
Rey yang mendapatkan perintah dari sang ayah untuk menjemput istrinya, segera ia pulang ke rumah. Saat dalam perjalanan, Rey tidak lupa untuk menghubungi salah satu anak buahnya untuk menanyakan kabar penangkapan pada Rena.
"Apa! belum ditemukan? kenapa bisa begitu? ah! sial, lakukan sesuai perintahku." Dengan geram, Rey langsung memutus sambungan telponnya dah mengepalkan tangannya penuh dengan kekesalan.
'Aku pastikan, aku akan segera menangkapmu. Kamu harus bertanggung jawab, Rena. Lihat saja, aku akan memperpanjang tahanan mu. Semua bukti atas pemerasan kamu terhadap istriku, dan juga perbuatan kamu yang sudah mencelakai orang tua kandung istriku. Yang berarti kamu siap segala resikonya.' Batin Rey sambil menajamkan kedua matanya lurus kedepan.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap Pak Dirwan membuyarkan lamunan Tuan Muda nya.
"Pak Dirwan tunggu saja disini," jawab Rey, kemudian ia segera turun dari mobil.
Dengan langkah kakinya yang tergesa gesa, Rey berjalan menuju kamarnya. Saat hendak mau menapaki anak tangga, sepasang matanya dapat menangkap bayangan istrinya yang berada di ruang makan. Akhirnya Rey memutar badannya dan berjalan menuju ruang makan untuk menemui istri tercintanya.
Aishwa pun kaget saat suaminya sudah berada di rumah. "Sayang, kamu sudah pulang? tumben cepat pulang." Tanya Aishwa penasaran dan berjalan mendekat suaminya.
"Aku ada perlu sama kamu, sayang. Kamu sedang tidak sibuk 'kan? sini, aku peluk."
"Ada mbak Eni, malu ah." Kata Aishwa malu malu.
"Kenapa mesti malu, cuman meluk jugaan." Ucap Rey, kemudian ia langsung memeluk istrinya dengan mesra. Mbak Eni yang tidak ingin mengganggu majikannya, ia segera menyingkir dan kembali melakukan pekerjaan yang lainnya.
Setelah merasa lega karena sudah memeluk istrinya, Rey melepaskan pelukan dan menatap wajah ayu milik istri tercintanya.
"Sekarang juga aku mau mengajakmu ke rumah sakit, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu. Tapi ... sebelumnya siapkan dulu mental mu, jangan ada prasangka buruk di hatimu. Justru menurutku sih kabar gembira, tapi tidak tahu akan perasaanmu. Semoga saja, kamu akan menerimanya dengan lapang. Tidak ada hal mengkhawatirkan yang dijadikan prasangka buruk untuk kamu nilai." Ucap Rey, Aish yang mendengarnya hanya menatap wajah suaminya bingung.
"Di rumah sakit, kabar gembira, apa itu? apakah aku akan menerima keponakan? perasaan adik perempuan kamu baru menikah. Sedangkan adik laki laki kamu juga belum menikah, lantas kabar apaan? jangan main teka teki dong, sayang." Kata Aish yang tidak mampu untuk menebaknya, bahkan ia memilih untuk menyerah ketimbang harus memikirkan sesuatu yang menambah pusing dikepalanya.
Rey tersenyum pada istrinya, sedangkan Aish menautkan Alisnya tanda ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Lebih baik kamu bersiap siap, aku akan mengajakmu ke rumah sakit." Pinta Rey, Aish pun mengangguk dan segera masuk kedalam kamar diikuti Rey dari belakang.
Sedangkan diperjalanan ada Zakka yang tengah melajukan kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi. Disaat itu juga, Zakka mendadak mengerem mobilnya.
Stttttttt
Zakka mengerem mobilnya secara mendadak, hampir saja menabrak seseorang yang tengah menyebrang. Bukannya segera menyingkir, justru merentangkan kedua tangannya.
"Da*sar gila, bukannya minggir atau apa kek, eh dengan beraninya merentangkan kedua tangannya didepan mobil ku." Gerutu Zakka dengan geram.
Karena tidak mau berurusan dengan orang orang yang suka mencari kesempatan, akhirnya Zakka segera turun dari mobilnya.
