Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Nasehat


__ADS_3

Sambil menunggu mobil belum datang, Aish menyematkan waktunya untuk beribadah shalat maghrib. Berbeda dengan Rey, ia memilih untuk menunggu istrinya di ruang depan. Mau bagaimana lagi, Rey yang belum siap seperti istrinya, ia memilih untuk tidak membicarakan soal tentang beribadah.


Aish yang sulit untuk meluluhkan hati suaminya, ia sedikit dilema memikirkannya. Mau marah? itu tidak mungkin, Aish sadar diri. Segala sesuatu yang berhubungan dengan beribadah dan agama, Aish belum siap untuk berhadapan dengan suaminya.


'Semoga aku mampu berjalan sejajar dengan mu dan mempunyai tekad yang sama sama dalam satu tujuan, yaitu mencari pahala bersamamu.' Batin Aish saat melihat suaminya melangkah pergi dari hadapannya.


Karena takut kehilangan waktu untuk shalat maghrib, Aish langsung bergegas untuk berwudhu. Kemudian ia menjalankan ibadah shalat maghrib hanya seorang diri.


Usai salam, Aish menyematkan untuk berdzkir. Setelah itu, ia menengadahkan kedua telapak tangannya menghadap kiblat seraya berdoa dan bermunajat. Luapan isi hatinya yang sudah ia pendam yang begitu dalam, menetes lah air matanya tanpa ia minta. Sesenggukan ia menangis, bahkan terasa sesak untuknya bernapas.


Tanpa disadari, ada seseorang yang tengah berdiri tegak dibelakangnya. Disaat itu juga, tubuh yang terlihat kuat kini tiba tiba terasa tidak mampu untuk menopang berat badannya. Sesak didalam dadanya seakan menghentikan saluran pernapasan nya, air matanya pun ikut membasahi kedua pipinya. Ucapan dari seorang istri dalam doanya, seakan menjadi pisau belati yang tengah menusuk hingga tembus pada jantungnya. Sakit, sangat sakit.


Disaat itu juga, ia langsung memeluk erat istrinya dari belakang. Lalu mendekatkan bibirnya didekat daun telinganya dan membisikkan sesuatu padanya. "Ajak lah aku, seperti yang kamu inginkan." Ucapnya dengan lirih.


Seketika, Aish terkejut mendengarnya. Kemudian ia menoleh kebelakang dan menatap wajah suaminya yang terlihat menitikan air mata.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Aish sambil mengusap air mata yang masih tertinggal dibawah kelopak matanya.


"Aku menangis karena doa darimu, aku malu pada diriku sendiri. Aku yang kotor dan angkuh, masih sempatnya kamu mendoakan aku." Jawab Rey yang juga merupakan menghapus air mata yang tertinggal dibawah kelopak mata istrinya.


"Kamu suamiku, siapa lagi yang harus aku doakan kalau bukan kamu dan kedua orang tuaku." Ucap Aish menatap serius pada suaminya.

__ADS_1


Rey yang mendengarnya pun seakan menjadi orang yang paling beruntung sedunia, meski keberuntungannya entah dinomor urut yang keberapa.


Ditataplah wajah istrinya dengan lekat, kemudian Rey memeluknya dengan erat. Seakan tidak ingin melepaskannya, bahkan ingin terus memeluknya.


"Maafkan aku yang fakir ilmu, maafkan aku. Sebisa mungkin aku akan merubahnya, tapi ...." ucap Rey, lagi lagi ia menghentikan ucapannya seakan tidak mampu untuk melanjutkannya.


Aish yang merasa penasaran dengan kalimat selanjutnya, ia melepaskan pelukan dari suaminya.


"Tapi kenapa?" tanya Aish sambil menatap suaminya.


"Aku takut akan melakukan kesalahan, dan aku lupa dengan tujuanku." Jawab Rey yang masih dilema pada keyakinannya.


"Kenapa mesti takut? hidup kita di dunia ini untuk melangkah ke depan. Bukan jalan ditempat, apa lagi berjalan mundur. Semua orang mempunyai rasa takut, termasuk aku. Hanya saja, rasa ketakutan itu terkadang tidak disadarinya ketika napsu yang menguasainya." Ucap Aish sedikit memberi nasehat kecil pada suaminya.


