Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa lega


__ADS_3

Aish masih belum bisa mencerna apa yang sudah dikatakan oleh suaminya. Rey dan Aish sudah berada dihadapan Ibu Melin dan Pak Soni.


Pak Soni dan Ibu Melin hanya menunduk dan tak bisa berkata apa apa, merasa bersalah besar dan tentunya sangat malu dan tak layak untuk dipanggil orang tua, pikirnya dalam kebingungan serta ketakutannya.


Aish memperhatikan satu persatu dari kedua orang tuanya, satu pun tidak ada yang mendongakkan pandangannya. Aish kembali menatap wajah suaminya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Katakan sekali lagi, apa yang barusan kamu katakan. Benarkah yang kamu ucapkan itu? kamu tidak sedang bermain drama, 'kan? ayo katakan padaku."


Rey mengangguk, kemudian memegangi kedua pundak milik istrinya. Sedangkan Ibu Melin dan Pak Soni masih dengan posisinya yang sama sama menundukkan kepalanya. Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan oleh kedua orang tua Aish.


"Mereka berdua adalah kedua orang tua kandung mu."


"Jadi ... jadi benar, mereka berdua adalah kedua orang tuaku. Tapi kenapa, kenapa mereka tega denganku. Kenapa mereka bohongi aku, salah ku dimana?" kata Aish dibarengi dengan tangisnya. Rey langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir saja jatuh dilantai dan dibantu Pak Soni.


"Lepaskan! Aish bisa melakukannya sendiri," kata Aish pada ayah nya. Pak Soni hanya bisa nurut, Beliau yang merasa bersalah tidak mampu berbuat apa apa. Jangankan untuk marah, menasehati saja tak berani. Sedangkan Ibu Melin yang melihat putrinya berubah emosi, seketika Ibu Melin menangis sesenggukan.


"Sayang, kendalikan amarah mu. Kamu tidak patut berkata seperti itu pada Papa kamu. Semua pasti ada alasannya, kamu berhak meminta penjelasan. Jangan kamu turuti emosi kamu, sayang. Tidak mungkin orang tua tidak mempunyai alasan, semua pasti ada alasannya." Kata Rey mencoba untuk menenangkan istrinya, Aish masih terasa tersakiti ketika mendengar sebuah kenyataan tentang hidupnya.


"Tapi kenyataannya apa? apa mereka tahu bagaimana perasaanku, hidup hanya dengan seorang ayah yang selalu berjuang untukku tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Bahkan aku harus berjuang sendiri bersama Papa Burhan demi menyambung hidup. Dan kenyataannya Ibuku ada didepan mataku sendiri dari aku lahir hingga aku dewasa sampai sekarang ini, tanpa berucap dengan kejujuran. Tidak, aku tidak akan mengakuinya. Orang tuaku Papa Burhan, Beliau lah pahlawan ku dari aku kecil hingga aku dapat menggapai cita citaku." Ucap Aish, kemudian ia langsung menyingkirkan kedua tangan milik suaminya untuk pergi dari ruangan tersebut.


"Sayang! sayang, tunggu. Kamu jangan lari, sayang. Ada calon buah hati kita didalam perutmu, berhentilah." Panggil Rey mengejar istrinya, Pak Soni yang juga khawatir pun ikut mengejarnya.


Sayangnya, Tuan Ganan langsung mencegahnya. "Jangan ikut mengejar putrimu, biarkan Rey yang akan menenangkan istrinya."


"Tapi Bos,"


"Tidak ada tapi tapian, bersabar lah. Putrimu tetap saja akan shock ketika mendengar kenyataan ini. Biarkan dia menenangkan pikirannya terlebih dahulu, jangan kita paksakan untuk menerimanya. Putrimu sedang hamil, emosinya akan jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Mudah marah, dan juga sensitif. Bersabar lah, aku percaya jika Aish dapat menerima kalian berdua sebagai orang tua kandungnya. Dia anak yang baik, dan juga pemaaf." Kata Tuan Ganan meyakinkan Pak Soni, sedangkan Ibu Melin masih menangis memikirkan kondisi putrinya yang shock mendengar kenyataan yang sebenarnya.


