Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Gelisah


__ADS_3

Kedua sahabat Aish masih tercengang saat mendengar penjelasan dari Rey, keduanya serasa tidak percaya jika Aish telah menikah.


"Jadi ... kamu dan Zakka saudara kembar?" tanya Afwan untuk memperjelas jawaban yang sebenarnya. Rey pun mengangguk dan mengubah posisi duduknya sedikit membungkuk dan kedua lututnya menyangka siku lengannya sambil memainkan kedua telapak tangannya dengan posisi menghadap Yunda dan Afwan.


"Maafkan aku dan Zakka atas ketidak jujuran kami mengenai identitas yang sebenarnya. Kami sengaja menutupi identitas semata mata hanya ingin berbaur dengan orang orang yang mau menerima pertemanan dengan kami apa adanya. Maafkan juga atas kebohongan istriku yang sudah membuat kalian berdua kecewa. Sekarang bagaimana? sudah jelas, 'kan? sudah tidak ada sesuatu yang kami tutup tutupi." Ucap Rey menjelaskan sedetail mungkin, berharap tidak akan ada kesalahpahaman diantara dirinya dengan teman sekolahnya atas setatusnya yang pernah disembunyikan.


Afwan dan Yunda tidak dapat berbuat apa apa ketika mendengar pengakuan dari teman dan juga sahabatnya. Mau bagaimana pun, Afwan dan Yunda tidak mempunyai hak untuk menghakiminya.


"Maafkan aku ya Aish, jika aku sudah berprasangka buruk sama kamu. Aku hanya kaget aja, karena tiba tiba kamu sudah menikah. Ditambah lagi kamu menikah dengan Rey, siapa sangka akan seperti ini jadinya. Selamat ya atas pernikahan kalian, ngomong ngomong kapan mau dipublikasikan? jangan membuat orang menjadi bertanya tanya atas kedekatan kalian. Bukannya mendapatkan tanggapan yang positif, justru akan mendapatkan cacian. Setidaknya tidak membuat orang orang membicarakan kalian berdua, aku hanya mengingatkan." Ucap Yunda meminta maaf atas kesalahpahaman nya terhadap teman dekatnya.


"Selamat untuk pernikahan kalian berdua, Aish dan Rey. Maaf juga jika aku ikut salah paham menilai kamu, aku doakan semoga sakinah, mawadah dan warohmah." Ucap Afwan ikut menimpali dan memberi ucapan selamat untuk teman dan sahabatnya.


Tidak hanya itu saja, Yunda kembali memikirkan dengan Zakka yang juga menyukai Aish. Takut jika Zakka tidak dapat menerima kebenarannya dan menjadikan permusuhan diantara keduanya dan Aish lah yang akan menjadi korbannya, pikir Yunda yang mulai mengkhawatirkan sahabatnya.


"Maaf sebelumnya, bagaimana dengan Zakka jika mengetahui kebenaran ini?" tanya Yunda yang ingin mendapatkan respon dari Rey.


Rey yang mendapati pertanyaan dari Yunda, ia diam sejenak untuk mengumpulkan kosa kata yang pas untuk ia katakan.


"Akan ada saatnya untuk berterus terang, aku harus mencari waktu yang tepat." Jawab Rey dengan santai, Yunda pun mengangguk mengerti.


"Kalau begitu kita berdua pamit pulang, hari ini pekerjaan aku sangat padat di Kantor. Jadi aku harus undur diri, sampai bertemu lagi pada kesempatan lain waktu." Ucap Afwan berpamitan, begitu juga dengan Yunda yang ikut pamit untuk pulang.

__ADS_1


"Loh loh loh, kalian berdua mau kemana? kok sudah mau pulang saja kalian ini." Tiba tiba Ibu Melin memergoki Yunda dan Afwan.


"Eh Ibu, kita mau pamit pulang. Soalnya hari ini sangat padat pekerjaan di Kantor, jadi tidak iaa lama lama di rumah Ibu Melin." Sahut Yunda saat hendak berdiri dari posisi duduknya.


"Ya Bu, kita berdua ada banyak tugas di Kantor. Jadi, tidak bisa berlama lama dirumah Ibu. Maaf ya Bu, lain waktu kita berdua datang lagi. Dan untuk kamu, Rey dan Aish, aku tunggu undangan pesta pernikahan kalian berdua, jangan sampai lupa." Timpal Afwan dan berbicara pada Rey dan Aish.


