Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Acara pelepasan


__ADS_3

Tidak memakan waktu lama, Aish dan sang ayah telah sampai didepan pintu gerbang sekolahan. Disaat itu juga, Aish langsung turun dari motor.


"Aish, maafkan Papa yang tidak bisa ikut masuk ke dalam. Papa memilih untuk tunggu diluar saja, tidak apa apa 'kan? Papa tidak ingin membuatmu malu." Ucap sang ayah dengan menatap sedih pada putrinya.


"Pa, kenapa Papa berpikiran seperti itu? justru Aish sangat bangga memiliki orang tua ssperti Papa. Yang bertanggung jawab dan tidak pernah lupa selalu memberi nasehat pada Aish. Ayo Pa, kita masuk. Semua murid bergandeng tangan dengan orang tuanya masing masing. Apa Papa tega melihat Aish sendirian didalam sana?"


"Iya, Pak Burhan. Kita berdua juga ditemani orang tua kita masing masing, dan hari ini adalah hari terakhir penuh sejarah bagi kami kami yang statusnya sebagai seorang murid." Ucap Yunda ikut menimpali.


"Iya Pak, jangan takut. Didalam tidak sendirian, banyak wali murid didalam sekolahan." Sakit Afwan ikut menimpali.


"Ayo lah Pa, temani Aish. Hari ini adalah hari yang penuh bersejarah untuk Aish, Pa." Ucap Aish mencoba meyakinkan orang tuanya yaitu, pak Burhan.


"Tapi, Nak ... jika kamu ditertawakan sama teman teman kamu, bagaimana? kamu bilang saja, jika orang tua kamu sedang sibuk." Ujar sang ayah beralasan.


"Pa, apapun itu cemoohan dari orang, Aish tidak perduli. Aish tetap bangga memiliki orang tua seperti Papa. Bahkan, Aish tidak malu untuk memperkenalkan Papa di khalayak umum." Jawab Aish dan tersenyum.


"Sifat kamu, kepribadian kamu, tidak beda jauh dengan Mama kamu. Bahkan, Mama kamu juga tidak malu memiliki suami seperti Papa. Meski banyak yang menghina Papa, Mama kamu tetap percaya diri." Ucap sang ayah dan tersenyum.


Tanpa disadari, ada sepasang suami istri yang tengah memperhatikan Aish dan ayahnya.


"Lihat lah Pa, sepertinya ayahnya tidak mau masuk kedalam sekolahan. Tapi, sang anak tetap memaksa orang tuanya untuk ikut masuk. Aku yakin jika anak itu mendapat didikan yang sangat baik, beruntung sekali orang tuanya. Lebih beruntung lagi yang akan menjadikannya menantu." Ucap seorang ibu paruh baya memuji.


"Kalau kamu ingin memiliki menantu seperti dia, didik juga anak anak kita. Apa kamu tega menantumu mendapat seorang suami yang buruk akhlaknya? hem." Jawab sang suami.


"Iya juga, ya." Ucapnya, kemudian ikut masuk ke dalam area sekolahan.


Sedangkan Aish dan orang tuanya kini tengah berada di area parkir. Beberapa murid tengah memperhatikan Aish dan ayahnya.


"Aish, Papa mau ke kantin dulu beli permen. Kamu duduk aja disana, nanti Papa menyusul. Lagian juga, tempat duduk untuk wali murid berbeda dengan siswa siswinya." Ucap sang ayah.

__ADS_1


"Ya sudah deh kalau begitu, Aish jalan duluan ya, Pa." Jawab Aish, sang ayah pun mengangguk.


Kini, Aish hanya seorang diri. Ia berjalan menuju tempat area dimana teman temannya tengah duduk untuk mengikuti acara pelepasan.


"Dih! aku kira Aish berangkatnya naik mobil mewah, tidak tahunya motor buntut gaes... jadi ... yang dikatakan Heila benar dong, duh! ngenes banget sih kamu Aish." Ucap salah satu siswi diantara teman yang lainnya tengah mengejek.


"Memangnya ada yang salah denganku? apa masalahnya jika aku naik motor buntut bersama orang tuaku?"


"Kalian semua tuh kenapa sih, selalu .... aja! gangguin Aish." Sahut Yunda yang tiba tiba datang.


