Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Keputusan


__ADS_3

Tubuh Aish masih gemetaran, perasaan takut masih menguasai pikirannya.


"Heh!! pergi kalian." Bentak Yahya yang berusaha mengusir kedua preman yang tengah menghadang Aish.


"Bocah kencur, kalau bukan cucunya pak Yai sudah aku habisi kamu." Ucap salah satu preman tersebut, kemudian segera pergi sebelum warga banyak yang melihatnya.


Kini, tinggal lah Aish dan Yahya yang masih dengan posisinya. Sedangkan Yahya mendekati Aish dan mencoba untuk menawarkan diri.


"Aku antar ya, Aish. Aku takut terjadi apa apa denganmu, meski rumah kamu tidak jauh. Aku hanya tidak ingin ada orang yang mengganggumu." Ucap Yahya menawarkan diri.


Aish masih diam, ia bingung untuk menjawabnya. Di tambah lagi jika orang tuanya mengetahui pulang di antara oleh Yahya, maka bisa jadi akan murka.


"Kamu jangan takut, nanti akan aku jelaskan kepada papa kamu. Aku yakin kalau papa kamu akan mempercayaiku." Ujar Yahya mencoba meyakinkan Aish, tanpa mengeluarkan sepatah kata Aish hanya mengangguk.


'Kenapa sih, Aish itu selalu mendapat perhatian penuh dari Yahya. Padahal juga masih cantikan aku, karena aku sering perawatan. Tapi, kenapa Yahya lebih memilih gadis kampungan dan miskin.' Batin sosok gadis remaja seumuran Aish yang tengah dongkol karena rencananya untuk menyakiti Aish telah gagal.


"Aish!! masuk." Bentak sang ayah pada putrinya yang tengah berjalan beriringan dengan Yahya. Tanpa mengucap terima kasih kepada Yahya, Aish segera masuk ke rumahnya. Aish sangat ketakutan tatkala orang tuanya membentaknya, dan menunjukkan kekesalannya.


Sedangkan Yahya hanya bisa diam berdiri mematung menatap punggung Aish hingga masuk kedalam rumahnya. Ayah Aish pun segera mendekati Yahya, seraya ingin menghajarnya.


"Sudah aku peringatkan, jangan mendekati putriku. Kalau kamu ingin mendekati putriku, kelak jika kamu sudah dewasa dan berbekal ilmu. Kamu boleh mendatangi rumah gubuk milik orang tua Aish, sedangkan untuk sekarang aku melarangmu untuk mendekati putriku. Aish adalah harta satu satunya milikku, tidak aku biarkan ada laki laki yang berani menyentuhnya." Ucap ayahnya Aish memberi peringatan kepada Yahya, disaat itu juga Yahya tidak lagi berprasangka buruk terhadap orang tua Aish. Apa yang tengah diucapkan oleh orang tua Aish benar apa adanya, pikir Yahya.

__ADS_1


"Iya Pak, saya tidak akan lagi mengganggu Aish. Saya janji, saya akan menemui Aish setelah saya memiliki bekal ilmu dan akan menemui bapak dikemudian hari. Kalau begitu, saya permisi Pak.. Assalamu'alaikum ..." jawab Yahya berusaha untuk tenang dalam pikirannya. Ayah Aish pun mengangguk, kemudian Yahya pergi dari hadapan orang tua Aish.


Dengan langkahnya yang lunglai, Yahya harus menerima kenyataan yang lumayan cukup pahit saat menerima pesan dari orang tua Aish. Yahya dimintai untuk tidak mendekati Aish, dan tidak mengganggunya.


Dengan tekad, Yahya berusaha untuk menjauh dari Aish. Namun, Yahya sendiri merasa bingung untuk mencari ide.


Desampainya di rumah, kedua orang tua Yahya sudah berada di ruang tamu.


"Abi, umi ... kenapa masih duduk santai di ruang tamu?" tanya Yahya penasaran.


"Duduk lah, ada yang mau Abi dan Umi bicarakan denganmu." Jawab sang ayah sambil mempersilahkan putra semata wayangnya, Yahya sendiri segera duduk dihadapan kedua orang tuanya dan menatapnya secara bergantian. Seakan akan seperti akan ada sesuatu yang sangat penting.