"Tenang saja, kalian berdua tidak perlu khawatir. Nanti kalau sudah waktunya, kalian berdua bakal aku undang." Jawab Rey, sedangkan Aish hanya tersenyum tipis.


"Akan kita tunggu undangan dari kalian berdua, kalau begitu kita berdua pamit pulang, ya. Bu Melin, kita pamit pulang. Assalamu'alsikum." Ucap Yunda pamit pulang.


Setelah Yunda dan Afwan berpamitan pulang, Ibu Melin mengajak keponakannya untuk sarapan pagi.


"Aish, Nak Rey, sudah waktunya untuk sarapan pagi."


"Aish, kamu panasin dulu pepes ikannya. Biar Tante yang menyiapkan di meja makan." Perintah Ibu Melin, Aish pun mengangguk dan segera memanaskan permintaan dari suaminya.


Saat berada di dapur, tiba tiba Rey menghampiri dan menemani istrinya yang tengah sibuk dengan alat panggangnya. Sambil duduk, Rey memperhatikan istrinya dengan lekat. Aish yang merasa diperhatikan oleh sang suami, dirinya mulai merasa risih dan tidak nyaman. Ingin menegurnya, itu tidak akan mungkin. Mau bagaimana pun, Aish tidak ingin berlaku kasar pada suaminya.


"Sini, biar aku aja yang manggang pepes ikannya. Kamu kan belum mandi, buruan sana mandi." Kata Rey sambil menggeser istrinya agar berpindah.


"Hari ini aku sedang libur, Jadi ..." sahut Aish yang tiba tiba ucapannya terhenti saat mendapatkan tatapan pada suaminya.

__ADS_1


"Jadi, kamu tidak perlu mandi, begitu maksud kamu? hem."


"Bukan begitu maksud aku. Maksud aku biar sekalian kotor, setelah itu baru mandi." Kata Aish meralat kalimatnya, Rey tidak peduli dan langsung membawa pepes ikannya ke ruang makan.


'Kenapa sih dia itu kaku banget, kadang perhatian, kadang jutek, kadang mesra, kadang bikin kesal, kadang juga membuat jantungku mau copot.' Batin Aish yang merasa bingung dengan sikap suaminya.


'Jangankan untuk bergurau, bertanya aja kalau dia mau.' Batin Aish kembali mengingat dengan waktu yang sudah ia lalui bersama suaminya.


Karena waktunya yang sudah mepet, Aish memilih untuk tidak mandi. Tidak peduli dosa ataupun tidak saat menolak perintah suaminya, Aish tetap bersikukuh pada pendiriannya yang menolak untuk membersihkan diri.


Tanpa adanya suara, hening seketika saat berada di ruang makan. Aish maupun Rey yang sama fokusnya saat menikmati sarapan pagi nya.


"Tante sudah selesai, kalian berdua lanjutkan saja sarapannya. Untuk hari ini Tante tidak ada di rumah, Tante ada acara arisan bersama para tetangga dan sekaligus jalan jalan ke Pantai." Ucap Ibu Melin, Aish mengiyakan dan tersenyum kecut saat Tantenya yang tiba tiba undur diri untuk pergi keluar dengan alasan jalan jalan di Pantai.


"Biasa saja ekspresinya, tidak perlu memanyunkan bibir mu itu. Tante kamu itu mau pergi liburan, bukan buat kabur." Timpal Rey


sambil mengunyah makanannya, sedangkan Aish hanya melirik kearah suaminya.


"Siapa juga yang manyun, hem." Kata Aish sambil menyelesaikan sarapan paginya, agar cepat selesai dan segera beranjak pergi dari ruang makan tersebut.


Usai sarapan pagi, keduanya kembali masuk ke kamar. Rey yang masuk belakangan, dengan pelan ia langsung mengunci pintunya.

__ADS_1


Aish yang hendak ingin menbersihkan diri, tiba tiba ia urungkan. Pikirannya kembali melanglang buana, pikiran kotornya pun sudah nangkring dikepalanya. Aish benar benar bingung dibuatnya ketika sang suami yang tiba tiba hilang kesadarannya dan terbawa dalam naf*sunya.


__ADS_2