Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Terlihat berubah


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah, Aish sedang bersiap siap untuk berangkat ke sekolah. Sebelumnya ia sudah menyiapkan sarapan pagi, setelah itu ia menyibukkan diri didalam kamar untuk membaca buku disaat tidak ada kesibukan yang lainnya.


"Aish, papa sudah siap siap. Ayo kita sarapan pagi, nanti kamu terlambat loh." Seru sang ayah memanggil putrinya.


"Iya, Pa. Sebentar lagi, ini Aish sedang bersiap siap kok, Pa." Jawabnya beralasan. Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal, Aish segera keluar dari kamarnya dan sarapan pagi bersama sang ayah.


"Aish, maafkan Papa. Jika dari kecil, kamu belum sempat merasakan bahagia seperti anak anak sebaya kamu. Papa janji dengan sungguh sungguh, jika Papa akan bekerja keras untuk menyekolahkan kamu hingga sampai Perguruan tinggi." Ucap sang ayah sebelum memulai untuk sarapan pagi.


"Tidak perlu kok, Pa. Setelah lulus sekolah nanti, Aish mau fokus di pondok. Boleh, kan Pa?" jawab Aish meminta izin.


"Kamu mau mondok dimana? di tempat Yahya?" tanya sang ayah.


"Iya Pa, dimana lagi kalau bukan di sebrang jalan sebelah sana. Aish tidak mau jauh jauh dari Papa, Aish memilih didekat rumah saja." Jawab Aish merayu.


"Bukan begitu, Aish. Kamu tahu sendiri, 'kan? kita ini bukan keluarga kaya maupun terhormat. Kita warga biasa, biasa kekurangan. Lebih baik kamu jangan lagi mendatangi pondok itu, Papa takut akan menambah masalah. Banyak yang tidak menyukai kamu, Aish. Percayalah, ilmu agama tidak hanya disana saja. Masih banyak pondok lainnya yang bisa kamu datangi. Papa siap untuk mengantarkan kamu, Aish." Ucap sang ayah mengingatkan.


"Memang kenapa, Pa? apa karena Aish dekat dan berteman dengan Yahya?" tanya Aish penawaran.


"Banyak yang menginginkan Yahya untuk dijadikan menantu, meski usia yang masih terbilang kecil. Namun, banyak orang kaya dan terhormat yang sudah mengharapkannya. Jadi, kamu harus hati hati. Papa tidak ingin sesuatu hal buruk akan menimpamu. Masa depan kamu masih panjang, jadi hindari sesuatu yang dapat berakibat fatal." Jawab sang ayah menasehatinya.


Aish yang mendengarnya pun hanya membuang nafasnya kasar, ia tidak tahu harus menjawabnya apa. Aish menyadari, apa yang dikatakan dari ayahnya itu semuanya benar adanya.


"Sudah, jangan kamu pikirkan. Fokus saja dengan sekolah kamu saja, masa depan kamu itu masih panjang. Bukankah kamu menginginkan kesuksesan? belajar lah yang rajin." Ucap sang ayah yang terus berusaha untuk menasehati putrinya.

__ADS_1


"Iya Pa, maafkan Aish yang sering menolak nasehat dari Papa." Jawabnya berusaha untuk tenang, meski sebenarnya gelisah.


"Ya sudah, ayo kita sarapan. Hari ini sepertinya Papa pulangnya larut malam. Jika kamu takut sendiri, kamu bisa menginap tempat tante kamu." Ucap sang ayah.


"Iya Pa, tidak apa apa." Jawab Aish, kemudian ia mengambil nasi gorengnya dan menyuapinya sendiri.


Setelah selesai sarapan pagi, Aish dan sang ayah segera bersiap siap untuk berangkat. Namun, lebih dulu sang ayah yang berangkat. Sedangkan Aish sedang menunggu kedua temannya sambil duduk santai sembari membaca buku.


Tidak lama kemudian, terdengar suara sahabatnya yang tengah mengobrol didepan rumah. Aish sendiri segera meraih tasnya dan keluar rumah.


Saat berada didepan rumahnya, ternyata dugaannya pun benar. Bahwa kedua temannya sekaligus sahabatnya sudah berada didepan rumahnya sambil tersenyum lebar.