"Abi dan Umi memutuskan kamu untuk melanjutkan pendidikan kamu di pondok, tepatnya di daerah sebrang sana. Disana jauh lebih baik untuk kamu, agar kamu dapat menggantikan Abi nantinya." Jawab sang ayah berusaha untuk merayu putranya, Yahya sendiri masih diam. Antara jauh dari Aish dan bekal ilmu, Yahya benar benar masih menimbangnya.


Berkali kali mencari jawaban, Yahya belum dapat menemukan jawabannya. Semakin mencari keputusan, semakin bingung untuk memberi keputusan kepada ayahnya.


"Kenapa kamu masih diam? jawablah, perjalanan kamu itu masih panjang. Setelah kamu selesai mondok, Abi akan mengirim kamu Mesir untuk menyelesaikan pendidikanmu sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan menjadi penerus keluarga kita, hanya kamu saru satunya." Tanya sang ayah yang sedang meminta kepastian dari putra semata wayangnya.


"Maaf, Abi. Yahya tidak bisa menerima permintaan Abi, Yahya ingin tetap berada dilingkungan desa ini." Jawab Yahya menolaknya.


"Lalu, siapa yang akan menjadi penerus keluarga kita? hanya kamu satunya satunya yang menjadi harapan." Ucap sang ayah yang terus memohon kepasa putranya.

__ADS_1


"Abi ... Yahya ingin seperti yang lainnya, berbekal ilmu agama dan tetap bisa bergaul dengan yang lainnya. Yahya tidak bisa menjadi seperti yang Abi dan Umi harapkan. Yahya lebih suka yang biasa biasa tanpa disegani orang lain, karena pastinya akan merasa tersisih jika banyak orang yang segan. Yahya tidak merasa nyaman jika harus disegani, Yahya cukup dibaikin secara lumrah saja tidak menjadi masalah." Jawab Yahya yang tetap pada pendiriannya.


Meski terbilang dari keluarga terhormat dan memiliki pondok pesantren, Yahya tidak begitu menekuninya. Yahya hanya menekuni mengaji dan beribadah, itu saja. Yahya tetap seperti anak anak pada umumnya, suka bermain dan suka beraktivitas dalam hal yang positif. Hanya saja, Yahya tidak begitu sibuk di pondok.


"Akan Yahya pikirkan kembali, Bi ..." jawab Yahya, kemudian segera ia masuk kedalam kamarnya. Lalu, sesampainya didalam kamar langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Langit langit kamarnya yang selalu ia pandangi dengan tatapan sedihnya tatkala pikirannya yang sedang berkecamuk.


Alih alih Yahya meraih ponsel yang berada di atas meja kecil, tepatnya bersebelahan dengan tempat tidurnya. Sesekali ia membuka galerry di ponselnya, dilihatnya wajah cantik dengan kesederhanaan tengah menghantui pikirannya.


"Sampai kapan kedewasaan akan tiba waktunya, sungguh sangat lambat aku menunggunya. Bahkan, bisa dikatakan lebih dari lima tahun lagi. Dari pada aku semakin jenuh, apa lebih baik aku terima tawaran dari Abi. Alih alih aku bisa mengumpulkan bekal ilmu sesuai yang diminta orang tuanya Aish, pasti tidak akan terasa lama jika aku pergi ke sebrang." Gerutunya sambil menatap langit langit kamarnya dan mencari ide untuk memberi keputusan kepada kedua orang tuanya.


Yahya segera bangkit dari posisi tidurnya, tidak pikir panjang langsung menemui kedua orang tuanya untuk memberi keputusan.


"Abi ... tunggu." panggil Yahya yang tengah menghentikan langkah kaki kedua orang tuanya.


Yahya segera mendekati kedua orang tuanya, kemudian menatap lekat secara bergantian.


"Ada apa lagi? kamu mau menolak? itu hak kamu. Abi hanya mengingatkan saja, jika kamu tidak mau pun tidak akan Abi hukum." Tanya sang ayah yang mengerti akan selera putranya.


"Yahya bersedia untuk pergi mondok di sebrang, Bi ..." ucap Yahya dan tersenyum dihadapan kedua orang tuanya.


"Alhamdulillah ..." jawab kedua orang tuanya serempak.

__ADS_1


__ADS_2