Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Menyemangati


__ADS_3

Dengan tenang, Rey duduk dihadapan sang kakek. Tatapannya begitu serius layaknya seorang anak yang siap menerima nasehat dari orang tua.


"Besok pagi sebelum berangkat, kita akan berangkat duluan. Setelah itu, Kakek akan antarkan kamu di Bandara. Ingat, tidak ada yang boleh tau siapapun itu." Ucap sang kakek mengingatkan, Rey pun mengangguk.


"Iya kek, Rey tidak akan membeberkan nya. Rey simpan rapat rapat sesuai yang kakek perintahkan." Jawab Rey penuh yakin.


"Sekali lagi bertanya, apakah kamu serius dengan keputusan kamu itu? yakin jika kamu tidak menyesal? pikirkan lagi sebelum pagi menghampirimu. Kamu masih ada waktu unyu memikirkan nya lagi, kakek takut kamu akan menyesal nantinya." Kata kakek mencoba mengingatkan kembali pada cucu nya.


"Tekad Rey sudah bulat, Kek. Keputusan tetap keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat, apapun itu alasannya." Sahut Rey dengan yakin.


"Apakah kamu siap untuk menanggung resikonya? Kakek hanya tidak ingin kamu akan menyesali semuanya dan hidup mu hilang dari semangat mu." Ucap Kakek mencoba untuk memantapkan keputusan dari Rey, cucu pertamanya.


"Iya Kek, Rey siap menanggung segala resikonya. Rey tidak akan menyalahkan Kakel, maupun siapapun yang ikut andil dalam keputusan dari Rey." Jawab Rey dengan tekad bulatnya.


"Ya sudah jika itu adalah keputusanmu, maka Kakek tidak akan melarangmu. Setidaknya Kakek sudah mengingatkan kamu, dan memberi kesempatan untuk memikirkan nya kembali." Kata sang kakek yang sudah merasa lega atas keputusan yang benar benar sudah tidak bisa untuk digoyahkan.


Rey yang merasa mendapatkan dukungan dari sang kakek, perasaannya pun merasa lega dan dirinya tidak lagi harus menyembunyikan nya dari keluarga.


"Sekarang sudah larut malam, waktunya untuk beristirahat. Kembali lah ke kamar kamu dan tidur lah, besok pagi kamu harus bangun pagi pagi untuk segera bersiap siap berangkat dengan Kakek." Perintah sang kakek, Rey pun mengangguk dan berpamitan untuk kembali ke. kamarnya.


Sedangkan di rumah ibu Melin, Aish tengah sibuk dengan keperluan nya untuk mendaftar kuliahnya dengan persyaratan persyaratan yang sudah ia catat sebelumnya.


"Besok adalah hari yang dimana aku akan melangkahkan kakiku menuju cita cita ku. Mungkin kah aku akan sukses? atau ... cita citaku akan berhenti ditengah jalan? aku tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah dan mencoba untuk terus berusaha, selanjutnya Sang Maha Pencipta lah yang menentukan nasib baik dan burukku." Gumam Aish sambil membereskan berkas berkas yang akan dibawa ke Kampus.

__ADS_1


Disaat itu juga, tiba tiba Aish baru tersadar jika dirinya belum mengganti pakaian tidurnya.


"Hampir saja aku lupa, hari ini benar benar melelahkan." Gumam Aish setelah menguap karena rasa kantuk nya dan juga rasa capek di badannya.


Setelah mengganti pakaiannya, Aish pergi ke kamar mandi untuk cuci kaki dan cuci muka serta menggosok gigi sebelum tidur. Kemudian usai rutinitas di kamar mandi, Aish kembali masuk ke kamar dan segera beristirahat.


Sedangkan di rumah Yahya, kini dirinya ikut sibuk membereskan perlengkapan yang akan dibawanya ke luar Negri.


"Yahya," panggil sang ibu yang tiba tiba datang didekat putranya.


"Umi, ada apa?" tanya Yahya sambil mengemasi baju bajunya.


"Tadi kedua orang tua Maula datang ke rumah dan berpesan pada Abi dan Umi, bahwa besok kamu berangkatnya bareng sama Maula." Kata sang ibu.


