Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Bersalah


__ADS_3

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya operasi pada kaki kanan milik Zakka telah berhasil. Kemudian Zakka kembali ke ruangan pasien.


Kedua orang tua Zakka beserta Omma Qinan dan saudara kembarnya juga adik iparnya bangkit dari posisi duduknya.


"Pa, aku ingin menemui Zakka. Aku sangat khawatir dengan keadaannya, boleh 'kan? ya." Pinta Bunda Maura yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putranya, berharap semua akan baik baik saja.


"Sabar, kita nunggu izin dulu. Zakka baru saja dilakukan operasi, jangan terburu buru." Jawab Tuan Ganan, Bunda Maura sedikit kecewa.


"Itu Dokter nya, ayo kita temui." Ajak Tuan Ganan sambil menunjuk kearah sang Dokter.


"Pergi dan temuilah, kalian berdua orang tua Zakka. Biar Omma dan Neyla ditemani Seyn, cepetan masuk." Perintah Omma Qinan.


"Ya Ma, Pa. Kita nunggu gantian saja, ya kan Omma? biar Mama dan Papa yang masuk duluan." Sahut Neyla ikut menimpali, Tuan Ganan maupun Bunda Maura mengiyakan dan disertai dengan anggukan kepala.


Karena sudah tidak sabar ingin menemui putranya, Tuan Ganan menggandeng tangan istrinya untuk menemui sang Dokter terlebih dahulu.


"Tuan, orang tuanya pasien yang bernama Zakka, 'kan?" tanya sang Dokter yang lebih dulu untuk bertanya.


"Ya, Dok. Kami berdua orang tuanya Zakka, apakah kami diizinkan untuk menemuinya? maafkan kami yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putra kami." Jawab Tuan Ganan dan balik bertanya untuk meminta ijin terlebih dahulu.


"Boleh, pasien hanya luka pada kaki. Silahkan kalau ingin menemui putra kalian, saya permisi." Kata pak Dokter.


"Terima kasih banyak ya, Dok. Kalau begitu, kami permisi." Jawab Tuan Ganan, kemudian sang Dokter pun kembali ke tempat kerjanya. Sedangkan Tuan Ganan dan Bunda Maura segera masuk ke ruang rawat putranya.


Zakka yang sudah berada di ruang pasien, ia setengah bersandar dan melamunkan sesuatu. Tanpa disadari, ada sang Ibu dan sang Ayah yang sudah masuk kedalam.

__ADS_1


"Zakka," panggil Bunda Maura dengan suara yang lembut.


"Mama, Papa." Sebut Zakka memanggil kedua orang tuanya.


"Putra Mama, bagaimana dengan keadaan kamu, sayang? Mama sangat mencemaskan mu."


"Zakka baik baik saja kok, Ma. Zakka kan cuman operasi kaki, tidak pada organ dalam. Mama tak perlu mencemaskan Zakka. Nih lihat, Zakka baik baik saja kok." Kata Zakka sebaik mungkin, ia tak ingin membuat kedua orang tuanya akan menambah pikiran. Bunda Maura tak henti hentinya mengusap kening sampai kepucuk kepala milik putranya.


"Semoga kamu segera lekas sembuh ya, Putraku." Kata Tuan Ganan ikut menimpali.


"Ya, Pa. Terima kasih banyak atas doa dari Papa, ngomong ngomong cuman ada Mama sama Papa aja nih."


"Tidak, ada Omma dan Neyla bersama Seyn sedang menunggu diluar." Jawab Tuan Ganan.


"Kok tidak disuruh masuk, kenapa?" tanya Zakka.


"Oooh, begitu. Kak Rey sudah pulang ya, Ma? kakek juga."


"Ya, kak Rey sudah pulang. Papa meminta padanya untuk menguak kasus kecelakaan kamu, Papa merasa ada yang tidak beres. Takutnya ada yang sengaja ingin mencelakai kamu, itu yang Papa dan Mama khawatirkan." Kata Tuan Ganan menjelaskan.


"Kamu kenapa tanya kak Rey? apa ada pesan untuk nya?" tanya sang Ibu ikut menimpali.