"Hei, minggir." Usir Zakka dengan berani, ia tidak peduli perempuan atau lelaki yang sedang ia hadapi. Salah tetap saja salah, pikir Zakka.
"Aku tidak mau minggir, titik." Sahutnya dengan berani.
"Aku tidak mau, silahkan aja kalau berani." Ucapnya menantang, Zakka semakin gerak dibuatnya. Disaat itu juga Zakka getaran pada ponselnya telah mengganggunya, dengan sigap ia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
Sambil mengawasi perempuan yang ada didepan mobilnya, dengan seksama dan teliti Zakka membaca pesan masuk dari anak buah ayahnya.
Betapa terkejutnya saat mendapatkan pesan masuk, dan ditambah lagi dengan sebuah pesan Foto yang rupanya orangnya ada dihadapannya.
Disaat itu juga, Zakka tersenyum menyeringai. 'Oooh, rupanya kabur.' Batin Zakka, kemudian ia langsung melakukan perintah yang sudah disusun oleh anak buah sang ayah.
Usai membaca pesan masuk, Zakka memasukkan kembali benda pipinya kedalam saku. Kemudian ia mendekatinya lebih dekat lagi.
"Hei, minggir. Kamu tidak lihat, aku mau pergi. Aku tidak mempunyai waktu untuk melayani hal bodoh yang kamu lakukan." Usir Zakka terang terangan.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, aku tidak mau pergi. Kalau mau menerima syarat dariku, aku akan pergi dari tempat ini dan aku tidak akan menghalangimu." Jawabnya dengan santai, dengan percaya dirinya bahwa ia akan berhasil.
"Memangnya syarat apa yang kamu mau? cepat! katakan, tidak usah banyak alasan."
"Kasih aku uang 10 juta, dan antarkan aku ketempat yang aku tuju. Ingat, kalau kamu tidak mau aku akan berbuat nekad. Yang pastinya kamu bakalan dikeroyok oleh warga." Jawabnya dengan memberi sebuah ancaman untuk seorang Zakka.
"10 juta, baik lah. Itu mah gampang, hanya 10 juta 'kan? kecil mah untukku. Ada syaratnya juga untuk kamu, mau? kalau tidak mau ya sudah terserah kamu saja. Bagiku sangat mudah dan gampang kalau hanya untuk meninggalkan mobil ini dijalanan, kamu pikir aku ini bodoh." Ucap Zakka yang membuat perempuan yang ada didepannya tercengang mendengarnya.
'Sial! kenapa mesti aku yang mendapatkan jebakannya. Tidak apa apa lah, setidaknya aku bisa menyelamatkan diri.' Batinnya yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau ia akhirnya menerima permintaan dari Zakka.
"Cepat katakan,"
"Temani aku hari ini, hanya itu saja." Jawab Zakka dengan senyum yang lebar.
"Temani kemana?" tanyanya.
"Ke Hotel lah, memangnya kemana lagi? hem." Dengan tatapan menggoda, Zakka terpaksa melakukan demi misinya.
"Baik lah, aku menyetujuinya." Jawabnya dengan percaya diri, Zakka hanya tersenyum palsu.
Dengan kata berhasil, Zakka dapat bernapas lega. Akhirnya dia sendiri dapat melakukan sesuai permintaan yang sudah perintahkan.
'Wah! tajir kek nya. Sudah tampan, tajir lagi. Perlu nih untuk didekati, lumayan lah dari pada tidur di emperan. Tapi ... ini kan belum malam, kenapa mengajakku ke Hotel? ah! bodoh amat lah. Mau pagi, siang, sore, malam, tidak ada masalah.' Batinnya, kemudian ia teringat belum menerima uang sebesar 10 juta.
"Mana uang 10 juta nya, berikan padaku. Aku tidak suka kamu bohongi, aku tidak mau rugi." Ucapnya sambil menengadah pada Zakka.
Disaat itu juga, Zakka langsung mengeluarkan uang sebanyak 10 juta secara tunai. Seketika, perempuan yang duduk disebelah Zakka tercengang ketika melihat uang sebanyak 10 juta langsung berada ditangannya.
__ADS_1