"Kalian berdua terlihat senang, apakah ada sesuatu?" tanya Aish, kemudian ia mengunci pintunya dan mendekati Yunda sahabat dekatnya.


"Hemm ... sudahlah, ayo kita berangkat. Nanti kita terlambat, aku tidak mau mendapatkan hukuman. Sangat memalukan, jika aku mendapatkan hukuman. Bisa bisa aku tidak lagi diperbolehkan untuk bersekolah." Ucap Aish, kemudian ia berjalan dengan langkah kakinya yang cukup gesit.


"Aish, tunggu!" seru Yunda memanggil sambil mengejar Aish yang cukup gesit saat berjalan kaki.


Sesampainya di perempatan jalan, Aish dan kedua sahabatnya tengah menunggu angkutan umum. Tidak lama kemudian, mobil yang ditunggu tunggu pun telah berhenti. Kemudian, ketiganya segera menaikinya.


Selama perjalanan, Aish terus teringat dengan sosok laki laki yang tengah duduk disebelahnya. Aroma parfum yang tidak ia lupakan, wangi yang tidak membosankan untuk dihirup.


'Aduh! Aish, Aish. Kamu ini, ingat dong ... jangan memikirkan laki laki yang bukan mahram kamu. Ingat! ingat, itu. Kamu sendiri tidak pernah mengingat Yahya, kenapa kamu menjadi terhipnotis dengan laki laki yang tidak kamu kenali.' Batin Aish terus mengutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


PUKK!!!


"Hei, Aish. Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Yunda sambil menepuk punggung Aish, seketika itu juga Aish kaget dibuatnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Aish seperti tidak percaya.


"Hem ... sebenarnya kamu ini melamunin siapa, sih? Yahya? hem." Jawab Yunda tanya balik.


"Yahya? tidak, aku tidak melamunin dia. Aku hanya sedang melamunin masa depanku nanti." Jawab Aish beralasan, kemudian merogoh sakunya dan mengambil uang dan diberikannya pada Yunda. Lalu, segera ia turun dari mobil dan berjalan dengan gesit.


Sedangkan Yunda dan Afwan merasa heran dengan sikap Aish yang terkadang membuat penasaran.


"Yun, sebenarnya Aish kenapa sih? perasaan dari tadi berangkat dia terlihat aneh. Terkadang terlihat lesu dan sedih, terkadang senyum senyum sendiri, terkadang juga terlihat tegang. Sebenarnya ada apa sih dengan Aish? apa ada masalah dengan Yahya? aku rasa sih tidak mungkin. Secara Aish juga menyukai Yahya, hanya saja ia berusaha untuk bersabar menunggu saatnya tiba waktunya. Apa ... ada masalah dengan Papanya?" tanya Afwan merasa curiga dengan sikap Aish yang menurutnya ada sesuatu yang disembunyikannya.


"Aku kurang tahu, Wan. Aku juga merasa begitu, Aish seperti sedang menyembunyikan masalahnya. Apa iya, ada masalah dengan Papanya. Nanti aku coba tanya ke Aish deh, aku mau ajaknya mengobrol dan aku tanyakan padanya. Siapa tahu saja, Aish membutuhkan bantuan kita. Dan, Aish sendiri malu dan tidak enak hati untuk curhat dengan kita." Jawab Yunda ikut menerka nerka.


"Boleh juga ide kamu, kamu benar benar pintar. Iya sudah kalau begitu, ayo kita masuk ke kelas." Ucap Afwan dan mengajaknya untuk masuk kedalam kelas.


"Tunggu, tunggu, tunggu." Seru seorang murid laki laki tengah memanggil Afwan dan Yunda.


Keduanya pun segera menoleh kearah samping, tepatnya ke sumber suara yang dapat ditangkap oleh pendengaran Afwan dan Yunda.


"Kamu! mau ngapain? Aish tidak bersama kita, pergi kamu." Ucap Afwan yang mengerti kedatangan murid satu kelasnya.

__ADS_1


"Jangan jutek begitu dong, aku pun belum bertanya dengan kalian. Lalu, kenapa mudahnya kamu menebaknya. Lagian aku tidak melukai kalian, aku hanya mau bertanya." Jawabnya.


__ADS_2