
Setelah Zakka, kini Bapak kepala sekolah kembali memanggil satu persatu siswa maupun siswi yang mendapat prestasi gemilang.
"Setelah Zakka, kini giliran peringkat ke tiga yaitu ... Yevi Aura."
Semua bertepuk tangan saat nama Yevi dipanggil untuk naik ke atas panggung, termasuk Yunda, Afwan dan juga Aish ikut bertepuk tangan. Semua murid laki laki bersemangat bertepuk tangan pada Yevi yang terkenal akan primadona sekolahan karena kecantikannya dan juga anak dari golongan yang cukup berada.
Dengan bangga, Yevi dengan gayanya naik keatas panggung penuh rasa percaya diri. Setelah Piagam diterima, Yevi memberi ucapan terimakasih dan lain lainnya ke khalayak umum.
"Lihatlah, Yevi sangat beruntung bisa meraih kejuaraan yang cukup bagus. Aku yakin, Yevi pasti dapat kuliah gratis. Ditambah lagi dia juga pintar, dengan mudahnya dia bakalan lolos jika magang di perusahaan yang terkenal itu. Aku ... aku, kapan?" ucap Yunda pesimis.
"Jangan begitu, mungkin sudah rizkinya Yevi. Lagian orang tuamu juga masih mampu untuk menyekolahkan kamu, 'kan?" sahut Afwan.
"Iya sih, orang tuaku masih mampu untuk memberi biaya kuliah. Tapi ... aku juga ingin seberuntung Yevi." Ucap Yunda dengan lesu.
"Hem, tidak baik seperti itu. Yang terpenting kamu masih bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, Yun." Sahut Aish menimpali.
"Iya juga sih, terima kasih ya Aish. Kalian berdua juga harus semangat, kita akan terus tetap bersyukur dan berusaha untuk sukses." Ucap Yunda, sedangkan Bapak Kepala Sekolah kembali melanjutkan untuk memanggil peringkat kedua setelah Yevi yang menjadi peringkat ke tiga.
Kini, semua hening. Tidak ada yang terdengar berisik, bahkan terdengar sangat santai.
"Sekarang giliran peringkat ke dua dan peringkat ke satu yang akan saya panggil. Saya minta untuk naik keatas panggung dua duanya. Jadi ... juara kedua yaitu di raih oleh ... penasaran? hayo ... kira kira siapa, ya?" Ucap Bapak Kepala Sekolah sambil celingukan mencari keberadaan kedua murid yang berprestasi dan membawa nama baik daerah yang ditempati.
Semua yang hadir di acara pelepasan murid, tidak ada yang tidak tegang, semua murid serta wali murid pun ikut tegang saat nama siswa ataupun siswi tengah dipanggil.
__ADS_1
"Baiklah akan saya panggil dua murid yang berprestasi dan bisa dijadikan semangat untuk para orang tua untuk lebih memperhatikan anaknya lagi dan memberi dukungan. Karena waktu sudah siang, saya akan segera panggilkan murid yang berprestasi. Mereka berdua adalah ... Reynan peringkat kedua, dan Aishwa Zahra mendapat peringkat pertama. Beri apresiasi tepuk tangan untuk mereka berdua." Ucap Bapak Kepala sekolah ikut bertepuk tangan memberi apresiasi pada murid didiknya.
Disudut sana ada sosok ayah yang tengah menangis bahagia saat mendengar nama anaknya disebutkan.
"Apakah Bapak adalah wali murid yang berprestasi?" tanya seorang laki laki yang seumuran.
"Iya Pak, namanya Aishwa. Dia putri saya satu satunya, dia tidak lagi mempunyai seorang ibu." Jawabnya yang masih menunduk sambil mengusap air matanya.
"Selamat ya, Pak. Semoga tetap bertahan dengan prestasinya dan juga menjadi sukses untuk kedepannya." Ucapnya memberi selamat pada Beliau.
"Terima kasih banyak, Pak." Jawab ayah Aish sedikit malu karena menangis.
Sedangkan yang tengah berada diatas panggung, Aish dan Rey menerima penghargaan dari Bapak Kepala Sekolah. Dengan rasa percaya diri, Rey berbicara diatas panggung.
