Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Tidak terasa


__ADS_3

Hari hari yang dilalui Aish tidak terasa sudah berjalan hampir genap 4 tahun. Tidak hanya dalam ujian hidupnya, Aish sibuk dengan dunia belajarnya untuk meraih prestasinya di bidang yang tengah ia tekuni selama duduk di bangku perkuliahan.


Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya saat ia hendak berangkat ke Kampus dengan berjalan kaki hingga sampai di Perempatan jalan untuk menunggu mobil angkot bersama kedua temannya.


"Aish!!" teriak Yunda sambil mempercepat langkah kakinya. Aish pun tersenyum mengembang saat dirinya mendapati kedua sahabatnya yang juga ikut menunggu mobil angkot bersamanya.


"Tumben, biasanya telat." Sindir Aish yang sering mendapati kedua sahabatnya terlambat.


"Tidak, dong ... sekarang mah harus belajar giat." Sahut Yunda dan duduk disebelah Aish, sedangkan Afwan duduk disebelah Yunda.


"Aish, bentar lagi kita sudah selesai kuliah loh. Oh iya, rencana kamu mau kemana nih? kerja atau ... lanjut lagi kuliahnya." Tanya Yunda yang penasaran dengan sahabatnya yang mempunyai segudang prestasi, pikir Yunda.


"Em ... aku sendiri kurang tahu, Yun. Mau lanjut atau cari pekerjaan, masih dalam angan angan. Sepertinya sih aku mau cari pekerjaan aja deh, soalnya aku ingin membantu perekonomian Tante ku." Jawab Aish yang kemudian teringat masa aktif dirinya dalam melanjutkan pendidikannya. Disaat itu juga Aish memilih untuk mencari pekerjaan yang jauh lebih baik, pikirnya.


"Aku dengar dengar sih, beberapa hari nanti akan ada yang berkunjung di Kampus kita. Katanya nih, akan ada sebuah Perusahaan yang akan mendatangi Kampus kita. Katanya lagi nih, akan dilakukan penyeleksian mahasiswa maupun mahasiswi yang berminat untuk mendaftar di Perusahan tersebut." Kata Yunda yang teringat dengan berita ia dapatkan lewat media sosialnya melalui teman teman kuliahnya.


"Serius kamu, Yun. Nanti bohongan, lagi. Kamu kan gitu, suka mendapatkan informasi yang salah." Sahut Afwan ikut menimpali.


"Serius lah, ngapain aku bohong. Orang aku juga mendapatkan videonya dari group di media sosial ?kok, masa iya bohong." Ucap Yunda dengan yakin, Afwan pun menganggukkan kepalanya.


"Dari pada membicarakan sesuatu yang belum pasti, lebih baik kita naik mobil. Lihat tuh, dari tadi mobilnya menunggu kalian berdua berdebat." Kata Aish sambil menunjukkan jari jemarinya pada sebuah mobil angkot yang tengah berhenti di Perempatan.

__ADS_1


Setelah itu, Aish dan kedua sahabat nya segera naik mobil untuk berangkat ke Kampus. Sampainya didepan pintu gerbang, Aish maupun Yunda dan Afwan segera masuk kedalam. Sambil berjalan beriringan, Afwan dan Yunda tidak ada henti hentinya membicarakan sesuatu.


Sampai di dalam Kampus, semua mahasiswa maupun mahasiswi yang lainnya tengah dihebohkan dengan selemberan kertas.


"Ada apaan sih? kenapa berebut selemberan kertas?" tanya Yunda bertanya tanya, begitu juga dengan Aish maupun Afwan yang juga ikutan menyimpan rasa penasaran dengan kondisi didalam Kampus.


"Aku juga tidak tahu, Yun. Coba kita tanya sama salah satu mahasiswi lainnya, tuh anak nya." Kata Aish memberikan saran, Yunda maupun Afwan langsung mendekat salah satu mahasiswi yang tengah membaca selembaran kertas yang didapatkan dari orang orang yang tengah berkerumunan.


"Neti, itu apaan?" tanya Yunda dengan rasa ingin tahu.


"Oh ini, tadi ada seseorang yang membagi bagikan selembaran kertas ini. Katanya sih, ada berita gembira untuk mahasiswa maupun mahasiswi untuk mendaftar diri ke Perusahaan yang katanya ternama itu. Namanya kalau tidak salah Cabang Perusahaan GARUDA MANDIRI milik keluarga Wilyam.