"Asal kalian tahu ya, Aish itu jauh lebih baik dari pada kalian semua. Sudah sudah, bubar semuanya. Atau ... sekarang juga aku laporkan kalian pada kepala sekolah, agar ijazah kalian ditahan." Ucap Afwan menakuti karena geram melihat sahabatnya di hina.


Karena takut dengan ancaman dari Afwan, disaat itu juga semuanya kembali berkumpul dengan siswa siswi lainnya.


"Aish, kamu tidak apa apa 'kan?" tanya Yunda.


"Tidak apa apa kok, Yun. Terima kasih ya, kamu sudah menolongku." Jawab Aish.


"Aish, setelah selesai sekolah, kamu melanjutkan kuliah dimana? bagaimana kalau kita melanjutkan kuliah kita di Universitas yang sama?" tanya Yunda sambil berjalan.


"Aku tidak tahu Yun, aku sih pinginnya daftar lewat yang gratis." Jawab Aish dan tersenyum..


"Hem ... iya ya, aku sampai lupa. Kamu kan murid yang sejuta prestasi, tidak denganku." Ucap Yunda sambil mencubit gemas pipi milik sahabatnya.


"Beruntung banget ya, Yahya. Dapatin Aish yang tiada tandingnya, pintar, cantik, is the best pokoknya." Sahut Afwan menimpali.


"Ngomongin soal Yahya, aku dengar Yahya sudah pulang. Apa itu benar, Afwan? soalnya aku dapat kabarnya dari ibuku." Tanya Yunda yang tiba tiba teringat sesuatu.


"Ah! iya, benar Yun. Aku sampai lupa jika Yahya sudah pulang, tadi pagi dia memberiku pesan ke aku. Katanya nanti sore meminta kita untuk kumpul bareng ditempat biasa." Sahut Afwan menimpali.

__ADS_1


"Wah ... pasti akan ada yang spesial nih... duh ... nanti aku jadi baper deh." Ucap Yunda sambil melirik kearah Aish dengan tatapan menggoda.


"Hem ... sudahlah, ayo kita kumpul bersama yang lainnya.


"Aish!"


Aish dan kedua temannya pun menoleh ke sumber suara. Ketiga hanya membuang nafasnya kasar.


"Zakka! mau ngapain?" tanya Afwan dengan tatapan sengit.


"Dih! mukamu dah kek lipatan roti aja, jelek! tau." Ucap Zakka dengan ketus, dan tidak memperdulikannya.


"Aish, nanti kamu ada acara tidak?" tanya Zakka penuh harap.


"Ada! Aish ada acara bersama kita dan calon suami Aish, puas! kamu."


"Heh! curut, aku tuh tanya Aish. Bukan tanya kamu orang, dih! kepedean."


"Memangnya, kamu mengajaknya kemana? hah!" tanya Yunda dengan suara membentak pada kalimat terakhirnya.


"Dih! tidak segitunya juga, kale ... aku tuh ada acara, aku mau mengajak kalian bertiga untuk makan bersama. Tempatnya di ... di Danau kecil." Jawab Zakka.


"Memangnya siapa aja yang kamu ajak?" tanya Yunda lagi, sedangkan Afwan dan Aish masih menjadi pendengar setia.


"Cuman kalian bertiga, dan tentunya sama sodaraku itu si Rey. Bagaimana? mau, ya ..." Jawab Zakka penuh harap.


"Cuman kita bertiga? terus ... kamu mau mencari kesempatan, gitu. Mau menggoda Aish, merayu Aish." Selidiknya karena mencurigai.


"Ya, tidak lah. Ngapain aku cari kesempatan, tidak ada. Aku serius, tidak hanya itu. Aku mau mengajak kalian untuk mendatangi panti asuhan." Jawab Zakka meyakinkan, Aish yang mendengarnya pun seperti tidak percaya. Seorang Zakka yang terlihat usil, namun ada sisi baik yang tidak pernah diketahuinya.

__ADS_1


"Hem, palingan kamu juga modus. Agar kamu bisa ada waktu bersama Aish, hem." Sahut Afwan yang tidak mempercayainya.


"Ah, ya sudah lah jika kalian bertiga tidak mau menerima ajakanku. Kalau begitu, aku permisi. Sampai bertemu dilain waktu ditentukan, semoga kita jodoh ya, Aish." Ucap Zakka, kemudian membalikkan badannya dan kembali ketempat semula bersama teman teman yang lainnya.


__ADS_2