"Pertama tama, saya ucapkan banyak terima kasih kepada semua dewan guru yang telah membimbing kami. Tanpa bimbingan dari seorang guru, kami hanyalah seorang anak yang hilang induknya. Sebagaimana anak yang kehilangan orang tuanya, hilang sudah kasih sayang serta nasehatnya."
Seketika, Aish yang mendengarkannya serasa lunglai. Bahkan kedua kakinya serasa berat untuk menopang badannya, nafasnya pun terasa sesak dan sulit untuk bernafas.
Air matanya pun membasahi kedua pipinya, ucapan demi ucapan dari Reynan seakan membuka kerinduannya pada sosok sang ibu. Semakin larut dalam kesedihan, semakin pudar pandangannya. Tubuhnya yang terlihat kuat, kini tiba tiba jatuh pingsan.
"Aish!!" teriak Reynan dan menangkap tubuhnya jatuh ke pangkuannya. Semua heboh dibuatnya, termasuk ayah Aish yang langsung naik keatas panggung. Begitu juga dengan Afwan dan juga Yunda maupun Zakia ikut naik ke atas panggung.
"Aish, Aish! bangun! Aish." Berkali kali Reynan memanggilnya dan menepuk nepuk pipinya dengan pelan, berharap akan segera sadar dari pingsannya.
__ADS_1
Reynan yang semakin panik, tanpa pikir panjang ia langsung menggendongnya ke ruang UKS.
"Aish! dimana putriku, dimana Aish." Teriak sang ayah memanggil putrinya.
"Tenangkan dulu pikiran Bapak, Aish baik baik saja. Sekarang Aish sedang ditangani, kita tunggu sebentar." Sahut Afwan yang sebenarnya juga panik melihat Aish yang tiba tiba jatuh pingsan diatas panggung.
"Maafkan putra saya Pak, gara gara ucapan dari anak saya, putri Bapak jatuh pingsan." Ucap ayah Rey mewakilkan putranya.
"Tidak, anak Bapak tidak salah. Putri saya yang kebetulan tersentuh dengan kalimat yang diucapkan oleh anak Bapak. Kalau begitu saya permisi, saya mau menemui putri saya." Jawab ayah Aish dan segera berpamitan untuk segera menemui putrinya.
"Rey, bagaimana keadaannya? atau gak Papa akan panggilkan Dokter untuk segera datang." tanya sang ayah ikut cemas.
"Tidak apa apa, Aish baik baik saja. Kenapa Papa jadi heboh? ada ada saja Papa ini. Sudahlah, lebih baik Papa tunggu Rey dan Zakka di Asrama. Sebentar lagi Rey akan bersiap siap setelah acaranya selesai." Jawab Rey sambil memasang muka yang terlihat menyimpan sesuatu yang tersembunyi.
"Kamu menyukainya? tanya sang ibu yang mencoba menebak pikiran putranya. Sedangkan Zakka yang berada di sebelah sang ayah pura pura tidak mendengar atas pertanyaan dari ibunya.
"Apa apaan sih Ma, pertanyaan macam apa itu. Sudah lah, Rey mau kumpul bersama teman teman dihari terakhir perpisahan." Jawab Rey, kemudian segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan Zakka.
"Zakka, kamu tidak ikut kumpul bersama teman teman kamu seperti kakak kamu? hem." Tanya sang ayah.
"Zakka mau menemui Aish dulu, Pa, Ma." Ucap Zakka berpamitan, disaat itu juga kedua orang tuanya saling menatap satu sama lain dengan rasa penasaran sarta penuh tanda tanya pada kedua putranya.
"Apakah kedua putra kita menyukai gadis yang sama? Rey tidak mau menjawab, Zakka tidak mau ikut Rey berkumpul dengan teman temannya."
__ADS_1
"Biarkan saja begitu, kita sebagai orang tua lebih baik pura pura tidak tahu. Lagian juga masih abu abu, seiringnya waktu juga akan lupa. Bukankah ketiga anak kita akan melanjutkan pendidikannya di Amerika? jadi, tidak perlu gusar." Jawab sang istri mencoba meyakinkan suaminya.
"Benar juga apa yang kamu katakan, aku rasa juga begitu. Semoga saja, Rey dan Zakka tidak akan mengulangi masa lalu Papa dan Paman Zio." Ucap sang suami.