Disaat itu juga, Yunda dan Afwan membela laka kedua bola matanya.


"Ya serius, ngapain aku bohong. Minta aja kertasnya sama anak anak yang lagi berkerumun itu, buruan nanti habis loh." Jawabnya yang malas memperjelas beritanya.


"Afwan, cepetan kamu ambil tiga buat kita juga. Tidak mungkin kan jika aku dan Aish ikutan berkerumunan, yang ada tuh kita ke dorong dorong dengan yang lain nya." Perintah Yunda yang sudah tidak sabar.


"Iya ya ya ya, kalian berdua tinggu aja di sana tuh, biar aku tidak kejauhan untuk menghampiri kalian berdua." Kata Afwan, sedangkan Aish maupun Yunda segera berpindah tempat agar Afwan tidak kejauhan untuk menghampirinya lagi.


Setelah mendapat tiga selebaran kertas, Aish maupun Yunda dan juga Afwan segera membacanya dengan teliti. Bahkan tidak ada satu kata pun yang terlewatkan, benar benar detail.

__ADS_1


"Wah ... pemilik Perusahaan yang akan memimpin masih sangat muda, jadi penasaran deh." Kata Yunda dibarengi senyum yang merekah.


"Iya, usianya sama seperti kita. Kita daftar aja yuk? kita kan satu langkah lagi akan meninggalkan kampus ini." Ajak Yunda penuh semangat, Afwan hanya geleng geleng kepala.


Aish yang mendapat ajakan dari Yunda hanya diam dan tersenyum tipi, Yunda heran dibuatnya.


"Kamu kenapa mesti diam sih, Aish? seharusnya kamu itu semangat. Ah iya, aku sampai lupa. Bentar lagi Yahya kan pulang, pasti kamu bakal dilarang untuk bekerja di Kantoran. Lagian juga kamu akan segera dilamar oleh Yahya, tentunya kamu hanya punya waktu untuk menjadi seorang istri pak Yai, pak Ustad, dan pak lain nya." Kata Yunda dengan senyum senyum menggoda, Aish sendiri tetap diam tanpa menunjukkan ekspresi yang lain nya.


"Iya nih, kamu kok diam aja terus dari tadi? kamu tidak sedang sakit, 'kan?" tanya Afwan ikut menimpali.


"Tidak kok Yun, Afwan. Aku hanya sedang capek aja, soalnya akhir akhir ini aku banyak tugas yang menumpuk. Kamu tahu sendiri 'kan? belakang ini aku mendapatkan pesanan untuk membuat tas rajutan, jadi aku banyak bergadang." Jawab Aish beralasan, meski bukan sepenuhnya bukan soal rajutan yang harus dijadikan alasannya.


"Habisnya, kamu kalau pintar tidak mau bagi bagi sama aku dan Afwan. Begini kan jadinya, aku yang tidak bisa bantu kamu." Kata Yunda bergurau.


"Das*ar kamu nya aja yang dari dulu tidak bisa merajut, pakai acara pintar tidak dibagi bagi. Salah kamu sendiri, dibagi kepintaran kamu absen terus. Benar kata Aish, kamu sering terlambat. Iya kek gini nih, ilmu nya datangnya terlambat juga." Sahut Afwan menimpali.


"Hem, reseh kamunya. Iya ya ya deh, habisnya bikin gemes tuh si Aish. Aku juga pingin pintarnya kek Aish, tapi otak ku pas pasan." Kata Yunda sambil melipat selebaran kertas yang ia dapat.


"Sudah lah jangan pada berantem, sekarang lebih baik kita berkumpul sama teman teman yang lain nya. Siapa tahu aja ada pemberitahuan yang lebih akurat mengenai selebaran kertas ini." Ucap Aish memberi saran kepada kedua teman nya.


"Sepertinya akan ada bau bau mau ikutan daftar nih? cie ... yang pingin mencoba uji coba nih ye ..." ledek Yunda sambil menyikut lengan milik Aish.

__ADS_1


"Aku juga perlu menguji kemampuanku dalam belajar dan bekerja, jadi tidak sia sia selama ini aku kuliah." Sahut Aish sambil berjalan menuju teman teman nya yang tengah membicarakan sesuatu.


__ADS_2