ganteng kenapa kembali lagi?" tanya Sela penasaran.
"Dimana pemilik Toko ini? aku ingin menemuinya." Rey tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan dari Sela, yang ia pikirkan dimana istrinya.
"Oooh Kak Aish, ada di ruang pembuatan kueh. Sebentar ya Kak, Sela panggilkan Kak Aish dulu."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa menemuinya sendiri." Ucap Rey yang sudah tidak sabar harus menunggu.
"Jangan jangan kakak ganteng ini suka sama Kak Aish, bisa jadi." Gumam Sela menebak.