Rey yang mendengarnya pun, ia berusaha untuk mencerna dengan semua yang diucapkan istrinya.


"Kalau aku gagal untuk berubah, apa yang akan kamu lakukan padaku? apakah kamu akan berhenti dan menyerah? aku bertanya seperti ini, karena aku takut kamu akan berpaling dan meninggalkan ku dalam lumpuran dosa." Tanya Rey mencoba berkata pahit, serta ingin mengetahui seberapa pedulinya sang istri pada dirinya.


Aish yang mendapatkan pertanyaan dari suaminya, justru ia tersenyum mendengarnya. Rey yang merasa heran, ia menatap istrinya dengan keningnya yang berkerut.


"Kenapa kamu tersenyum? apa kamu mengira jika aku ini bergurau? aku serius bertanya denganmu." Rey kembali bertanya karena pertanyaannya hanya disenyumin oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


"Kamu belum memulainya, kenapa kamu bertanya seperti itu padaku? jika kamu ingin berubah karena hanya karena aku, yang akan kamu dapatkan hanya kata berhasil, tapi tidak untuk hasilnya. Apakah kamu paham dengan ucapanku? aku harap kamu dapat memahaminya." Kata Aish dengan tatapan yang serius, lagi lagi Rey harus kembali berpikir apa yang dimaksudkan suaminya.


"Berubahlah karena niat, dan tentunya dengan ikhlas karena Ridho Nya." Ucap Aish kembali, Rey yang mendengarnya semakin pusing dibuatnya. Bahkan rumus kesuksesan dalam dunia bisnisnya masih kalah pusingnya dengan setiap kata yang diucapkan dari istrinya itu.


"Stop! aku ingin menenangkan pikiranku dulu, rupanya memahami apa yang kamu ucapkan itu jauh lebih pusing dari pekerjaanku. Aku harus bisa memahami apa maksud dari ucapan mu itu, dan aku akan mempelajarinya." Ucap Rey sambil memijat pelipisnya, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Entah apa yang membuat seorang Rey seakan susah untuk berpikir, bahkan kepalanya pun terasa penat dan ingin cepat cepat segera beristirahat. Sekilas, Rey kembali menatap heran pada istrinya.


"Kenapa kamu tersenyum lagi? apakah kamu ingin mentertawakan kebo*dohan ku ini? hem." Tanya Rey semakin bingun pada istrinya.


"Tidak, siapa yang mau mentertawakan kamu. Aku hanya ingin tersenyum saja, tidak lebih. Tenangkan dulu pikiran kamu, itu jauh lebih baik dari pada harus memaksakan diri untuk berpikir. Yang ada hanya emosi yang akan kamu kuasai." Kata Aish dengan tenang dan sedikit demi sedikit, Aish mampu tersenyum di hadapan suaminya.


Rey yang tidak biasanya mendapatkan senyuman tulus dari istrinya, ia tidak akan menyia nyiakan kesempatan emasnya. Rey yang sudah menjadikan istrinya candu, ia langsung menc*ium kening istrinya dengan lembut.


"Aku tidak peduli seberapa pusingnya kepalaku ini untuk berpikir, yang pasti aku tidak akan menyerah." Ucap Rey diakhiri senyuman pada kalimat terakhirnya. Kemudian ia langsung memeluk erat istrinya.


"Aku ingin selalu bersamamu, jangan pernah bosan untuk mengajariku." Bisik Rey didekat telinga istrinya, Aish pun mengangguk pelan.


Disaat itu juga terdengar suara mobil yang sudah kembali, Rey dan Aish segera keluar dari Toko. Kemudian keduanya bergegas naik mobil, dan duduk dengan tenang. Aish yang bingung dengan posisinya, ia memilih untuk melihat luar jendela. Sedangkan Rey yang melihat istrinya tengah melamun, ia langsung merangkul dan memeluk istrinya begitu mesra.


Pak Dirwan yang dapat menangkap kemesraan Tuan mudanya, Beliau tersenyum melihatnya lewat pantulan cermin depan.

__ADS_1


__ADS_2