"Mantan istrimu masih menangis, tenangkan pikiran nya. Aku yakin jika mantan istrimu masih mengharapkan kamu, dekati lah dia. Aku mau menyusul putraku dan juga menantuku." Ucap Tuan Ganan.

__ADS_1


"Ya Bos, terima kasih banyak karena sudah membantu saya." Kata Pak Soni merasa tidak enak hati ketika melibatkan Tuan Ganan dalam masalah keluarga yang berpecah belah.


Tuan Ganan yang begitu khawatir dengan kondisi menantunya yang tengah hamil, Beliau langsung mengejar anak dan menantunya yang entah pergi kemana.


Karena selalu ada pengawasan, Tuan Ganan tidak merasa sulit ketika mencari siapa orang yang dicari.


Rey masih memeluk istrinya, berusaha untuk menenangkan pikiran nya dan tidak dikuasai emosi yang kapan saja bisa meledak.


"Sayang, mau sampai kapan kamu tidak akan mengakuinya? mereka berdua adalah orang tua kamu. Apapun kesalahan orang tua dimasa lalunya, pasti ada alasan yang kuat kenapa harus melakukan hal yang sangat tidak pantas untuk dilakukan. Buka lah hatimu, apa kamu juga tega sama mereka? aku yakin jika kedua orang tuamu sangat merindukan kamu. Pastinya sebuah perpisahan tidak diinginkan oleh setiap pasangan suami istri. Semua menginginkan bahagia, tapi namanya kehidupan ada saja musibah yang harus dilewati." Kata Rey menasehati istrinya, Aish masih terdiam.


"Kamu selalu berkata, aku sangat merindukan Mama ku. Kamu tahu? sekarang doa kamu sudah dikabulkan, dan apakah kamu akan mengingkarinya?" kata Rey yang berusaha untuk mengingatkannya lagi.


Aish yang masih berada dipelukan suaminya, Rey melepaskannya. Kemudian ia menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


"Lapangkan lah hati kamu, terima lah mereka berdua sebagai orang tua kandung kamu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari, ayah mu tetap ayah mu. Nasab mu tetap pada ayah kandung mu, sampai mati pun. Maafkan kesalahan kedua orang tua kamu di masa lalunya, semua pasti ada alasannya tersendiri. Bijak lah untuk menyikapinya, jangan sampai kamu dikuasai oleh emosi mu yang dapat berakibat fatal." Kata Rey yang tidak pernah bosan untuk memberi nasehat kecil pada istri tercintanya.


Disaat itu juga, Aish kembali menitikan air matanya. Ia tersadar atas keegoisannya sendiri, ia kembali memeluk suaminya.


Aish menggelengkan kepalanya, ia merasa malu dengan keegoisannya sendiri.


Tuan Ganan yang sedari tadi berada didekat anak dan menantunya pun, Beliau merasa lega ketika putranya mampu menenangkan istrinya dan juga dapat memberikan nasehat kecil untuk sang istri.


"Syukur lah kalau baik baik saja," kata Tuan Ganan mengagetkan.


"Papa," panggil keduanya serempak.


"Aish, apakah kamu tidak ingin menemui kedua orang tua mu?" tanya ayah mertua.


"Maafkan Aish, Pa. Aish mengaku salah, Aish sempat emosi dan juga shock. Aish sadar, yang Aish lakukan sangat lah salah." Kata Aish sambil menunduk.

__ADS_1


"Wajar jika kamu emosi, semua orang pasti akan melakukan hal yang sama seperti mu. Sesuatu yang membuatmu terkejut dan seperti mimpi, bukan? percayalah, semua akan baik baik saja jika kamu berlapang dada untuk menerimanya. Jika kondisi kamu sudah stabil dan sedang tidak dalam emosi, temui lah kedua orang tua kamu. Mereka pasti sangat merindukan mu, begitu juga dengan mu." Kata Tuan Ganan dengan hati hati, takut menantunya akan salah tanggap atas ucapan dari Beliau.