"Iya, sama Maula. Tidak apa apa 'kan? anaknya cantik, baik, dan juga pintar. Bukan kah kamu juga satu pesantren dengan nya?"


"Iya Umi, tidak apa apa. Oh iya Mi, Yahya mau siap siap dulu ya, Mi. Biar besok tidak terburu buru, soalnya bawaannya cukup banyak, Umi." Jawab Yahya beralasan untuk menghindari pertanyaan pertanyaan dari ibunya.


"Ya sudah kalau begitu, Umi juga mau istirahat. Ingat, jangan bergadang. Kasihan dengan kesehatan kamu, karena besok kamu akan menempuh perjalanan yang cukup jauh." Ucap sang ibu mengingatkan putranya, Yahya hanya mengangguk sambil mengemasi barang barangnya.


Setelah ibunya keluar dari kamar, Yahya membuang napasnya kasar saat ibu nya tidak lagi berada didalam kamarnya.


"Semoga saja Umi tidak ada niat terselubung untuk menjodohkan aku dengan Maula.' Batin Yahya yang mulai cemas memikirkan nya.

__ADS_1


Karena rasa kantuk yang sudah mulai menyerang nya, dengan cepat cepat Yahya segera membereskan semua barang bawaan yang akan di kemas. Kemudian ia langsung mengganti pakaiannya dan beristirahat.


Di tempat ibu Melin, Aish terbangun dari tidurnya tepat jam 00:04 pagi. Ia segera bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mengambil air wudhu, kemudian setelah itu ia menggelar sajadah nya dan mengenakan mukenah nya.


Entah ada rasa apa, detak jantung Aish semakin bergemuruh. Tidak seperti biasanya, seakan dirinya akan berhadapan dengan persidangan.


Berkali kali Aish beristighfar, berharap yang ada didalam dadanya akan terasa tenang dan tidak lagi dikuasai oleh pikiran buruknya.


Tanpa diminta, Aish menitikan air matanya. Ditambah lagi dengan seruan suara Adzan tengah berkumandang, tubuh Aish mendadak lemas. Bahkan kedua kakinya terasa sulit untuk menopang berat badannya, dirinya pun tidak mampu menghentikan tangisnya yang secara tiba tiba ia mendadak menangis sesenggukan.


"Pa ... Ma, maafkan Aish jika Aish telah memilih jalan ini. Semua Aish lakukan demi amanat dari Papa, Aish harus meneruskan cita cita yang telah Aish rangkai untuk dijadikan kenyataan. Maafkan Aish, Pa ... Ma. Semoga keputusan yang Aish pilih tidak ada yang salah, dan semua akan menjadi mimpi yang indah." Gumam Aish dengan tangis isak nya didalam kamar.


Disaat itu juga, ibu Melin sudah berada di dekat keponakannya dan memeluknya.


"Tante hanya bisa mendoakan serta menyemangati kamu, Nak. Tante tidak bisa berbuat apa apa atas pilihanmu, semoga pilihanmu adalah pilihan yang terbaik dan akan membuatmu sukses kedepannya." Ucap Ibu Melin menyemangati, sedangkan Aish hanya mengangguk.


Aish masih bingung untuk menjawabnya, pikirannya entah berada di mana saat dirinya duduk termenung menatap lurus kedepan. Rasa rindu dan sebuah harapan kini telah terpisah, entah apa yang harus digapai nya.


"Sudah iqomah, ayo kita shalat dulu, Nak. Masih banyak yang harus kamu persiapan untuk menyambut pagimu, semangat lah." Ucap ibu Melin mengingatkan, lagi lagi Aish hanya mengangguk dan segera melaksanakan kewajibannya.


Setelah selesai shalat subuh, Aish meraih Alqur'an dari tempatnya dan mengaji beberapa ayat Alqur'an untuk menenangkan pikirannya yang kini tengah dalam mode untuk memantapkan diri atas keputusan yang ia pilih.


'Tante hanya bisa berdoa, semoga kamu mendapatkan kesuksesan dengan keputusan kamu ini. Hanya itu yang bisa Tante lakukan, karena Tante bukan lah dari golongan orang yang berpunya.

__ADS_1


__ADS_2