"Tidak ada apa apa kok, Ma. Zakka hanya tanya saja, tidak lebih." Jawab Zakka dan tersenyum tipis, berharap kedua orang tuanya tidak berpikiran aneh aneh, pikirnya.


Setelah menghubungi Seyn, tidak lama kemudian menyusul masuk ke ruang rawat Zakka.

__ADS_1


"Tara ...." Sapa Neyla yang tak pernah menujukkan kesedihan didepan keluarganya, sekalipun ada yang tengah sakit maupun terluka hatinya. Bagi Neyla tidak ada gunanya mengikuti perasaan bersedih, yang ada hanya akan membawa suasana seperti berkabung, pikirnya.


"Bagaimana keadaan Abangnya Nayla yang tampan ini? hem, Neyla ikut bersedih. Tapi tidak, Neyla akan selalu memberi semangat untuk Kak Zakka. Bersedih itu hanya sekilas, sedangkan tersenyum itu untuk selamanya. Semoga lekas sembuh ya, Kak Zakka. Jangan ceroboh, sayangi diri sendiri dan jangan menyiksa diri. Sayang kan, jika Kak Zakka menyerah begitu saja. Semangat dong, mulai dari sekarang." Ucap Neyla dengan karakternya yang selalu ceria, meski ia tahu keadaan hati kakak nya yang sedang terluka.


Disaat itu juga, ada Rey yang sudah berdiri di ambang pintu. Cukup jelas dengan apa yang sudah diucapkan oleh Neyla, adik perempuannya itu. Rey merasa terpojok ketika mendengarnya, seakan dirinya ikut menyakiti perasaan saudara kembar nya sendiri.


"Rey, kamu sudah datang?" tanya sang ayah yang mendapati putranya berdiri diambang pintu. Seketika, semua menoleh kearah Rey yang sedang berdiri mematung.


Entah kenapa Rey merasa bersalah, ia pun langsung keluar tanpa berpamitan. Bahkan menjawab pertanyaan dari ayahnya pun, tidak.


"Kak Rey!!!" teriak Zakka memanggil saudara kembarnya.


"Kalian semua tetap disini, jangan kemana mana. Biar Papa yang akan menemui Rey, jangan pergi." Kata Tuan Ganan mencegah Neyla dan Seyn yang hendak mengejarnya.


"Ya, Pa." Jawab Seyn dan Neyla, sedangkan Zakka sendiri ikut merasa bersalah. Dirinya sendiri pun tak ingin membuat hati saudara kembarnya terluka, hanya karena kasihan dengan dirinya.


"Zakka, jangan dimasukkan ke hati. Semua sudah terjadi, wajar saja jika kalian berdua sama sama menyalahkan diri sendiri. Tapi percayalah, semua akan baik baik saja." Kata Bunda Maura mencoba menenangkan putranya.


Rey yang sudah merasa tak ada yang mengejar langkah kakinya yang begitu gesit, Rey bersandar pada tembok rumah sakit yang tidak begitu banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari. Cukup sepi untuk menenangkan perasannya yang sedang tidak karuan.


"Kenapa dadaku terasa sesak seperti ini, kenapa aku merasakan sakit yang begitu dalam. Benarkah aku ini orang yang serakah, benarkah aku orang yang tidak tahu diri, benarkah aku orang yang selalu ingin menang dan tidak mau mengalah, betapa egoisnya aku ini. Aku yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain, dan justru hanya mementingkan keinginanku sendiri." Gumam Rey sambil bersandar dan memejamkan kedua matanya.


"Tidak perlu kamu menyalahkan diri kamu sendiri, tidak baik." Ucap Tuan Ganan mengagetkan, Rey pun langsung membuka lebar lebar pandangannya. Kemudian ia menoleh kesamping, dilihatnya sang ayah yang sudah berdiri dengan tegak. Seketika, Rey membenarkan posisinya dan berdiri tegak dihadapan sang ayah.


"Papa, kenapa Papa mengikuti Rey?"

__ADS_1


"Terus ... kenapa kamu bersembunyi seperti ini? apakah dengan cara ini kamu akan merasa lebih tenang? menyalahkan diri sendiri dan masih memendamnya, untuk apa? percuma." Kata Tuan Ganan sambil menatap wajah putranya sangat serius.


__ADS_2