"Ya Pa, Aish akan menemui mereka berdua. Aish sudah ikhlas untuk menerima kenyataan ini, Aish tak punya hak untuk menghakiminya." Jawab Aish berusaha untuk kuat dan juga tegar, apapun kenyataannya.


Rey tersenyum lega ketika mendapati sang istri yang sudah luluh hatinya. Tidak ada lagi yang di cemaskannya.


Setelaj itu, Aish ditemani sang suami untuk menemui kedua orang tua kandungnya. Sedangkan Tuan Ganan mengikutinya dari belakang.


Pelan pelan Rey membuka pintunya, Aish masih menunduk sambil masuk kedalam ditemani sang suami dan diikuti oleh ayah mertuanya.


Ibu Melin kini memberanikan diri untuk mengarahkan pandangannya pada putrinya. Tetap saja, Ibu Melin masih menitikan air matanya.


Dengan perasaan gugup dan gemetaran, Aish berusaha untuk tetap tenang. Sebisa mungkin Aish tidak terpancing emosinya.


Sampainya didepan kedua orang tuanya, Aish langsung memeluk Ibu Melin dengan erat. Seketika, tangisnya pun pecah. Begitu juga dengan Ibu Melin dan Pak Soni yang juga ikut menangis sesenggukan. Sekian lamanya berpisah dengan putrinya, kini telah di pertemuannya kembali.


"Aishwa putriku,"


"Ma - Mam - Mama," panggil Aish dengan terbata bata. Seumur hidupnya ia baru pertama kalinya dengan nyata memanggil nama Mama, Aish masih terus menangis.


"Maafkan Mama kamu ini yang tidak layak untuk kamu panggil dengan sebutan Mama, kamu berhak marah pada Mama kamu ini." Ucap Ibu Melin yang merasa bersalah atas perbuatannya yang tidak merawat putrinya sendiri, melainkan merawat anak dari mantan suaminya. Setelah itu, Aish melepaskan pelukannya.


"Mama dan Papa melakukan semua ini ada alasannya, 'kan? Aish percaya, bahwa tidak ada orang tua yang ingin anak nya menderita, bukan? semua pasti ingin anaknya bahagia dengan kesuksesannya." Ucap Aish yang memilih untuk berpikir positif pada setiap kejadian dimasa lalu kedua orang tuanya sendiri. Ibu Melin mengangguk, kemudian dan memeluknya lagi.


Setelah sudah cukup, Aish melepaskannya lagi pelukannya dan bangkit dari posisinya. Kemudian Aish menatap pada sosok ayah kandungnya yang tengah berdiri.


Disaat itu juga, Aish langsung memeluk Pak Soni dengan erat. Meski ia sudah mendapatkan figur seorang ayah yang baik, seketika Aish merasakan kenyamanan ketika berada di dekapan sang ayah.


"Putriku, Aishwa Zahra. Maafkan Papa, Nak ... maafkan semua kesalahan Papa selama ini. Kamu berhak marah dengan Papa, tidak ada larangan untuk mu jika kamu ingin meluapkan amarahmu. Papa siap menerima segala resiko yang akan kamu berikan sama Papa." Ucap Pak Soni yang merasa bersalah besar pada putrinya.

__ADS_1


Aish langsung melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah sang ayah yang tidak lagi muda. Seumur hidupnya, Aish baru pertama kalinya bertemu dengan ayah kandungnya. Karena sebuah ancaman dan larangan keras, membuat Pak Soni tidak berani bertemu dengan putrinya.


"Aish tidak mempunyai hak untuk marah, apa lagi untuk membenci Papa. Aish yakin, yang Papa lakukan pasti ada alasannya tersendiri. Aish yang meminta maaf, karena Aish begitu egois yang hanya mengendalikan emosi." Kata Aish yang merasa bersalah karena sikapnya sendiri ketika menepis tangan milik ayah kandungnya sendiri saat hendak membantunya agar tidak terjatuh.


__ADS_2